Entah apa yang ada di pikiran ketika kami mengiyakan ajakan/tantangan seorang teman di luar kota untuk mengadakan acara nonton bareng bulutangkis, sebuah acara yang bahkan mengagetkan pihak cafe ketika kami nekat menghubungi mereka melalui telpon beberapa hari sebelum Piala Sudirman dimulai, bahkan secara implisit mereka seperti mengatakan untuk melupakan saja ide tersebut karena jujur saja, nobar selain sepakbola adalah lost cause.
Promosi yang dilakukan via media sosial ternyata sangat berbeda jauh di lapangan, pelajaran pahit yang harus kami terima akibat kegilaan kami saat itu, entah karena daerah yang disasar salah atau para penggila badminton hanya bisa koar-koar meminta sesuatu yang gratis tanpa usaha/pengorbanan untuk sekedar keluar dari rumah dan menuju tempat nobar misalnya. Sebagian diri kami masih berharap bahwa hal pertamalah yang menjadi penyebab sepinya acara kemarin.
Respek kami kepada pihak cafe yang tetap mau membantu ketika kami -entah dirasuki apa- sedikit arogan dan yakin bakal banyak peserta di acara yang mereka bilang lost cause. Dan apa yang terjadi memang lost cause, ketika yang datang bahkan tidak mencapai 50 persen dari yang kami reserve.
Terima kasih yang sangat besar, kami ucapkan ke orang2 yang muncul meramaikan acara ini sehingga membatalkan niat kami untuk kabur, bahkan diawalnya kami sempat berpikir bahwa tidak akan ada yang datang ketika pertandingan ganda putra dimulai dan kami masih sendirian disana.
Jujur, apa yang kami khayalkan ketika ada diskusi tentang nobar ini semoga keberanian event gila ini menular ke tempat lain, sehingga pada akhirnya badminton kembali populer dan dimainkan di banyak tempat. Tapi mungkin itu hanyalah khayalan yang jauh terlalu tinggi, ya kan?