Djarum Superliga 2015 yang berlangsung di GOR Lila Bhuana Denpasar sudah menyelesaikan babak penyisihan grup. Tim putri Hokuto Bank Jepang menjadi satu-satunya tim kejutan di babak semifinal setelah mengalahkan sang unggulan Mutiara di babak grup. Selain itu, nama-nama seperti Djarum, Jaya Raya, Musica dan Tonami menghiasi babak semifinal sesuai dugaan awal. Tapi bukan berarti Superliga hanya berisi partai sesuai dugaan dan kebisingan penonton cewe yang meneriaki tim Musica karena ada Jo, LYD dan Simon serta sang raksasa Ivanov disana.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Jumat, 30 Januari 2015
Kamis, 22 Januari 2015
Hope Clear Head Prevails
Persiapan menuju ajang multi even, suatu frase yang biasanya menggambarkan tarik menarik kepentingan penuh kompromi ataupun paksaan antara KONI dan pemerintah di satu pihak dan PB-PB cabang olahraga di pihak lainnya. Tahun 2015 ini, frase itu kembali muncul dalam bentuk persiapan menuju SEA Games ke 28 di Singapura, Juni mendatang.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?
Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.
Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.
Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.
Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.
Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?
Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.
Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.
Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.
Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.
Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.
Sabtu, 10 Januari 2015
May Tokyo Become The Focus of Regeneration
Pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto menyatakan mundur dari Pelatnas Cipayung, terhitung Selasa, 6 Januari
Kutipan diatas adalah rilis yang dikeluarkan oleh humas PBSI melalui akun twitternya pada 9 Januari 2015. Meskipun berharap Tommy tetap berprestasi di jalur pro, keputusan ini untuk sementara membuat Simon Santoso menjadi satu-satunya tunggal putra senior yang ada di Cipayung. Pihak pelatnas kabarnya sedang mempertimbangkan untuk memanggil pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tommy, terlepas dari apapun keputusannya nanti. semoga prospek menuju Tokyo 2020 ikut menjadi bahan pertimbangan.
Tokyo 2020 menjadi sasaran yang lebih realistis jika melihat peta persaingan dan hasil yang diraih para tunggal putra Indonesia belakangan ini. Kembalinya Lin Dan secara penuh ke sirkuit jelas menambah ramai persaingan yang sudah diisi Chen Long, Jorgensen, Tago dkk belum lagi jika Chong Wei terbebas setelah hearing awal Februari nanti. Dengan fakta diatas, peluang Simon atau siapapun MS Indonesia di Rio 2016 untuk setidaknya meraih medali tidaklah bisa dianggap besar.
Rio 2016 akan menjadi Olimpiade kedua bagi Simon jika dia mampu lolos kualifikasi dan tentunya harapan agar hasil lebih baik ketimbang London dimana dalam statusnya sebagai debutan dia kalah dari Lee Chong Wei di 16 besar. Sejarah mencatat bahwa para peraih emas tunggal putra Olimpiade kecuali Alan Budikusuma dan Ji Xinpeng meraih prestasi tertinggi ketika mereka bukan berstatus debutan di Olimpiade. Presiden BWF saat ini Poul Erik menjuarai Atlanta setelah sebelumnya kalah dari Ardy Wiranata di Barcelona, Ji Xinpeng memberi Taufik pelajaran di Sydney sebelum legenda Indonesia yang blak-blakan ini menemukan jodoh (?) dan menangis terharu diatas podium Goudi Olympic Hall. Goudi juga menjadi tempat bagi Ronald Susilo memberi kejutan sebelum sang alien menguasai dunia hingga kini.
Dengan melihat fakta diatas, bijak rasanya jika PBSI membuka kompetisi untuk pemain yang kini berusia 23 tahun kebawah -dimana 23 dianggap batas atas yang wajar karena memperhitungkan peak usia mereka saat 2020 masih belum 30 dan di usia emas- yang ada di Cipayung seperti Anthony Sinisuka Ginting dkk untuk diproyeksikan mengikuti kualifikasi Rio 2016. Jika pemain dibawah 23 tahun itu berhasil lolos ke Rio tentu merupakan pengalaman berharga di Tokyo nantinya.
Semoga situasi ini membuat regenerasi pebulutangkis Indonesia semakin baik.
Langganan:
Postingan (Atom)