Olimpiade, ajang multi even empat tahunan yang merupakan impian tertinggi setiap atlet dan insan olahraga akan berlangsung lagi tahun depan di Rio de Janeiro, Brasil. Mengingat hasil yang diraih pemain badminton di London, beberapa orang melihat ajang di Rio sebagai ajang penebusan apalagi melihat hasil yang diraih para pemain ganda di Incheon tahun lalu. Ganda, nomor yang memang secara objektif lebih berpeluang meraih medali di Rio mengingat belum adanya tunggal putri Indonesia yang bersinar dan inksonsistensi yang dilami Simon maupun Tommy sebagai tunggal putra senior. Ketiga nomor ganda itu juga yang menyumbangkan 4 medali Asian Games dan 2 juara dunia terakhir yang dimiliki Indonesia saat ini.
Ganda campuran, nomor yang mungkin paling mengkilap bagi Indonesia saat ini, selain Tontowi/Lilyana yang konsisten di top 5 ranking dunia dan medali perak Incheon sebagai bukti prestasi terakhir mereka, keberhasilan Edi/Gloria, Praveen/Debby dan Riky/Richi menembus final ataupun juara dalam setiap turnamen tingkat GP Gold keatas yang mereka ikuti jelas menunjukkan bahwa keempat pasangan itu punya peluang bersaing untuk meraih tiket ke Rio yang kualifikasinya dimulai Mei depan.
Ganda campuran mungkin bisa tenang menghadapi kualifikasi dengan begitu banyak pasangan yang tampaknya akan kompetitif, tapi optimisme itu sulit terpancar di ganda putri maupun putra. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari yang meraih emas Incheon diharapkan kembali memberi kejutan sekaligus menuntun rekan juniornya -seperti Anggia, Della, Maretha, Rosyita dan kawan-kawan yang sedang dicari ramuan terbaiknya oleh Eng Hian dan tim- untuk mendobrak pintu Rio dan mungkin meraih medali olimpiade pertama dari ganda putri bagi Indonesia.
Bila ganda putri mencoba mencetak sejarah dan dianggap wajar jika nantinya gagal, tidak demikian halnya dengan ganda putra. Sebagai nomor tersukses dalam sejarah dan hanya gagal meraih medali di London -dimana kegagalan itu menjadi pemicu terbesar jalan kebangkitan bulutangkis Indonesia yang kini coba ditapaki-, Kondisi ganda putra yang hanya memiliki Hendra -peraih emas Beijing- bersama Ahsan sebagai pasangan yang dinilai berprestasi dan kumpulan ganda lainnya yang belum teruji tentu memprihatinkan.
Dengan segala hormat kepada Herry IP dan Chafidz Yusuf yang kini menukangi ganda putra Cipayung dan tentunya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan, dengan tulisan ini kami mengajukan permintaan kepada Gita Wirjawan sebagai ketua umum PBSI saat ini untuk membuat Rexy Mainaky ikut melatih ganda dalam masa jelang Olimpiade Rio ini. Bukankah Pak Gita menarik Rexy ke PBSI karena keberhasilan Rexy menghantar Nathan Robertson/Gail Emms, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menjadi ganda yang disegani dunia dan juga keberhasilan lainnya di Inggris, Malaysia dan Filipina. Mengingat Olimpiade adalah ajang terbesar, bukankah selayaknya kita memberi usaha yang paling maksimal? Dan rasanya memaksimalkan kemampuan Rexy dengan memintanya ikut melatih adalah hal yang wajar bukan?
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Tampilkan postingan dengan label Rio 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rio 2016. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Februari 2015
Sabtu, 10 Januari 2015
May Tokyo Become The Focus of Regeneration
Pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto menyatakan mundur dari Pelatnas Cipayung, terhitung Selasa, 6 Januari
Kutipan diatas adalah rilis yang dikeluarkan oleh humas PBSI melalui akun twitternya pada 9 Januari 2015. Meskipun berharap Tommy tetap berprestasi di jalur pro, keputusan ini untuk sementara membuat Simon Santoso menjadi satu-satunya tunggal putra senior yang ada di Cipayung. Pihak pelatnas kabarnya sedang mempertimbangkan untuk memanggil pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tommy, terlepas dari apapun keputusannya nanti. semoga prospek menuju Tokyo 2020 ikut menjadi bahan pertimbangan.
Tokyo 2020 menjadi sasaran yang lebih realistis jika melihat peta persaingan dan hasil yang diraih para tunggal putra Indonesia belakangan ini. Kembalinya Lin Dan secara penuh ke sirkuit jelas menambah ramai persaingan yang sudah diisi Chen Long, Jorgensen, Tago dkk belum lagi jika Chong Wei terbebas setelah hearing awal Februari nanti. Dengan fakta diatas, peluang Simon atau siapapun MS Indonesia di Rio 2016 untuk setidaknya meraih medali tidaklah bisa dianggap besar.
Rio 2016 akan menjadi Olimpiade kedua bagi Simon jika dia mampu lolos kualifikasi dan tentunya harapan agar hasil lebih baik ketimbang London dimana dalam statusnya sebagai debutan dia kalah dari Lee Chong Wei di 16 besar. Sejarah mencatat bahwa para peraih emas tunggal putra Olimpiade kecuali Alan Budikusuma dan Ji Xinpeng meraih prestasi tertinggi ketika mereka bukan berstatus debutan di Olimpiade. Presiden BWF saat ini Poul Erik menjuarai Atlanta setelah sebelumnya kalah dari Ardy Wiranata di Barcelona, Ji Xinpeng memberi Taufik pelajaran di Sydney sebelum legenda Indonesia yang blak-blakan ini menemukan jodoh (?) dan menangis terharu diatas podium Goudi Olympic Hall. Goudi juga menjadi tempat bagi Ronald Susilo memberi kejutan sebelum sang alien menguasai dunia hingga kini.
Dengan melihat fakta diatas, bijak rasanya jika PBSI membuka kompetisi untuk pemain yang kini berusia 23 tahun kebawah -dimana 23 dianggap batas atas yang wajar karena memperhitungkan peak usia mereka saat 2020 masih belum 30 dan di usia emas- yang ada di Cipayung seperti Anthony Sinisuka Ginting dkk untuk diproyeksikan mengikuti kualifikasi Rio 2016. Jika pemain dibawah 23 tahun itu berhasil lolos ke Rio tentu merupakan pengalaman berharga di Tokyo nantinya.
Semoga situasi ini membuat regenerasi pebulutangkis Indonesia semakin baik.
Jumat, 28 November 2014
A Note About Butet
Lilyana Natsir, mungkin pemain terbaik ganda sektor putri Indonesia sejak dimulainya millennium ketiga. Namanya muncul pertama kali ke permukaan ketika dia menjadi juara junior Asia di Jakarta tahun 2002 bersama Markis Kido.
Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.
WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.
Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.
1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ
Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?
Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.
WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.
Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.
1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ
Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?
Kamis, 17 Juli 2014
What Is The Move, Your Highness?
Ganda putri nomor yang mungkin paling sepi peminat di bulutangkis umumnya dan Indonesia khususnya, karena tampaknya memang sulit mencari 2 putri untuk dipasangkan di lapangan, takut adu mulut maybe:D
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?
Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.
Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.
Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?
Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?
Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.
Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.
Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?
Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?
Senin, 02 Juni 2014
Indonesian Doubles After TUC. What's next?
Pasca Thomas dan Uber Cup, turnamen besar berikut yang harus ditatap oleh para penggila bulutangkis adalah kejuaraan dunia (WBC) dan Asian Games. Karena entry list WBC sudah dirilis maka bisa dipastikan siapa-siapa saja yang ikut disana. Tapi tulisan ini lebih akan membahas apa yang menurut penulis mungkin terjadi seusai WBC terutama di sektor ganda putra dan putri.
Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.
Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.
Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)
Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.
Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.
Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)
Langganan:
Postingan (Atom)