Tampilkan postingan dengan label mixed double.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mixed double.. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Drama Di Denpasar

Djarum Superliga 2015 yang berlangsung di GOR Lila Bhuana Denpasar sudah menyelesaikan babak penyisihan grup. Tim putri Hokuto Bank Jepang menjadi satu-satunya tim kejutan di babak semifinal setelah mengalahkan sang unggulan Mutiara di babak grup. Selain itu, nama-nama seperti Djarum, Jaya Raya, Musica dan Tonami menghiasi babak semifinal sesuai dugaan awal. Tapi bukan berarti Superliga hanya berisi partai sesuai dugaan dan kebisingan penonton cewe yang meneriaki tim Musica karena ada Jo, LYD dan Simon serta sang raksasa Ivanov disana.

Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya.  Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.

Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.

Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.

Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu  pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.

Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?

Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.

Rabu, 10 Desember 2014

Dubai 2014: Lovey Dovey Couple Turn To Reign?

Super Series Finals, suatu ajang yang secara prestise diharap menyerupai ATP World Tour Final ataupun WTA Championship, dimana 8 pemain/pasangan terbaik dan paling konsisten di setiap nomor beradu tanding di akhir musim untuk satu gelar terakhir dan tentu saja memuaskan fans dengan partai-partai menarik. Dalam penyelenggaraan ketujuh yang akan digelar di Hamdan Sports Complex Dubai, tampaknya gengsi itu akan meningkat, apalagi pihak sponsor dan penyelenggara menyediakan dana 1,6 juta dollar suatu jumlah yang cukup besar dalam standar badminton sebagai hadiah dan segala macam fasilitasnya termasuk akomodasi dan transportasi ke Dubai.

Berbicara tentang 8 pasangan terbaik, ganda campuran dan ganda putra adalah 2 nomor yang menampilkan ke 8 pasangan terbaik selama 2014 tanpa dibatasi cedera, hukuman ataupun kuota negara. Ganda campuran, nomor yang dalam enam penyelenggaraan sebelumnya dikuasai Denmark dan China melalui Thomas Laybourn/Kamila Rytter-Juhl, Joachim Fischer Nielsen/Christina Pedersen (3 gelar) dan Zhang Nan/Zhao Yunlei (2 gelar)  tampaknya akan melanjutkan tradisi itu.

Pasangan kekasih yang menjadi pemuncak dalam dua gelaran Super Series terakhir pada tahun 2014 yang berlangsung di Asia Timur, layak untuk difavoritkan dalam ajang ini meskipun ranking Dubai mereka hanyalah kedua. Inkosistensi pasangan fantastic four lainnya juga menjadi penyebab prediksi ini. Nielsen/Pedersen sebagai juara bertahan SSF dan mengincar hattrick justru tidak bermain bersama di Asia timur, hal serupa juga dialami Ahmad/Natsir yang tidak bernain bersama di Hongkong. Problem bagi pasangan Indonesia juga ada pada mood sang pasangan cowo yang menikah tahun ini, hal yang sama juga terjadi pada Xu Chen/Ma Jin yang mempunyai rekor sangat tidak enak dilihat terhadap Zhang/Zhao.

Diluar fantastic four, baru sembuhnya Kim Ha Na membuat agak sulit untuk membayangkan pasangan Korea ini mampu menghadang Zhang/Zhao lagi ataupun pasangan fantastic 4 lainnya. Sudket/Saralee dan Fuchs/Michels pun berada di tingkat yang sama dengan pasangan Korea dalam hal berharap kejutan. Barangkali kalau dilihat dari form turnamen terakhir dan kesiapan, mantan pasangan kekasih dari Inggris yang lebih bisa disejajarkan dengan pasangan kekasih asuhan Li Yongbo itu.

Ya inilah 8 pasangan terbaik, tapi tampaknya pasangan kekasih akan meneruskan tradisi, atau tidak?

Jumat, 28 November 2014

A Note About Butet

Lilyana Natsir, mungkin pemain terbaik ganda sektor putri Indonesia sejak dimulainya millennium ketiga. Namanya muncul pertama kali ke permukaan ketika dia menjadi juara junior Asia di Jakarta tahun 2002 bersama Markis Kido.

Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.

WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.

Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.

1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ

Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?

Senin, 17 November 2014

End of SSP season

Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.

Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.

Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.

Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.

Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh

Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me

Rabu, 01 Oktober 2014

Incheon 2014: Class and Validation


Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.

Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.

Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.

Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,

Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,

So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.

Minggu, 14 September 2014

Springboard and Revival

Turnamen kelas grand prix dan grand prix gold biasanya menjadi "springboard" karir seseorang. Tengoklah bagaimana pasangan ganda putri nan cantik jelita Bao Yixin dan Tang Jinhua memulai rentetan kemenangan yang menghantar mereka ke peringkat 1 BWF justru di turnamen biasa saja bernama Dutch Grand Prix. Dan di Palembang dari hari selasa lalu jalan itu coba ditiru melalui Indonesia Masters GP Gold meskipun banyak pemain utama tidak hadir karena berdekatan dengan Asian Games.

Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.

Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya  di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.

Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.

Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.


Sabtu, 06 September 2014

Jasmine at the crossroads

Sebagai turnamen yang berlangsung tepat setelah Kejuaraan Dunia, Vietnam Grand Prix tentu saja tidak bisa berharap akan banyak bintang yang datang, apalagi statusnya hanyalah turnamen bintang 2, atau seperti yang dikicaukan oleh seseorang yang penulis follow bahwa Vietnam GP adalah saat dimana pemain potensial atau baru dipulangkan ke klub untuk merebut perhatian. Malang bagi panpel, hal pertama dari Vietnam GP yang menarik atensi dunia adalah rubuhnya atap stadinon Phan Dinh Phung yang memaksa mereka memindahkan venue pertandingan dan berantakannya jadwal karena force majeure tersebut setidaknya sampai hari jumat ini.

Dan karena fokus turnamen ini antara pemain potensi atau pemain yang baru dipulangkan, awalnya kami lebih memfokuskan pada kategori yang kedua, terutama pada empat nama yaitu Irfan Fadhillah, Weni Anggraeni, Rendy Sugiarto dan Ririn Amelia. Ririn yang diklaim banyak orang kurang diberi kesempatan sebelum dipulangkan ke klub, belum mampu memberi impresi bahwa dia memang layak dipertahankan di pelatnas. Lain halnya dengan Rendy, kegagalan di XD bersama Ririn ditebusnya dengan menembus SF di MD, harapannya sih suatu saat nanti mengingat usianya yang masih muda, Rendy kembali mengisi jajaran punggawa timnas. Sedangkan Irfan/Weni seakan menegaskan bahwa mereka tersingkir dari Cipayung karena melimpahnya stok pemain ganda campuran, dan mungkin karena usia mereka maka mereka menjadi tumbal.

Bicara soal ganda campuran, nama Melati Daeva Oktaviani justru mampu menarik perhatian di turnamen ini. Melati yang dianggap sebagai playmaker putri terbaik di generasinya nampak akhirnya menemukan pasangan yang tepat di ganda campuran bersama Ronald Alexander setelah sebelumnya terlihat tak berkembang di ganda putri dengan pasangan yang terus berganti. Pasangan Ronald/Melati ini selalu menembus 8 besar di tiap turnamen yang diikutinya, dan duelnya nanti melawan Vita/Rijal di semifinal selain menimba banyak pengalaman, tentu bisa jadi menjadi tolok ukur awal sejauh mana kesiapan Melati untuk menjadi penerus Vita ataupun Butet di XD.

Pun jika benar nantinya Melati lebih memprioritaskan XD, ganda putri Indonesia tidaklah kekurangan pasokan, 2 pemain yang pernah berpasangan dengan Melati, Rosyita dan Maretha bersama permata Bali Ketut Mahadewi yang kali ini dipasangkan dengan Gebby Imawan juga mencoba bersinar di Ho Chi Minh.

Yang jelas kami sangat senang dengan keberanian dan kontinuitas bongkar pasang ini, serta berharap otak-atik kombinasi di ganda ini benar-benar dapat menghasilkan yang terbaik, dan seperti proses pembersihan berlian yang punya banyak halangan, semoga saja halangan itu bukanlah dari para fans yang asal teriak ingin kembali ke pasangan lama ketika satu hal buruk terjadi. Akhir kata All the best for Indonesia team going forward.

Senin, 01 September 2014

Copenhagen 2014: Where Dreams and Histories Made

Denmark, negeri Skandinavia yang terkenal dengan dongeng putri duyung itu, seminggu kemarin menyajikan berbagai cerita luar biasa dalam bentuk perjuangan atlet-atlet badminton di Ballerup Super Arena, Copenhagen. Di awal cerita, banyak pahlawan-pahlawan baru bermunculan seperti Anggia/Della, Lee So Hee/Shin Seung Can dan juga pahlawan Viking baru bernama Viktor Axelsen. Tapi, seperti dongeng pada umumnya, drama terseru terjadi di bagian akhir cerita dan itulah yang di Ballerup, minggu kemarin.

Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.

Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh


Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia  mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.

Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.

Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.

Senin, 25 Agustus 2014

Copenhagen 2014 Looking Forward for Surprises

Rasanya ngga adil kalo ninggalin ganda campuran sebagai nomor yang ngga ditulis previewnya sama sekali. So, 1 jam jelang WBC here it is.

Ganda Campuran, nomor yang identik dengan fantastic four sejak 2010 atau 2011 mungkin. Mayoritas gelar pasti hanya berputar antara Zhang Nan/Yunlei, Xu Chen/Ma Jin, Towi/Lilyana atau Fischer/Pedersen. Gelaran di Ballerup nanti juga kemungkinan besar berkutat di antara 3 fantastic four tersisa setelah sang pengantin baru urung berangkat karena cedera.

Kalo mau jujur, gw sih pengennya di Ballerup ini muncul pasangan ala Nath/Gail circa 2004 atau LYD/LHJ 2008 yang tiba2 mengagetkan dunia dan menggebrak dominasi, tapi siapa itu? Adcock/Adcock, Ko/Kim yang selama ini konsisten nyelip kalo ada fantastic 4 yg absen? Tapi lebih seru lagi kalo XD Hongkong misalnya ya yg tingkatan macam itulah.

I want a fully exciting XD for sure. Are you?

Sabtu, 19 April 2014

A view about mixed doubles next tier

Well, 2 minggu yang cukup menyenangkan bagi dunia bulutangkis Indonesia 2 gelar di Singapura SS + 2 gelar di NZ GP. Demikian juga 2 runnerup dari sana serta 3 perak dan 2 perunggu di WJC. Untuk para juara SS sepertinya ngga usah dibahas lagi toh langkah dan tujuan mereka sudah jelas, yang akan coba dianalisa secara ngasal di post ini hanyalah pemain lainnya.:)

Perombakan ganda campuran di NZ GP menghasilkan 3 semifinalis (Eko/Saufika, Obama/Daeva dan Irfan/Glow) yang kelihatannya cukup baik untuk dikembangkan. Eko dan Saufika dengan 2 gelarnya jelas menjadi headliner XD generasi itu untuk mengejar Riky/Richi (RU SOSS) dan Debby/Jordan guna melapisi sang XD juara dunia.

Selepas gelaran TUC di New Delhi, 3 XD terdepan itu mungkin akan ke Yoyogi stadium, tapi ujian terbesar buat semua XD ini adalah gelaran IOSSP yang mungkin akan menyaring juga siapa benar2 contender atau sebatas pretender. Jika ada pasangan diluar juara dunia yang bisa membuktikan diri dengan baik di Istora, ya kenapa ngga coba diorbitkan untuk Rio itung2 untuk pengalaman tanpa mengharapkan hasil.

Kalau harus menilai dari kelima pasangan tersebut mana yang paling baik, jelas hal yang sangat sulit. Dilihat dari beberapa match via streaming/livescore, jelas semua pasangan punya hal yg perlu diperbaiki. Jordan/Debby misalnya harus meningkatkan kekompakan dan gameplan mereka, Riky/Richi harus terus berani tampil dengan confidence tinggi and increase their defence, Edi needs to trust his partner more dan mengurangi "superhero attitude"-nya, itu kelemahan2 yang bisa ditangkap oleh mata pengamat ngasal ini.

Diluar 5 pasang tadi masih ada nama Rosyita yang dengan 2 perak WJCnya jelas menanti untuk mendapat partner dan saat diorbitkan yang tepat jika diproyeksikan untuk meramaikan sektor XD. Tapi penulis sendiri yakin dengan 5 pasangan yang ada saat ini setidaknya ganda-ganda potensial Indonesia berada di jalur dan tangan yang tepat.