Senin, 17 November 2014

End of SSP season

Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.

Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.

Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.

Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.

Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh

Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me

Tidak ada komentar:

Posting Komentar