Tampilkan postingan dengan label Men Singles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Men Singles. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2015

Istora 2015: When Two Streaks Collide

Anaheim, kota yang populer lewat pelatih Gordon Bombay dan tim Mighty Ducks itu, 1 dekade lalu menjadi saksi bisu banyak sejarah bulutangkis. Tempat penyelenggaraan kejuaraan dunia bulutangkis pertama di benua Amerika itu mendapati juara dunia pertama dari Amerika Serikat dan juga foto ikonik dibawah ini.
4 Heavenly Kings On Podium. Credit: badzine.net
Ikonik karena mungkin hanya di Anaheimlah, keempat legenda bulutangkis -yang akan bertemu di Jakarta pada hari kemerdekaan Indonesia- berada di satu podium bersama pada saat kejuaraan tertinggi BWF. Foto diatas juga menjadi foto podium kejuaraan bulutangkis tertinggi BWF dimana seragam merah (kadang dikombinasi kuning) tidak berada di posisi kedua dari kiri.

Ya, sejak Madrid 2006 hingga Copenhagen tahun lalu, podium tertinggi tunggal putra selalu diisi oleh tunggal putra China, entah itu Lin Dan, Chen Jin ataupun Chen Long. Tradisi yang tentunya sangat ingin dilanjutkan oleh Li Yongbo dan seluruh pasukannya tahun ini, meskipun dijamin berat karena tidak ada tunggal putra Tiongkok yang menaklukan Istora sejak Yang Yang nyaris 30 tahun lalu (Xiong Guobao menjadi juara IO 1989 ketika diselenggarakan di Pontianak).Sebuah tradisi kegagalan yang jauh lebih lama ketimbang streak yang dimulai dari Madrid itu, putra-putra negeri tirai bambu memang mungkin ditakdirkan sulit menaklukan Istora, hanya pasangan Awan dan Angin yang mampu menaklukan Istora selain Yang Yang dan Han Jian. 

Dan bila tradisi kering gelar ini berlanjut, ada beberapa kandidat kuat yang tenrunya dengan senang hati mematahkan Madrid streak. Orang paling kanan pada foto diatas barangkali menjadi orang yang paling berharap mematahkan Madrid streak. Sebagai prmain asing tersering yang menapaki podium tertinggi Istora, Lee Chong Wei tentu berharap itu sebagai modal yang cukup untuk kembali menapaki podium tertinggi sekaligus menjadi juara dunia pertama dari Malaysia. Penantang lainnya adalah penguasa terakhir Istora, Kento Momota, atau juga duo Denmark Jorgensen dan Axelsen yang berharap mampu melebihi prestasi Peter Gade. Sementara untuk berharap ada junior yang mengulang prestasi Taufik 2005, lebih baik jangan terlalu berekspektasi. 

Tradisi mana yang akan berlanjut, kita belum tahu, yang pasti WBC Istora adalah sesuatu yang sangat layak dnantikan dan disaksikan.

Sabtu, 10 Januari 2015

May Tokyo Become The Focus of Regeneration

Pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto menyatakan mundur dari Pelatnas Cipayung, terhitung Selasa, 6 Januari 

Kutipan diatas adalah rilis yang dikeluarkan oleh humas PBSI melalui akun twitternya pada 9 Januari 2015. Meskipun berharap Tommy tetap berprestasi di jalur pro, keputusan ini untuk sementara membuat Simon Santoso menjadi satu-satunya tunggal putra senior yang ada di Cipayung. Pihak pelatnas kabarnya sedang mempertimbangkan untuk memanggil pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tommy, terlepas dari apapun keputusannya nanti. semoga prospek menuju Tokyo 2020 ikut menjadi bahan pertimbangan.

Tokyo 2020 menjadi sasaran yang lebih realistis jika melihat peta persaingan dan hasil yang diraih para tunggal putra Indonesia belakangan ini. Kembalinya Lin Dan secara penuh ke sirkuit jelas menambah ramai persaingan yang sudah diisi Chen Long, Jorgensen, Tago dkk belum lagi jika Chong Wei terbebas setelah hearing awal Februari nanti. Dengan fakta diatas, peluang Simon atau siapapun MS Indonesia di Rio 2016 untuk setidaknya meraih medali tidaklah bisa dianggap besar.

Rio 2016 akan menjadi Olimpiade kedua bagi Simon jika dia mampu lolos kualifikasi dan tentunya harapan agar hasil lebih baik ketimbang London dimana dalam statusnya sebagai debutan dia kalah dari Lee Chong Wei di 16 besar. Sejarah mencatat bahwa para peraih emas tunggal putra Olimpiade kecuali Alan Budikusuma dan Ji Xinpeng meraih prestasi tertinggi ketika mereka bukan berstatus debutan di Olimpiade. Presiden BWF saat ini Poul Erik menjuarai Atlanta setelah sebelumnya kalah dari Ardy Wiranata di Barcelona, Ji Xinpeng memberi Taufik pelajaran di Sydney sebelum legenda Indonesia yang blak-blakan ini menemukan jodoh (?) dan menangis terharu diatas podium Goudi Olympic Hall. Goudi juga menjadi tempat bagi Ronald Susilo memberi kejutan sebelum sang alien menguasai dunia hingga kini.

Dengan melihat fakta diatas, bijak rasanya jika PBSI membuka kompetisi untuk pemain yang kini berusia 23 tahun kebawah -dimana 23 dianggap batas atas yang wajar karena memperhitungkan peak usia mereka saat 2020 masih belum 30 dan di usia emas- yang ada di Cipayung seperti Anthony Sinisuka Ginting dkk untuk diproyeksikan mengikuti kualifikasi Rio 2016. Jika pemain dibawah 23 tahun itu berhasil lolos ke Rio tentu   merupakan pengalaman berharga di Tokyo nantinya. 

Semoga situasi ini membuat regenerasi pebulutangkis Indonesia semakin baik.

Senin, 15 Desember 2014

Dubai2014: Battle Royale and Excitement All The Way


Undian untuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014 - nama turnamen yang lumayan panjang - akhirnya dilaksanakan Senin 15 Desember 2014 nyaris tengah hari waktu Dubai. Undian turnamen tutup tahun yang mempertemukan 8 pemain/pasangan terbaik di tahun 2014-jika tidak cedera dan dalam regulasi- ini mengundang banyak reaksi dari pemain maupun fans.

Kenichi Tago misalnya, ketika ditanya komentarnya tentang undian tadi berharap berada di grup B undian diatas yang menurutnya lebih ringan tapi tetap akan berfokus mengincar kemenangan pada event ini. Mengincar kemenangan, hal yang juga diutarakan oleh Hans Kristian Vittinghus yang kembali mengikuti ajang ini setelah tahun lalu absen. Kalau dilihat dari undian secara keseluruhan, ketidakhadiran Lin Dan dan Lee Chong Wei membuat setidaknya partai grup menjadi sulit ditebak karena diantara mereka ada yang formnya sedang meningkat seperti Momota dan Srikanth dan di lain sisi ada yang mencoba bangkit seperti Tago, Tommy dan Vittinghus. Serta Chen Long, JOJ, dan Son Wan Ho yang diuji konsistensinya sebagai 3 terbaik diluar finalis dua olimpiade terakhir.


Konsisten, salah satu kata bernuansa sarkasme yang banyak dilontarkan para pecinta bulutangkis Indonesia setelah melihat undian diatas. Bagaimana tidak, salah satu harapan terbesar mereka kembali berada di jalur yang sama dengan pasangan yang (pernah/masih?) menjadi idola istora terutama para cewe disana. Grup A memang seakan menjadi semacam arena battle royale melihat juara dunia, juara Asian Games dan ranking 1 dunia saat ini berada disana bersama dengan Chai Biao/Hong Wei yang tentu saja tidak ingin dianggap sebagai pelengkap penderita. Aroma battle royale memang tidak terlalu terasa di grup B, tapi grup yang diisi pasangan-pasangan yang sangat konsisten mencapai babak-babak akhir selama gelaran Super Series tahun ini tentu tidak bisa dianggap biasa saja meskipun hanya Boe/Mogensen yang memiliki gelar juara Super Series tahun ini.

Konsistensi dalam arti kata sebenarnya, tercermin dari komentar yang dilontarkan Gabrielle Adcock dalam konferensi pers seusai undian tadi siang. Gabby dengan jelas mengatakan bahwa mereka hanya mengincar posisi runner up grup, ungkapan yang secara implisit mengakui konsistensi juara dunia dan juara Asian Games, Zhang Nan/Zhao Yunlei sebagai pasangan yang layak diunggulkan sebagai juara grup maupun turnamen sekaligus menggeser Fischer-Nielsen/Pedersen dari tahta juara SSF. Sang juara bertahan tentu tidak akan mudah melepas begitu saja, pasangan Denmark yang  mengincar hattrick ini juga tentu berharap dejavu grup yang mereka alami, membawa hasil yang sama seperti tahun 2013 ketika mereka menjuarai grup yang berisi pasangan China, Denmark, Indonesia dan Thailand.

Christinna Pedersen yang juga juara bertahan di ganda putri mengatakan fokus awalnya adalah lolos dari babak grup, karena di semifinal apapun bisa terjadi. Sebuah komentar yang sangat wajar karena sang juara bertahan bertarung di grup A dengan pasangan terstabil di level super series, Misaki/Ayaka dan dua pasangan Korea yang tentu saja dapat memberi kejutan setiap saat. Duel senegara dalam grup juga akan terjadi di grup B antara pasangan kembar Luo dengan juara dunia 2014 Zhao Yunlei/Tian Qing yang menunda pensiunnya. Dan ambisi dua pasangan China ini untuk lolos ke semifinal tentunya tidak akan mudah mengingat mereka beradu bersama 2 pasangan yang pernah mencetak duel 100 menit, ranking 2 Dubai sekaligus semifinalis Copenhagen 2014 nan ulet Kakiiwa/Maeda dan Greysia/Nitya yang merupakan peraih emas Asian Games Incheon 2014. Rangkaian duel yang akan membuat para fans excited sekaligus nervous.


Membuat excited dan nervous orang lain, mungkin menjadi keahlian para pemain putri dan pengundi yang ada di Dubai tadi siang, reaksi yang menggambarkan ketidakpercayaan, excited, tegang dan kebingungan mendukung siapa juga mewarnai undian hasil tunggal putri tadi siang. Ketiadaan Li Xuerui membuat tunggal putri bergabung dengan 4 nomor lain dalam menyajikan partai yang sulit ditebak dan berpotensi menghasilkan atraksi ketegangan luar biasa.

Jadi, tidak peduli anda seorang penggila badminton ataupun olahraga secara umun atau anda hanya adrenaline junkie, silakan menikmati ketegangan yang penuh atraksi dalam battle royale bulutangkis bertajuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014.

Senin, 17 November 2014

End of SSP season

Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.

Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.

Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.

Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.

Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh

Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me

Rabu, 01 Oktober 2014

Incheon 2014: Class and Validation


Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.

Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.

Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.

Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,

Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,

So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.

Minggu, 14 September 2014

Springboard and Revival

Turnamen kelas grand prix dan grand prix gold biasanya menjadi "springboard" karir seseorang. Tengoklah bagaimana pasangan ganda putri nan cantik jelita Bao Yixin dan Tang Jinhua memulai rentetan kemenangan yang menghantar mereka ke peringkat 1 BWF justru di turnamen biasa saja bernama Dutch Grand Prix. Dan di Palembang dari hari selasa lalu jalan itu coba ditiru melalui Indonesia Masters GP Gold meskipun banyak pemain utama tidak hadir karena berdekatan dengan Asian Games.

Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.

Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya  di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.

Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.

Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.


Senin, 01 September 2014

Copenhagen 2014: Where Dreams and Histories Made

Denmark, negeri Skandinavia yang terkenal dengan dongeng putri duyung itu, seminggu kemarin menyajikan berbagai cerita luar biasa dalam bentuk perjuangan atlet-atlet badminton di Ballerup Super Arena, Copenhagen. Di awal cerita, banyak pahlawan-pahlawan baru bermunculan seperti Anggia/Della, Lee So Hee/Shin Seung Can dan juga pahlawan Viking baru bernama Viktor Axelsen. Tapi, seperti dongeng pada umumnya, drama terseru terjadi di bagian akhir cerita dan itulah yang di Ballerup, minggu kemarin.

Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.

Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh


Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia  mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.

Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.

Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.

Senin, 11 Agustus 2014

Copenhagen 2014: The Coast is Clear For Take-off, But For Who?

Seperti janji kami di post sebelumnya untuk membahas semua nomor di WBC, maka setelah post sebelumnya bahasan mengenai WD maka tulisan berikut coba menyinggung nomor tunggal putra.
Pria bertatto diatas menjadi penguasa tunggal putra sejak 2006, kejutan Park Sung Hwan di Stade Pierre de Coubertin hanyalah suatu keajaiban karena mungkin saat itu dia terlalu asyik membayangkan bemesraan dengan Xie Xingfang di menara Eiffel:D
Tidak adanya nama pria bertatto tersebut di undian yang diadakan di Berjaya Times Square tadi siang jelas menciptakan suasana serupa Hogwarts ketika semua berebut membuktikan diri menjadi penyihir paling jail ketika si kembar Weasley meninggalkan sekolah sihir itu.

Dari hasil undian siang tadi, inilah pihak-pihak yang paling mungkin memanfaatkan Copenhagen 2014 untuk mendapatkan kejayaan:
1. Chen Long: Sang Naga yang selama ini selalu dibawah bayang-bayang Super Dan, mampukah dia membuktikan diri bahwa dia mampu, atau kekalahan di Thomas Cup lalu sangat berakibat buruk pada mentalnya?
2. Lee Chong Wei: orang yang selama ini harus menerima kenyataan sebagai "pendamping" Super Dan. Akankah dia akhirnya mendapat gelar turnamen besar pertamanya? Atau tetap menjadi raja Super Series dan persemakmuran?
3. Jan O Jorgensen: Ksatria utama tuan rumah yang jelas berharap melebihi prestasi Peter Gade ataupun Morten Frost Hansen.
4. Tommy Sugiarto dan Kenichi Tago: Dua pemain yang tentu saja ingin mengulang atau melebihi pencapaian orang tua mereka yang mendapatkan medali WBC.

Nah dengan persaingan tunggal putra yang terbuka lebar, siapa yang akan memuncaki podium Ballerup Super Arena? Layak ditunggu.