Jumat, 11 Desember 2015

See You At The Courtside

Comeback Stronger, tulisan yang terpampang pada kaos yang dipasarkan gamepoint production, clothesline milik Greysia Polii. Dan menurut kami, personifikasi terbaik slogan itu selain oleh pemiliknya sendiri adalah Vita Marissa. Ya, Vita Marissa pemain yang segera mengakhiri karir sebagai pemain bulutangkis dan mungkin last act-nya adalah membawa Raffidias Akhdan kembali ke pelatnas :D.

Kenapa kami berpendapat bahwa Vita adalah personifikasi comeback stronger? Perjalanan karirnya sudah jelas memperlihatkan itu. Bahkan, bukan cuma sekali saja Vita membuktikan dia masih sangat kompetitif ketika publik menganggap karirnya sudah tidak mungkin bangkit lagi
.
Cedera panjang dan operasi yang dialami Vita lebih dari satu dekade lalu adalah saat pertama kali namanya masuk ke memori. Cedera yang membuat PBSI kala itu membuat keputusan nekat memasangkan Nova dengan Liliyana yang belum begitu lama jadi juara junior asia. Ketika Nova/Butet langsung meroket, jujur saja pikiran bahwa Vita bakal menjadi sekedar pemain pelatnas sempat terlintas. Dan, Vita bukan saja sukses membuktikan anggapan itu salah, dia sukses menjungkirbalikannya.  Selepas dari cedera, dia mampu lolos ke Olimpiade di 2 nomor sekaligus. Bukan hanya sekedar lolos, di ganda campuran lolos ke semifinal setelah di masa kualifikasi tampil sebagai salah satu top 8 dunia bersama Flandy Limpele, dan di ganda putri lolos setelah sempat menjadi juara di China dan dalam prosesnya merebut hati ribuan (an understatement) orang Indonesia untuk (kembali) tertarik kepada bulutangkis. Dan ketika contract fiasco tahun 2009-2010 yang membuatnya memilih menjadi pemain profesional hingga sekarang, beliau masih mampu menjuarai beberapa turnamen GP Gold dengan berbagai partner, dan dalam bahasanya sendiri, mampu mempersembahkan partnernya bagi bulutangkis Indonesia.

Dan mungkin begitulah Vita Marissa sebagai pemain bulutangkis akan dikenang

Senin, 07 Desember 2015

Dubai 2015: Final Race For End Of Year Ranking

Peringkat satu di akhir tahun, suatu predikat yang cukup bergengsi di tenis, sesuatu yang menunjukkan perkasanya seorang pemain di tahun tersebut. Di bulutangkis -meski tidak terlalu bergengsi- predikat itu jelas melambangkan supremasi dan keamanan terutama untuk kualifikasi Olimpiade. Dominasi Chen Long, Caro Marin, Lee/Yoo dan Zhang/Zhao di turnamen Super Series memastikan mereka bertahta di peringkat 1 untuk beberapa bulan ke depan. Tapi tidak demikian dengan ganda putri yang memiliki 12 juara berbeda di 12 turnamen superseries tahun 2015.

Dengan hanya gelaran Dubai Super Series Final yang tersisa sebagai turnamen besar penutup tahun, masih ada 4 dari 8 peserta Dubai yang terpisah < 4000 poin dan berpeluang menduduki ranking 1 ganda putri pada 31 Desember 2015. Gelar juara Dubai 2015 bagi 1 diantara Christinna/Kamilla, Greysia/Nitya, Luo/Luo atau Misaki/Ayaka akan memastikan ranking 1 ditangan mereka, meski Tian/Zhao, Muskens/Piek, Fukuman/Yonao dan Chae/Kim tentu ingin menggagalkan ambisi itu.

Kondisi ini ditambah masa kualifikasi Rio membuat Dubai menjadi sangat menarik, kedelapan pasangan memiliki agenda besar masing-masing, dan coba kami bahas satu persatu berikut ini.
Bagi Naoko Fukuman/Kurumi Yonao dan Chae Yoo Jung/Kim So Young invitasi ke Dubai berarti ajang unjuk kemampuan sekaligus meyakinkan asosiasi masing-masing bahwa mereka layak bersaing demi tiket Rio sebagai ganda kedua negara mereka, khusus bagi Fukuman/Yonao invitasi ini adalah berkah ganda karena mereka menggantikan Maeda/Kakiiwa yang cedera dan merupakan pesaing langsung mereka secara domestik. Kehadiran dua pasangan eropa, debutan Muskens/Piek yang terus berusaha konsisten bersaing di tingkat atas dan Christinna/Kamilla yang ingin membuktikan bahwa gelar juara eropa mereka yang bertumpuk bisa berbuah juga di tingkat dunia, tentu menambah kesengitan di Dubai.

Untuk Luo/Luo dan Tian/Zhao, mereka memiliki tujuan yang sama dan berbeda di Dubai. Sebagai semifinalis dan finalis tahun lalu, mereka harus setidaknya mampu mempertahankan hasil itu agar tidak dilewati oleh kereta cepat berjudul Tang Yuanting/Yu Yang dalam persaingan menuju olimpiade. Sebagai juara dunia, lolosnya Tian/Zhao bisa dikatakan save by the rule, tapi jika mampu meraih hasil yang baik tentu kerelaan TQ untuk kembali kerja rodi sangatlah tepat. Sementara si kembar bisa menggunakan ajang ini sebagai pembuktian bahwa mereka paling konsisten diantara kereta-kereta cepat paduka, apalagi jika mereka mampu membawa tahta peringkat 1 gand putri kembali ke China.

Dua pasangan terakhir adalah dua pasang yang kini berada di posisi pertama dua jenis ranking BWF yang sedang berjalan. Rank 1 BWF dan juara bertahan Misaki/Ayaka tentu tidak mau begitu saja kehilangan tahtanya. Sementara peringkat 1 race to Rio, Greysia/Nitya ingin menunjukkan bahwa konsistensi mereka sejak Mei layak juga diganjar prestasi terbaik di Dubai sekaligus mengkudeta Misaki/Ayaka dan menjadi ganda putri Indonesia pertama sejak era Superseries yang menjadi peringkat 1 BWF (Note: penulisnya males tracking rank pre-2007).

Dengan persaingan segitu ketatnya maka tidak ada alasan untuk tidak excited menunggu Dubai

Jumat, 04 Desember 2015

Who Will Get a Huge Boost For Rio?

40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.

Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.

Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.

Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.

Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.

Minggu, 22 November 2015

Catatan Akhir Superseries 2015 Indonesia

Final Hongkong Superseries sedang berlangsung ketika tulisan ini dibuat. Final yang menandai berakhirnya musim Superseries reguler pada tahun 2015. Tahun yang dinilai banyak pihak sebagai bukan tahunnya bulutangkis Indonesia karena hanya meraih 3 gelar SS dari ganda putra dan putri sepanjang tahun. Jumlah yang menurun dibanding 2014 apalagi 2013, tapi benarkah masa depan bulutangkis Indonesia begitu buruk?

Pertama kita bicara soal nama yang selalu muncul di daftar 3 tahun itu, M Ahsan/Hendra Setiawan. Gelar mereka di Malaysia menunjukkan konsistensi mereka, meski tidak sebanyak hasil tahun-tahun sebelumnya. Salah satu hal yang menjadi faktor adalah lawan sudah terbiasa dengan pola permainan mereka, tidak seperti 2013 dimana mereka begitu dominan dan lawan masih kaget dengan gaya mereka. Hal yang wajar, karena kalo kita main video game lawan temen misalnya, pertama kita nemu jurus/jalan rahasia pasti lebih sering menang tapi ketika rahasia itu sudah menjadi rahasia umum maka hasil permainan video game itu makin sulit diprediksi siapa pemenangnya, bergantung pada siapa yang lebih siap dan beruntung ketika bermain. 

Lalu tentang nama-nama yang hilang, Kido/Gideon sudah tidak berpasangan lagi dan kini menempuh jalan masing-masing yang baru berbuah QF Superseries dan juara GP. Simon dan Tommy sempat mengalami cedera dan meski belum pernah juara lagi tapi beberapa kali konsisten menembus perempat dan semifinal Superseries. Sementara untuk Owi/Butet rasanya ngga ada yang perlu dituliskan selain semoga masalah mereka, apapun itu akan cepat terselesaikan.

Ada dua nama baru yang muncul tahun ini. Keberhasilan Angga/Ricky di Singapura memberi secercah harapan bagi adanya partner perang sepadan bagi Ahsan/Hendra, dan mereka beberapa kali menunjukkan hal itu meski masih perlu pembuktian konsistensi agar mereka tidak menjadi Markis/Markus berikutnya. Nama kedua adalah Greysia/Nitya yang menjadi salah satu dari 12 pemenang Super Series 2015 di ganda putri, mengingat konsistensi Greysia/Nitya yang nyaris selalu menembus QF dan kini memimpin BWF race to Rio rasanya pr mereka bukanlah konsistensi tapi keberuntungan undian yang sering tidak berpihak dan memaksa mereka bertarung habis-habisan hampir tiap babak sehingga bensin yang dimiliki tidak tersisa di babak-babak akhir.

Yang terakhir, teruntuk nama-nama yang belum pernah muncul di daftar juara. Tunggal putra Cipayung yang memang sedang dalam proses rebuilding, beberapa kali memberi letup kejutan dan memperlihatkan prospek cerah mereka meski belum mencapai podium tertinggi. Tunggal putri, meski mendapatkan perunggu WBC tapi kombinasi cedera, ketidaksiapan dan belum levelnya membuat nomor ini masih harus menunggu proses rebuilding yang lebih lama. Sederetan nama di ganda seperti Kevin/Gideon, Wahyu/Ade, Della/Rosyita, Ketut/Anggia dan Jordan/Debby serta banyak talenta lain yang masih mix n match, menunjukkan bahwa masa depan bulutangkis Indonesia tidaklah begitu buruk, dengan tingkat performa dan kedewasaan mereka saat ini, rasanya hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapat gebrakan yang diinginkan di level Superseries

2015 memang gelap tapi cahaya di ujung terowongan itu juga makin terlihat.

Selasa, 03 November 2015

Mari Berkhayal :D

Rangkaian turnamen Grand Prix Gold keatas yang dilangsungkan di benua biru usai bersamaan dengan berakhirnya final di Saarbucken pada minggu pertama bulan November. Setelah tiga minggu disuguhi aksi badminton yang mampu membuat mata melek meski pada jam yang tidak manusiawi, ada satu nomor yang menarik perhatian yaitu ganda campuran.
Ganda Campuran, nomor dimana Ko Sung Hyun/Kim Ha Na menjadi pemenang terbesar setelah mengoleksi 2 gelar Super Series di eropa dengan mengalahkan dua pasangan terbaik Indonesia di final, sedangkan di final Saarbucken, Mateusiak/Zieba menegaskan comeback mereka dengan gelar Bitburger GP Gold. Dan karena ini menjelang Rio, penulis ingin sedikit berkhayal siapa2 saja yang masuk ke daftar ideal 16 pasangan XD yang ikut Rio, tentu dengan patokan regulasi maksimal 2 pasangan per negara dan ada perwakilan setiap benua, jika memungkinkan.

Pasangan pertama tentu pemenang terbesar tur eropa kemarin, Ko Sung Hyun/Kim Ha Na. Setelah menjadi 1 dari 3 pasangan yang memberikan 6 game final SS(P) eropa yang 4 diantaranya sangat exciting, wajar kiranya kalo pasangan Hercules dan Damsel in Distress asal Korea ini menjadi nominasi pertama. Nominasi kedua adalah, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba. Fakta bahwa Rio 2016 mungkin menjadi Olimpiade kelima, iya KELIMA bagi Mateusiak mestinya sudah cukup menjadi alasan memasukkan mereka sebagai nominator peserta olimpiade impian ini, kalo kurang silakan lihat rekaman final Bitburger dimana Mateusiak dan Zieba yang merupakan ibu 1 anak sangat mendominasi.

Nominator berikutnya dari para runner up, nama Lilyana Natsir jelas sudah menjadi legenda bulutangkis XD dunia dengan gelar juara dunia terbanyak di ganda campuran, wajar jika ia diberikan kesempatan terakhir mengejar emas Olimpiade yang masih belum didapat meski pasangannya menurut kami tidak sebaik saat Beijing. Dua runner up lainnya, Praveen Jordan/Debby Susanto dan Adcocks juga diikutsertakan ke Rio atas dasar penampilan impresif di Stade de Coubertin dan Saarbucken yang hanya kalah dari sang juara dan untuk Adcocks juga demi penyeimbangan ke benua Eropa.

Soal penyeimbangan kekuatan ke Eropa, rasanya perlu mengajak peraih perunggu London Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen selain pasangan yang sama ekspresifnya dengan Joachim yaitu Fuchs/Michels dan perempat finalis WBC 2015 Jacco Arends/Selena Piek untuk menemani Adcocks dan pasangan Polandia mengibarkan panji benua biru. Selain eropa, 1 pasangan Australia dan 2 pasangan benua Amerika juga akan ikut bertanding demi pemerataan dan mencoba menjegal dominasi Asia.

Lalu siapa yang akan mewakili Asia menghadapi 8 penghadang itu? Selain Ko/Kim, Owi/Butet dan Debby/Jordan yang sudah disebut diatas, rasanya kita harus memberi 2 wakil ke China karena mereka memiliki 4 pasangan di top 8 saat ini. Dan 2 pasangan yang dipilih adalah Liu Cheng/Bao Yixin dan Xu Chen/Ma Jin karena menurut kami akan lebih baik mempersilakan Zhang Nan dan Zhao Yunlei berkonsentrasi di MD dan WD. (lagian juga MJ n Yixin lebih eyes pleasing ketimbang ZYL, mengingat Rio nanti jamnya juga ngga manusiawi, ini perlu :p, *kabur sebelum dibantai admin zhangzhao)

3 pasangan sisanya adalah Chan Peng Soon Goh Liu Ying sebagai mantan top 4 dan juga lihat alasan diatas, Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah karena reputasi mereka yang suka menyulitkan dan pernah meraih gelar Super Series. Serta Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam sang legenda Thailand sebagai peserta terakhir.

Sekali lagi, ini hanyalah daftar ideal berdasar khayalan penulis, dan saya ga bakal menggerutu siapapun peraih medalinya jika daftar ini benar terjadi. Kalo punya khayalan sendiri setelah baca ini, silakan share lho :)

Jumat, 30 Oktober 2015

Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Semifinal, itulah hasil yang diraih oleh Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di Stade de Coubertin minggu lalu. Semifinal kelima yang ditapaki pasangan ini dalam tahun 2015 dan sekaligus mengangkat mereka ke ranking 3 dunia yang merupakan pencapaian terbaik dalam karir mereka sejauh ini. Dan bila melihat barisan bakat di nomor ganda putri yang usianya dibawah Greysia/Nitya, maka tidak salah bila hasil di Paris minggu lalu menjadi momentum penegas kebangkitan ganda putri Indonesia.

Menurut penulis sotoy ini, jika berbicara kebangkitan ganda putri Indonesia -yang disertai pemain dengan nama-nama yang pastinya akan sangat membantu dalam pelajaran mengarang indah- ada beberapa kejadian didalam lapangan yang memicu ataupun memperbesar momentum kebangkitan ini, berikut dibahas satu persatu:

1. Kekompakan dan pencapaian tim Uber Indonesia sebagai finalis ketika menjadi tuan rumah pada tahun 2008 yang membuktikan bahwa putri-putri Indonesia bisa bersaing dan berprestasi di tingkat dunia meski kadang tampil eksentrik di lapangan. Event ini membuat popularitas badminton melonjak karena roadshow tv dimana-mana dan mengkonversi banyak orang apatis menjadi fans.

2. Medali emas SEA Games 2011 yang diraih oleh Anneke Feinya Agustine dan Nitya Krishinda Maheswari. Memang persaingan SEA Games hanyalah sebatas Asia Tenggara, tapi hasil ini setidaknya memunculkan kembali detak prestasi bulutangkis putri Indonesia setelah cederanya peraih medali perunggu Beijing, Maria Kristin Yulianti

3. Keajaiban di Stade de Coubertin 2013. Kejadian di Paris dua tahun lalu yang jauh lebih dahsyat dari aksi Houdini ala Lindaweni Fanetri di Istora Agustus lalu. Meski mirip tapi lawan Greysia/Nitya di Paris adalah ganda putri yang ketika itu masih dianggap monster alien, Wang Xiaoli/Yu Yang. Kemenangan ini menjadi sinyal kehadiran Greysia/Nitya setelah disatukan kembali

4. Gold Incheon 2014. Ketika suatu negara harus menunggu 36 tahun lamanya untuk kembali meraih medali emas, tentu saja prestasi yang diraih Greysia/Nitya di Korea merupakan momentum besar yang patut dilanjutkan dan membangkitkan bulutangkis Indonesia terutama di ganda putri.

5 Gelar SS pertama dan semua rentetan prestasi di 2015, konsistensi yang nantinya akan berbuah ranking 1 dunia bagi Greysia/Nitya, satu hal yang kemungkinan besar akan dibilang impossible oleh Greysians terloyal sekalipun karena memang sangat tidak terduga pada akhir 2014.

Dengan segala momentum yang ada sekarang, semoga ganda putri dan seluruh badminton Indonesia tetap berprestasi pasca Rio 2016.

Kamis, 15 Oktober 2015

Overview Peluang Bulutangkis Indonesia di Rio

Bulutangkis -cabang yang pernah menyumbangkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia- kembali diharapkan mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade Rio tahun depan setelah pulang dengan tangan kosong dari London 3 tahun lalu. Melihat kondisi saat ini, banyak orang memberi target pada dua finalis Beijing 2008, Hendra Setiawan dan Lilyana Natsir yang kali ini membawa partner baru dan Greysia/Nitya yang tahun lalu meraih medali emas di Asian Games Incheon. Tapi, benarkah harapan medali bulutangkis di Rio hanya tertumpu pada mereka berenam?
Dari rilis ranking Race to Rio seusai Thailand Grand Prix Gold, Indonesia masih mungkin mengirim 2 wakil tunggal putra dengan mempunyai 2 wakil di top 16, terutama jika Hayom dan Ihsan mampu tampil seperti di Bangkok, hingga akhir April 2016 dan menutup defisit dengan peringkat 16 yang kini berada di kisaran 25-26 ribu poin.  Tetapi, bicara soal medali, sepertinya sulit karena sejauh ini tunggal putra dikuasai oleh Chen Long, Kento Momota, Jorgensen, dan Axelsen, apalagi jika Lin Dan dan Lee Chong Wei ikutan serius di Rio.
Peluang yang sama beratnya, juga akan dihadapi di nomor tunggal putri. Lindaweni Fanetri kemungkinan besar menjadi wakil satu-satunya tunggal putrid mengingat hingga minggu kedua Oktober Bella masih belum turun ke turnamen, pasca cedera di Piala Sudirman.  Linda memang meraih medali perunggu di kejuaraan dunia Istora kemarin. Medali yang didapat setelah penampilan luar biasa dalam seminggu, dimana dalam salah satu pertandingan Linda seperti “dirasuki” Houdini dan menyelamatkan lebih dari 4 matchpoint. Tingkat permainan yang setidaknya harus diulang Linda jika ingin bersaing dengan Marin, Saina, Sung, Intanon dan 2 pemain Tiongkok dalam memperebutkan medali Rio.
Soal berjuang sendiri di Rio, mungkin juga akan dialami Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Cedera lama yang dialami Rosyita Eka dan belum stabilnya penampilan ganda putri Indonesia lainnya hingga saat ini, membuat posisi top 8 race to Rio tampak mustahil diraih ganda kedua Indonesia. Greysia/Nitya yang kini menduduki peringkat 1 race to Rio setelah meraih Super Series perdana di Korea tentu ditantang untuk menjaga kondisi dan konsistensi demi undian yang lebih baik. Greysia/Nitya sebenarnya diuntungkan dengan belum adanya pasangan tetap dari Korea dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meramu pasangan sehingga kemungkinan hanya mengirim satu pasangan ke Rio. Tantangan jelas masih banyak, peraih perak WBC 2015 Pedersen/Rytter-Juhl dan peraih perak AG 2014 Misaki/Ayaka menjadi dua saingan terberat, belum lagi pasangan Korea dan Tiongkok entah siapapun itu. Target medali entah apapun warnanya adalah hal yang realistis bagi Greysia/Nitya.
Bila di ganda putri Greysia/Nitya harus mengejar target sendirian. Rasanya tidak demikian untuk ganda campuran maupun ganda putra. Prestasi yang diraih oleh Praveen Jordan/Debby Susanto, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Wahyu Nayaka/Ade Yusuf yang sudah mencicipi perunggu AG, juara Super Series dan GP Gold serta beberapa kali member kejutan melawan pasangan yang lebih diunggulkan membuat harapan agar mereka pulang dengan medali setidaknya perunggu bukanlah hal yang berlebihan. Angga/Ricky misalnya sudah pernah mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan nyaris menembus semifinal WBC 2015 jika tidak kalah tipis melawan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Dua pasangan yang selama ini dikenal stabil menembus babak-babak akhir ganda putra bersama Ahsan/Hendra, Boe/Mogensen dan Fu Haifeng/Zhang Nan. Rekor Debby/Jordan juga tidak bisa dibilang buruk, meski belum pernah meraih juara di turnamen internasional BWF, tapi semifinal All England dan 2 final GP Gold dalam tahun 2015 sejauh ini tentu membuat mereka menjadi kuda hitam, diluar unggulan seperti Owi/Butet dan para peraih medali London.

Bila kondisi saat ini bisa setidaknya dipertahankan, peluru Indonesia dalam memburu medali tidak hanya 3 pasang saja.  Masih ada tujuh bulan masa kualifikasi Rio untuk bulutangkis, semoga tidak ada cedera yang dialami tim Indonesia.

Selasa, 01 September 2015

Adu Kebugaran Dan Konsistensi

Satu gelar, itulah hasil yang didapat tim bulutangkis Indonesia pada turnamen grand prix pertama yang diikuti pasca penyelenggaraan Kejuaraan Dunia di Istora. Hasil yang jelas ditanggapi beragam, kekecewaan di nomor ganda campuran karena tampil nyaris full team tetapi bisa dibilang gagal total, munculnya harapan di ganda putra, tunggal dan juga ganda putri karena para skuad pelapis mulai ada yang menunjukkan prestasi meski bukan juara, dan sedikit kejelasan soal Rio di nomor yang mempersembahkan gelar, yaitu tunggal putra.

Jika menilik susunan ranking BWF terbaru pasca WBC, maka ada 3 negara yang punya peluang besar menempatkan lebih dari satu wakil di 16 besar di akhir masa kualifikasi Rio, sekaligus mengirim dua wakil tunggal putra ke Brazil. Ketiga negara itu adalah China yang saat ini memiliki 4 pemain di deretan 16 besar, serta Denmark dan India yang masing-masing memiliki 3 pemain disana. Diluar mereka, ada Jepang, Korea dan Taiwan yang bisa dianggap kuda hitam dalam kemungkinan mengirim 2 wakil karena memiliki 1 pemain mapan di top 10 dan punya pemain di sekitar top 25 yang mungkin melonjak. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia saat ini memiliki 2 pemain di jajaran top 25 tetapi sangat mungkin disalip dalam perburuan tempat 16 besar jika tampil tidak konsisten. Dengan kondisi itu, ditambah komitmen PBSI yang menyatakan tunggal putra Cipayung lebih fokus menyiapkan regenerasi demi AG 2018 dan Olimpiade Tokyo, maka wajar meski kami berharap ada dua wakil, tapi ekspektasi realistis tunggal putra di Rio adalah 1 wakil. Dan setelah Vietnam GP, siapa saja yang menjadi kandidat kuat, semakin jelas.

Tommy Sugiarto, juara Vietnam GP 2015 menjadi kandidat terkuat karena peringkatnya saat ini yang tertinggi diantara MS Indonesia. Dan gelar ini juga akan membuatnya kembali memasuki top 16 setelah sebelumnya keluar karena tidak mampu mengulang kegemilangan Copenhagen 2014 di Istora. Sekalipun dia berada diluar Pelatnas, tapi dukungan sponsor yang kuat dari Sports Affairs Malaysia harusnya tidak menyulitkan dia memilih turnamen. Asalkan pintar memilih turnamen, konsisten dan tidak cedera, Tommy jelas kandidat terkuat sebagai wakil di Rio.

Pemain Indonesia lainnya yang juga berada di jajaran top 25 adalah Hayom Rumbaka. Juara Vietnam GP 2014 yang sedang mengalami cedera ini harus merelakan mahkotanya lepas tanpa tanding. Mantan tunggal utama Cipayung yang harus kembali ke klub ketika kebijakan regenerasi diterapkan memang harus konsentrasi menyembuhkan cedera harmstring, tapi apabila ia fit seratus persen, tentu tidak sulit bersaing dengan Tommy karena Hayom juga memiliki dukungan finansial besar dari klubnya. Adu konsistensi kedua tunggal putra (non pelatnas) terbaik Indonesia ini tentu layak ditunggu.

Dari kamp Cipayung, meski AG Jakarta dan OG Tokyo dijadikan target utama, tapi tentu peluang menimba pengalaman di Rio, jika didapatkan tentu tidak ditolak. Dua kandidat terbesar dari Cipayung tentu sang pahlawan ketika perempat final piala Sudirman dan satu-satunya MS pelatnas di top 50 saat ini, Jonathan Christie dan Anthony Ginting yang selalu menembus minimal perempat final di 3 turnamen terakhirnya tentu layak dikedepankan. Mereka berdua juga memiliki keuntungan tidak banyak poin yang harus dipertahankan sehingga bila mereka tampil menggila dari sekarang hingga April 2016, bisa saja mereka ikut nyemplung di Rio.

Siapapun yang nantinya ikut ke Rio, semoga menjadi peluru penuh kejutan disana.

Kamis, 20 Agustus 2015

Eyes Lock To Rio

Sepuluh hari yang sangat menyenangkan baru saja terjadi bagi penggemar badminton yang berada di atau bisa melanglang buana ke Jakarta. Bagaimana tidak, 3 sajian yang sangat menarik berlangsung semua disana, mulai dari wbc, legend vision dan dsportforum. Karena gw cuma pengacara yang lagi alim ya cuma bisa ngeliat 3 acara itu via layar tanpa menikmati atmosfernya. Tenang, tulisan ini bukan dimaksud untuk curcol kok, kalian2 yg membaca ini pasti sudah tau bahwa ada kuartet juara Copenhagen yang kembali juara di Istora, selamat kepada mereka dan juga Hendra/Ahsan sebagai juara "baru" di ganda putra, juara dunia setengah hari karena besok siangnya dikalahkan 2 legenda tunggal putra saat legends vision.

Dan, dsportforum, sebagai acara terakhir dari rangkaian 10 hari badmintonoverdose Jakarta, benar-benar menjadi sarana evaluasi hasil kejuaraan dunia sekaligus penjelasan kepada publik sasaran besar berikut dari PBSI yaitu Olimpiade Rio. Banyak pernyataan menarik terlontar disana, karena pihak penyelenggara dengan ciamiknya mampu menghadirkan para stakeholder badminton maupun olahraga Indonesia secara keseluruhan. Salah satu, pernyataan yang dianggap kontroversial di forum itu adalah pernyataan Bapak Gita Wirjawan yang akan mundur dari jabatannya di PBSI, jika bulutangkis gagal meraih medali emas di Pavilion 4 Rio De Janiero tahun depan.

Bagi penulis, pernyataan diatas selain sebagai pernyataan ksatria yang yakin akan memenuhi target 1 emas yang dibebankan, juga sekaligus sinyal bagi semua orang yang berada disitu, -setelah beliau mengutarakan cara pengelolaan PBSI selama ini dan evaluasi WBC- bahwa jajaran PBSI sudah memiliki gambaran langkah yang jelas dalam upaya meraih hasil terbaik di Rio. Pernyataan yang juga semi implisit menarik garis batas antara pihak yang mendukung ataupun merongrong upaya perbaikan dan pencapaian target PBSI.

Target 1 emas memang dibebankan Kemenpora dan KONI/KOI kepada dua pasangan peraih gelar juara dunia 2013, tapi diluar mereka berempat, ada beberapa atlet yang juga punya decent chance for at least a medal jika diberikan kesempatan dan persiapan yang memadai, Daftar atlet berikut disusun berdasar abjad demi memudahkan penulis mengingat :
1. Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi: pasangan ganda putra perempatfinalis kejuaraan dunia kemarin, hasil yang membuktikan mereka mampu bersaing dengan ganda-ganda terbaik dunia, juga menjadi modal mendulang poin supaya menjadi pasangan ganda putra 1A Indonesia di Rio nanti.
2. Della Destiara Harris/Rizky Amelia Pradipta: pasangan baru ini memang belum menunjukkan prestasi apapun, tapi apabila mereka mampu tampil mengejutkan di tur asia timur pertama dan terus konsisten, dengan pembatasan kuota per negara nomor ganda putri jelaslah sangat terbuka.
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari: pasangan yang langsung terpikir oleh penulis sebagai salah satu kandidat kuat peraih medali begitu pengetatan kuota diberlakukan. Bila mereka tetap konsisten dan mampu memperbaiki kelemahan yang ditulis di deridestan.blogspot.com serta memperoleh undian yang favorable, mungkin kejutan Incheon terjadi lagi.
4. Lindaweni Fanetri : Jika cedera yang dideritanya ketika semifinal WBC tidak lama mengganggunya dan undian superseries somehow jarang mempertemukannya dengan top 8, maka bisa saja terjadi de javu Maria Kristin yang membangun momentum dari Istora menuju Beijing 7-8 tahun lalu.

Tentu, peluang atlet2 yang tidak tertulis diatas juga masih ada, mengingat kualifikasi Rio masih panjang, tapi seperti pernyataan Eric Thohir di dsportforum kemarin, persiapan serius menuju Rio memang sudah harus berjalan tanpa perlu mengungkit hasil-hasil yang sudah berlalu.

Kamis, 06 Agustus 2015

Istora 2015: When Two Streaks Collide

Anaheim, kota yang populer lewat pelatih Gordon Bombay dan tim Mighty Ducks itu, 1 dekade lalu menjadi saksi bisu banyak sejarah bulutangkis. Tempat penyelenggaraan kejuaraan dunia bulutangkis pertama di benua Amerika itu mendapati juara dunia pertama dari Amerika Serikat dan juga foto ikonik dibawah ini.
4 Heavenly Kings On Podium. Credit: badzine.net
Ikonik karena mungkin hanya di Anaheimlah, keempat legenda bulutangkis -yang akan bertemu di Jakarta pada hari kemerdekaan Indonesia- berada di satu podium bersama pada saat kejuaraan tertinggi BWF. Foto diatas juga menjadi foto podium kejuaraan bulutangkis tertinggi BWF dimana seragam merah (kadang dikombinasi kuning) tidak berada di posisi kedua dari kiri.

Ya, sejak Madrid 2006 hingga Copenhagen tahun lalu, podium tertinggi tunggal putra selalu diisi oleh tunggal putra China, entah itu Lin Dan, Chen Jin ataupun Chen Long. Tradisi yang tentunya sangat ingin dilanjutkan oleh Li Yongbo dan seluruh pasukannya tahun ini, meskipun dijamin berat karena tidak ada tunggal putra Tiongkok yang menaklukan Istora sejak Yang Yang nyaris 30 tahun lalu (Xiong Guobao menjadi juara IO 1989 ketika diselenggarakan di Pontianak).Sebuah tradisi kegagalan yang jauh lebih lama ketimbang streak yang dimulai dari Madrid itu, putra-putra negeri tirai bambu memang mungkin ditakdirkan sulit menaklukan Istora, hanya pasangan Awan dan Angin yang mampu menaklukan Istora selain Yang Yang dan Han Jian. 

Dan bila tradisi kering gelar ini berlanjut, ada beberapa kandidat kuat yang tenrunya dengan senang hati mematahkan Madrid streak. Orang paling kanan pada foto diatas barangkali menjadi orang yang paling berharap mematahkan Madrid streak. Sebagai prmain asing tersering yang menapaki podium tertinggi Istora, Lee Chong Wei tentu berharap itu sebagai modal yang cukup untuk kembali menapaki podium tertinggi sekaligus menjadi juara dunia pertama dari Malaysia. Penantang lainnya adalah penguasa terakhir Istora, Kento Momota, atau juga duo Denmark Jorgensen dan Axelsen yang berharap mampu melebihi prestasi Peter Gade. Sementara untuk berharap ada junior yang mengulang prestasi Taufik 2005, lebih baik jangan terlalu berekspektasi. 

Tradisi mana yang akan berlanjut, kita belum tahu, yang pasti WBC Istora adalah sesuatu yang sangat layak dnantikan dan disaksikan.

Selasa, 28 Juli 2015

ISTORA 2015: ENJOY THE BATTLES

"I am going to enjoy the match" itulah kata-kata yang diucapkan peraih medali emas Atlanta 1996 sekaligus presiden BWF saat ini Poul Erik Hoyer Larsen, setelah 5 klik dalam jangka waktu setengah jam di Museum Bank Indonesia menghasilkan banyak partai yang dijamin akan menguji kekuatan jantung orang-orang yang rela ataupun berani menontonnya.

Ketika undian usai dilaksanakan, banyak mata langsung tertuju ke pool atas undian ganda putra. Bagaimana tidak, peraih emas dua olimpiade terakhir nomor ganda putra Hendra Setiawan dan Fu Haifeng bersama pasangan masing-masing harus berebut 1 tiket dengan pasangan nomor 1 dunia saat ini Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong yang jelas ingin membuktikan diri bahwa gelar nomor 1 mereka bukan hanya sekedar deretan gelar super series tanpa kejuaraan dunia/Olimpiade.

Prestasi dan kemampuan mentereng dari 3 ganda diatas memang sangat diakui dunia, tapi bukan berarti salah satu dari mereka pasti menjadi juara pada kejuaraan badminton internasional terakhir yang mungkin digelar Istora sebelum dipugar. Ganda Taipei penuh kejutan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dan duo raksasa Denmark yang lebih mirip Yao Ming, Mads PK/Mads CP tentu akan mencoba membalikkan prediksi pool atas meski peluang mereka kecil.

Jika pool atas diisi oleh nama-nama yang terbukti punya deretan gelar luar biasa, bukan berarti pool bawah diisi oleh ganda yang biasa-biasa saja. Juara bertahan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol tentu ingin mengulang cerita dongeng mereka di Copenhagen tahun lalu. Penantang utama Ko/Shin di pool bawah, adalah runner up Guangzhou 2013 Boe/Mogensen yang tentunya ingin membuktikan mereka mampu mengulang kejayaan Lars Paaske/Jonas Rasmussen diawal dekade 2000an. Sejujurnya, pool bawah lebih menarik karena juga diisi ganda yang secara usia layak meledak dan meraih kejayaan di Rio 2016 tetapi hingga kini belum/kurang menunjukkan konsistensi untuk menggeser para seniornya sebagai ganda utama negara masing-masing. Ya, nama-nama seperti Goh/Tan, Liu/Qiu, Chai/Hong, Angga/Ricky maupun Wahyu/Ade tentu berharap pencapaian di Istora kali ini mampu menjadi pijakan kuat menuju Rio dan petualangan-petualangan berikutnya.

Kejuaraan dunia mungkin sudah kehilangan sebagian gengsinya karena menjadi ajang tahunan, tapi tingkat persaingan khususnya dinomor ganda putra membuktikan makin meratanya persaingan bulutangkis. Jika kami dipaksa membuat prediksi juara, maka 4 nama yang kami kedepankan, Ko/Shin, Boe/Mogensen, Fu/Zhang dan Ahsan/Hendra karena pengalaman mereka di kejuaraan-kejuaraan penting sebelumnya namun siapapun yang akhirnya dikalungi medali emas 16 Agustus nanti, kami akan dengan sangat lantang berteriak menirukan sang Presiden BWF: WE WILL ENJOY THE MATCHES.

Jumat, 24 Juli 2015

Taipei Dan Greysia

Chinese Taipei, negara asal salah satu produsen raket terkenal di dunia. Negara yang terkenal dengan keberagaman kulinernya terutama yang berasal dari laut karena terletak di garis balik utara. Taiwan juga dikenal karena berbagai objek wisatanya, baik museum-museum bernuansa sejarah ataupun bangunan tinggi menjulang seperti Taipei Tower. Taipei, sebagai ibukota Taiwan barangkali menjadi kota favorit Greysia Polii karena disanalah Greysia tiga kali mencapai final kejuaraan internasional (paling banyak di satu tempat, setidaknya hingga tulisan ini dibuat)

Tiga kali mencapai final di suatu turnamen dalam jangka waktu lima tahun dan dua diantaranya menjadi juara jelas bukanlah prestasi yang mudah, apalagi bagi nomor ganda putri Indonesia yang jujur saja, lama dianggap hanya sekedar pelengkap penderita. Ya, nomor yang dulu sering kalah pamor ketimbang ganda putra dan campuran yang lebih sering mampu menghasilkan juara-juara internasional. Kamipun baru mulai lebih memperhatikan nomor ini sejak kemenangan penuh keajaiban Greysia/Nitya atas Wang/Yu di Paris 2013, sebelum itu ya kami tau ada tapi menganggapnya "tiada", mengingat dominasi China yang sangat sangat kuat,

Final pertama Greys di Taipei terjadi di tahun 2011 bersama Meiliana Jauhari, salah satu pasangan ganda putri Indonesia yang diproyeksikan mengikuti Olimpiade London. Di final, mereka harus menyerahkan gelar kepada Ha Jung Eun/Kim Min Jung setelah Greysia mengalami cedera bahu sehingga tak bisa meneruskan pertandingan, cedera yang diakuinya sendiri tahun lalu, masih terkadang dirasa sakitnya. Cedera yang mungkin menjadi pertanda awal kisah buruk yang dialami Greys di London meskipun kami yakin kejadian di London hanyalah sebatas strategi memanfaatkan sistem yang banyak kelemahan.

Sempat berada di posisi biasa-biasa saja hingga kemenangan ajaib di Paris itu, final kedua di Taipei, kembali mempertemukan keempat lakon drama di Paris. Tidak seperti di Paris, kali ini Greys/Nitya mampu mengalahkan Wang/Yu dengan straight game dan skor cukup meyakinkan, suatu penampilan yang digambarkan Gill Clark "stunning and revelation performance by Indonesian pair". Kemenangan yang tentunya makin membuat percaya diri dan puncaknya peraihan medali emas Incheon bagi Greys/Nitya.

Final ketiga terjadi 19 Juli 2015, ketika sang juara bertahan kembali berhadapan dengan lawan dari negeri Tirai Bambu setelah lulus dari Liga Universitas Jepang dengan Cum Laude :D. Luo Ying dan Luo Yu menjadi penghalang terakhir yang mampu diatasi sang juara bertahan. Banyak yang berharap bahwa kemenangan ini menjadi pertanda baik untuk WBC Istora bulan depan, tapi sesuai ekspektasi kami yang kami tulis di tulisan sebelum ini, kami berharap kemenangan di Taipei kali ini menjadi salah satu pijakan bagi Greysia/Nitya untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah salah satu kandidat yang sangat layak diperhitungkan dalam perebutan medali Rio 2016.


Tulisan ini dibuat bukan untuk menumbuhkan ekspektasi ataupun memberi beban kepada siapapun, tulisan ini semata2 dibuat sebagai pemenuhan janji ke diri sendiri untuk membuat artikel tentang GP jika menjuarai Taipei GPG.

Sabtu, 04 Juli 2015

Adakah Magis Istora Agustus Nanti?


Istora Senayan, gedung berusia lebih dari limapuluh tahun yang sering diguncang gemuruh pecinta bulutangkis, akan kembali menjadi pusat keramaian bulutangkis lagi bulan depan. Keramaian karena kehormatan yang didapat Istora untuk kembali menggelar Kejuaraan Dunia setelah 26 tahun lamanya. Bila 26 tahun lalu, Istora memberi magisnya berupa gelar piala Sudirman pertama, dalam bentuk apakah, jika ada, magis Istora akan berulang?

15 wakil Indonesia akan mengikuti kejuaraan ini, dari semua wakil tersebut, ada beberapa wakil yang menurut kami, dengan berbagai alasan, akan menarik diikuti kiprahnya bulan depan. Mereka adalah :
1. Vita/Shendy, tidak ada yang meragukan prestasi individu keduanya, bahkan Vita sudah mencapai semifinal Olimpiade. Mengingat usia, kesempatan menikmati permainan mereka mungkin akan semakin sedikit kedepannya.
2. Greys/Nitya, bukan soal peluang juara mereka disini, tapi kejuaraan ini bisa menjadi ukuran sejauh mana kesiapan pasangan ini dalam memanfaatkan aturan kuota yang akan berlaku di Rio nanti. Apakah mereka benar2 siap menjadi penantang peraih medali?
3. Hayom Rumbaka, jago sirnas yang diculik alien ini biasanya tampil dengan motivasi lebih di Istora, akankah ada kejutan lagi seperti SF Indonesia SSP beberapa tahun lalu?
4. Angga/Ricky pasangan yang seharusnya dari segi usia menjadi andalan Indonesia di WBC maupun Rio karena jujur aja meskipun duo ayah beranak dua itu masih sangat kompeten, cedera bisa menghantam kapan saja. Jadi bisakah Angga/Ricky berprestasi diluar SIS? Atau mampukah mereka menganggap semua arena adalah SIS?
5. Edi/Gloria, arguably, 2 bakat terbesar dalam generasi mereka, sejauh mana para mantan juara dunia junior ini mampu beradaptasi dan berkembang di kejuaraan dunia senior perdana mereka? Mampukah mereka menjadi alternatif kemungkinan pasangan yg dikirim ke Rio?

Diluar kelima nama itu, kami tentu berharap adanya kado awal bagi hari kemerdekaan Indonesia ke 70, apalagi post ini dibuat di hari kemerdekaan negara adidaya :D. Tapi kami tidak berekspektasi adanya kado dari istora. Atau magis Istora akan bantu mewujudkannya?

Minggu, 17 Mei 2015

Perlukah Diulang?

Entah apa yang ada di pikiran ketika kami mengiyakan ajakan/tantangan seorang teman di luar kota untuk mengadakan acara nonton bareng bulutangkis, sebuah acara yang bahkan mengagetkan pihak cafe ketika kami nekat menghubungi mereka melalui telpon beberapa hari sebelum Piala Sudirman dimulai, bahkan secara implisit mereka seperti mengatakan untuk melupakan saja ide tersebut karena jujur saja, nobar selain sepakbola adalah lost cause.

Promosi yang dilakukan via media sosial ternyata sangat berbeda jauh di lapangan, pelajaran pahit yang harus kami terima akibat kegilaan kami saat itu, entah karena daerah yang disasar salah atau para penggila badminton hanya bisa koar-koar meminta sesuatu yang gratis tanpa usaha/pengorbanan untuk sekedar keluar dari rumah dan menuju tempat nobar misalnya. Sebagian diri kami masih berharap bahwa hal pertamalah yang menjadi penyebab sepinya acara kemarin.

Respek kami kepada pihak cafe yang tetap mau membantu ketika kami -entah dirasuki apa- sedikit arogan dan yakin bakal banyak peserta di acara yang mereka bilang lost cause. Dan apa yang terjadi memang lost cause, ketika yang datang bahkan tidak mencapai 50 persen dari yang kami reserve.
Terima kasih yang sangat besar, kami ucapkan ke orang2 yang muncul meramaikan acara ini sehingga membatalkan niat kami untuk kabur, bahkan diawalnya kami sempat berpikir bahwa tidak akan ada yang datang ketika pertandingan ganda putra dimulai dan kami masih sendirian disana.

Jujur, apa yang kami khayalkan ketika ada diskusi tentang nobar ini semoga keberanian event gila ini menular ke tempat lain, sehingga pada akhirnya badminton kembali populer dan dimainkan di banyak tempat. Tapi mungkin itu hanyalah khayalan yang jauh terlalu tinggi, ya kan?

Jumat, 24 April 2015

The All Reject Team of Sudirman Cup

Cookiegate, perselisihan antara dua perusahaan makanan yang membuat 5 pemain utama Denmark harus merelakan diri tidak mengikuti Piala Sudirman 2015 Dongguan. Suatu hal yang jelas mengurangi kekuatan tim Denmark dan membuka peluang tim lain untuk melaju lebih jauh. Tulisan ini tidak akan membahas siapa benar/salah dalam cookiegate, tapi cookie gate ini membuat kami berpikir jika pemain-pemain yang tidak mengikuti grup 1 Piala Sudirman dengan alasan apapun, digabungkan menjadi satu tim, sekuat apakah tim tersebut?

Dengan alasan jadwal Piala Sudirman cukup padat jika seseorang terus bermain rangkap di setiap partai, maka kami menyusun tim ini dengan setidaknya 2 pemain tunggal dan 6 pemain ganda. Di nomor tunggal putra, nama Lee Chong Wei, pantas menjadi pengisi utama tim pengandaian ini, mulurnya proses hearing BWF yang membuat tim Malaysia tidak mengambil resiko mendaftarkan pengoleksi puluhan kursi pijat ini tentu diluar kendali sang pemain. Namun jika ada yang kurang sreg karena kasus belum rampung tersebut, Nguyen Tien Minh layak jadi pelapis/pengganti, toh veteran dari Vietnam ini bersih dan masih memiliki kemampuan untuk bersaing di grup 1. Di tunggal putri, sang juara dunia dan pengisi top 3 dari Eropa, Caro Marin tentu jadi pilihan mutlak, jika juara All England ini menolak, nama Michelle Li, Zhang Beiwen atau Kirsty Gilmour menjadi kandidat pengganti dan pelapis.

Di sektor ganda, para pemain yang terlibat dalam cookiegate, Boe, Fischer-Nielsen, Mogensen, Pedersen dan Rytter-Juhl tentu mengisi 5 spot yang tersedia, apalagi mereka adalah pengisi top 5 di masing-masing sektor. Spot keenam mungkin diberikan kepada Pia Zebadiah, fleksibilitasnya di WD dan XD tentu mengurangi beban Pedersen atau Rytter-Juhl untuk bermain rangkap. 4 sekawan Singapura (Chayut, Danny, Shinta, Vanessa) melapisi keenam punggawa diatas tadi.

Selain nama diatas, siapa yang kira-kira layak mengisi tim tersebut? Yang jelas jika kami diminta membuat tim impian dari seluruh dunia, pilihan tunggal kami akan tetap sama.

Selasa, 17 Maret 2015

Let Them Grow

GAGAL dan MENURUN, mungkin itu reaksi yang akan diungkapkan orang menanggapi hasil yang diraih tim Indonesia dalam tur Eropa yang berakhir minggu ini (kecuali Ihsan dan Jo yang akan mengikuti Polish IC). Reaksi yang wajar melihat hasil tanpa gelar yang diraih skuad Cipayung di 3 turnamen utama pembuka musim semi Eropa dibandingkan 2 gelar All England yang diraih tahun lalu. Fakta nirgelar memang menunjukkan turunnya prestasi Indonesia tapi apakah benar kondisi Indonesia dua bulan jelang kualifikasi Olimpiade Rio sedemikian buruknya?

Kualifikasi Rio yang akan dimulai Mei nanti memang salah satu periode penting bagi bulutangkis Indonesia jika ingin menebus kegagalan di London 3 tahun lalu. Dan dari hasil tur eropa yang hanya menghasilkan 3 gelar Austria terbuka kemarin, kami justru semakin yakin bahwa ketimbang hanya mengikutkan pemain proyeksi Olimpiade, PBSI akan lebih bijak jika membuka kompetisi bagi semua pemain dalam top 100 untuk ikut berlomba, setidaknya di Australia dan Indonesia mengingat letak geografis yang mudah dijangkau sehingga biaya tidak terlalu mahal.

Jika patokan top 100 yang disertakan, maka di tunggal putra Simon tidak akan menjadi ksatria tunggal pasukan Cipayung. Simon setidaknya akan didampingi Jonathan yang sedang mendapat momentum dari hasil yang diraihnya sebagai perempatfinalis Swiss kemarin, batas ini juga bisa dilewati Ihsan dan Firman jika mereka tampil cukup baik sebelum pendaftaran Australia Super Series pada pertengahan April. Banyaknya kompetisi ini diharapkan memacu Hayom dan Tommy sebagai dua pebulutangkis terbaik Indonesia untuk tampil baik meskipun berada diluar Cipayung.

Demikian juga dengan tunggal putri, dimana pemain terbaik Indonesia justru berada diluar Cipayung. Firda dan Febe justru menjadi 2 terbaik sementara meski Firda sama sekali belum turun gelanggang hingga tulisan ini dibuat. Memang keterlaluan jika kita berharap terlalu tinggi pada nomor ini, mengingat tidak ada pemain Indonesia yang menembus top 10 dalam 7 tahun terakhir dan inkonsistensi menjadi menu utama nomor yang terus berganti nakhoda ini. Hasil Linda dan Bella di Eropa pun berkata demikian, jika ada secercah harapan atau setidaknya yang membuat kami penasaran adalah bagaimana performa Hana Ramadhini di India SS akhir bulan ini karena dia dan junior2 lainnya tidak terkena efek ganti2 nakhoda dan mungkin pengembangan juniorlah yang menjadi orientasi PBSI kini.

Hasil pengembangan junior yang mulai terlihat di ganda, Gelar juara Fajar/Rian dan Suci/Maretha di Austria, serta penampilan Kevin, dan Rosyita yang menembus 4 besar grand prix gold bersama pasangan masing-masing meskipun belum menginjak usia 21 tahun adalah hal yang luar biasa dan menenangkan hati. Menenangkan hati karena berarti Indonesia tidak perlu memberi seluruh beban di ganda putra dan putri kepada senior macam Ahsan/Hendra dan Greysia/Nitya. Pembagian beban yang mulai merata, mungkin untuk Indonesia baru terjadi di ganda campuran. Dimana Owi/Butet, Jordan/Debby, Riky/Richi bahkan Edi/Gloria mampu bergantian menembus 4 besar setiap turnamen yang diikuti. Keberhasilan itu ditunjukkan dengan satu-satunya gelar GP  Gold keatas yang diraih Indonesia sejauh ini di tahun 2015 berasal dari nomor ini, belum lagi rentetan hasil SF dan Finalis lainnya.

Harapannya tentu saja, bukan cuma pemain yang disebutkan diatas yang berprestasi, melainkan semua pemain terutama junior sehingga mereka lebih cepat lapar untuk merasakan gelar juara lagi dan jika banyak talenta yang bersinar, maka eksperimen mencari yang terbaik untuk Rio maupun event2 berikutnya pun lebih mudah dilaksanakan. Dengan cara itu, mungkin bulutangkis Indonesia (makin) berjaya lagi.

Rabu, 11 Maret 2015

A Simple Thank You


Nonton bareng, sesuatu yang lazim dilakukan nyaris setiap minggu bagi acara sepak bola. Tapi pemandangan foto diatas yang diambil pada hari minggu 8 Maret lalu di suatu gedung di Palmerah, belumlah lazim terjadi di Indonesia. Ya foto diatas adalah nonton bareng, nonton bareng final All England 2015 yang diselenggarakan oleh tabloid Bola bersama dengan PAV Organizer. Suatu acara yang semoga memicu menjamurnya acara-acara serupa di masa mendatang.

Kami sendiri terkejut ketika pihak PAV Organizer menghubungi kami dan meminta untuk ikut mempromosikan acara ini. Bagi kami pribadi dan mungkin teman-teman sesama admin akun badminton, acara ini menjadi salah satu cara kami menunjukkan pada pihak-pihak yang membuat jengah dan penuhnya mention kami dengan rengekan, penyesalan atau makian tentang terbatasnya siaran bulutangkis bahwa hal itu bisa diakali. Memang, nobar kali ini diselenggarakan suatiu EO dan tabloid olahraga tapi bukan berarti nobar seperti ini tidak bisa ditiru meskipun berbeda skala oleh para penikmat bulutangkis dimanapun berada dengan nobar di restoran atau warung dengan kompensasi membeli makan/minuman, atau seperti jaman dulu nobar di pos ronda, tentu saja kalo di pos ronda ya iuran tvnya barengan atau ditanggung lurah/rt setempat.

Sekali lagi terima kasih untuk Tabloid Bola dan PAV Organizer sebagai penyelenggara, dan semoga acara di Palmerah kemarin menjadi contoh banyak acara serupa sehingga bulutangkis bisa makin populer.

Pandangan Alternatif Tentang Piala Sudirman

Daftar unggulan Piala Sudirman edisi ke 14 yang akan dilaksanakan di Dongguan China pada 10-17 Mei sudah dirilis. Dalam rilis yang dilakukan BWF pada 10 Maret tersebut, tuan rumah kembali menjadi unggulan pertama, disusul Korea, Denmark dan Jepang di unggulan 4. Final ideal yang menskenariokan China ketemu Korea adalah hal yang bagus karena hanya kedua negara ini yang memiliki pemain top 10 di semua nomor, meskipun jika menilik hasil selama 2015, maka Korea perlu banyak perbaikan jika ingin bersaing di Dongguan.

Denmark dan Jepang, dua negara yang masing-masing punya kelemahan di 1 nomor sehingga hanya memiliki 4 peluru jika ingin menjadi pemegang baru bagi piala yang didedikasikan untuk almarhum Dick Sudirman, tentu harus pandai mengatur strategi untuk menutup kelemahannya. Kedalaman lapisan tunggal Jepang mungkin tak begitu berarti disini mengingat hanya ada 2 partai tunggal, tidak seperti ketika mereka tahun lalu mencetak sejarah dengan merebut piala Thomas pertama kali tahun lalu. Denmark di sisi lain jika mereka mampu mempertahankan form bagus mereka yang dimulai dari EMTC hingga Dongguan nanti, maka ketiadaan WS mumpuni sekaliber Tine Rasmussen bukanlah sesuatu yang sangat berat, bahkan jika All England kemarin menjadi simulasi, partai Denmark vs China akan sangat menjanjikan partai menarik kecuali di tunggal putri tentu saja.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemegang pertama piala yang ada candinya itu menempati unggulan kelima, dan dengan kondisi tunggal yang sedang menurun serta hanya mengandalkan ganda, haruskah Indonesia memilih all out mengikut-sertakan dan memainkan seluruh pemain terbaiknya? Dalam sebuah pandangan alternatif, mungkin sebaiknya hanya Greysia/Nitya, pemain senior yang dimainkan terus. Karakter Greysia yang pantang menyerah dan juga berapi-api seperti yang ia tunjukkan di Jakarta 7 tahun lalu sangat layak untuk menjadikannya pemimpin tim, mengingat senior lainnya seperti Hendra dan Butet jauh dari kata ekspresif apalagi berisik.

Hendra dan Butet memang tetap diikutsertakan tapi hanya diturunkan untuk kepentingan strategi saja, apalagi ganda putra dan ganda campuran tidak seperti ganda putri yang tidak memiliki pelapis yang layak setelah cederanya Rosyita. Memberi kesempatan pada Angga, Debby, Jordan, Kevin dan kawan-kawan untuk sering tampil itu sangat baik karena penting bagi mereka merasakan atmosfer sebenarnya dari partai beregu, sambil menunggu kebangkitan tunggal-tunggal Indonesia pasca Rio, semoga. Lagipula, jika ingin memasang strategi rangkap memasang Kevin di XD (Kevin/Greys atau Kevin/Butet misalnya) dan MD ataupun Greysia di WD dan XD ( atau juga Greys/Owi/Jordan) sepertinya jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa Butet bermain di dua nomor mengingat stamina Kevin ataupun Greysia sudah terbukti mampu bermain rangkap dengan baik.

Sekali lagi ini hanyalah suatu pandangan dari sudut pandang yang agak berbeda, tulisan ini sama sekali tidak mencari pro kontra, yang terpenting bagi kami adalah menikmati seru dan ketidakterdugaan pertandingan.

Jumat, 06 Maret 2015

Surprise Aplenty while History Await

Kejutan, kata yang mungkin tepat menggambarkan All England sejauh ini. Bagaimana tidak, sejauh ini di semua nomor ada saja unggulan 1-3 yang harus tersingkir sebelum perempat final malam nanti. Jumlah total unggulan yang tersingkir di turnamen tertua yang dikatakan Lin Dan sebagai kejuaraan dunia mini ini mencapai lebih dari 10.  Bahkan satu tiket semifinal sudah pasti diperoleh pemain non unggulan di nomor tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran.

Kejutan terbanyak dan terbesar muncul di ganda putra, 4 ganda unggulan harus angkat koper dari National Indoor Arena sebelum hari jumat. Diantara 4 ganda itu terdapat 2 favorit awal juara, yaitu sang unggulan pertama Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan juara bertahan M Ahsan/Hendra Setiawan. Dua ganda yang mengalahkan mereka, Mads Pieler Kolding/Mads Conrad Petersen dan Fu Haifeng/Zhang Nan kini banyak dijagokan akan menjadi juara baru All England mengingat form pasangan Denmark yang sedang menanjak sejak Jerman dan kualitas individu Fu/Zhang yang merupakan peraih emas olimpiade. Kandidat juara lainnya adalah Mathias Boe/Carsten Mogensen yang biasa menghiasi daftar juara super series bersama dua ganda yang tersingkir itu atau kuda hitam tanpa beban Kevin Sanjaya/Markus Gideon sang pasangan baru yang mungkin bisa menyelamatkan reputasi ganda putra Indonesia yang tampak makin kacau usai kejadian hari kamis yang membuat banyak orang berpikir apakah Hendra/Ahsan mulai menurun.

Jika Indonesia dikejutkan di ganda putra, kejadian sebaliknya terjadi di ganda campuran. Debby/Jordan membuat salah satu fantastic four menelan pil pahit ketika All England belum mencapai hitungan 5 jam. Kemenangan atas Xu Chen/Ma Jin jelas meningkatkan kepercayaan diri Debby/Jordan yang tahun lalu sama sekali tidak merasakan babak utama, meski demikian dalam hal mencapai tahta tampaknya masih belum diperhitungkan. 3 fantastic four tersisa jelas lebih difavoritkan apalagi Butet/Owi yang mengejar quad-trick di negerinya Kate Middleton ini. Penggoyang dominasi fantastic four lebih disematkan pada Mads CP/Kamilla RJ sang juara Jerman atau harapan terbesar tuan rumah Chris/Gabby Adcock yang jelas mendapat dukungan besar publik

Dukungan publik juga akan mengalir untuk Rajiv Ouseph, pemain yang mengalahkan Son Wan Ho ini jelas akan berusaha sejauh mungkin mengukir sejarah meskipun untuk menjadi juara tunggal putra pertama dari Inggris sejak perang dunia kedua tampak seperti mission impossible. Mission Impossible karena di tunggal putra masih ada Lin Dan. Tantangan bagi sang peraih 2 emas olimpiade untuk menggapai gelar keenam hanya akan muncul dari Sang Naga atau manusia penuh tato dari Denmark.

Di dua nomor putri, ada fenomena bertolak belakang atas dominasi China, di tunggal meskipun ada 3 wakil di perempat final tapi ketiadaan Li Xuerui pasti membangkitkan harapan bagi tunggal putri lain untuk mematahkan dominasi China seperti halnya di Dubai akhir tahun lalu. Di ganda, 5 wakil jelas menunjukkan dominasi China, tapi untuk semifinal kami berharap hanya 2 pasangan yang lolos yaitu Tian/Zhao dan Wang/Yu ditemani WD Denmark dan Indonesia, 4ganda yang telah memberi deretan partai klasik bagi ganda putri.

Semoga seiring sejarah yang tercipta banyak kejutan dan partai klasik yang menyertai.

Selasa, 24 Februari 2015

A Plea For Mister Wirjawan

Olimpiade, ajang multi even empat tahunan yang merupakan impian tertinggi setiap atlet dan insan olahraga akan berlangsung lagi tahun depan di Rio de Janeiro, Brasil. Mengingat hasil yang diraih pemain badminton di London, beberapa orang melihat ajang di Rio sebagai ajang penebusan apalagi melihat hasil yang diraih para pemain ganda di Incheon tahun lalu. Ganda, nomor yang memang secara objektif lebih berpeluang meraih medali di Rio mengingat belum adanya tunggal putri Indonesia yang bersinar dan inksonsistensi yang dilami Simon maupun Tommy sebagai tunggal putra senior. Ketiga nomor ganda itu juga yang menyumbangkan 4 medali Asian Games dan 2 juara dunia terakhir yang dimiliki Indonesia saat ini.

Ganda campuran, nomor yang mungkin paling mengkilap bagi Indonesia saat ini, selain Tontowi/Lilyana yang konsisten di top 5 ranking dunia dan medali perak Incheon sebagai bukti prestasi terakhir mereka, keberhasilan Edi/Gloria, Praveen/Debby dan Riky/Richi menembus final ataupun juara dalam setiap turnamen tingkat GP Gold keatas yang mereka ikuti jelas menunjukkan bahwa keempat pasangan itu punya peluang bersaing untuk meraih tiket ke Rio yang kualifikasinya dimulai Mei depan.

Ganda campuran mungkin bisa tenang menghadapi kualifikasi dengan begitu banyak pasangan yang tampaknya akan kompetitif, tapi optimisme itu sulit terpancar di ganda putri maupun putra. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari yang meraih emas Incheon diharapkan kembali memberi kejutan sekaligus menuntun rekan juniornya -seperti Anggia, Della, Maretha, Rosyita dan kawan-kawan yang sedang dicari ramuan terbaiknya oleh Eng Hian dan tim- untuk mendobrak pintu Rio dan mungkin meraih medali olimpiade pertama dari ganda putri bagi Indonesia.

Bila ganda putri mencoba mencetak sejarah dan dianggap wajar jika nantinya gagal, tidak demikian halnya dengan ganda putra. Sebagai nomor tersukses dalam sejarah dan hanya gagal meraih medali di London -dimana kegagalan itu menjadi pemicu terbesar jalan kebangkitan bulutangkis Indonesia yang kini coba ditapaki-, Kondisi ganda putra yang hanya memiliki Hendra -peraih emas Beijing- bersama Ahsan sebagai pasangan yang dinilai berprestasi dan kumpulan ganda lainnya yang belum teruji tentu memprihatinkan.

Dengan segala hormat kepada Herry IP dan Chafidz Yusuf yang kini menukangi ganda putra Cipayung dan tentunya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan, dengan tulisan ini kami mengajukan permintaan kepada Gita Wirjawan sebagai ketua umum PBSI saat ini untuk membuat Rexy Mainaky ikut melatih ganda dalam masa jelang Olimpiade Rio ini. Bukankah Pak Gita menarik Rexy ke PBSI karena keberhasilan Rexy menghantar Nathan Robertson/Gail Emms, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menjadi ganda yang disegani dunia dan  juga keberhasilan lainnya di Inggris, Malaysia dan Filipina. Mengingat Olimpiade adalah ajang terbesar, bukankah selayaknya kita memberi usaha yang paling maksimal? Dan rasanya memaksimalkan kemampuan Rexy dengan memintanya ikut melatih adalah hal yang wajar bukan?


Jumat, 30 Januari 2015

Drama Di Denpasar

Djarum Superliga 2015 yang berlangsung di GOR Lila Bhuana Denpasar sudah menyelesaikan babak penyisihan grup. Tim putri Hokuto Bank Jepang menjadi satu-satunya tim kejutan di babak semifinal setelah mengalahkan sang unggulan Mutiara di babak grup. Selain itu, nama-nama seperti Djarum, Jaya Raya, Musica dan Tonami menghiasi babak semifinal sesuai dugaan awal. Tapi bukan berarti Superliga hanya berisi partai sesuai dugaan dan kebisingan penonton cewe yang meneriaki tim Musica karena ada Jo, LYD dan Simon serta sang raksasa Ivanov disana.

Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya.  Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.

Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.

Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.

Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu  pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.

Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?

Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.

Kamis, 22 Januari 2015

Hope Clear Head Prevails

Persiapan menuju ajang multi even, suatu frase yang biasanya menggambarkan tarik menarik kepentingan penuh kompromi ataupun paksaan antara KONI dan pemerintah di satu pihak dan PB-PB cabang olahraga di pihak lainnya. Tahun 2015 ini, frase itu kembali muncul dalam bentuk persiapan menuju SEA Games ke 28 di Singapura, Juni mendatang.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?

Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.

Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.

Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.

Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.

Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.

Sabtu, 10 Januari 2015

May Tokyo Become The Focus of Regeneration

Pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto menyatakan mundur dari Pelatnas Cipayung, terhitung Selasa, 6 Januari 

Kutipan diatas adalah rilis yang dikeluarkan oleh humas PBSI melalui akun twitternya pada 9 Januari 2015. Meskipun berharap Tommy tetap berprestasi di jalur pro, keputusan ini untuk sementara membuat Simon Santoso menjadi satu-satunya tunggal putra senior yang ada di Cipayung. Pihak pelatnas kabarnya sedang mempertimbangkan untuk memanggil pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tommy, terlepas dari apapun keputusannya nanti. semoga prospek menuju Tokyo 2020 ikut menjadi bahan pertimbangan.

Tokyo 2020 menjadi sasaran yang lebih realistis jika melihat peta persaingan dan hasil yang diraih para tunggal putra Indonesia belakangan ini. Kembalinya Lin Dan secara penuh ke sirkuit jelas menambah ramai persaingan yang sudah diisi Chen Long, Jorgensen, Tago dkk belum lagi jika Chong Wei terbebas setelah hearing awal Februari nanti. Dengan fakta diatas, peluang Simon atau siapapun MS Indonesia di Rio 2016 untuk setidaknya meraih medali tidaklah bisa dianggap besar.

Rio 2016 akan menjadi Olimpiade kedua bagi Simon jika dia mampu lolos kualifikasi dan tentunya harapan agar hasil lebih baik ketimbang London dimana dalam statusnya sebagai debutan dia kalah dari Lee Chong Wei di 16 besar. Sejarah mencatat bahwa para peraih emas tunggal putra Olimpiade kecuali Alan Budikusuma dan Ji Xinpeng meraih prestasi tertinggi ketika mereka bukan berstatus debutan di Olimpiade. Presiden BWF saat ini Poul Erik menjuarai Atlanta setelah sebelumnya kalah dari Ardy Wiranata di Barcelona, Ji Xinpeng memberi Taufik pelajaran di Sydney sebelum legenda Indonesia yang blak-blakan ini menemukan jodoh (?) dan menangis terharu diatas podium Goudi Olympic Hall. Goudi juga menjadi tempat bagi Ronald Susilo memberi kejutan sebelum sang alien menguasai dunia hingga kini.

Dengan melihat fakta diatas, bijak rasanya jika PBSI membuka kompetisi untuk pemain yang kini berusia 23 tahun kebawah -dimana 23 dianggap batas atas yang wajar karena memperhitungkan peak usia mereka saat 2020 masih belum 30 dan di usia emas- yang ada di Cipayung seperti Anthony Sinisuka Ginting dkk untuk diproyeksikan mengikuti kualifikasi Rio 2016. Jika pemain dibawah 23 tahun itu berhasil lolos ke Rio tentu   merupakan pengalaman berharga di Tokyo nantinya. 

Semoga situasi ini membuat regenerasi pebulutangkis Indonesia semakin baik.