Tampilkan postingan dengan label Ratchanok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ratchanok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015

Who Will Get a Huge Boost For Rio?

40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.

Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.

Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.

Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.

Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.

Jumat, 12 Desember 2014

Dubai 2014: Without Alien, Its Wide Open Field for Human

Li Xuerui has a right foot surface fracture and been put on plaster cast since 17th Nov for at least six weeks.

Kalimat diatas yang kami kutip dari badmintoncentral memastikan bahwa turnamen penutup tahun ini tidak akan dihadiri alien di sektor tunggal. Ketiadaan alien di tunggal putri, membuat persaingan 8 (?) manusia walaupun mungkin mereka berkekuatan super, terlihat jauh lebih seimbang.

Wang Shixian dan Wang Yihan, dua penguasa lama Super Series Finals sebelum kehadiran sang alien, kini harus mengemban tugas meneruskan dominasi China di nomor tunggal putri yang telah berlangsung sejak 2010. Tugas yang sepertinya cukup berat meskipun status mereka sebagai dua unggulan utama, mengingat performa mereka di beberapa turnamen akhir jelang Dubai.

Selain performa yang menurun, Shixian dan Yihan juga harus mempertimbangkan para pesaingnya seperti 3 orang yang pernah menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Akane Yamaguchi beberapa pihak mengira dia bayi Saiyan, peserta termuda Dubai Super Series Final yang sejauh ini sudah menjuarai WJC sebanyak 2 kali tentu ingin membuktikan bahwa dia mampu berbicara banyak di level senior di luar negeri 4 pulau besar yang didiaminya. Status Akane yang masuk karena regulasi kuota ataupun "pengganti" Li Xuerui membuatnya dapat bersikap nothing to lose di Dubai nanti. Ratchanok Intanon dan Saina Nehwal, dua peserta Dubai SSF yang juga pernah mengecap juara junior pasti juga mengincar gelar di Dubai untuk melengkapi sederet prestasi mereka sekaligus membuktikan bahwa gelar juara dunia ataupun medali Olimpiade yang mereka miliki bukanlah kebetulan.

Tiga peserta Dubai SS Finals lainnya yang kebetulan memiliki sponsor apparel raket bertanda kemenangan, juga tida bisa dianggap enteng. Tai Tzu Ying, pemenang seri Super Series terakhir tahun ini tentu ingin melanjutkan form tersebut sembari membuktikan dia tidak hanya sebatas bayang-bayang Cheng Shiao Chieh ataupun hanya bisa "menduplikasi" backhand dari juara olimpiade. Sung Ji Hyun, barangkali orang yang paling senang membaca berita diatas tadi mengingat dia tidak perlu menghawatirkan rekornya dengan sang alien dan bisa fokus memburu gelar. Bae Yeon Ju juga pasti ingin melepas status hanya sebatas Korea kedua.

Bagaimanapun undian nantinya, dengan 8 manusia ini, Dubai SSF nomor tunggal putri akan sangat memikat.

Senin, 18 Agustus 2014

Copenhagen 2014: Redemption time?

Guangzhou, China kira-kira setahun yang lalu. Suatu masa yang mungkin sangat membekas dan sulit dilupakan bagi pasukan asuhan Zhang Ning terutama Li Xuerui. Saat itu dua orang remaja belum genap 19 tahun, Pusarla Venkata Sindhu dan Ratchanok Inthanon mampu mengalahkan semua punggawa tuan rumah. Inthanon bahkan berhasil menjadi juara dunia tunggal termuda setelah mencuri game pertama dari Xuerui dan memenangi game ketiga dengan skor meyakinkan 21-14.

Setahun berselang, tampaknya tepat bagi pasukan yang kini juga diasuh Chen Jin untuk melakukan pembalasan atas kejadian memalukan tahun lalu. Semenjak Guangzhou, Duo Wang + alien yang lebih kejam dari Lin Dan sungguh mendominasi gelar Super Series keatas. 16 SS/SSP yang digelar sejak Guangzhou sampai sekarang hanya 3 yang terlepas, 1 ke Liu Xin (CM 2013). 1 ke Akane Yamaguchi (Japan 2013) dan 1 ke Saina Nehwal (Aussie 2014), itupun dengan catatan China tidak full team ke tiga turnamen itu.
Peluang pembalasan itupun makin besar mengingat WS-WS sisa dunia belum ada lagi yang stabil, Inthanon dan Saina punya problem cedera, duo Korea Sung dan Bae sulit bersaing dengan Li+Wangs, Marin + Sindhu belum juga konsisten performanya.

So Copenhagen 2014 haruslah jadi misi pembalasan, jika tidak, mungkin kita akan melihat pembersihan terbesar sepanjang masa.