40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.
Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.
Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.
Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.
Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Tampilkan postingan dengan label women single. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label women single. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Desember 2015
Jumat, 30 Januari 2015
Drama Di Denpasar
Djarum Superliga 2015 yang berlangsung di GOR Lila Bhuana Denpasar sudah menyelesaikan babak penyisihan grup. Tim putri Hokuto Bank Jepang menjadi satu-satunya tim kejutan di babak semifinal setelah mengalahkan sang unggulan Mutiara di babak grup. Selain itu, nama-nama seperti Djarum, Jaya Raya, Musica dan Tonami menghiasi babak semifinal sesuai dugaan awal. Tapi bukan berarti Superliga hanya berisi partai sesuai dugaan dan kebisingan penonton cewe yang meneriaki tim Musica karena ada Jo, LYD dan Simon serta sang raksasa Ivanov disana.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Senin, 15 Desember 2014
Dubai2014: Battle Royale and Excitement All The Way
Undian untuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014 - nama turnamen yang lumayan panjang - akhirnya dilaksanakan Senin 15 Desember 2014 nyaris tengah hari waktu Dubai. Undian turnamen tutup tahun yang mempertemukan 8 pemain/pasangan terbaik di tahun 2014-jika tidak cedera dan dalam regulasi- ini mengundang banyak reaksi dari pemain maupun fans.
Kenichi Tago misalnya, ketika ditanya komentarnya tentang undian tadi berharap berada di grup B undian diatas yang menurutnya lebih ringan tapi tetap akan berfokus mengincar kemenangan pada event ini. Mengincar kemenangan, hal yang juga diutarakan oleh Hans Kristian Vittinghus yang kembali mengikuti ajang ini setelah tahun lalu absen. Kalau dilihat dari undian secara keseluruhan, ketidakhadiran Lin Dan dan Lee Chong Wei membuat setidaknya partai grup menjadi sulit ditebak karena diantara mereka ada yang formnya sedang meningkat seperti Momota dan Srikanth dan di lain sisi ada yang mencoba bangkit seperti Tago, Tommy dan Vittinghus. Serta Chen Long, JOJ, dan Son Wan Ho yang diuji konsistensinya sebagai 3 terbaik diluar finalis dua olimpiade terakhir.
Konsisten, salah satu kata bernuansa sarkasme yang banyak dilontarkan para pecinta bulutangkis Indonesia setelah melihat undian diatas. Bagaimana tidak, salah satu harapan terbesar mereka kembali berada di jalur yang sama dengan pasangan yang (pernah/masih?) menjadi idola istora terutama para cewe disana. Grup A memang seakan menjadi semacam arena battle royale melihat juara dunia, juara Asian Games dan ranking 1 dunia saat ini berada disana bersama dengan Chai Biao/Hong Wei yang tentu saja tidak ingin dianggap sebagai pelengkap penderita. Aroma battle royale memang tidak terlalu terasa di grup B, tapi grup yang diisi pasangan-pasangan yang sangat konsisten mencapai babak-babak akhir selama gelaran Super Series tahun ini tentu tidak bisa dianggap biasa saja meskipun hanya Boe/Mogensen yang memiliki gelar juara Super Series tahun ini.
Konsistensi dalam arti kata sebenarnya, tercermin dari komentar yang dilontarkan Gabrielle Adcock dalam konferensi pers seusai undian tadi siang. Gabby dengan jelas mengatakan bahwa mereka hanya mengincar posisi runner up grup, ungkapan yang secara implisit mengakui konsistensi juara dunia dan juara Asian Games, Zhang Nan/Zhao Yunlei sebagai pasangan yang layak diunggulkan sebagai juara grup maupun turnamen sekaligus menggeser Fischer-Nielsen/Pedersen dari tahta juara SSF. Sang juara bertahan tentu tidak akan mudah melepas begitu saja, pasangan Denmark yang mengincar hattrick ini juga tentu berharap dejavu grup yang mereka alami, membawa hasil yang sama seperti tahun 2013 ketika mereka menjuarai grup yang berisi pasangan China, Denmark, Indonesia dan Thailand.
Christinna Pedersen yang juga juara bertahan di ganda putri mengatakan fokus awalnya adalah lolos dari babak grup, karena di semifinal apapun bisa terjadi. Sebuah komentar yang sangat wajar karena sang juara bertahan bertarung di grup A dengan pasangan terstabil di level super series, Misaki/Ayaka dan dua pasangan Korea yang tentu saja dapat memberi kejutan setiap saat. Duel senegara dalam grup juga akan terjadi di grup B antara pasangan kembar Luo dengan juara dunia 2014 Zhao Yunlei/Tian Qing yang menunda pensiunnya. Dan ambisi dua pasangan China ini untuk lolos ke semifinal tentunya tidak akan mudah mengingat mereka beradu bersama 2 pasangan yang pernah mencetak duel 100 menit, ranking 2 Dubai sekaligus semifinalis Copenhagen 2014 nan ulet Kakiiwa/Maeda dan Greysia/Nitya yang merupakan peraih emas Asian Games Incheon 2014. Rangkaian duel yang akan membuat para fans excited sekaligus nervous.
Membuat excited dan nervous orang lain, mungkin menjadi keahlian para pemain putri dan pengundi yang ada di Dubai tadi siang, reaksi yang menggambarkan ketidakpercayaan, excited, tegang dan kebingungan mendukung siapa juga mewarnai undian hasil tunggal putri tadi siang. Ketiadaan Li Xuerui membuat tunggal putri bergabung dengan 4 nomor lain dalam menyajikan partai yang sulit ditebak dan berpotensi menghasilkan atraksi ketegangan luar biasa.
Jadi, tidak peduli anda seorang penggila badminton ataupun olahraga secara umun atau anda hanya adrenaline junkie, silakan menikmati ketegangan yang penuh atraksi dalam battle royale bulutangkis bertajuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014.
Jumat, 12 Desember 2014
Dubai 2014: Without Alien, Its Wide Open Field for Human
Li Xuerui has a right foot surface fracture and been put on plaster cast since 17th Nov for at least six weeks.
Kalimat diatas yang kami kutip dari badmintoncentral memastikan bahwa turnamen penutup tahun ini tidak akan dihadiri alien di sektor tunggal. Ketiadaan alien di tunggal putri, membuat persaingan 8 (?) manusia walaupun mungkin mereka berkekuatan super, terlihat jauh lebih seimbang.
Wang Shixian dan Wang Yihan, dua penguasa lama Super Series Finals sebelum kehadiran sang alien, kini harus mengemban tugas meneruskan dominasi China di nomor tunggal putri yang telah berlangsung sejak 2010. Tugas yang sepertinya cukup berat meskipun status mereka sebagai dua unggulan utama, mengingat performa mereka di beberapa turnamen akhir jelang Dubai.
Selain performa yang menurun, Shixian dan Yihan juga harus mempertimbangkan para pesaingnya seperti 3 orang yang pernah menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Akane Yamaguchi beberapa pihak mengira dia bayi Saiyan, peserta termuda Dubai Super Series Final yang sejauh ini sudah menjuarai WJC sebanyak 2 kali tentu ingin membuktikan bahwa dia mampu berbicara banyak di level senior di luar negeri 4 pulau besar yang didiaminya. Status Akane yang masuk karena regulasi kuota ataupun "pengganti" Li Xuerui membuatnya dapat bersikap nothing to lose di Dubai nanti. Ratchanok Intanon dan Saina Nehwal, dua peserta Dubai SSF yang juga pernah mengecap juara junior pasti juga mengincar gelar di Dubai untuk melengkapi sederet prestasi mereka sekaligus membuktikan bahwa gelar juara dunia ataupun medali Olimpiade yang mereka miliki bukanlah kebetulan.
Tiga peserta Dubai SS Finals lainnya yang kebetulan memiliki sponsor apparel raket bertanda kemenangan, juga tida bisa dianggap enteng. Tai Tzu Ying, pemenang seri Super Series terakhir tahun ini tentu ingin melanjutkan form tersebut sembari membuktikan dia tidak hanya sebatas bayang-bayang Cheng Shiao Chieh ataupun hanya bisa "menduplikasi" backhand dari juara olimpiade. Sung Ji Hyun, barangkali orang yang paling senang membaca berita diatas tadi mengingat dia tidak perlu menghawatirkan rekornya dengan sang alien dan bisa fokus memburu gelar. Bae Yeon Ju juga pasti ingin melepas status hanya sebatas Korea kedua.
Bagaimanapun undian nantinya, dengan 8 manusia ini, Dubai SSF nomor tunggal putri akan sangat memikat.
Kalimat diatas yang kami kutip dari badmintoncentral memastikan bahwa turnamen penutup tahun ini tidak akan dihadiri alien di sektor tunggal. Ketiadaan alien di tunggal putri, membuat persaingan 8 (?) manusia walaupun mungkin mereka berkekuatan super, terlihat jauh lebih seimbang.
Wang Shixian dan Wang Yihan, dua penguasa lama Super Series Finals sebelum kehadiran sang alien, kini harus mengemban tugas meneruskan dominasi China di nomor tunggal putri yang telah berlangsung sejak 2010. Tugas yang sepertinya cukup berat meskipun status mereka sebagai dua unggulan utama, mengingat performa mereka di beberapa turnamen akhir jelang Dubai.
Selain performa yang menurun, Shixian dan Yihan juga harus mempertimbangkan para pesaingnya seperti 3 orang yang pernah menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Akane Yamaguchi beberapa pihak mengira dia bayi Saiyan, peserta termuda Dubai Super Series Final yang sejauh ini sudah menjuarai WJC sebanyak 2 kali tentu ingin membuktikan bahwa dia mampu berbicara banyak di level senior di luar negeri 4 pulau besar yang didiaminya. Status Akane yang masuk karena regulasi kuota ataupun "pengganti" Li Xuerui membuatnya dapat bersikap nothing to lose di Dubai nanti. Ratchanok Intanon dan Saina Nehwal, dua peserta Dubai SSF yang juga pernah mengecap juara junior pasti juga mengincar gelar di Dubai untuk melengkapi sederet prestasi mereka sekaligus membuktikan bahwa gelar juara dunia ataupun medali Olimpiade yang mereka miliki bukanlah kebetulan.
Tiga peserta Dubai SS Finals lainnya yang kebetulan memiliki sponsor apparel raket bertanda kemenangan, juga tida bisa dianggap enteng. Tai Tzu Ying, pemenang seri Super Series terakhir tahun ini tentu ingin melanjutkan form tersebut sembari membuktikan dia tidak hanya sebatas bayang-bayang Cheng Shiao Chieh ataupun hanya bisa "menduplikasi" backhand dari juara olimpiade. Sung Ji Hyun, barangkali orang yang paling senang membaca berita diatas tadi mengingat dia tidak perlu menghawatirkan rekornya dengan sang alien dan bisa fokus memburu gelar. Bae Yeon Ju juga pasti ingin melepas status hanya sebatas Korea kedua.
Bagaimanapun undian nantinya, dengan 8 manusia ini, Dubai SSF nomor tunggal putri akan sangat memikat.
Senin, 08 Desember 2014
Poison Chalice or No Patience?
Stabilitas, kata yang sangat tidak familiar bagi sektor tunggal putri Indonesia. Ketidakstabilan itu dimulai dari pos pelatih tunggal putri pelatnas, pos tersebut seperti pos guru pertahanan terhadap ilmu hitam Hogwarts yang selalu berganti di setiap seri buku Harry Potter.
Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.
Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.
Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.
Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.
Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.
Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.
Senin, 17 November 2014
End of SSP season
Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.
Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.
Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.
Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.
Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh
Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me
Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.
Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.
Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.
Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh
Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me
Rabu, 01 Oktober 2014
Incheon 2014: Class and Validation
Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.
Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.
Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.
Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,
Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,
So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.
Minggu, 14 September 2014
Springboard and Revival
Turnamen kelas grand prix dan grand prix gold biasanya menjadi "springboard" karir seseorang. Tengoklah bagaimana pasangan ganda putri nan cantik jelita Bao Yixin dan Tang Jinhua memulai rentetan kemenangan yang menghantar mereka ke peringkat 1 BWF justru di turnamen biasa saja bernama Dutch Grand Prix. Dan di Palembang dari hari selasa lalu jalan itu coba ditiru melalui Indonesia Masters GP Gold meskipun banyak pemain utama tidak hadir karena berdekatan dengan Asian Games.
Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.
Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.
Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.
Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.
Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.
Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.
Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.
Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.
Senin, 01 September 2014
Copenhagen 2014: Where Dreams and Histories Made
Denmark, negeri Skandinavia yang terkenal dengan dongeng putri duyung itu, seminggu kemarin menyajikan berbagai cerita luar biasa dalam bentuk perjuangan atlet-atlet badminton di Ballerup Super Arena, Copenhagen. Di awal cerita, banyak pahlawan-pahlawan baru bermunculan seperti Anggia/Della, Lee So Hee/Shin Seung Can dan juga pahlawan Viking baru bernama Viktor Axelsen. Tapi, seperti dongeng pada umumnya, drama terseru terjadi di bagian akhir cerita dan itulah yang di Ballerup, minggu kemarin.
Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.
Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh
Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.
Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.
Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.
Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.
Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh
Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.
Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.
Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.
Label:
badminton,
Carolina Marin,
Copenhagen 2014,
Lee Chong Wei,
Li Xuerui,
Men Singles,
mens doubles,
mixed double.,
women doubles,
women single,
World Championship
Senin, 18 Agustus 2014
Copenhagen 2014: Redemption time?
Guangzhou, China kira-kira setahun yang lalu. Suatu masa yang mungkin sangat membekas dan sulit dilupakan bagi pasukan asuhan Zhang Ning terutama Li Xuerui. Saat itu dua orang remaja belum genap 19 tahun, Pusarla Venkata Sindhu dan Ratchanok Inthanon mampu mengalahkan semua punggawa tuan rumah. Inthanon bahkan berhasil menjadi juara dunia tunggal termuda setelah mencuri game pertama dari Xuerui dan memenangi game ketiga dengan skor meyakinkan 21-14.
Setahun berselang, tampaknya tepat bagi pasukan yang kini juga diasuh Chen Jin untuk melakukan pembalasan atas kejadian memalukan tahun lalu. Semenjak Guangzhou, Duo Wang + alien yang lebih kejam dari Lin Dan sungguh mendominasi gelar Super Series keatas. 16 SS/SSP yang digelar sejak Guangzhou sampai sekarang hanya 3 yang terlepas, 1 ke Liu Xin (CM 2013). 1 ke Akane Yamaguchi (Japan 2013) dan 1 ke Saina Nehwal (Aussie 2014), itupun dengan catatan China tidak full team ke tiga turnamen itu.
Peluang pembalasan itupun makin besar mengingat WS-WS sisa dunia belum ada lagi yang stabil, Inthanon dan Saina punya problem cedera, duo Korea Sung dan Bae sulit bersaing dengan Li+Wangs, Marin + Sindhu belum juga konsisten performanya.
So Copenhagen 2014 haruslah jadi misi pembalasan, jika tidak, mungkin kita akan melihat pembersihan terbesar sepanjang masa.
Setahun berselang, tampaknya tepat bagi pasukan yang kini juga diasuh Chen Jin untuk melakukan pembalasan atas kejadian memalukan tahun lalu. Semenjak Guangzhou, Duo Wang + alien yang lebih kejam dari Lin Dan sungguh mendominasi gelar Super Series keatas. 16 SS/SSP yang digelar sejak Guangzhou sampai sekarang hanya 3 yang terlepas, 1 ke Liu Xin (CM 2013). 1 ke Akane Yamaguchi (Japan 2013) dan 1 ke Saina Nehwal (Aussie 2014), itupun dengan catatan China tidak full team ke tiga turnamen itu.
Peluang pembalasan itupun makin besar mengingat WS-WS sisa dunia belum ada lagi yang stabil, Inthanon dan Saina punya problem cedera, duo Korea Sung dan Bae sulit bersaing dengan Li+Wangs, Marin + Sindhu belum juga konsisten performanya.
So Copenhagen 2014 haruslah jadi misi pembalasan, jika tidak, mungkin kita akan melihat pembersihan terbesar sepanjang masa.
Langganan:
Postingan (Atom)




