Rabu, 01 Oktober 2014

Incheon 2014: Class and Validation


Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.

Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.

Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.

Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,

Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,

So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar