Rabu, 31 Desember 2014

An Opinion, Pass First Point Guard: A Rare Breed Position

Bola basket, permainan tim 5 lawan 5 dengan tujuan memasukkan bola ke jaring lawan sesering mungkin dalam jangka waktu yang disediakan. Sebuah permainan yang lebih populer di Amerika dan Filipina ketimbang Indonesia. NBA dan PBA jelas menjadi tolok ukur basket dunia dan wilayah ASEAN. Bicara soal NBA, nama para pemain terbaik saat ini tidaklah jauh dari nama Kevin Durant, Lebron James atau Anthony Davis yang mendominasi penghargaan individu untuk beberapa musim terakhir. Tapi bagi kami, posisi paling menarik di bola basket tetaplah seorang Point Guard.

Point Guard, posisi yang mengalami perubahan dalam beberapa musim belakangan dengan munculnya pemain seperti Derrick Rose atau Russel Westbrook yang tampil lebih agresif dengan membawa bola dari awal sekaligus menjadi point getter dan finisher bagi tim mereka masing-masing. Suatu perbandingan yang kontras dengan gaya main Steve Nash ataupun John Stockton dari generasi sebelumnya yang cenderung bermain seperti dalang yang mengorkestrasi serangan tim dengan lebih bertindak sebagai pelayan sambil sesekali bertindak sebagai finisher.

Bagi penulis pribadi, pemain yang lebih berpikir mengorkestrasi serangan seperti Chris Paul, Rajon Rondo ataupun Ricky Rubio yang terkadang seperti memiliki mata ketiga dengan operan-operannya jauh lebih menarik dan mungkin bisa ditiru ketimbang gaya permainan Rose ataupun Westbrook yang lebih terlihat seperti pameran atletisisme mereka yang bisa meliukkan badan/melompat sedemikian rupa untuk menghujamkan bola di ring.

Perbedaan gaya point guard memang makin membawa warna bagi permainan bola basket, tapi semoga saja tidak mengiliminasi gaya yang dianggap tidak menarik/efektif.

Senin, 15 Desember 2014

Dubai2014: Battle Royale and Excitement All The Way


Undian untuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014 - nama turnamen yang lumayan panjang - akhirnya dilaksanakan Senin 15 Desember 2014 nyaris tengah hari waktu Dubai. Undian turnamen tutup tahun yang mempertemukan 8 pemain/pasangan terbaik di tahun 2014-jika tidak cedera dan dalam regulasi- ini mengundang banyak reaksi dari pemain maupun fans.

Kenichi Tago misalnya, ketika ditanya komentarnya tentang undian tadi berharap berada di grup B undian diatas yang menurutnya lebih ringan tapi tetap akan berfokus mengincar kemenangan pada event ini. Mengincar kemenangan, hal yang juga diutarakan oleh Hans Kristian Vittinghus yang kembali mengikuti ajang ini setelah tahun lalu absen. Kalau dilihat dari undian secara keseluruhan, ketidakhadiran Lin Dan dan Lee Chong Wei membuat setidaknya partai grup menjadi sulit ditebak karena diantara mereka ada yang formnya sedang meningkat seperti Momota dan Srikanth dan di lain sisi ada yang mencoba bangkit seperti Tago, Tommy dan Vittinghus. Serta Chen Long, JOJ, dan Son Wan Ho yang diuji konsistensinya sebagai 3 terbaik diluar finalis dua olimpiade terakhir.


Konsisten, salah satu kata bernuansa sarkasme yang banyak dilontarkan para pecinta bulutangkis Indonesia setelah melihat undian diatas. Bagaimana tidak, salah satu harapan terbesar mereka kembali berada di jalur yang sama dengan pasangan yang (pernah/masih?) menjadi idola istora terutama para cewe disana. Grup A memang seakan menjadi semacam arena battle royale melihat juara dunia, juara Asian Games dan ranking 1 dunia saat ini berada disana bersama dengan Chai Biao/Hong Wei yang tentu saja tidak ingin dianggap sebagai pelengkap penderita. Aroma battle royale memang tidak terlalu terasa di grup B, tapi grup yang diisi pasangan-pasangan yang sangat konsisten mencapai babak-babak akhir selama gelaran Super Series tahun ini tentu tidak bisa dianggap biasa saja meskipun hanya Boe/Mogensen yang memiliki gelar juara Super Series tahun ini.

Konsistensi dalam arti kata sebenarnya, tercermin dari komentar yang dilontarkan Gabrielle Adcock dalam konferensi pers seusai undian tadi siang. Gabby dengan jelas mengatakan bahwa mereka hanya mengincar posisi runner up grup, ungkapan yang secara implisit mengakui konsistensi juara dunia dan juara Asian Games, Zhang Nan/Zhao Yunlei sebagai pasangan yang layak diunggulkan sebagai juara grup maupun turnamen sekaligus menggeser Fischer-Nielsen/Pedersen dari tahta juara SSF. Sang juara bertahan tentu tidak akan mudah melepas begitu saja, pasangan Denmark yang  mengincar hattrick ini juga tentu berharap dejavu grup yang mereka alami, membawa hasil yang sama seperti tahun 2013 ketika mereka menjuarai grup yang berisi pasangan China, Denmark, Indonesia dan Thailand.

Christinna Pedersen yang juga juara bertahan di ganda putri mengatakan fokus awalnya adalah lolos dari babak grup, karena di semifinal apapun bisa terjadi. Sebuah komentar yang sangat wajar karena sang juara bertahan bertarung di grup A dengan pasangan terstabil di level super series, Misaki/Ayaka dan dua pasangan Korea yang tentu saja dapat memberi kejutan setiap saat. Duel senegara dalam grup juga akan terjadi di grup B antara pasangan kembar Luo dengan juara dunia 2014 Zhao Yunlei/Tian Qing yang menunda pensiunnya. Dan ambisi dua pasangan China ini untuk lolos ke semifinal tentunya tidak akan mudah mengingat mereka beradu bersama 2 pasangan yang pernah mencetak duel 100 menit, ranking 2 Dubai sekaligus semifinalis Copenhagen 2014 nan ulet Kakiiwa/Maeda dan Greysia/Nitya yang merupakan peraih emas Asian Games Incheon 2014. Rangkaian duel yang akan membuat para fans excited sekaligus nervous.


Membuat excited dan nervous orang lain, mungkin menjadi keahlian para pemain putri dan pengundi yang ada di Dubai tadi siang, reaksi yang menggambarkan ketidakpercayaan, excited, tegang dan kebingungan mendukung siapa juga mewarnai undian hasil tunggal putri tadi siang. Ketiadaan Li Xuerui membuat tunggal putri bergabung dengan 4 nomor lain dalam menyajikan partai yang sulit ditebak dan berpotensi menghasilkan atraksi ketegangan luar biasa.

Jadi, tidak peduli anda seorang penggila badminton ataupun olahraga secara umun atau anda hanya adrenaline junkie, silakan menikmati ketegangan yang penuh atraksi dalam battle royale bulutangkis bertajuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014.

Jumat, 12 Desember 2014

Dubai 2014: Without Alien, Its Wide Open Field for Human

Li Xuerui has a right foot surface fracture and been put on plaster cast since 17th Nov for at least six weeks.

Kalimat diatas yang kami kutip dari badmintoncentral memastikan bahwa turnamen penutup tahun ini tidak akan dihadiri alien di sektor tunggal. Ketiadaan alien di tunggal putri, membuat persaingan 8 (?) manusia walaupun mungkin mereka berkekuatan super, terlihat jauh lebih seimbang.

Wang Shixian dan Wang Yihan, dua penguasa lama Super Series Finals sebelum kehadiran sang alien, kini harus mengemban tugas meneruskan dominasi China di nomor tunggal putri yang telah berlangsung sejak 2010. Tugas yang sepertinya cukup berat meskipun status mereka sebagai dua unggulan utama, mengingat performa mereka di beberapa turnamen akhir jelang Dubai.

Selain performa yang menurun, Shixian dan Yihan juga harus mempertimbangkan para pesaingnya seperti 3 orang yang pernah menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Akane Yamaguchi beberapa pihak mengira dia bayi Saiyan, peserta termuda Dubai Super Series Final yang sejauh ini sudah menjuarai WJC sebanyak 2 kali tentu ingin membuktikan bahwa dia mampu berbicara banyak di level senior di luar negeri 4 pulau besar yang didiaminya. Status Akane yang masuk karena regulasi kuota ataupun "pengganti" Li Xuerui membuatnya dapat bersikap nothing to lose di Dubai nanti. Ratchanok Intanon dan Saina Nehwal, dua peserta Dubai SSF yang juga pernah mengecap juara junior pasti juga mengincar gelar di Dubai untuk melengkapi sederet prestasi mereka sekaligus membuktikan bahwa gelar juara dunia ataupun medali Olimpiade yang mereka miliki bukanlah kebetulan.

Tiga peserta Dubai SS Finals lainnya yang kebetulan memiliki sponsor apparel raket bertanda kemenangan, juga tida bisa dianggap enteng. Tai Tzu Ying, pemenang seri Super Series terakhir tahun ini tentu ingin melanjutkan form tersebut sembari membuktikan dia tidak hanya sebatas bayang-bayang Cheng Shiao Chieh ataupun hanya bisa "menduplikasi" backhand dari juara olimpiade. Sung Ji Hyun, barangkali orang yang paling senang membaca berita diatas tadi mengingat dia tidak perlu menghawatirkan rekornya dengan sang alien dan bisa fokus memburu gelar. Bae Yeon Ju juga pasti ingin melepas status hanya sebatas Korea kedua.

Bagaimanapun undian nantinya, dengan 8 manusia ini, Dubai SSF nomor tunggal putri akan sangat memikat.

Rabu, 10 Desember 2014

Dubai 2014: Lovey Dovey Couple Turn To Reign?

Super Series Finals, suatu ajang yang secara prestise diharap menyerupai ATP World Tour Final ataupun WTA Championship, dimana 8 pemain/pasangan terbaik dan paling konsisten di setiap nomor beradu tanding di akhir musim untuk satu gelar terakhir dan tentu saja memuaskan fans dengan partai-partai menarik. Dalam penyelenggaraan ketujuh yang akan digelar di Hamdan Sports Complex Dubai, tampaknya gengsi itu akan meningkat, apalagi pihak sponsor dan penyelenggara menyediakan dana 1,6 juta dollar suatu jumlah yang cukup besar dalam standar badminton sebagai hadiah dan segala macam fasilitasnya termasuk akomodasi dan transportasi ke Dubai.

Berbicara tentang 8 pasangan terbaik, ganda campuran dan ganda putra adalah 2 nomor yang menampilkan ke 8 pasangan terbaik selama 2014 tanpa dibatasi cedera, hukuman ataupun kuota negara. Ganda campuran, nomor yang dalam enam penyelenggaraan sebelumnya dikuasai Denmark dan China melalui Thomas Laybourn/Kamila Rytter-Juhl, Joachim Fischer Nielsen/Christina Pedersen (3 gelar) dan Zhang Nan/Zhao Yunlei (2 gelar)  tampaknya akan melanjutkan tradisi itu.

Pasangan kekasih yang menjadi pemuncak dalam dua gelaran Super Series terakhir pada tahun 2014 yang berlangsung di Asia Timur, layak untuk difavoritkan dalam ajang ini meskipun ranking Dubai mereka hanyalah kedua. Inkosistensi pasangan fantastic four lainnya juga menjadi penyebab prediksi ini. Nielsen/Pedersen sebagai juara bertahan SSF dan mengincar hattrick justru tidak bermain bersama di Asia timur, hal serupa juga dialami Ahmad/Natsir yang tidak bernain bersama di Hongkong. Problem bagi pasangan Indonesia juga ada pada mood sang pasangan cowo yang menikah tahun ini, hal yang sama juga terjadi pada Xu Chen/Ma Jin yang mempunyai rekor sangat tidak enak dilihat terhadap Zhang/Zhao.

Diluar fantastic four, baru sembuhnya Kim Ha Na membuat agak sulit untuk membayangkan pasangan Korea ini mampu menghadang Zhang/Zhao lagi ataupun pasangan fantastic 4 lainnya. Sudket/Saralee dan Fuchs/Michels pun berada di tingkat yang sama dengan pasangan Korea dalam hal berharap kejutan. Barangkali kalau dilihat dari form turnamen terakhir dan kesiapan, mantan pasangan kekasih dari Inggris yang lebih bisa disejajarkan dengan pasangan kekasih asuhan Li Yongbo itu.

Ya inilah 8 pasangan terbaik, tapi tampaknya pasangan kekasih akan meneruskan tradisi, atau tidak?

Senin, 08 Desember 2014

Poison Chalice or No Patience?

Stabilitas, kata yang sangat tidak familiar bagi sektor tunggal putri Indonesia. Ketidakstabilan itu dimulai dari pos pelatih tunggal putri pelatnas, pos tersebut seperti pos guru pertahanan terhadap ilmu hitam Hogwarts yang selalu berganti di setiap seri buku Harry Potter.

Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.

Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.

Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.

Jumat, 28 November 2014

A Note About Butet

Lilyana Natsir, mungkin pemain terbaik ganda sektor putri Indonesia sejak dimulainya millennium ketiga. Namanya muncul pertama kali ke permukaan ketika dia menjadi juara junior Asia di Jakarta tahun 2002 bersama Markis Kido.

Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.

WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.

Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.

1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ

Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?

Senin, 17 November 2014

End of SSP season

Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.

Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.

Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.

Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.

Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh

Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me

Sabtu, 15 November 2014

The Race Is On

Super Series Finals, suatu ajang yang secara prestise diharap menyerupai ATP World Tour Final ataupun WTA Championship, dimana 8 pemain/pasangan terbaik dan paling konsisten di setiap nomor beradu tanding di akhir musim untuk satu gelar terakhir dan tentu saja memuaskan fans dengan partai-partai menarik. Tapi dalam 5-6 tahun pertama sejarahnya, Super Series Finals malah terkesan menjadi turnamen asal-asalan bahkan sempat suatu waktu harus ditunda cukup lama karena ketiadaan sponsor. Tahun ini, mungkin akan berubah karena BWF mampu mengamankan sponsor dari Metlife dan Dubai bahkan me-rebrand superseries ranking menjadi Destination Dubai Ranking dan menyediakan hadiah lumayan besar untuk standar badminton.

Destination Dubai Ranking hanya mengambil hasil yang diraih pemain dari Super Series dan Super Series Premier dengan catatan kuota per negara dibatasi maksimal 2 entry per nomor. Dan Thaihot China Open Super Series Premier yang telah mencapai semifinal hari ini adalah seri kedua terakhir sebelum rangkaian Super Series ditutup pekan depan di Hongkong. Semifinal hari ini dibuka dengan pertandingan Tian Qing/Zhao Yunlei melawan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi di ganda putri. Duel antara juara dunia melawan ranking 1 dunia dan ranking 1 Destination Dubai Ranking yang diatas kertas tentunya menjadi duel yang menarik untuk ditunggu. Duel yang mungkin terjadi lagi di Dubai karena 2 pasangan ini sudah memastikan lolos bersama juara Asian Games Greysia/Nitya, juara Eropa Rytter-Juhl/Pedersen, Reika/Miyuki, si kembar Luo, Jung Kyung Eun/Kim Ha Na dan Jang Ye na/Kim So Young. Dan tentu saja 8 pasangan ini cukup menarik untuk dilihat mata.

Jika ganda putri sudah memastikan kedelapan pesertanya seusai Thaihot China Open, tidak demikian dengan nomor-nomor lainnya. Di ganda campuran selain pasangan fantastic four yang nyaris selalu mendominasi turnamen, 2 tiket lain diambil oleh Ko Sung Hyun/Kim Ha Na dan Sudket P/Saralee T. Sementara pasutri Adcocks, Fuchs/Michels dan Riky/Richi masih akan memperebutkan 2 tiket sisa di Hongkong. Di tunggal putri, persaingan akan terjadi antara 3 tunggal Jepang, Eriko, Sayaka dan Akane memperebutkan 1 tiket yang muncul karena dibatasinya kuota CHN sehingga salah satu diantara trio Xuerui-Shixian-Yihan harus puas hanya menjadi penonton.

Persaingan seru terjadi di sektor putra, di ganda ada 6 pasang yang sudah lolos termasuk Lee/Tsai, Lee/Yoo, Boe/Mogensen dan Ahsan/Hendra. 2 tiket lagi diperebutkan beberapa pasangan termasuk sang juara dunia Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dan Fu Haifeng/Zhang Nan yang dengan medali emas Olimpiade di leher mereka biarpun dengan pasangan/dari nomor yang berbeda tentu tidak bisa dianggap biasa saja. Di tunggal, lebih chaotic lagi, hukuman terhadap Dato dan melejitnya Chou Tien Chen serta Srikanth menjadi penyebab kekacauan persaingan yang tampaknya akan seru di Hongkong, Baru sang juara dunia, Chen Long, juara BCA IOSSP, Jan O Jorgensen, pahlawan Thomas Cup Jepang, Kento Momota, serta motor Korea di Incheon, Son Wan Ho yang lolos ke Dubai. 4 tiket lainnya akan menjadi pertarungan antara Chou Tien Chen, Hu Yun, Parupalli, Srikanth, Tago, Tommy, Ueda, Vittinghus dan Zhengming.

So yes the race is on. Lets enjoy the rest of Superseries this year

Kamis, 30 Oktober 2014

Hope For Hian's Troops

Ganda putri, nomor bulutangkis yang bagi mayoritas penggemar dari Indonesia merupakan nomor ganda yang paling ngga dianggep. Bagaimana tidak, dibanding ganda putra yang punya berderet pasangan tangguh dengan gelar juara bejibun dan ganda campuran yang punya Butet dan Vita beserta pasangannya, apalah yang ganda putri punya? Cuma Butet/Vita yang "disewakan" dari ganda campuran dan terpaksa mengikuti permainan paduka Li Yongbo di London.

Hal itu pun berlanjut saat kepengurusan Gita Wirjawan dimulai, disaat nomor lain sudah memiliki pelatih yang pasti, ganda putri malah harus menunggu kedatangan Reony Mainaky sambil sementara diawasi oleh para asisten. Ketika akhirnya Reony memutuskan untuk tetap berada di Jepang, sempat ada kekecewaan dan anggapan bahwa nomor ini bakal makin terpuruk seperti sektor putri satunya itu.

Ganda putri mulai merebut perhatian ketika medali Asian Games menghampiri, medali itu sendiri menurut kami hanyalah produk wajar dari grafik performa Greysia/Nitya yang memang meningkat tahun ini. Prestasi yang lalu diikuti dengan absennya punggawa ganda putri pelatnas dari tur eropa.
Absennya nyaris seluruh ganda putri di tur eropa ini tentu menimbulkan pertanyaan. Semoga saja absennya ini memang untuk refreshing dan mencari kombinasi terbaik untuk mendampingi Greysia/Nitya di kualifikasi Rio. Yang jelas, kmi hanya bisa berharap bahwa kesuksesan di Incheon kemarin tidak membuat coach Eng Hian dengan pasukan yg sekompi penuh potensi justru puas dengan hanya 1 kartu truf saja.

We certainly hope that you can maximize Indonesia's women double department coach.

Selasa, 07 Oktober 2014

Haruskah Kami Hanya Berharap Kejutan?

Upacara penutupan Asian Games 17 di Incheon beberapa hari lalu cukup membuat bangga dan menarik perhatian orang Indonesia karena tampilnya kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari upacara itu karena peran Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan berikut di tahun 2018. Kebanggan yang bila berkaca pada hasil prestasi di Incheon kemarin sangat mungkin akan berhenti disana dan tidak berlanjut empat tahun lagi.

Prestasi di Incheon kemarin bahkan bisa dikatakan kebetulan yang sensasional, bagaimana tidak, dari 4 medali emas yang diraih Indonesia hanya satu yang bisa dikatakan sesuai proyeksi yaitu di bulutangkis ganda putra, sisanya adalah 2 medali emas kejutan dari Greysia/Nitya dan Maria Londa serta satu "limpahan" yang didapat oleh Juwita Niza.Emas atau medali kejutan memang bukan hal yang baru bagi di Indonesia di ajang Asian Games, 2010 didapat dari cabang Perahu Naga, 2006 ada dari boling melalui Ryan dan Putty, 2002 ada balap sepeda melalui trio Uyun, Santia dan Risa. Setidaknya itu catatan di milenium ketiga ini, sebelumnya setidaknya ada dua nama Supriati Sutono dan Pino Bahari dengan emas dari cabang masing-masing yang juga membanggakan sekaligus tak terduga.

Emas kejutan sebenarnya menunjukkan bahwa atlet negeri ini punya banyak potensi tapi sayang sering tenggelam karena tiadanya kompetisi atau kompetisi hanya sebatas seremonial tanpa muara yang jelas. Kompetisi disini selama ini sifatnya yang penting ada atau yang penting penonton ramai, banyak atlet kita yang karena jarang berkompetisi akhirnya hanya sekali muncul lalu tenggelam atau kurang maksimal. Ambil contoh bulutangkis, empat puluh persen komposisi Incheon sama dengan Guangzhou 2010, hal yang wajar sebenarnya jika hanya dilihat sekilas, tapi 60 persen pemain baru yang menggantikan pemain yang cedera/pensiun kualitasnya belum sebaik dengan yang digantikan sehingga beregu sampai tidak menghasilkan medali sama sekali. Jika bulutangkis yang diklaim sebagai salah satu olahraga populer di Indonesia dan punya pelatnas berkesinambungan yang baik, transisinya seburuk itu apalagi cabang lain yang tak populer atau pelatnasnya putus nyambung?

Momentum terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games selanjutnya ini harusnya bisa memicu pihak Kemnpora, KONI/KOI dan para induk olahraga untuk benar-benar mengidentifikasi dengan baik cabang-cabang olimpiade yang memiliki potensi prestasi bagi Indonesia sehingga cabang-cabang itulah yang lebih diprioritaskan pembinaan dan kompetisinya sehingga bisa membawa nama Indonesia dengan baik. Ambil contoh Singapura yang memaksimalkan potensi Joseph Schooling di kolam renang atau India dengan atlet menembaknya yang benar-benar bersaing di kejuaraan dunia, jangan sampai kasus Pelti vs Tami Grende atau kasus pengadaan bola boling yang justru menghiasi kembali media olahraga kita.

Semoga di Jakarta 2018 dan seterusnya kami tidak hanya berharap kejutan, atau haruskah kami?

Rabu, 01 Oktober 2014

Incheon 2014: Class and Validation


Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.

Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.

Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.

Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,

Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,

So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.

Selasa, 30 September 2014

A Pleasant Distractor: Story About Following Maria Londa's Gold

29 September 2014, sama seperti kebanyakan penikmat olahraga Indonesia, kami menunggu partai final ganda campuran Asian Games dengan hati lumayan dagdigdug. Ya badminton memang masih dianggap peluang terbesar medali bagi Indonesia. Dan karena ketegangan itu, maka saat final antara Alien melawan Naga, kami berusaha mencari pengalihan sekedar untuk menstabilkan detak jantung ini. Pengalihan itu kami dapat melalui info di foxsportsindo bahwa ada atlet Indonesia yang berlaga di final jam 17.00 bernama Maria Londa, karena kami tidak tahu cabang yang diikutinya maka diubeklah website resmi Incheon dan diketahui bahwa itu di atletik.

Jujur, nama yang terlintas di pikiran penulis kalo soal atletik adalah Ruwiyati dan Supriati Sutono, dua pelari wanita jarak menengah dan jauh Indonesia, lompat jauh bagi kami adalah buta sama sekali kecuali harus lompat jauh kalo penjaskes waktu sekolah dulu. Dengan pikiran demikian, kami buka tab final lompat jauh untuk menenangkan jantung dan berharap atlet Indonesia nggak jadi juru kunci.
Ketika tab dibuka, sebagian atlet sudah melakukan lompatan kedua, nama pelompat jauh Vietnam memimpin dengan lompatan sejauh 6,3 meteran dan ketika semua atlet menyelesaikan lompatan kedua, Londa berada di 8 besar dan Vietnam masih memimpin. Jantungpun agak tenang karena baguslah ngga juru kunci dan jujur saat itu lebih menyemangati atlet Vietnam sebagai sesama ASEAN dan ekspektasi awal yang asal ngga juru kunci.

Beberapa klikan refresh kemudian (kalo yang biasa livescore badminton AG pasti klik refresh berkali-kali) Bui Thi Thu Thao makin kokoh di puncak dengan lompatan 6.44, dan Maria Londa ada di posisi 2 dengan lompatan 6.40 meter. Disini badminton di tv mulai terabaikan dan mulai berharap medali diraih oleh Indonesia ya perunggulah setidaknya. Perhatian makin besar berarti tombol refresh makinn sering digunakan dengan mata tertuju pada baris nama kedua-keempat. Ketika usai lompatan terakhir Londa -yang mendapat urutan kedua/ketiga- bendera Merah Putih dengan tulisan INA disamping tidak ada pada baris yang dituju mata, kami pikir ya sudahlah kami cari dibawah lagi.

Whoa! betapa kagetnya kami ketika justru nama dan bendera yang dicari justru berada diurutan teratas. Maka dengan perhatian full ke ajang ini sekarang, kami mulai ngetwit hanya dengan kata medalist, dan ketika semua usai barulah kami tambahkan kata 3rd gold disana. Sekali lagi, selamat Maria Natalia Londa atas medali emasnya dan terima kasih atas pemberian pengalihan excitement bagi kami kemarin.

Selasa, 23 September 2014

Price (and Reward?) of Regeneration

Pesta olahraga Asia tahun ini kembali ke semenanjung Korea, setelah Seoul dan Busan masing-masing pada tahun 1986 dan 12 tahun lalu, kali ini giliran Incheon menjadi tempat penyelenggaraan ke 17 pesta tersebut. Dan seperti kebiasaan sejak penyelenggaraan di Jakarta lebih dari 50 tahun lalu, bulutangkis kembali menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan.

Ajang beregu yang diadakan dari tanggal 20-23 September ini seperti sejarah yang berulang baik di nomor putri maupun putra. Di nomor putri, pasukan Li Yongbo masih menunjukkan supremasi mereka di sektor ini, bahkan kemenangan untuk kelima kali berurut yang dimulai sejak Bangkok 1998 sepertinya sudah dipastikan bahkan sebelum kompetisi digulirkan. Tebalnya lapisan ganda mereka yang bisa dikombinasikan sedemikian rupa dan ditambah 3 tunggal yang menguasai top 3 ranking BWF bahkan membuat Wang Shixian sebagai peraih emas individual di Guangzhou hanya turun di ajang beregu pada edisi Incheon. Dominasi Bangkok-Incheon ini mengulang dominasi era 1974-1990 yang akhirnya dihentikan oleh tim Korea di Hiroshima ketika China hanya memiliki Zhaoying dan Ge Fei/Gu Jun sebagai senjata yang akhirnya menyumbang 2 medali perunggu di individu, kegagalan di Hiroshima dan direbutnya piala Uber di Jakarta pada tahun itu yang akhirnya membuat China tersadar perlunya sistem yang menjaga aliran regenerasi dan itu masih terjaga setidaknya sampai tahun ini.

Bicara soal regenerasi, hal yang mungkin sulit terwujud di sektor putra. Kedua finalis beregu di Incheon malah memanggil jagoan tunggal masing-masing yang pernah sempat menghilang dari dunia perbulutangkisan. Lin Dan dan Lee Hyun Il sebagai ksatria yang kembali dipanggil ke medan laga pada saat mereka sudah sempat menikmati suasana jauh dari pertempuran memang menunjukkan mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan memenangi semua laga. Bahkan Hyun Il menyumbang angka penentu yang memastikan Korea kembali menjadi juara beregu putra saat menjadi tuan rumah. Hyun Il bukanlah aktor utama kemenangan Korea kali ini meskipun sebagai penentu, sang aktor utama adalah Son Wan Ho yang meniru jejak Shon Seung Mo di Busan dalam mengalahkan tunggal utama lawan yang jauh diunggulkan. Wan Ho mengalahkan Chen Long yang baru saja ditahbiskan sebagai ksatria terbaik dunia di Copenhagen bulan sebelumnya, seperti Seung Mo yang ketika itu mengalahkan Taufik Hidayat, peringkat satu kala itu.

Taufik Hidayat yang sudah pensiun sejak tahun lalu, mungkin senang dengan regenerasi di tim Indonesia yang menurunkan 2 tunggal dibawah 25 tahun sebagai andalan di Incheon. Meskipun penyebab turunnya mereka adalah sedikit dipaksa, tapi hasil tangan hampa di beregu ini menunjukkan bahwa regenerasi yang sangat terlambat ini memang harus dilakukan daripada membawa kombinasi tunggal yang nyaris sama sejak Doha sampai Incheon. Kegagalan di Incheon ini juga membuka mata bahwa Indonesia perlu memperbanyak dan memperbaiki lapisan tunggalnya baik putra maupun putri, karena sebaik apapun ganda yang dimiliki untuk menjadi juara beregu tetaplah perlu setidaknya dua tunggal yang bisa diandalkan, seperti apa yang ditunjukkan Korea dengan pemanggilan kembali Hyun Il. Dan mencari lapisan tunggal yang diandalkan itu ya lewat proses regenerasi yang baik, bukan ngasal, masa iya kita harus bujuk komodo terakhir versi cobalt di badcentral keluar dari pensiun?

Akhirnya, selamat bagi tim Korea dan China, mari kita menikmati sektor individu dan cabang2 lainnya di pesta Incheon kali ini.

Minggu, 14 September 2014

Springboard and Revival

Turnamen kelas grand prix dan grand prix gold biasanya menjadi "springboard" karir seseorang. Tengoklah bagaimana pasangan ganda putri nan cantik jelita Bao Yixin dan Tang Jinhua memulai rentetan kemenangan yang menghantar mereka ke peringkat 1 BWF justru di turnamen biasa saja bernama Dutch Grand Prix. Dan di Palembang dari hari selasa lalu jalan itu coba ditiru melalui Indonesia Masters GP Gold meskipun banyak pemain utama tidak hadir karena berdekatan dengan Asian Games.

Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.

Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya  di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.

Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.

Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.


Sabtu, 06 September 2014

Jasmine at the crossroads

Sebagai turnamen yang berlangsung tepat setelah Kejuaraan Dunia, Vietnam Grand Prix tentu saja tidak bisa berharap akan banyak bintang yang datang, apalagi statusnya hanyalah turnamen bintang 2, atau seperti yang dikicaukan oleh seseorang yang penulis follow bahwa Vietnam GP adalah saat dimana pemain potensial atau baru dipulangkan ke klub untuk merebut perhatian. Malang bagi panpel, hal pertama dari Vietnam GP yang menarik atensi dunia adalah rubuhnya atap stadinon Phan Dinh Phung yang memaksa mereka memindahkan venue pertandingan dan berantakannya jadwal karena force majeure tersebut setidaknya sampai hari jumat ini.

Dan karena fokus turnamen ini antara pemain potensi atau pemain yang baru dipulangkan, awalnya kami lebih memfokuskan pada kategori yang kedua, terutama pada empat nama yaitu Irfan Fadhillah, Weni Anggraeni, Rendy Sugiarto dan Ririn Amelia. Ririn yang diklaim banyak orang kurang diberi kesempatan sebelum dipulangkan ke klub, belum mampu memberi impresi bahwa dia memang layak dipertahankan di pelatnas. Lain halnya dengan Rendy, kegagalan di XD bersama Ririn ditebusnya dengan menembus SF di MD, harapannya sih suatu saat nanti mengingat usianya yang masih muda, Rendy kembali mengisi jajaran punggawa timnas. Sedangkan Irfan/Weni seakan menegaskan bahwa mereka tersingkir dari Cipayung karena melimpahnya stok pemain ganda campuran, dan mungkin karena usia mereka maka mereka menjadi tumbal.

Bicara soal ganda campuran, nama Melati Daeva Oktaviani justru mampu menarik perhatian di turnamen ini. Melati yang dianggap sebagai playmaker putri terbaik di generasinya nampak akhirnya menemukan pasangan yang tepat di ganda campuran bersama Ronald Alexander setelah sebelumnya terlihat tak berkembang di ganda putri dengan pasangan yang terus berganti. Pasangan Ronald/Melati ini selalu menembus 8 besar di tiap turnamen yang diikutinya, dan duelnya nanti melawan Vita/Rijal di semifinal selain menimba banyak pengalaman, tentu bisa jadi menjadi tolok ukur awal sejauh mana kesiapan Melati untuk menjadi penerus Vita ataupun Butet di XD.

Pun jika benar nantinya Melati lebih memprioritaskan XD, ganda putri Indonesia tidaklah kekurangan pasokan, 2 pemain yang pernah berpasangan dengan Melati, Rosyita dan Maretha bersama permata Bali Ketut Mahadewi yang kali ini dipasangkan dengan Gebby Imawan juga mencoba bersinar di Ho Chi Minh.

Yang jelas kami sangat senang dengan keberanian dan kontinuitas bongkar pasang ini, serta berharap otak-atik kombinasi di ganda ini benar-benar dapat menghasilkan yang terbaik, dan seperti proses pembersihan berlian yang punya banyak halangan, semoga saja halangan itu bukanlah dari para fans yang asal teriak ingin kembali ke pasangan lama ketika satu hal buruk terjadi. Akhir kata All the best for Indonesia team going forward.

Senin, 01 September 2014

Copenhagen 2014: Where Dreams and Histories Made

Denmark, negeri Skandinavia yang terkenal dengan dongeng putri duyung itu, seminggu kemarin menyajikan berbagai cerita luar biasa dalam bentuk perjuangan atlet-atlet badminton di Ballerup Super Arena, Copenhagen. Di awal cerita, banyak pahlawan-pahlawan baru bermunculan seperti Anggia/Della, Lee So Hee/Shin Seung Can dan juga pahlawan Viking baru bernama Viktor Axelsen. Tapi, seperti dongeng pada umumnya, drama terseru terjadi di bagian akhir cerita dan itulah yang di Ballerup, minggu kemarin.

Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.

Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh


Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia  mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.

Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.

Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Merah Putih di Ballerup





WBC 2014 akan memasuki babak semifinal hari ini. Indonesia dipastikan hanya meraih satu medali yang belum jelas apa warnanya melalui Tommy Sugiarto. Tommy yang nanti menghadapi Chen Long adalah salah satu pemain Indonesia yang bersinar cerah di negeri dongeng ini.
Kalau dilihat dari sisi hasil semata, ini jelas penurunan dari tahun lalu yang menghasilkan dua emas, tetapi jika ditinjau dari 14 pasukan yang dikirim, justru ini menggembirakan meskipun pasti banyak catatan yang harus diperbaiki di kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Kami mencoba menggunakan sistem penilaian di Hogwarts untuk menilai penampilan seluruh punggawa Indonesia di medan tempur Ballerup Super Arena.

Dan nilai-nilai itu adalah:
Poor untuk 2 pasangan ganda campuran non pelatnas Gideon/Rizki, -kalah dari pasangan Swedia secara straight set memvalidasi penilaian ini, belum tega ngasih troll- dan Pia/Kido, sebagai pasangan berstatus unggulan penampilan mereka, terutama Kido terkesan asal muncul di lapangan. Riky/Richi barely acceptable, penampilan pasangan ini perlu banyak diperbaiki tapi ngga layak dibilang buruk, di sisi lain Jordan/Debby adalah pasangan yang paling menunjukkan grafik meningkat bahkan hanya berjarak 5 angka dari medali dengan mengalahkan salah satu fantastic four, membuat mereka layak mendapatkan Exceeds Expectation.

 Poor juga layak disematkan kepada Angga/Rian yang meski lolos QF hanya dengan kemenangan super tipis atas Mads/Mads dan keberuntungan undian setelah cederanya Ahsan. Demikian juga Berry/Ricky yang dibantai oleh Gideon/Kido yang mendapatkan acceptable. Buruknya 2 pasangan pelatnas ini, menimbulkan pertanyaan haruskah maestro2 disamping turun gunung?

Tommy Sugiarto sebagai pejuang tunggal di tungal putra putra, mencapai SF memang hanya memenuhi status unggulannya. Karena itu sementara ini nilainya Exceeds Expectation semata karena menjadi satu-satunya peraih medali, dan bisa naik menjadi Outstanding jika menembus final atau juara. Di tunggal putri, Lindaweni mampu mengejutkan Nichaon tapi kekalahan mudahnya dari Sung Ji Hyun membuat acceptable sepertinya lebih layak dan tetap lebih baik dari rekannya Bellaetrix yang tampil buruk di kejuaraan ini.


Bintang tercerah Indonesia di WBC tahun ini datang dari Ganda Putri, bukan Greysia/Nitya yang gagal di perempat final karena serangkaian "ketidakberuntungan" tetapi "adik" Greysia, Anggia yang berpasangan dengan Della Destiara Haris kami nilai satu-satunya yang Outstanding sejauh ini setelah menembus perempat final dengan status tak diunggulkan dan mampu menundukkan Bao Yixin/Liya secara straight set. Penampilan Anggi sangat jauh dari suku pertama nama tengahnya yang mungkin lebih tepat untuk menggambarkan penampilan pasangan ganda putri pujaan para BL, ketimbang klaim yang mengatakan mereka akan bersinar sesuai nama klub mereka.

Secara keseluruhan, hasil di Copenhagen ini menunjukkan bahwa Indonesia tidaklah sebatas 2 juara bertahan WBC yang kini absen.



Senin, 25 Agustus 2014

Copenhagen 2014 Looking Forward for Surprises

Rasanya ngga adil kalo ninggalin ganda campuran sebagai nomor yang ngga ditulis previewnya sama sekali. So, 1 jam jelang WBC here it is.

Ganda Campuran, nomor yang identik dengan fantastic four sejak 2010 atau 2011 mungkin. Mayoritas gelar pasti hanya berputar antara Zhang Nan/Yunlei, Xu Chen/Ma Jin, Towi/Lilyana atau Fischer/Pedersen. Gelaran di Ballerup nanti juga kemungkinan besar berkutat di antara 3 fantastic four tersisa setelah sang pengantin baru urung berangkat karena cedera.

Kalo mau jujur, gw sih pengennya di Ballerup ini muncul pasangan ala Nath/Gail circa 2004 atau LYD/LHJ 2008 yang tiba2 mengagetkan dunia dan menggebrak dominasi, tapi siapa itu? Adcock/Adcock, Ko/Kim yang selama ini konsisten nyelip kalo ada fantastic 4 yg absen? Tapi lebih seru lagi kalo XD Hongkong misalnya ya yg tingkatan macam itulah.

I want a fully exciting XD for sure. Are you?

Minggu, 24 Agustus 2014

Copenhagen 2014: Will The Streak Continues?

Deja vu, mungkin kata itu yang tepat menggambarkan kondisi ganda putra dunia saat ini. Ada pasangan yang memasuki kejuaraan dunia bukan sebagai unggulan utama tetapi memiliki form tak terkalahkan dalam beberapa bulan jelang kejuaraan dunia. Tahun lalu di Guangzhou, M Ahsan dan Hendra Setiawan yang tampil sebagai unggulan 6, melanjutkan form tak terkalahkan mereka sejak di Istora dan menjuarai kejuaraan dunia ke-20 tersebut.

Di Ballerup Super Arena, pasangan yang akan diuji ketahanan formnya adalah Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong, pasangan yang selalu menang sejak tampil di Tokyo Metroplitan Gymnasium bulan Juni lalu, tentu ingin mengulang prestasi sang juara bertahan yang tak ikut berlaga karena cedera menimpa.



Tanpa kehadiran sang juara bertahan, beberapa pasangan yang mungkin menghentikan Lee Yong Dae/Yoo Yeong Seong adalah:
1. Mathias Boe/Carsten Mogensen Runner up tahun lalu yang tentunya berharap lebih beruntung di kandang sendiri.
2. Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin penghenti Lee Yong Dae tahun lalu ketika masih bersama Ko Sung Hyun
3. Kim Ki Jung/Kim Sa Rang: Pasangan Korea yang selalu menjadi pelapis Yong Dae, akankah streakbuster tahun ini berasal dari kompatriot juga?
4. Ganda-ganda putra yang selama ini tidak begitu stabil macam Liu/Qiu, Goh/Lim, Angga/Rian atau malah ganda yang tampil untuk terakhir kalinya KKK/TBH?

Melihat kondisi peperangan yang akan dimulai besok, sepertinya kemungkinan streak akan berlanjut > 60 %. Ataukah ada kejutan?

Senin, 18 Agustus 2014

Copenhagen 2014: Redemption time?

Guangzhou, China kira-kira setahun yang lalu. Suatu masa yang mungkin sangat membekas dan sulit dilupakan bagi pasukan asuhan Zhang Ning terutama Li Xuerui. Saat itu dua orang remaja belum genap 19 tahun, Pusarla Venkata Sindhu dan Ratchanok Inthanon mampu mengalahkan semua punggawa tuan rumah. Inthanon bahkan berhasil menjadi juara dunia tunggal termuda setelah mencuri game pertama dari Xuerui dan memenangi game ketiga dengan skor meyakinkan 21-14.

Setahun berselang, tampaknya tepat bagi pasukan yang kini juga diasuh Chen Jin untuk melakukan pembalasan atas kejadian memalukan tahun lalu. Semenjak Guangzhou, Duo Wang + alien yang lebih kejam dari Lin Dan sungguh mendominasi gelar Super Series keatas. 16 SS/SSP yang digelar sejak Guangzhou sampai sekarang hanya 3 yang terlepas, 1 ke Liu Xin (CM 2013). 1 ke Akane Yamaguchi (Japan 2013) dan 1 ke Saina Nehwal (Aussie 2014), itupun dengan catatan China tidak full team ke tiga turnamen itu.
Peluang pembalasan itupun makin besar mengingat WS-WS sisa dunia belum ada lagi yang stabil, Inthanon dan Saina punya problem cedera, duo Korea Sung dan Bae sulit bersaing dengan Li+Wangs, Marin + Sindhu belum juga konsisten performanya.

So Copenhagen 2014 haruslah jadi misi pembalasan, jika tidak, mungkin kita akan melihat pembersihan terbesar sepanjang masa.

Senin, 11 Agustus 2014

Copenhagen 2014: The Coast is Clear For Take-off, But For Who?

Seperti janji kami di post sebelumnya untuk membahas semua nomor di WBC, maka setelah post sebelumnya bahasan mengenai WD maka tulisan berikut coba menyinggung nomor tunggal putra.
Pria bertatto diatas menjadi penguasa tunggal putra sejak 2006, kejutan Park Sung Hwan di Stade Pierre de Coubertin hanyalah suatu keajaiban karena mungkin saat itu dia terlalu asyik membayangkan bemesraan dengan Xie Xingfang di menara Eiffel:D
Tidak adanya nama pria bertatto tersebut di undian yang diadakan di Berjaya Times Square tadi siang jelas menciptakan suasana serupa Hogwarts ketika semua berebut membuktikan diri menjadi penyihir paling jail ketika si kembar Weasley meninggalkan sekolah sihir itu.

Dari hasil undian siang tadi, inilah pihak-pihak yang paling mungkin memanfaatkan Copenhagen 2014 untuk mendapatkan kejayaan:
1. Chen Long: Sang Naga yang selama ini selalu dibawah bayang-bayang Super Dan, mampukah dia membuktikan diri bahwa dia mampu, atau kekalahan di Thomas Cup lalu sangat berakibat buruk pada mentalnya?
2. Lee Chong Wei: orang yang selama ini harus menerima kenyataan sebagai "pendamping" Super Dan. Akankah dia akhirnya mendapat gelar turnamen besar pertamanya? Atau tetap menjadi raja Super Series dan persemakmuran?
3. Jan O Jorgensen: Ksatria utama tuan rumah yang jelas berharap melebihi prestasi Peter Gade ataupun Morten Frost Hansen.
4. Tommy Sugiarto dan Kenichi Tago: Dua pemain yang tentu saja ingin mengulang atau melebihi pencapaian orang tua mereka yang mendapatkan medali WBC.

Nah dengan persaingan tunggal putra yang terbuka lebar, siapa yang akan memuncaki podium Ballerup Super Arena? Layak ditunggu.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Copenhagen 2014: Tian Qing/Zhao Yunlei's swansong?

Kejuaraan dunia bulutangkis akan kembali ke tanah negeri dongeng setelah 15 tahun berkeliling dunia. Gelaran ke-21 tersebut akan berlangsung pada akhir bulan ini. Dan kami mencoba menganalisa peluang nomor demi nomor sebelum kejuaraan tersebut berlangsung di Ballerup Super Arena, Copenhagen.
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.

Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1.  Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.

Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.

Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?

Kamis, 17 Juli 2014

What Is The Move, Your Highness?

Ganda putri nomor yang mungkin paling sepi peminat di bulutangkis umumnya dan Indonesia khususnya, karena tampaknya memang sulit mencari 2 putri untuk dipasangkan di lapangan, takut adu mulut maybe:D
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?

Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun  depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.

Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.

Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?

Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?

Minggu, 06 Juli 2014

A view of sport-media relationship, badminton especially

Media Availability, sesuatu yang sering muncul menjelang NBA All Star ataupun Final. Suatu konsep yang tidak begitu penulis pahami sebenarnya, kenapa NBA "memaksa" bintang2 merekka untuk muncul melayani pers/fans menjelang partai penting ketimang mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pertandingan, toh hasil sebuah pertandingan olahraga ditentukan di lapangan bukan dibalik mikrofon? Tapi gilanya, partai NBA tetep seru dan jumlah fansnya makin meningkat aja dari hari ke hari dan sebagian besar karena peran media yang hadir di media Availability itu.

Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.

Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.

Jumat, 20 Juni 2014

Which cream are they?

In the end, cream always rise to the top. Ungkapan yang sering digunakan di olahraga populer di AS terutama basket, ungkapan yang menggambarkan bahwa pada akhirnya yang terbaiklah yang berada di puncak. Ungkapan itu memang benar terbukti di final NBA tahun ini dengan Spurs dan Heat sebagai juara dan finalis memang 2 tim terbaik NBA tahun ini. Hal yang menurut kami juga benar adanya di bulutangkis.

Gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier yang berlangsung pekan ini memang hanya turnamen tahunan belaka, namun statusnya sebagai salah satu turnamen berlevel tertinggi BWF jelas membuat turnamen ini dipenuhi ksatria-ksatria terbaik lapangan karpet. Fakta bahwa hanya 3 wakil tuan rumah di perempat final menunjukkan bahwa dari sekian banyak pemain-pemain negeri ini memang untuk saat ini hanya ketiga pasang ganda itulah yang siap bersaing berebut posisi menjadi creme de la creme.

Lalu kemana yang lain, bukankah negeri ini lebih dari 3 pasang itu? Kami menggolongkan pemain-pemain lain menjadi tiga bagian yaitu:
1. kelompok yang tidak akan pernah lagi menjadi creme de la creme, pemain yang secara usia atau kemampuan memang tidak mampu lagi bersaing di level kompetisi terbaik, salut untuk mereka jika memang mereka  pernah menjadi yang teratas tapi pada saat ini mereka hanya menikmati permainan.
2. kelompok yang masih membentuk diri menjadi cream, kelompok yang menganggap ajang ini sebagai uji ukur coba-coba, semacam heat check kalau di basket, mengukur sudahkah mereka mampu bersaing di ajang yg terbaik atau harus diproses lagi untuk menjadi cream yang baik.
3. kelompok yang pada saat itu ada cream yang lebih enak. kelompok ini memang sudah layak bersaing dan pantas berada di level ini, hanya saja 1-2 pukulan here and there belum memihak kepada mereka, ketiga pasang yang tersisa juga akan masuk kelompok ini jika tidak menjadi juara.

Well, kita tentu berharap yang di kelompok 2 akan menjadi kelompok 3 bukan malah menurun menjadi kelompok 1, sehingga tidak ada pembinaan yang sia-sia. Jadi pemain yang kalian sukai ada dikelompok mana sekarang? Dan selamat menikmati sisa gelaran BCA IOSSP untuk mengetahui siapa creme de la creme tahun ini. Keep rocking Jakarta.

Senin, 02 Juni 2014

Indonesian Doubles After TUC. What's next?

Pasca Thomas dan Uber Cup, turnamen besar berikut yang harus ditatap oleh para penggila bulutangkis adalah kejuaraan dunia (WBC) dan Asian Games. Karena entry list WBC sudah dirilis maka bisa dipastikan siapa-siapa saja yang ikut disana. Tapi tulisan ini lebih akan membahas apa yang menurut penulis mungkin terjadi seusai WBC terutama di sektor ganda putra dan putri.

Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.

Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.

Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)

Senin, 28 April 2014

The Other Contenders

Perebutan Piala Thomas akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Pergelaran yang keduapuluhdelapan ini diadakan di Siri Fort Sports Complex, New Delhi, India. 16 negara dimana 10 diantaranya dari benua Asia akan dibagi dalam 4 grup guna berlomba membawa pulang piala yang diberi nama sesuai dengan mantan pebulutangkis Inggris George Alan Thomas tersebut.

China sebagai juara bertahan dan Indonesia ditetapkan sebagai dua unggulan teratas di turnamen beregu ini dan dijagokan banyak orang untuk bertemu di final. Prediksi yang wajar dan logis sebenarnya mengingat kekuatan dan hasil-hasil yang diraih di turnamen individu. Namun, bulutangkis tetaplah olahraga dimana semua hal bisa saja terjadi dan tidak seabsolut matematika.

Berikut adalah negara-negara yang mungkin saja menggagalkan final ideal itu atau malah membawa pulang piala ke markas mereka masing-masing:

Korea sebagai runner-up gelaran sebelumnya di Wuhan jelas punya rasa penasaran yang besar untuk menuntaskan hasrat mereka. Negeri Ginseng ini tetap memiliki sektor ganda yang kuat dengan kombinasi-kombinasi yang unpredictable, apalagi pembatalan sanksi skorsing atas bintang mereka pasti menjadi suntikan moral yang besar bagi tim. Grafik menanjak Son Seung Mo hingga masuk top10 dan pengalaman Lee Hyun-Il juga bisa menjadi peluru senjata mereka.
Denmark sebagai ujung tombak pasukan non Asia tentu ingin membawa piala itu ke ranah aslinya Eropa untuk pertama kali dalam sejarah. Peningkatan form sang mantan juara dunia junior Viktor Axelsen tentu menjadi kejutan menyenangkan bagi mereka. Pemain yang disponsori Adidas itu akan menemani juara Eropa yang baru dinobatkan minggu kemarin Jan O Jorgensen dan HK Vittinghus di sektor tunggal. Di ganda negara Skandinavia ini punya peraih perak Olimpiade dan Kejuaraan Eropa terakhir, jelas sebuah pencapaian yang tidak bisa diremehkan begitu saja.
Selain kedua negara diatas ada Jepang yang memiliki tunggal dan ganda yang begitu stabil permainan dan hasil setiap turnamennya. Tiga ganda putra di top 15 jelas bukan main2, ditambah kombinasi Kenichi+Kento dan Sho di tunggal. Malaysia jika doublenya tiba2 on-fire atau tuan rumah dengan pasukan tunggalnya yang unpredictable dibawah dukungan ribuan orang jelas bisa menawarkan kejutan tersendiri.

Apapun hasilnya nanti Thomas Cup tahun ini menjanjikan pertarungan yang lebih seru dibanding 2-3 edisi sebelumnya dan sangat layak untuk dinantikan. Jadi siapa kuda hitam unggulan kalian?:D

Senin, 21 April 2014

8 hal tentang game 1 NBA Playoffs 2014

Game 1 NBA Playoffs berakhir tadi pagi dengan Rockets vs Trailblazers sebagai partai penutup yang sangat seru bahkan harus diselesaikan dengan overtime. Kebetulan itu satu-satunya game yang penulis lihat dari partai-partai pembuka Playoffs tahun ini melalui NBATV.

Well dari 8 partai pembuka itu beberapa hal yang mungkin akan menjadi tren di seri pembuka NBA Playoff tahun ini adalah:
1. Timmy vs Dirk menampilkan duel Power Forward full of Old-time Flavour
2. Jeremy Lin harus lebih menjadi Linsanity untuk membuat Rockets mengimbangi Blazers dengan duo Dame-LMA apalagi Pat Bev tidak fit.
3. Doc somehow perlu membangunkan para role player Clippers diluar CP3 dan BG, terutama Crawford.
4. Panjangnya duel OKC vs Memphis bergantung pada sejauh mana kombinasi Conley-Allen menghambat laju turbo Westbrook
5. Dengan kondisi kaki Big Al yang tidak fit maka sweep makin menjadi kemungkinan, tapi tetap saja pengalaman bagus untuk Kemba dkk
6. Pacers mungkin hanya bisa berharap keajaiban atau adanya pembalik waktu karena kondisi mereka sangat parah.
7. Bulls mungkin boleh mencoba memperbesar ukuran ring mereka setelah buruknya shooting mereka tadi pagi.
8. Truth+JJ vs Lowry+DeRozan siapa yang akan lebih stabil?

Itu adalah 8 hal berdasar analisa amatir penulis, tapi yang pasti dari 8 partai yang 5 diantaranya diambil away team ini, jika terus berlanjut akan menjadi unforgettable nba playoffs

Sabtu, 19 April 2014

A view about mixed doubles next tier

Well, 2 minggu yang cukup menyenangkan bagi dunia bulutangkis Indonesia 2 gelar di Singapura SS + 2 gelar di NZ GP. Demikian juga 2 runnerup dari sana serta 3 perak dan 2 perunggu di WJC. Untuk para juara SS sepertinya ngga usah dibahas lagi toh langkah dan tujuan mereka sudah jelas, yang akan coba dianalisa secara ngasal di post ini hanyalah pemain lainnya.:)

Perombakan ganda campuran di NZ GP menghasilkan 3 semifinalis (Eko/Saufika, Obama/Daeva dan Irfan/Glow) yang kelihatannya cukup baik untuk dikembangkan. Eko dan Saufika dengan 2 gelarnya jelas menjadi headliner XD generasi itu untuk mengejar Riky/Richi (RU SOSS) dan Debby/Jordan guna melapisi sang XD juara dunia.

Selepas gelaran TUC di New Delhi, 3 XD terdepan itu mungkin akan ke Yoyogi stadium, tapi ujian terbesar buat semua XD ini adalah gelaran IOSSP yang mungkin akan menyaring juga siapa benar2 contender atau sebatas pretender. Jika ada pasangan diluar juara dunia yang bisa membuktikan diri dengan baik di Istora, ya kenapa ngga coba diorbitkan untuk Rio itung2 untuk pengalaman tanpa mengharapkan hasil.

Kalau harus menilai dari kelima pasangan tersebut mana yang paling baik, jelas hal yang sangat sulit. Dilihat dari beberapa match via streaming/livescore, jelas semua pasangan punya hal yg perlu diperbaiki. Jordan/Debby misalnya harus meningkatkan kekompakan dan gameplan mereka, Riky/Richi harus terus berani tampil dengan confidence tinggi and increase their defence, Edi needs to trust his partner more dan mengurangi "superhero attitude"-nya, itu kelemahan2 yang bisa ditangkap oleh mata pengamat ngasal ini.

Diluar 5 pasang tadi masih ada nama Rosyita yang dengan 2 perak WJCnya jelas menanti untuk mendapat partner dan saat diorbitkan yang tepat jika diproyeksikan untuk meramaikan sektor XD. Tapi penulis sendiri yakin dengan 5 pasangan yang ada saat ini setidaknya ganda-ganda potensial Indonesia berada di jalur dan tangan yang tepat.