Sabtu, 30 Agustus 2014

Merah Putih di Ballerup





WBC 2014 akan memasuki babak semifinal hari ini. Indonesia dipastikan hanya meraih satu medali yang belum jelas apa warnanya melalui Tommy Sugiarto. Tommy yang nanti menghadapi Chen Long adalah salah satu pemain Indonesia yang bersinar cerah di negeri dongeng ini.
Kalau dilihat dari sisi hasil semata, ini jelas penurunan dari tahun lalu yang menghasilkan dua emas, tetapi jika ditinjau dari 14 pasukan yang dikirim, justru ini menggembirakan meskipun pasti banyak catatan yang harus diperbaiki di kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Kami mencoba menggunakan sistem penilaian di Hogwarts untuk menilai penampilan seluruh punggawa Indonesia di medan tempur Ballerup Super Arena.

Dan nilai-nilai itu adalah:
Poor untuk 2 pasangan ganda campuran non pelatnas Gideon/Rizki, -kalah dari pasangan Swedia secara straight set memvalidasi penilaian ini, belum tega ngasih troll- dan Pia/Kido, sebagai pasangan berstatus unggulan penampilan mereka, terutama Kido terkesan asal muncul di lapangan. Riky/Richi barely acceptable, penampilan pasangan ini perlu banyak diperbaiki tapi ngga layak dibilang buruk, di sisi lain Jordan/Debby adalah pasangan yang paling menunjukkan grafik meningkat bahkan hanya berjarak 5 angka dari medali dengan mengalahkan salah satu fantastic four, membuat mereka layak mendapatkan Exceeds Expectation.

 Poor juga layak disematkan kepada Angga/Rian yang meski lolos QF hanya dengan kemenangan super tipis atas Mads/Mads dan keberuntungan undian setelah cederanya Ahsan. Demikian juga Berry/Ricky yang dibantai oleh Gideon/Kido yang mendapatkan acceptable. Buruknya 2 pasangan pelatnas ini, menimbulkan pertanyaan haruskah maestro2 disamping turun gunung?

Tommy Sugiarto sebagai pejuang tunggal di tungal putra putra, mencapai SF memang hanya memenuhi status unggulannya. Karena itu sementara ini nilainya Exceeds Expectation semata karena menjadi satu-satunya peraih medali, dan bisa naik menjadi Outstanding jika menembus final atau juara. Di tunggal putri, Lindaweni mampu mengejutkan Nichaon tapi kekalahan mudahnya dari Sung Ji Hyun membuat acceptable sepertinya lebih layak dan tetap lebih baik dari rekannya Bellaetrix yang tampil buruk di kejuaraan ini.


Bintang tercerah Indonesia di WBC tahun ini datang dari Ganda Putri, bukan Greysia/Nitya yang gagal di perempat final karena serangkaian "ketidakberuntungan" tetapi "adik" Greysia, Anggia yang berpasangan dengan Della Destiara Haris kami nilai satu-satunya yang Outstanding sejauh ini setelah menembus perempat final dengan status tak diunggulkan dan mampu menundukkan Bao Yixin/Liya secara straight set. Penampilan Anggi sangat jauh dari suku pertama nama tengahnya yang mungkin lebih tepat untuk menggambarkan penampilan pasangan ganda putri pujaan para BL, ketimbang klaim yang mengatakan mereka akan bersinar sesuai nama klub mereka.

Secara keseluruhan, hasil di Copenhagen ini menunjukkan bahwa Indonesia tidaklah sebatas 2 juara bertahan WBC yang kini absen.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar