Kejuaraan dunia bulutangkis akan kembali ke tanah negeri dongeng setelah 15 tahun berkeliling dunia. Gelaran ke-21 tersebut akan berlangsung pada akhir bulan ini. Dan kami mencoba menganalisa peluang nomor demi nomor sebelum kejuaraan tersebut berlangsung di Ballerup Super Arena, Copenhagen.
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.
Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang
tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao
Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika
saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang
indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China
dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha
Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.
Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.
Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar