Rabu, 10 Februari 2016

Which One Are You?

"Sky is the limit for him" Kalimat yang biasa terdengar dari pemandu bakat olahraga, terutama bola basket untuk menggambarkan potensi seseorang yang mereka yakini akan menjadi pemain yang berpengaruh besar. Tapi apakah potensi itu dicapai karena pure talent? Bagi sebagian besar, jawabannya adalah tidak.

Secara umum, perkembangan seorang atlet pasti akan membentur beberapa plateau, dimana perkembangan dan pencapaian prestasinya biasa-biasa saja untuk standar pemain tersebut. Bicara soal plateau, setidaknya ada dua kasus yang bisa dipelajari di badminton dalam hal menghadapi plateau. Yang pertama adalah Kenichi Tago, - tunggal putra Jepang yang sempat memasuki top 10 dan memimpin negaranya merebut piala Thomas- adalah contoh atlet yang gagal melewati plateaunya. Dia yang selama ini gagal meraih gelar turnamen SS/SSP makin kecewa ketika ada juniornya yang bisa meraih beberapa SS/SSP dan menyusul ranking Tago di BWF. Dan sejak itu prestasi Tago pun makin tenggelam.

Kasus serupa juga pernah terjadi di India sekitar 3 tahun lalu. Saina Nehwal peraih medali perunggu Olimpiade London juga sempat dianggap karirnya selesai karena masalah fitness dan fakta bahwa Pusarla Venkata Sindhu nyaris menyamai pencapaian Saina. Berbeda dengan Tago, Saina menyadari bahwa dia menurun dan perlu perhatian khusus untuk kembali kompetitif. Ketika di tahun 2015, dia bersama Carolina Marin mengacak-acak dominasi China dan menjadi 2 tunggal putri di puncak dunia, Saina sangat memberi kredit pada pelatih baru dan semua pihak yang terus mendukungnya meskipun dia dalam kondisi stagnan.

Dari kedua contoh diatas, terlihat bahwa kedewasaan atlet dan dukungan dari lingkungan sekitar menjadi hal yang sangat penting dalam hal perkembangan atlet, terutama atlet muda. Ini membuat kami bertanya, para pembaca tulisan ini lebih memilih untuk mensupport seperti Saina Squad atau justru membiarkan dan mungkin mendorong agar atletnya jatuh?