Ganda putri, nomor bulutangkis yang bagi mayoritas penggemar dari Indonesia merupakan nomor ganda yang paling ngga dianggep. Bagaimana tidak, dibanding ganda putra yang punya berderet pasangan tangguh dengan gelar juara bejibun dan ganda campuran yang punya Butet dan Vita beserta pasangannya, apalah yang ganda putri punya? Cuma Butet/Vita yang "disewakan" dari ganda campuran dan terpaksa mengikuti permainan paduka Li Yongbo di London.
Hal itu pun berlanjut saat kepengurusan Gita Wirjawan dimulai, disaat nomor lain sudah memiliki pelatih yang pasti, ganda putri malah harus menunggu kedatangan Reony Mainaky sambil sementara diawasi oleh para asisten. Ketika akhirnya Reony memutuskan untuk tetap berada di Jepang, sempat ada kekecewaan dan anggapan bahwa nomor ini bakal makin terpuruk seperti sektor putri satunya itu.
Ganda putri mulai merebut perhatian ketika medali Asian Games menghampiri, medali itu sendiri menurut kami hanyalah produk wajar dari grafik performa Greysia/Nitya yang memang meningkat tahun ini. Prestasi yang lalu diikuti dengan absennya punggawa ganda putri pelatnas dari tur eropa.
Absennya nyaris seluruh ganda putri di tur eropa ini tentu menimbulkan pertanyaan. Semoga saja absennya ini memang untuk refreshing dan mencari kombinasi terbaik untuk mendampingi Greysia/Nitya di kualifikasi Rio. Yang jelas, kmi hanya bisa berharap bahwa kesuksesan di Incheon kemarin tidak membuat coach Eng Hian dengan pasukan yg sekompi penuh potensi justru puas dengan hanya 1 kartu truf saja.
We certainly hope that you can maximize Indonesia's women double department coach.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Kamis, 30 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Haruskah Kami Hanya Berharap Kejutan?
Upacara penutupan Asian Games 17 di Incheon beberapa hari lalu cukup membuat bangga dan menarik perhatian orang Indonesia karena tampilnya kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari upacara itu karena peran Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan berikut di tahun 2018. Kebanggan yang bila berkaca pada hasil prestasi di Incheon kemarin sangat mungkin akan berhenti disana dan tidak berlanjut empat tahun lagi.
Prestasi di Incheon kemarin bahkan bisa dikatakan kebetulan yang sensasional, bagaimana tidak, dari 4 medali emas yang diraih Indonesia hanya satu yang bisa dikatakan sesuai proyeksi yaitu di bulutangkis ganda putra, sisanya adalah 2 medali emas kejutan dari Greysia/Nitya dan Maria Londa serta satu "limpahan" yang didapat oleh Juwita Niza.Emas atau medali kejutan memang bukan hal yang baru bagi di Indonesia di ajang Asian Games, 2010 didapat dari cabang Perahu Naga, 2006 ada dari boling melalui Ryan dan Putty, 2002 ada balap sepeda melalui trio Uyun, Santia dan Risa. Setidaknya itu catatan di milenium ketiga ini, sebelumnya setidaknya ada dua nama Supriati Sutono dan Pino Bahari dengan emas dari cabang masing-masing yang juga membanggakan sekaligus tak terduga.
Emas kejutan sebenarnya menunjukkan bahwa atlet negeri ini punya banyak potensi tapi sayang sering tenggelam karena tiadanya kompetisi atau kompetisi hanya sebatas seremonial tanpa muara yang jelas. Kompetisi disini selama ini sifatnya yang penting ada atau yang penting penonton ramai, banyak atlet kita yang karena jarang berkompetisi akhirnya hanya sekali muncul lalu tenggelam atau kurang maksimal. Ambil contoh bulutangkis, empat puluh persen komposisi Incheon sama dengan Guangzhou 2010, hal yang wajar sebenarnya jika hanya dilihat sekilas, tapi 60 persen pemain baru yang menggantikan pemain yang cedera/pensiun kualitasnya belum sebaik dengan yang digantikan sehingga beregu sampai tidak menghasilkan medali sama sekali. Jika bulutangkis yang diklaim sebagai salah satu olahraga populer di Indonesia dan punya pelatnas berkesinambungan yang baik, transisinya seburuk itu apalagi cabang lain yang tak populer atau pelatnasnya putus nyambung?
Momentum terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games selanjutnya ini harusnya bisa memicu pihak Kemnpora, KONI/KOI dan para induk olahraga untuk benar-benar mengidentifikasi dengan baik cabang-cabang olimpiade yang memiliki potensi prestasi bagi Indonesia sehingga cabang-cabang itulah yang lebih diprioritaskan pembinaan dan kompetisinya sehingga bisa membawa nama Indonesia dengan baik. Ambil contoh Singapura yang memaksimalkan potensi Joseph Schooling di kolam renang atau India dengan atlet menembaknya yang benar-benar bersaing di kejuaraan dunia, jangan sampai kasus Pelti vs Tami Grende atau kasus pengadaan bola boling yang justru menghiasi kembali media olahraga kita.
Semoga di Jakarta 2018 dan seterusnya kami tidak hanya berharap kejutan, atau haruskah kami?
Prestasi di Incheon kemarin bahkan bisa dikatakan kebetulan yang sensasional, bagaimana tidak, dari 4 medali emas yang diraih Indonesia hanya satu yang bisa dikatakan sesuai proyeksi yaitu di bulutangkis ganda putra, sisanya adalah 2 medali emas kejutan dari Greysia/Nitya dan Maria Londa serta satu "limpahan" yang didapat oleh Juwita Niza.Emas atau medali kejutan memang bukan hal yang baru bagi di Indonesia di ajang Asian Games, 2010 didapat dari cabang Perahu Naga, 2006 ada dari boling melalui Ryan dan Putty, 2002 ada balap sepeda melalui trio Uyun, Santia dan Risa. Setidaknya itu catatan di milenium ketiga ini, sebelumnya setidaknya ada dua nama Supriati Sutono dan Pino Bahari dengan emas dari cabang masing-masing yang juga membanggakan sekaligus tak terduga.
Emas kejutan sebenarnya menunjukkan bahwa atlet negeri ini punya banyak potensi tapi sayang sering tenggelam karena tiadanya kompetisi atau kompetisi hanya sebatas seremonial tanpa muara yang jelas. Kompetisi disini selama ini sifatnya yang penting ada atau yang penting penonton ramai, banyak atlet kita yang karena jarang berkompetisi akhirnya hanya sekali muncul lalu tenggelam atau kurang maksimal. Ambil contoh bulutangkis, empat puluh persen komposisi Incheon sama dengan Guangzhou 2010, hal yang wajar sebenarnya jika hanya dilihat sekilas, tapi 60 persen pemain baru yang menggantikan pemain yang cedera/pensiun kualitasnya belum sebaik dengan yang digantikan sehingga beregu sampai tidak menghasilkan medali sama sekali. Jika bulutangkis yang diklaim sebagai salah satu olahraga populer di Indonesia dan punya pelatnas berkesinambungan yang baik, transisinya seburuk itu apalagi cabang lain yang tak populer atau pelatnasnya putus nyambung?
Momentum terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games selanjutnya ini harusnya bisa memicu pihak Kemnpora, KONI/KOI dan para induk olahraga untuk benar-benar mengidentifikasi dengan baik cabang-cabang olimpiade yang memiliki potensi prestasi bagi Indonesia sehingga cabang-cabang itulah yang lebih diprioritaskan pembinaan dan kompetisinya sehingga bisa membawa nama Indonesia dengan baik. Ambil contoh Singapura yang memaksimalkan potensi Joseph Schooling di kolam renang atau India dengan atlet menembaknya yang benar-benar bersaing di kejuaraan dunia, jangan sampai kasus Pelti vs Tami Grende atau kasus pengadaan bola boling yang justru menghiasi kembali media olahraga kita.
Semoga di Jakarta 2018 dan seterusnya kami tidak hanya berharap kejutan, atau haruskah kami?
Rabu, 01 Oktober 2014
Incheon 2014: Class and Validation
Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.
Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.
Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.
Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,
Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,
So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.
Langganan:
Postingan (Atom)
