Rabu, 31 Desember 2014

An Opinion, Pass First Point Guard: A Rare Breed Position

Bola basket, permainan tim 5 lawan 5 dengan tujuan memasukkan bola ke jaring lawan sesering mungkin dalam jangka waktu yang disediakan. Sebuah permainan yang lebih populer di Amerika dan Filipina ketimbang Indonesia. NBA dan PBA jelas menjadi tolok ukur basket dunia dan wilayah ASEAN. Bicara soal NBA, nama para pemain terbaik saat ini tidaklah jauh dari nama Kevin Durant, Lebron James atau Anthony Davis yang mendominasi penghargaan individu untuk beberapa musim terakhir. Tapi bagi kami, posisi paling menarik di bola basket tetaplah seorang Point Guard.

Point Guard, posisi yang mengalami perubahan dalam beberapa musim belakangan dengan munculnya pemain seperti Derrick Rose atau Russel Westbrook yang tampil lebih agresif dengan membawa bola dari awal sekaligus menjadi point getter dan finisher bagi tim mereka masing-masing. Suatu perbandingan yang kontras dengan gaya main Steve Nash ataupun John Stockton dari generasi sebelumnya yang cenderung bermain seperti dalang yang mengorkestrasi serangan tim dengan lebih bertindak sebagai pelayan sambil sesekali bertindak sebagai finisher.

Bagi penulis pribadi, pemain yang lebih berpikir mengorkestrasi serangan seperti Chris Paul, Rajon Rondo ataupun Ricky Rubio yang terkadang seperti memiliki mata ketiga dengan operan-operannya jauh lebih menarik dan mungkin bisa ditiru ketimbang gaya permainan Rose ataupun Westbrook yang lebih terlihat seperti pameran atletisisme mereka yang bisa meliukkan badan/melompat sedemikian rupa untuk menghujamkan bola di ring.

Perbedaan gaya point guard memang makin membawa warna bagi permainan bola basket, tapi semoga saja tidak mengiliminasi gaya yang dianggap tidak menarik/efektif.

Senin, 15 Desember 2014

Dubai2014: Battle Royale and Excitement All The Way


Undian untuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014 - nama turnamen yang lumayan panjang - akhirnya dilaksanakan Senin 15 Desember 2014 nyaris tengah hari waktu Dubai. Undian turnamen tutup tahun yang mempertemukan 8 pemain/pasangan terbaik di tahun 2014-jika tidak cedera dan dalam regulasi- ini mengundang banyak reaksi dari pemain maupun fans.

Kenichi Tago misalnya, ketika ditanya komentarnya tentang undian tadi berharap berada di grup B undian diatas yang menurutnya lebih ringan tapi tetap akan berfokus mengincar kemenangan pada event ini. Mengincar kemenangan, hal yang juga diutarakan oleh Hans Kristian Vittinghus yang kembali mengikuti ajang ini setelah tahun lalu absen. Kalau dilihat dari undian secara keseluruhan, ketidakhadiran Lin Dan dan Lee Chong Wei membuat setidaknya partai grup menjadi sulit ditebak karena diantara mereka ada yang formnya sedang meningkat seperti Momota dan Srikanth dan di lain sisi ada yang mencoba bangkit seperti Tago, Tommy dan Vittinghus. Serta Chen Long, JOJ, dan Son Wan Ho yang diuji konsistensinya sebagai 3 terbaik diluar finalis dua olimpiade terakhir.


Konsisten, salah satu kata bernuansa sarkasme yang banyak dilontarkan para pecinta bulutangkis Indonesia setelah melihat undian diatas. Bagaimana tidak, salah satu harapan terbesar mereka kembali berada di jalur yang sama dengan pasangan yang (pernah/masih?) menjadi idola istora terutama para cewe disana. Grup A memang seakan menjadi semacam arena battle royale melihat juara dunia, juara Asian Games dan ranking 1 dunia saat ini berada disana bersama dengan Chai Biao/Hong Wei yang tentu saja tidak ingin dianggap sebagai pelengkap penderita. Aroma battle royale memang tidak terlalu terasa di grup B, tapi grup yang diisi pasangan-pasangan yang sangat konsisten mencapai babak-babak akhir selama gelaran Super Series tahun ini tentu tidak bisa dianggap biasa saja meskipun hanya Boe/Mogensen yang memiliki gelar juara Super Series tahun ini.

Konsistensi dalam arti kata sebenarnya, tercermin dari komentar yang dilontarkan Gabrielle Adcock dalam konferensi pers seusai undian tadi siang. Gabby dengan jelas mengatakan bahwa mereka hanya mengincar posisi runner up grup, ungkapan yang secara implisit mengakui konsistensi juara dunia dan juara Asian Games, Zhang Nan/Zhao Yunlei sebagai pasangan yang layak diunggulkan sebagai juara grup maupun turnamen sekaligus menggeser Fischer-Nielsen/Pedersen dari tahta juara SSF. Sang juara bertahan tentu tidak akan mudah melepas begitu saja, pasangan Denmark yang  mengincar hattrick ini juga tentu berharap dejavu grup yang mereka alami, membawa hasil yang sama seperti tahun 2013 ketika mereka menjuarai grup yang berisi pasangan China, Denmark, Indonesia dan Thailand.

Christinna Pedersen yang juga juara bertahan di ganda putri mengatakan fokus awalnya adalah lolos dari babak grup, karena di semifinal apapun bisa terjadi. Sebuah komentar yang sangat wajar karena sang juara bertahan bertarung di grup A dengan pasangan terstabil di level super series, Misaki/Ayaka dan dua pasangan Korea yang tentu saja dapat memberi kejutan setiap saat. Duel senegara dalam grup juga akan terjadi di grup B antara pasangan kembar Luo dengan juara dunia 2014 Zhao Yunlei/Tian Qing yang menunda pensiunnya. Dan ambisi dua pasangan China ini untuk lolos ke semifinal tentunya tidak akan mudah mengingat mereka beradu bersama 2 pasangan yang pernah mencetak duel 100 menit, ranking 2 Dubai sekaligus semifinalis Copenhagen 2014 nan ulet Kakiiwa/Maeda dan Greysia/Nitya yang merupakan peraih emas Asian Games Incheon 2014. Rangkaian duel yang akan membuat para fans excited sekaligus nervous.


Membuat excited dan nervous orang lain, mungkin menjadi keahlian para pemain putri dan pengundi yang ada di Dubai tadi siang, reaksi yang menggambarkan ketidakpercayaan, excited, tegang dan kebingungan mendukung siapa juga mewarnai undian hasil tunggal putri tadi siang. Ketiadaan Li Xuerui membuat tunggal putri bergabung dengan 4 nomor lain dalam menyajikan partai yang sulit ditebak dan berpotensi menghasilkan atraksi ketegangan luar biasa.

Jadi, tidak peduli anda seorang penggila badminton ataupun olahraga secara umun atau anda hanya adrenaline junkie, silakan menikmati ketegangan yang penuh atraksi dalam battle royale bulutangkis bertajuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014.

Jumat, 12 Desember 2014

Dubai 2014: Without Alien, Its Wide Open Field for Human

Li Xuerui has a right foot surface fracture and been put on plaster cast since 17th Nov for at least six weeks.

Kalimat diatas yang kami kutip dari badmintoncentral memastikan bahwa turnamen penutup tahun ini tidak akan dihadiri alien di sektor tunggal. Ketiadaan alien di tunggal putri, membuat persaingan 8 (?) manusia walaupun mungkin mereka berkekuatan super, terlihat jauh lebih seimbang.

Wang Shixian dan Wang Yihan, dua penguasa lama Super Series Finals sebelum kehadiran sang alien, kini harus mengemban tugas meneruskan dominasi China di nomor tunggal putri yang telah berlangsung sejak 2010. Tugas yang sepertinya cukup berat meskipun status mereka sebagai dua unggulan utama, mengingat performa mereka di beberapa turnamen akhir jelang Dubai.

Selain performa yang menurun, Shixian dan Yihan juga harus mempertimbangkan para pesaingnya seperti 3 orang yang pernah menjuarai Kejuaraan Dunia Junior. Akane Yamaguchi beberapa pihak mengira dia bayi Saiyan, peserta termuda Dubai Super Series Final yang sejauh ini sudah menjuarai WJC sebanyak 2 kali tentu ingin membuktikan bahwa dia mampu berbicara banyak di level senior di luar negeri 4 pulau besar yang didiaminya. Status Akane yang masuk karena regulasi kuota ataupun "pengganti" Li Xuerui membuatnya dapat bersikap nothing to lose di Dubai nanti. Ratchanok Intanon dan Saina Nehwal, dua peserta Dubai SSF yang juga pernah mengecap juara junior pasti juga mengincar gelar di Dubai untuk melengkapi sederet prestasi mereka sekaligus membuktikan bahwa gelar juara dunia ataupun medali Olimpiade yang mereka miliki bukanlah kebetulan.

Tiga peserta Dubai SS Finals lainnya yang kebetulan memiliki sponsor apparel raket bertanda kemenangan, juga tida bisa dianggap enteng. Tai Tzu Ying, pemenang seri Super Series terakhir tahun ini tentu ingin melanjutkan form tersebut sembari membuktikan dia tidak hanya sebatas bayang-bayang Cheng Shiao Chieh ataupun hanya bisa "menduplikasi" backhand dari juara olimpiade. Sung Ji Hyun, barangkali orang yang paling senang membaca berita diatas tadi mengingat dia tidak perlu menghawatirkan rekornya dengan sang alien dan bisa fokus memburu gelar. Bae Yeon Ju juga pasti ingin melepas status hanya sebatas Korea kedua.

Bagaimanapun undian nantinya, dengan 8 manusia ini, Dubai SSF nomor tunggal putri akan sangat memikat.

Rabu, 10 Desember 2014

Dubai 2014: Lovey Dovey Couple Turn To Reign?

Super Series Finals, suatu ajang yang secara prestise diharap menyerupai ATP World Tour Final ataupun WTA Championship, dimana 8 pemain/pasangan terbaik dan paling konsisten di setiap nomor beradu tanding di akhir musim untuk satu gelar terakhir dan tentu saja memuaskan fans dengan partai-partai menarik. Dalam penyelenggaraan ketujuh yang akan digelar di Hamdan Sports Complex Dubai, tampaknya gengsi itu akan meningkat, apalagi pihak sponsor dan penyelenggara menyediakan dana 1,6 juta dollar suatu jumlah yang cukup besar dalam standar badminton sebagai hadiah dan segala macam fasilitasnya termasuk akomodasi dan transportasi ke Dubai.

Berbicara tentang 8 pasangan terbaik, ganda campuran dan ganda putra adalah 2 nomor yang menampilkan ke 8 pasangan terbaik selama 2014 tanpa dibatasi cedera, hukuman ataupun kuota negara. Ganda campuran, nomor yang dalam enam penyelenggaraan sebelumnya dikuasai Denmark dan China melalui Thomas Laybourn/Kamila Rytter-Juhl, Joachim Fischer Nielsen/Christina Pedersen (3 gelar) dan Zhang Nan/Zhao Yunlei (2 gelar)  tampaknya akan melanjutkan tradisi itu.

Pasangan kekasih yang menjadi pemuncak dalam dua gelaran Super Series terakhir pada tahun 2014 yang berlangsung di Asia Timur, layak untuk difavoritkan dalam ajang ini meskipun ranking Dubai mereka hanyalah kedua. Inkosistensi pasangan fantastic four lainnya juga menjadi penyebab prediksi ini. Nielsen/Pedersen sebagai juara bertahan SSF dan mengincar hattrick justru tidak bermain bersama di Asia timur, hal serupa juga dialami Ahmad/Natsir yang tidak bernain bersama di Hongkong. Problem bagi pasangan Indonesia juga ada pada mood sang pasangan cowo yang menikah tahun ini, hal yang sama juga terjadi pada Xu Chen/Ma Jin yang mempunyai rekor sangat tidak enak dilihat terhadap Zhang/Zhao.

Diluar fantastic four, baru sembuhnya Kim Ha Na membuat agak sulit untuk membayangkan pasangan Korea ini mampu menghadang Zhang/Zhao lagi ataupun pasangan fantastic 4 lainnya. Sudket/Saralee dan Fuchs/Michels pun berada di tingkat yang sama dengan pasangan Korea dalam hal berharap kejutan. Barangkali kalau dilihat dari form turnamen terakhir dan kesiapan, mantan pasangan kekasih dari Inggris yang lebih bisa disejajarkan dengan pasangan kekasih asuhan Li Yongbo itu.

Ya inilah 8 pasangan terbaik, tapi tampaknya pasangan kekasih akan meneruskan tradisi, atau tidak?

Senin, 08 Desember 2014

Poison Chalice or No Patience?

Stabilitas, kata yang sangat tidak familiar bagi sektor tunggal putri Indonesia. Ketidakstabilan itu dimulai dari pos pelatih tunggal putri pelatnas, pos tersebut seperti pos guru pertahanan terhadap ilmu hitam Hogwarts yang selalu berganti di setiap seri buku Harry Potter.

Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.

Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.

Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.

Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.