Tampilkan postingan dengan label doubles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doubles. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2014

Dubai2014: Battle Royale and Excitement All The Way


Undian untuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014 - nama turnamen yang lumayan panjang - akhirnya dilaksanakan Senin 15 Desember 2014 nyaris tengah hari waktu Dubai. Undian turnamen tutup tahun yang mempertemukan 8 pemain/pasangan terbaik di tahun 2014-jika tidak cedera dan dalam regulasi- ini mengundang banyak reaksi dari pemain maupun fans.

Kenichi Tago misalnya, ketika ditanya komentarnya tentang undian tadi berharap berada di grup B undian diatas yang menurutnya lebih ringan tapi tetap akan berfokus mengincar kemenangan pada event ini. Mengincar kemenangan, hal yang juga diutarakan oleh Hans Kristian Vittinghus yang kembali mengikuti ajang ini setelah tahun lalu absen. Kalau dilihat dari undian secara keseluruhan, ketidakhadiran Lin Dan dan Lee Chong Wei membuat setidaknya partai grup menjadi sulit ditebak karena diantara mereka ada yang formnya sedang meningkat seperti Momota dan Srikanth dan di lain sisi ada yang mencoba bangkit seperti Tago, Tommy dan Vittinghus. Serta Chen Long, JOJ, dan Son Wan Ho yang diuji konsistensinya sebagai 3 terbaik diluar finalis dua olimpiade terakhir.


Konsisten, salah satu kata bernuansa sarkasme yang banyak dilontarkan para pecinta bulutangkis Indonesia setelah melihat undian diatas. Bagaimana tidak, salah satu harapan terbesar mereka kembali berada di jalur yang sama dengan pasangan yang (pernah/masih?) menjadi idola istora terutama para cewe disana. Grup A memang seakan menjadi semacam arena battle royale melihat juara dunia, juara Asian Games dan ranking 1 dunia saat ini berada disana bersama dengan Chai Biao/Hong Wei yang tentu saja tidak ingin dianggap sebagai pelengkap penderita. Aroma battle royale memang tidak terlalu terasa di grup B, tapi grup yang diisi pasangan-pasangan yang sangat konsisten mencapai babak-babak akhir selama gelaran Super Series tahun ini tentu tidak bisa dianggap biasa saja meskipun hanya Boe/Mogensen yang memiliki gelar juara Super Series tahun ini.

Konsistensi dalam arti kata sebenarnya, tercermin dari komentar yang dilontarkan Gabrielle Adcock dalam konferensi pers seusai undian tadi siang. Gabby dengan jelas mengatakan bahwa mereka hanya mengincar posisi runner up grup, ungkapan yang secara implisit mengakui konsistensi juara dunia dan juara Asian Games, Zhang Nan/Zhao Yunlei sebagai pasangan yang layak diunggulkan sebagai juara grup maupun turnamen sekaligus menggeser Fischer-Nielsen/Pedersen dari tahta juara SSF. Sang juara bertahan tentu tidak akan mudah melepas begitu saja, pasangan Denmark yang  mengincar hattrick ini juga tentu berharap dejavu grup yang mereka alami, membawa hasil yang sama seperti tahun 2013 ketika mereka menjuarai grup yang berisi pasangan China, Denmark, Indonesia dan Thailand.

Christinna Pedersen yang juga juara bertahan di ganda putri mengatakan fokus awalnya adalah lolos dari babak grup, karena di semifinal apapun bisa terjadi. Sebuah komentar yang sangat wajar karena sang juara bertahan bertarung di grup A dengan pasangan terstabil di level super series, Misaki/Ayaka dan dua pasangan Korea yang tentu saja dapat memberi kejutan setiap saat. Duel senegara dalam grup juga akan terjadi di grup B antara pasangan kembar Luo dengan juara dunia 2014 Zhao Yunlei/Tian Qing yang menunda pensiunnya. Dan ambisi dua pasangan China ini untuk lolos ke semifinal tentunya tidak akan mudah mengingat mereka beradu bersama 2 pasangan yang pernah mencetak duel 100 menit, ranking 2 Dubai sekaligus semifinalis Copenhagen 2014 nan ulet Kakiiwa/Maeda dan Greysia/Nitya yang merupakan peraih emas Asian Games Incheon 2014. Rangkaian duel yang akan membuat para fans excited sekaligus nervous.


Membuat excited dan nervous orang lain, mungkin menjadi keahlian para pemain putri dan pengundi yang ada di Dubai tadi siang, reaksi yang menggambarkan ketidakpercayaan, excited, tegang dan kebingungan mendukung siapa juga mewarnai undian hasil tunggal putri tadi siang. Ketiadaan Li Xuerui membuat tunggal putri bergabung dengan 4 nomor lain dalam menyajikan partai yang sulit ditebak dan berpotensi menghasilkan atraksi ketegangan luar biasa.

Jadi, tidak peduli anda seorang penggila badminton ataupun olahraga secara umun atau anda hanya adrenaline junkie, silakan menikmati ketegangan yang penuh atraksi dalam battle royale bulutangkis bertajuk BWF Destination Dubai World Super Series Finals 2014.

Sabtu, 09 Agustus 2014

Copenhagen 2014: Tian Qing/Zhao Yunlei's swansong?

Kejuaraan dunia bulutangkis akan kembali ke tanah negeri dongeng setelah 15 tahun berkeliling dunia. Gelaran ke-21 tersebut akan berlangsung pada akhir bulan ini. Dan kami mencoba menganalisa peluang nomor demi nomor sebelum kejuaraan tersebut berlangsung di Ballerup Super Arena, Copenhagen.
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.

Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1.  Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.

Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.

Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?

Kamis, 17 Juli 2014

What Is The Move, Your Highness?

Ganda putri nomor yang mungkin paling sepi peminat di bulutangkis umumnya dan Indonesia khususnya, karena tampaknya memang sulit mencari 2 putri untuk dipasangkan di lapangan, takut adu mulut maybe:D
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?

Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun  depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.

Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.

Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?

Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?

Senin, 02 Juni 2014

Indonesian Doubles After TUC. What's next?

Pasca Thomas dan Uber Cup, turnamen besar berikut yang harus ditatap oleh para penggila bulutangkis adalah kejuaraan dunia (WBC) dan Asian Games. Karena entry list WBC sudah dirilis maka bisa dipastikan siapa-siapa saja yang ikut disana. Tapi tulisan ini lebih akan membahas apa yang menurut penulis mungkin terjadi seusai WBC terutama di sektor ganda putra dan putri.

Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.

Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.

Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)