Selasa, 30 September 2014

A Pleasant Distractor: Story About Following Maria Londa's Gold

29 September 2014, sama seperti kebanyakan penikmat olahraga Indonesia, kami menunggu partai final ganda campuran Asian Games dengan hati lumayan dagdigdug. Ya badminton memang masih dianggap peluang terbesar medali bagi Indonesia. Dan karena ketegangan itu, maka saat final antara Alien melawan Naga, kami berusaha mencari pengalihan sekedar untuk menstabilkan detak jantung ini. Pengalihan itu kami dapat melalui info di foxsportsindo bahwa ada atlet Indonesia yang berlaga di final jam 17.00 bernama Maria Londa, karena kami tidak tahu cabang yang diikutinya maka diubeklah website resmi Incheon dan diketahui bahwa itu di atletik.

Jujur, nama yang terlintas di pikiran penulis kalo soal atletik adalah Ruwiyati dan Supriati Sutono, dua pelari wanita jarak menengah dan jauh Indonesia, lompat jauh bagi kami adalah buta sama sekali kecuali harus lompat jauh kalo penjaskes waktu sekolah dulu. Dengan pikiran demikian, kami buka tab final lompat jauh untuk menenangkan jantung dan berharap atlet Indonesia nggak jadi juru kunci.
Ketika tab dibuka, sebagian atlet sudah melakukan lompatan kedua, nama pelompat jauh Vietnam memimpin dengan lompatan sejauh 6,3 meteran dan ketika semua atlet menyelesaikan lompatan kedua, Londa berada di 8 besar dan Vietnam masih memimpin. Jantungpun agak tenang karena baguslah ngga juru kunci dan jujur saat itu lebih menyemangati atlet Vietnam sebagai sesama ASEAN dan ekspektasi awal yang asal ngga juru kunci.

Beberapa klikan refresh kemudian (kalo yang biasa livescore badminton AG pasti klik refresh berkali-kali) Bui Thi Thu Thao makin kokoh di puncak dengan lompatan 6.44, dan Maria Londa ada di posisi 2 dengan lompatan 6.40 meter. Disini badminton di tv mulai terabaikan dan mulai berharap medali diraih oleh Indonesia ya perunggulah setidaknya. Perhatian makin besar berarti tombol refresh makinn sering digunakan dengan mata tertuju pada baris nama kedua-keempat. Ketika usai lompatan terakhir Londa -yang mendapat urutan kedua/ketiga- bendera Merah Putih dengan tulisan INA disamping tidak ada pada baris yang dituju mata, kami pikir ya sudahlah kami cari dibawah lagi.

Whoa! betapa kagetnya kami ketika justru nama dan bendera yang dicari justru berada diurutan teratas. Maka dengan perhatian full ke ajang ini sekarang, kami mulai ngetwit hanya dengan kata medalist, dan ketika semua usai barulah kami tambahkan kata 3rd gold disana. Sekali lagi, selamat Maria Natalia Londa atas medali emasnya dan terima kasih atas pemberian pengalihan excitement bagi kami kemarin.

Selasa, 23 September 2014

Price (and Reward?) of Regeneration

Pesta olahraga Asia tahun ini kembali ke semenanjung Korea, setelah Seoul dan Busan masing-masing pada tahun 1986 dan 12 tahun lalu, kali ini giliran Incheon menjadi tempat penyelenggaraan ke 17 pesta tersebut. Dan seperti kebiasaan sejak penyelenggaraan di Jakarta lebih dari 50 tahun lalu, bulutangkis kembali menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan.

Ajang beregu yang diadakan dari tanggal 20-23 September ini seperti sejarah yang berulang baik di nomor putri maupun putra. Di nomor putri, pasukan Li Yongbo masih menunjukkan supremasi mereka di sektor ini, bahkan kemenangan untuk kelima kali berurut yang dimulai sejak Bangkok 1998 sepertinya sudah dipastikan bahkan sebelum kompetisi digulirkan. Tebalnya lapisan ganda mereka yang bisa dikombinasikan sedemikian rupa dan ditambah 3 tunggal yang menguasai top 3 ranking BWF bahkan membuat Wang Shixian sebagai peraih emas individual di Guangzhou hanya turun di ajang beregu pada edisi Incheon. Dominasi Bangkok-Incheon ini mengulang dominasi era 1974-1990 yang akhirnya dihentikan oleh tim Korea di Hiroshima ketika China hanya memiliki Zhaoying dan Ge Fei/Gu Jun sebagai senjata yang akhirnya menyumbang 2 medali perunggu di individu, kegagalan di Hiroshima dan direbutnya piala Uber di Jakarta pada tahun itu yang akhirnya membuat China tersadar perlunya sistem yang menjaga aliran regenerasi dan itu masih terjaga setidaknya sampai tahun ini.

Bicara soal regenerasi, hal yang mungkin sulit terwujud di sektor putra. Kedua finalis beregu di Incheon malah memanggil jagoan tunggal masing-masing yang pernah sempat menghilang dari dunia perbulutangkisan. Lin Dan dan Lee Hyun Il sebagai ksatria yang kembali dipanggil ke medan laga pada saat mereka sudah sempat menikmati suasana jauh dari pertempuran memang menunjukkan mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan memenangi semua laga. Bahkan Hyun Il menyumbang angka penentu yang memastikan Korea kembali menjadi juara beregu putra saat menjadi tuan rumah. Hyun Il bukanlah aktor utama kemenangan Korea kali ini meskipun sebagai penentu, sang aktor utama adalah Son Wan Ho yang meniru jejak Shon Seung Mo di Busan dalam mengalahkan tunggal utama lawan yang jauh diunggulkan. Wan Ho mengalahkan Chen Long yang baru saja ditahbiskan sebagai ksatria terbaik dunia di Copenhagen bulan sebelumnya, seperti Seung Mo yang ketika itu mengalahkan Taufik Hidayat, peringkat satu kala itu.

Taufik Hidayat yang sudah pensiun sejak tahun lalu, mungkin senang dengan regenerasi di tim Indonesia yang menurunkan 2 tunggal dibawah 25 tahun sebagai andalan di Incheon. Meskipun penyebab turunnya mereka adalah sedikit dipaksa, tapi hasil tangan hampa di beregu ini menunjukkan bahwa regenerasi yang sangat terlambat ini memang harus dilakukan daripada membawa kombinasi tunggal yang nyaris sama sejak Doha sampai Incheon. Kegagalan di Incheon ini juga membuka mata bahwa Indonesia perlu memperbanyak dan memperbaiki lapisan tunggalnya baik putra maupun putri, karena sebaik apapun ganda yang dimiliki untuk menjadi juara beregu tetaplah perlu setidaknya dua tunggal yang bisa diandalkan, seperti apa yang ditunjukkan Korea dengan pemanggilan kembali Hyun Il. Dan mencari lapisan tunggal yang diandalkan itu ya lewat proses regenerasi yang baik, bukan ngasal, masa iya kita harus bujuk komodo terakhir versi cobalt di badcentral keluar dari pensiun?

Akhirnya, selamat bagi tim Korea dan China, mari kita menikmati sektor individu dan cabang2 lainnya di pesta Incheon kali ini.

Minggu, 14 September 2014

Springboard and Revival

Turnamen kelas grand prix dan grand prix gold biasanya menjadi "springboard" karir seseorang. Tengoklah bagaimana pasangan ganda putri nan cantik jelita Bao Yixin dan Tang Jinhua memulai rentetan kemenangan yang menghantar mereka ke peringkat 1 BWF justru di turnamen biasa saja bernama Dutch Grand Prix. Dan di Palembang dari hari selasa lalu jalan itu coba ditiru melalui Indonesia Masters GP Gold meskipun banyak pemain utama tidak hadir karena berdekatan dengan Asian Games.

Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.

Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya  di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.

Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.

Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.


Sabtu, 06 September 2014

Jasmine at the crossroads

Sebagai turnamen yang berlangsung tepat setelah Kejuaraan Dunia, Vietnam Grand Prix tentu saja tidak bisa berharap akan banyak bintang yang datang, apalagi statusnya hanyalah turnamen bintang 2, atau seperti yang dikicaukan oleh seseorang yang penulis follow bahwa Vietnam GP adalah saat dimana pemain potensial atau baru dipulangkan ke klub untuk merebut perhatian. Malang bagi panpel, hal pertama dari Vietnam GP yang menarik atensi dunia adalah rubuhnya atap stadinon Phan Dinh Phung yang memaksa mereka memindahkan venue pertandingan dan berantakannya jadwal karena force majeure tersebut setidaknya sampai hari jumat ini.

Dan karena fokus turnamen ini antara pemain potensi atau pemain yang baru dipulangkan, awalnya kami lebih memfokuskan pada kategori yang kedua, terutama pada empat nama yaitu Irfan Fadhillah, Weni Anggraeni, Rendy Sugiarto dan Ririn Amelia. Ririn yang diklaim banyak orang kurang diberi kesempatan sebelum dipulangkan ke klub, belum mampu memberi impresi bahwa dia memang layak dipertahankan di pelatnas. Lain halnya dengan Rendy, kegagalan di XD bersama Ririn ditebusnya dengan menembus SF di MD, harapannya sih suatu saat nanti mengingat usianya yang masih muda, Rendy kembali mengisi jajaran punggawa timnas. Sedangkan Irfan/Weni seakan menegaskan bahwa mereka tersingkir dari Cipayung karena melimpahnya stok pemain ganda campuran, dan mungkin karena usia mereka maka mereka menjadi tumbal.

Bicara soal ganda campuran, nama Melati Daeva Oktaviani justru mampu menarik perhatian di turnamen ini. Melati yang dianggap sebagai playmaker putri terbaik di generasinya nampak akhirnya menemukan pasangan yang tepat di ganda campuran bersama Ronald Alexander setelah sebelumnya terlihat tak berkembang di ganda putri dengan pasangan yang terus berganti. Pasangan Ronald/Melati ini selalu menembus 8 besar di tiap turnamen yang diikutinya, dan duelnya nanti melawan Vita/Rijal di semifinal selain menimba banyak pengalaman, tentu bisa jadi menjadi tolok ukur awal sejauh mana kesiapan Melati untuk menjadi penerus Vita ataupun Butet di XD.

Pun jika benar nantinya Melati lebih memprioritaskan XD, ganda putri Indonesia tidaklah kekurangan pasokan, 2 pemain yang pernah berpasangan dengan Melati, Rosyita dan Maretha bersama permata Bali Ketut Mahadewi yang kali ini dipasangkan dengan Gebby Imawan juga mencoba bersinar di Ho Chi Minh.

Yang jelas kami sangat senang dengan keberanian dan kontinuitas bongkar pasang ini, serta berharap otak-atik kombinasi di ganda ini benar-benar dapat menghasilkan yang terbaik, dan seperti proses pembersihan berlian yang punya banyak halangan, semoga saja halangan itu bukanlah dari para fans yang asal teriak ingin kembali ke pasangan lama ketika satu hal buruk terjadi. Akhir kata All the best for Indonesia team going forward.

Senin, 01 September 2014

Copenhagen 2014: Where Dreams and Histories Made

Denmark, negeri Skandinavia yang terkenal dengan dongeng putri duyung itu, seminggu kemarin menyajikan berbagai cerita luar biasa dalam bentuk perjuangan atlet-atlet badminton di Ballerup Super Arena, Copenhagen. Di awal cerita, banyak pahlawan-pahlawan baru bermunculan seperti Anggia/Della, Lee So Hee/Shin Seung Can dan juga pahlawan Viking baru bernama Viktor Axelsen. Tapi, seperti dongeng pada umumnya, drama terseru terjadi di bagian akhir cerita dan itulah yang di Ballerup, minggu kemarin.

Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.

Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh


Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia  mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.

Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.

Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.