Ganda putri nomor yang mungkin paling sepi peminat di bulutangkis umumnya dan Indonesia khususnya, karena tampaknya memang sulit mencari 2 putri untuk dipasangkan di lapangan, takut adu mulut maybe:D
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?
Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.
Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.
Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?
Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Kamis, 17 Juli 2014
Minggu, 06 Juli 2014
A view of sport-media relationship, badminton especially
Media Availability, sesuatu yang sering muncul menjelang NBA All Star ataupun Final. Suatu konsep yang tidak begitu penulis pahami sebenarnya, kenapa NBA "memaksa" bintang2 merekka untuk muncul melayani pers/fans menjelang partai penting ketimang mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pertandingan, toh hasil sebuah pertandingan olahraga ditentukan di lapangan bukan dibalik mikrofon? Tapi gilanya, partai NBA tetep seru dan jumlah fansnya makin meningkat aja dari hari ke hari dan sebagian besar karena peran media yang hadir di media Availability itu.
Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.
Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.
Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.
Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.
Langganan:
Postingan (Atom)