Tampilkan postingan dengan label Olympic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olympic. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2015

May Tokyo Become The Focus of Regeneration

Pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto menyatakan mundur dari Pelatnas Cipayung, terhitung Selasa, 6 Januari 

Kutipan diatas adalah rilis yang dikeluarkan oleh humas PBSI melalui akun twitternya pada 9 Januari 2015. Meskipun berharap Tommy tetap berprestasi di jalur pro, keputusan ini untuk sementara membuat Simon Santoso menjadi satu-satunya tunggal putra senior yang ada di Cipayung. Pihak pelatnas kabarnya sedang mempertimbangkan untuk memanggil pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tommy, terlepas dari apapun keputusannya nanti. semoga prospek menuju Tokyo 2020 ikut menjadi bahan pertimbangan.

Tokyo 2020 menjadi sasaran yang lebih realistis jika melihat peta persaingan dan hasil yang diraih para tunggal putra Indonesia belakangan ini. Kembalinya Lin Dan secara penuh ke sirkuit jelas menambah ramai persaingan yang sudah diisi Chen Long, Jorgensen, Tago dkk belum lagi jika Chong Wei terbebas setelah hearing awal Februari nanti. Dengan fakta diatas, peluang Simon atau siapapun MS Indonesia di Rio 2016 untuk setidaknya meraih medali tidaklah bisa dianggap besar.

Rio 2016 akan menjadi Olimpiade kedua bagi Simon jika dia mampu lolos kualifikasi dan tentunya harapan agar hasil lebih baik ketimbang London dimana dalam statusnya sebagai debutan dia kalah dari Lee Chong Wei di 16 besar. Sejarah mencatat bahwa para peraih emas tunggal putra Olimpiade kecuali Alan Budikusuma dan Ji Xinpeng meraih prestasi tertinggi ketika mereka bukan berstatus debutan di Olimpiade. Presiden BWF saat ini Poul Erik menjuarai Atlanta setelah sebelumnya kalah dari Ardy Wiranata di Barcelona, Ji Xinpeng memberi Taufik pelajaran di Sydney sebelum legenda Indonesia yang blak-blakan ini menemukan jodoh (?) dan menangis terharu diatas podium Goudi Olympic Hall. Goudi juga menjadi tempat bagi Ronald Susilo memberi kejutan sebelum sang alien menguasai dunia hingga kini.

Dengan melihat fakta diatas, bijak rasanya jika PBSI membuka kompetisi untuk pemain yang kini berusia 23 tahun kebawah -dimana 23 dianggap batas atas yang wajar karena memperhitungkan peak usia mereka saat 2020 masih belum 30 dan di usia emas- yang ada di Cipayung seperti Anthony Sinisuka Ginting dkk untuk diproyeksikan mengikuti kualifikasi Rio 2016. Jika pemain dibawah 23 tahun itu berhasil lolos ke Rio tentu   merupakan pengalaman berharga di Tokyo nantinya. 

Semoga situasi ini membuat regenerasi pebulutangkis Indonesia semakin baik.

Minggu, 06 Juli 2014

A view of sport-media relationship, badminton especially

Media Availability, sesuatu yang sering muncul menjelang NBA All Star ataupun Final. Suatu konsep yang tidak begitu penulis pahami sebenarnya, kenapa NBA "memaksa" bintang2 merekka untuk muncul melayani pers/fans menjelang partai penting ketimang mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pertandingan, toh hasil sebuah pertandingan olahraga ditentukan di lapangan bukan dibalik mikrofon? Tapi gilanya, partai NBA tetep seru dan jumlah fansnya makin meningkat aja dari hari ke hari dan sebagian besar karena peran media yang hadir di media Availability itu.

Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.

Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.