"I am going to enjoy the match" itulah kata-kata yang diucapkan peraih medali emas Atlanta 1996 sekaligus presiden BWF saat ini Poul Erik Hoyer Larsen, setelah 5 klik dalam jangka waktu setengah jam di Museum Bank Indonesia menghasilkan banyak partai yang dijamin akan menguji kekuatan jantung orang-orang yang rela ataupun berani menontonnya.
Ketika undian usai dilaksanakan, banyak mata langsung tertuju ke pool atas undian ganda putra. Bagaimana tidak, peraih emas dua olimpiade terakhir nomor ganda putra Hendra Setiawan dan Fu Haifeng bersama pasangan masing-masing harus berebut 1 tiket dengan pasangan nomor 1 dunia saat ini Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong yang jelas ingin membuktikan diri bahwa gelar nomor 1 mereka bukan hanya sekedar deretan gelar super series tanpa kejuaraan dunia/Olimpiade.
Prestasi dan kemampuan mentereng dari 3 ganda diatas memang sangat diakui dunia, tapi bukan berarti salah satu dari mereka pasti menjadi juara pada kejuaraan badminton internasional terakhir yang mungkin digelar Istora sebelum dipugar. Ganda Taipei penuh kejutan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dan duo raksasa Denmark yang lebih mirip Yao Ming, Mads PK/Mads CP tentu akan mencoba membalikkan prediksi pool atas meski peluang mereka kecil.
Jika pool atas diisi oleh nama-nama yang terbukti punya deretan gelar luar biasa, bukan berarti pool bawah diisi oleh ganda yang biasa-biasa saja. Juara bertahan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol tentu ingin mengulang cerita dongeng mereka di Copenhagen tahun lalu. Penantang utama Ko/Shin di pool bawah, adalah runner up Guangzhou 2013 Boe/Mogensen yang tentunya ingin membuktikan mereka mampu mengulang kejayaan Lars Paaske/Jonas Rasmussen diawal dekade 2000an. Sejujurnya, pool bawah lebih menarik karena juga diisi ganda yang secara usia layak meledak dan meraih kejayaan di Rio 2016 tetapi hingga kini belum/kurang menunjukkan konsistensi untuk menggeser para seniornya sebagai ganda utama negara masing-masing. Ya, nama-nama seperti Goh/Tan, Liu/Qiu, Chai/Hong, Angga/Ricky maupun Wahyu/Ade tentu berharap pencapaian di Istora kali ini mampu menjadi pijakan kuat menuju Rio dan petualangan-petualangan berikutnya.
Kejuaraan dunia mungkin sudah kehilangan sebagian gengsinya karena menjadi ajang tahunan, tapi tingkat persaingan khususnya dinomor ganda putra membuktikan makin meratanya persaingan bulutangkis. Jika kami dipaksa membuat prediksi juara, maka 4 nama yang kami kedepankan, Ko/Shin, Boe/Mogensen, Fu/Zhang dan Ahsan/Hendra karena pengalaman mereka di kejuaraan-kejuaraan penting sebelumnya namun siapapun yang akhirnya dikalungi medali emas 16 Agustus nanti, kami akan dengan sangat lantang berteriak menirukan sang Presiden BWF: WE WILL ENJOY THE MATCHES.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Juli 2015
Rabu, 11 Maret 2015
Pandangan Alternatif Tentang Piala Sudirman
Daftar unggulan Piala Sudirman edisi ke 14 yang akan dilaksanakan di Dongguan China pada 10-17 Mei sudah dirilis. Dalam rilis yang dilakukan BWF pada 10 Maret tersebut, tuan rumah kembali menjadi unggulan pertama, disusul Korea, Denmark dan Jepang di unggulan 4. Final ideal yang menskenariokan China ketemu Korea adalah hal yang bagus karena hanya kedua negara ini yang memiliki pemain top 10 di semua nomor, meskipun jika menilik hasil selama 2015, maka Korea perlu banyak perbaikan jika ingin bersaing di Dongguan.
Denmark dan Jepang, dua negara yang masing-masing punya kelemahan di 1 nomor sehingga hanya memiliki 4 peluru jika ingin menjadi pemegang baru bagi piala yang didedikasikan untuk almarhum Dick Sudirman, tentu harus pandai mengatur strategi untuk menutup kelemahannya. Kedalaman lapisan tunggal Jepang mungkin tak begitu berarti disini mengingat hanya ada 2 partai tunggal, tidak seperti ketika mereka tahun lalu mencetak sejarah dengan merebut piala Thomas pertama kali tahun lalu. Denmark di sisi lain jika mereka mampu mempertahankan form bagus mereka yang dimulai dari EMTC hingga Dongguan nanti, maka ketiadaan WS mumpuni sekaliber Tine Rasmussen bukanlah sesuatu yang sangat berat, bahkan jika All England kemarin menjadi simulasi, partai Denmark vs China akan sangat menjanjikan partai menarik kecuali di tunggal putri tentu saja.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemegang pertama piala yang ada candinya itu menempati unggulan kelima, dan dengan kondisi tunggal yang sedang menurun serta hanya mengandalkan ganda, haruskah Indonesia memilih all out mengikut-sertakan dan memainkan seluruh pemain terbaiknya? Dalam sebuah pandangan alternatif, mungkin sebaiknya hanya Greysia/Nitya, pemain senior yang dimainkan terus. Karakter Greysia yang pantang menyerah dan juga berapi-api seperti yang ia tunjukkan di Jakarta 7 tahun lalu sangat layak untuk menjadikannya pemimpin tim, mengingat senior lainnya seperti Hendra dan Butet jauh dari kata ekspresif apalagi berisik.
Hendra dan Butet memang tetap diikutsertakan tapi hanya diturunkan untuk kepentingan strategi saja, apalagi ganda putra dan ganda campuran tidak seperti ganda putri yang tidak memiliki pelapis yang layak setelah cederanya Rosyita. Memberi kesempatan pada Angga, Debby, Jordan, Kevin dan kawan-kawan untuk sering tampil itu sangat baik karena penting bagi mereka merasakan atmosfer sebenarnya dari partai beregu, sambil menunggu kebangkitan tunggal-tunggal Indonesia pasca Rio, semoga. Lagipula, jika ingin memasang strategi rangkap memasang Kevin di XD (Kevin/Greys atau Kevin/Butet misalnya) dan MD ataupun Greysia di WD dan XD ( atau juga Greys/Owi/Jordan) sepertinya jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa Butet bermain di dua nomor mengingat stamina Kevin ataupun Greysia sudah terbukti mampu bermain rangkap dengan baik.
Sekali lagi ini hanyalah suatu pandangan dari sudut pandang yang agak berbeda, tulisan ini sama sekali tidak mencari pro kontra, yang terpenting bagi kami adalah menikmati seru dan ketidakterdugaan pertandingan.
Denmark dan Jepang, dua negara yang masing-masing punya kelemahan di 1 nomor sehingga hanya memiliki 4 peluru jika ingin menjadi pemegang baru bagi piala yang didedikasikan untuk almarhum Dick Sudirman, tentu harus pandai mengatur strategi untuk menutup kelemahannya. Kedalaman lapisan tunggal Jepang mungkin tak begitu berarti disini mengingat hanya ada 2 partai tunggal, tidak seperti ketika mereka tahun lalu mencetak sejarah dengan merebut piala Thomas pertama kali tahun lalu. Denmark di sisi lain jika mereka mampu mempertahankan form bagus mereka yang dimulai dari EMTC hingga Dongguan nanti, maka ketiadaan WS mumpuni sekaliber Tine Rasmussen bukanlah sesuatu yang sangat berat, bahkan jika All England kemarin menjadi simulasi, partai Denmark vs China akan sangat menjanjikan partai menarik kecuali di tunggal putri tentu saja.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemegang pertama piala yang ada candinya itu menempati unggulan kelima, dan dengan kondisi tunggal yang sedang menurun serta hanya mengandalkan ganda, haruskah Indonesia memilih all out mengikut-sertakan dan memainkan seluruh pemain terbaiknya? Dalam sebuah pandangan alternatif, mungkin sebaiknya hanya Greysia/Nitya, pemain senior yang dimainkan terus. Karakter Greysia yang pantang menyerah dan juga berapi-api seperti yang ia tunjukkan di Jakarta 7 tahun lalu sangat layak untuk menjadikannya pemimpin tim, mengingat senior lainnya seperti Hendra dan Butet jauh dari kata ekspresif apalagi berisik.
Hendra dan Butet memang tetap diikutsertakan tapi hanya diturunkan untuk kepentingan strategi saja, apalagi ganda putra dan ganda campuran tidak seperti ganda putri yang tidak memiliki pelapis yang layak setelah cederanya Rosyita. Memberi kesempatan pada Angga, Debby, Jordan, Kevin dan kawan-kawan untuk sering tampil itu sangat baik karena penting bagi mereka merasakan atmosfer sebenarnya dari partai beregu, sambil menunggu kebangkitan tunggal-tunggal Indonesia pasca Rio, semoga. Lagipula, jika ingin memasang strategi rangkap memasang Kevin di XD (Kevin/Greys atau Kevin/Butet misalnya) dan MD ataupun Greysia di WD dan XD ( atau juga Greys/Owi/Jordan) sepertinya jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa Butet bermain di dua nomor mengingat stamina Kevin ataupun Greysia sudah terbukti mampu bermain rangkap dengan baik.
Sekali lagi ini hanyalah suatu pandangan dari sudut pandang yang agak berbeda, tulisan ini sama sekali tidak mencari pro kontra, yang terpenting bagi kami adalah menikmati seru dan ketidakterdugaan pertandingan.
Selasa, 24 Februari 2015
A Plea For Mister Wirjawan
Olimpiade, ajang multi even empat tahunan yang merupakan impian tertinggi setiap atlet dan insan olahraga akan berlangsung lagi tahun depan di Rio de Janeiro, Brasil. Mengingat hasil yang diraih pemain badminton di London, beberapa orang melihat ajang di Rio sebagai ajang penebusan apalagi melihat hasil yang diraih para pemain ganda di Incheon tahun lalu. Ganda, nomor yang memang secara objektif lebih berpeluang meraih medali di Rio mengingat belum adanya tunggal putri Indonesia yang bersinar dan inksonsistensi yang dilami Simon maupun Tommy sebagai tunggal putra senior. Ketiga nomor ganda itu juga yang menyumbangkan 4 medali Asian Games dan 2 juara dunia terakhir yang dimiliki Indonesia saat ini.
Ganda campuran, nomor yang mungkin paling mengkilap bagi Indonesia saat ini, selain Tontowi/Lilyana yang konsisten di top 5 ranking dunia dan medali perak Incheon sebagai bukti prestasi terakhir mereka, keberhasilan Edi/Gloria, Praveen/Debby dan Riky/Richi menembus final ataupun juara dalam setiap turnamen tingkat GP Gold keatas yang mereka ikuti jelas menunjukkan bahwa keempat pasangan itu punya peluang bersaing untuk meraih tiket ke Rio yang kualifikasinya dimulai Mei depan.
Ganda campuran mungkin bisa tenang menghadapi kualifikasi dengan begitu banyak pasangan yang tampaknya akan kompetitif, tapi optimisme itu sulit terpancar di ganda putri maupun putra. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari yang meraih emas Incheon diharapkan kembali memberi kejutan sekaligus menuntun rekan juniornya -seperti Anggia, Della, Maretha, Rosyita dan kawan-kawan yang sedang dicari ramuan terbaiknya oleh Eng Hian dan tim- untuk mendobrak pintu Rio dan mungkin meraih medali olimpiade pertama dari ganda putri bagi Indonesia.
Bila ganda putri mencoba mencetak sejarah dan dianggap wajar jika nantinya gagal, tidak demikian halnya dengan ganda putra. Sebagai nomor tersukses dalam sejarah dan hanya gagal meraih medali di London -dimana kegagalan itu menjadi pemicu terbesar jalan kebangkitan bulutangkis Indonesia yang kini coba ditapaki-, Kondisi ganda putra yang hanya memiliki Hendra -peraih emas Beijing- bersama Ahsan sebagai pasangan yang dinilai berprestasi dan kumpulan ganda lainnya yang belum teruji tentu memprihatinkan.
Dengan segala hormat kepada Herry IP dan Chafidz Yusuf yang kini menukangi ganda putra Cipayung dan tentunya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan, dengan tulisan ini kami mengajukan permintaan kepada Gita Wirjawan sebagai ketua umum PBSI saat ini untuk membuat Rexy Mainaky ikut melatih ganda dalam masa jelang Olimpiade Rio ini. Bukankah Pak Gita menarik Rexy ke PBSI karena keberhasilan Rexy menghantar Nathan Robertson/Gail Emms, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menjadi ganda yang disegani dunia dan juga keberhasilan lainnya di Inggris, Malaysia dan Filipina. Mengingat Olimpiade adalah ajang terbesar, bukankah selayaknya kita memberi usaha yang paling maksimal? Dan rasanya memaksimalkan kemampuan Rexy dengan memintanya ikut melatih adalah hal yang wajar bukan?
Ganda campuran, nomor yang mungkin paling mengkilap bagi Indonesia saat ini, selain Tontowi/Lilyana yang konsisten di top 5 ranking dunia dan medali perak Incheon sebagai bukti prestasi terakhir mereka, keberhasilan Edi/Gloria, Praveen/Debby dan Riky/Richi menembus final ataupun juara dalam setiap turnamen tingkat GP Gold keatas yang mereka ikuti jelas menunjukkan bahwa keempat pasangan itu punya peluang bersaing untuk meraih tiket ke Rio yang kualifikasinya dimulai Mei depan.
Ganda campuran mungkin bisa tenang menghadapi kualifikasi dengan begitu banyak pasangan yang tampaknya akan kompetitif, tapi optimisme itu sulit terpancar di ganda putri maupun putra. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari yang meraih emas Incheon diharapkan kembali memberi kejutan sekaligus menuntun rekan juniornya -seperti Anggia, Della, Maretha, Rosyita dan kawan-kawan yang sedang dicari ramuan terbaiknya oleh Eng Hian dan tim- untuk mendobrak pintu Rio dan mungkin meraih medali olimpiade pertama dari ganda putri bagi Indonesia.
Bila ganda putri mencoba mencetak sejarah dan dianggap wajar jika nantinya gagal, tidak demikian halnya dengan ganda putra. Sebagai nomor tersukses dalam sejarah dan hanya gagal meraih medali di London -dimana kegagalan itu menjadi pemicu terbesar jalan kebangkitan bulutangkis Indonesia yang kini coba ditapaki-, Kondisi ganda putra yang hanya memiliki Hendra -peraih emas Beijing- bersama Ahsan sebagai pasangan yang dinilai berprestasi dan kumpulan ganda lainnya yang belum teruji tentu memprihatinkan.
Dengan segala hormat kepada Herry IP dan Chafidz Yusuf yang kini menukangi ganda putra Cipayung dan tentunya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan, dengan tulisan ini kami mengajukan permintaan kepada Gita Wirjawan sebagai ketua umum PBSI saat ini untuk membuat Rexy Mainaky ikut melatih ganda dalam masa jelang Olimpiade Rio ini. Bukankah Pak Gita menarik Rexy ke PBSI karena keberhasilan Rexy menghantar Nathan Robertson/Gail Emms, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menjadi ganda yang disegani dunia dan juga keberhasilan lainnya di Inggris, Malaysia dan Filipina. Mengingat Olimpiade adalah ajang terbesar, bukankah selayaknya kita memberi usaha yang paling maksimal? Dan rasanya memaksimalkan kemampuan Rexy dengan memintanya ikut melatih adalah hal yang wajar bukan?
Jumat, 30 Januari 2015
Drama Di Denpasar
Djarum Superliga 2015 yang berlangsung di GOR Lila Bhuana Denpasar sudah menyelesaikan babak penyisihan grup. Tim putri Hokuto Bank Jepang menjadi satu-satunya tim kejutan di babak semifinal setelah mengalahkan sang unggulan Mutiara di babak grup. Selain itu, nama-nama seperti Djarum, Jaya Raya, Musica dan Tonami menghiasi babak semifinal sesuai dugaan awal. Tapi bukan berarti Superliga hanya berisi partai sesuai dugaan dan kebisingan penonton cewe yang meneriaki tim Musica karena ada Jo, LYD dan Simon serta sang raksasa Ivanov disana.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Kamis, 22 Januari 2015
Hope Clear Head Prevails
Persiapan menuju ajang multi even, suatu frase yang biasanya menggambarkan tarik menarik kepentingan penuh kompromi ataupun paksaan antara KONI dan pemerintah di satu pihak dan PB-PB cabang olahraga di pihak lainnya. Tahun 2015 ini, frase itu kembali muncul dalam bentuk persiapan menuju SEA Games ke 28 di Singapura, Juni mendatang.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?
Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.
Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.
Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.
Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.
Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?
Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.
Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.
Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.
Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.
Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.
Sabtu, 10 Januari 2015
May Tokyo Become The Focus of Regeneration
Pebulutangkis tunggal putra Tommy Sugiarto menyatakan mundur dari Pelatnas Cipayung, terhitung Selasa, 6 Januari
Kutipan diatas adalah rilis yang dikeluarkan oleh humas PBSI melalui akun twitternya pada 9 Januari 2015. Meskipun berharap Tommy tetap berprestasi di jalur pro, keputusan ini untuk sementara membuat Simon Santoso menjadi satu-satunya tunggal putra senior yang ada di Cipayung. Pihak pelatnas kabarnya sedang mempertimbangkan untuk memanggil pemain baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Tommy, terlepas dari apapun keputusannya nanti. semoga prospek menuju Tokyo 2020 ikut menjadi bahan pertimbangan.
Tokyo 2020 menjadi sasaran yang lebih realistis jika melihat peta persaingan dan hasil yang diraih para tunggal putra Indonesia belakangan ini. Kembalinya Lin Dan secara penuh ke sirkuit jelas menambah ramai persaingan yang sudah diisi Chen Long, Jorgensen, Tago dkk belum lagi jika Chong Wei terbebas setelah hearing awal Februari nanti. Dengan fakta diatas, peluang Simon atau siapapun MS Indonesia di Rio 2016 untuk setidaknya meraih medali tidaklah bisa dianggap besar.
Rio 2016 akan menjadi Olimpiade kedua bagi Simon jika dia mampu lolos kualifikasi dan tentunya harapan agar hasil lebih baik ketimbang London dimana dalam statusnya sebagai debutan dia kalah dari Lee Chong Wei di 16 besar. Sejarah mencatat bahwa para peraih emas tunggal putra Olimpiade kecuali Alan Budikusuma dan Ji Xinpeng meraih prestasi tertinggi ketika mereka bukan berstatus debutan di Olimpiade. Presiden BWF saat ini Poul Erik menjuarai Atlanta setelah sebelumnya kalah dari Ardy Wiranata di Barcelona, Ji Xinpeng memberi Taufik pelajaran di Sydney sebelum legenda Indonesia yang blak-blakan ini menemukan jodoh (?) dan menangis terharu diatas podium Goudi Olympic Hall. Goudi juga menjadi tempat bagi Ronald Susilo memberi kejutan sebelum sang alien menguasai dunia hingga kini.
Dengan melihat fakta diatas, bijak rasanya jika PBSI membuka kompetisi untuk pemain yang kini berusia 23 tahun kebawah -dimana 23 dianggap batas atas yang wajar karena memperhitungkan peak usia mereka saat 2020 masih belum 30 dan di usia emas- yang ada di Cipayung seperti Anthony Sinisuka Ginting dkk untuk diproyeksikan mengikuti kualifikasi Rio 2016. Jika pemain dibawah 23 tahun itu berhasil lolos ke Rio tentu merupakan pengalaman berharga di Tokyo nantinya.
Semoga situasi ini membuat regenerasi pebulutangkis Indonesia semakin baik.
Senin, 08 Desember 2014
Poison Chalice or No Patience?
Stabilitas, kata yang sangat tidak familiar bagi sektor tunggal putri Indonesia. Ketidakstabilan itu dimulai dari pos pelatih tunggal putri pelatnas, pos tersebut seperti pos guru pertahanan terhadap ilmu hitam Hogwarts yang selalu berganti di setiap seri buku Harry Potter.
Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.
Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.
Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.
Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.
Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.
Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.
Jumat, 28 November 2014
A Note About Butet
Lilyana Natsir, mungkin pemain terbaik ganda sektor putri Indonesia sejak dimulainya millennium ketiga. Namanya muncul pertama kali ke permukaan ketika dia menjadi juara junior Asia di Jakarta tahun 2002 bersama Markis Kido.
Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.
WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.
Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.
1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ
Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?
Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.
WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.
Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.
1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ
Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?
Senin, 17 November 2014
End of SSP season
Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.
Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.
Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.
Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.
Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh
Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me
Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.
Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.
Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.
Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh
Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me
Kamis, 30 Oktober 2014
Hope For Hian's Troops
Ganda putri, nomor bulutangkis yang bagi mayoritas penggemar dari Indonesia merupakan nomor ganda yang paling ngga dianggep. Bagaimana tidak, dibanding ganda putra yang punya berderet pasangan tangguh dengan gelar juara bejibun dan ganda campuran yang punya Butet dan Vita beserta pasangannya, apalah yang ganda putri punya? Cuma Butet/Vita yang "disewakan" dari ganda campuran dan terpaksa mengikuti permainan paduka Li Yongbo di London.
Hal itu pun berlanjut saat kepengurusan Gita Wirjawan dimulai, disaat nomor lain sudah memiliki pelatih yang pasti, ganda putri malah harus menunggu kedatangan Reony Mainaky sambil sementara diawasi oleh para asisten. Ketika akhirnya Reony memutuskan untuk tetap berada di Jepang, sempat ada kekecewaan dan anggapan bahwa nomor ini bakal makin terpuruk seperti sektor putri satunya itu.
Ganda putri mulai merebut perhatian ketika medali Asian Games menghampiri, medali itu sendiri menurut kami hanyalah produk wajar dari grafik performa Greysia/Nitya yang memang meningkat tahun ini. Prestasi yang lalu diikuti dengan absennya punggawa ganda putri pelatnas dari tur eropa.
Absennya nyaris seluruh ganda putri di tur eropa ini tentu menimbulkan pertanyaan. Semoga saja absennya ini memang untuk refreshing dan mencari kombinasi terbaik untuk mendampingi Greysia/Nitya di kualifikasi Rio. Yang jelas, kmi hanya bisa berharap bahwa kesuksesan di Incheon kemarin tidak membuat coach Eng Hian dengan pasukan yg sekompi penuh potensi justru puas dengan hanya 1 kartu truf saja.
We certainly hope that you can maximize Indonesia's women double department coach.
Hal itu pun berlanjut saat kepengurusan Gita Wirjawan dimulai, disaat nomor lain sudah memiliki pelatih yang pasti, ganda putri malah harus menunggu kedatangan Reony Mainaky sambil sementara diawasi oleh para asisten. Ketika akhirnya Reony memutuskan untuk tetap berada di Jepang, sempat ada kekecewaan dan anggapan bahwa nomor ini bakal makin terpuruk seperti sektor putri satunya itu.
Ganda putri mulai merebut perhatian ketika medali Asian Games menghampiri, medali itu sendiri menurut kami hanyalah produk wajar dari grafik performa Greysia/Nitya yang memang meningkat tahun ini. Prestasi yang lalu diikuti dengan absennya punggawa ganda putri pelatnas dari tur eropa.
Absennya nyaris seluruh ganda putri di tur eropa ini tentu menimbulkan pertanyaan. Semoga saja absennya ini memang untuk refreshing dan mencari kombinasi terbaik untuk mendampingi Greysia/Nitya di kualifikasi Rio. Yang jelas, kmi hanya bisa berharap bahwa kesuksesan di Incheon kemarin tidak membuat coach Eng Hian dengan pasukan yg sekompi penuh potensi justru puas dengan hanya 1 kartu truf saja.
We certainly hope that you can maximize Indonesia's women double department coach.
Rabu, 01 Oktober 2014
Incheon 2014: Class and Validation
Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.
Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.
Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.
Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,
Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,
So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.
Selasa, 30 September 2014
A Pleasant Distractor: Story About Following Maria Londa's Gold
29 September 2014, sama seperti kebanyakan penikmat olahraga Indonesia, kami menunggu partai final ganda campuran Asian Games dengan hati lumayan dagdigdug. Ya badminton memang masih dianggap peluang terbesar medali bagi Indonesia. Dan karena ketegangan itu, maka saat final antara Alien melawan Naga, kami berusaha mencari pengalihan sekedar untuk menstabilkan detak jantung ini. Pengalihan itu kami dapat melalui info di foxsportsindo bahwa ada atlet Indonesia yang berlaga di final jam 17.00 bernama Maria Londa, karena kami tidak tahu cabang yang diikutinya maka diubeklah website resmi Incheon dan diketahui bahwa itu di atletik.
Jujur, nama yang terlintas di pikiran penulis kalo soal atletik adalah Ruwiyati dan Supriati Sutono, dua pelari wanita jarak menengah dan jauh Indonesia, lompat jauh bagi kami adalah buta sama sekali kecuali harus lompat jauh kalo penjaskes waktu sekolah dulu. Dengan pikiran demikian, kami buka tab final lompat jauh untuk menenangkan jantung dan berharap atlet Indonesia nggak jadi juru kunci.
Ketika tab dibuka, sebagian atlet sudah melakukan lompatan kedua, nama pelompat jauh Vietnam memimpin dengan lompatan sejauh 6,3 meteran dan ketika semua atlet menyelesaikan lompatan kedua, Londa berada di 8 besar dan Vietnam masih memimpin. Jantungpun agak tenang karena baguslah ngga juru kunci dan jujur saat itu lebih menyemangati atlet Vietnam sebagai sesama ASEAN dan ekspektasi awal yang asal ngga juru kunci.
Beberapa klikan refresh kemudian (kalo yang biasa livescore badminton AG pasti klik refresh berkali-kali) Bui Thi Thu Thao makin kokoh di puncak dengan lompatan 6.44, dan Maria Londa ada di posisi 2 dengan lompatan 6.40 meter. Disini badminton di tv mulai terabaikan dan mulai berharap medali diraih oleh Indonesia ya perunggulah setidaknya. Perhatian makin besar berarti tombol refresh makinn sering digunakan dengan mata tertuju pada baris nama kedua-keempat. Ketika usai lompatan terakhir Londa -yang mendapat urutan kedua/ketiga- bendera Merah Putih dengan tulisan INA disamping tidak ada pada baris yang dituju mata, kami pikir ya sudahlah kami cari dibawah lagi.
Whoa! betapa kagetnya kami ketika justru nama dan bendera yang dicari justru berada diurutan teratas. Maka dengan perhatian full ke ajang ini sekarang, kami mulai ngetwit hanya dengan kata medalist, dan ketika semua usai barulah kami tambahkan kata 3rd gold disana. Sekali lagi, selamat Maria Natalia Londa atas medali emasnya dan terima kasih atas pemberian pengalihan excitement bagi kami kemarin.
Jujur, nama yang terlintas di pikiran penulis kalo soal atletik adalah Ruwiyati dan Supriati Sutono, dua pelari wanita jarak menengah dan jauh Indonesia, lompat jauh bagi kami adalah buta sama sekali kecuali harus lompat jauh kalo penjaskes waktu sekolah dulu. Dengan pikiran demikian, kami buka tab final lompat jauh untuk menenangkan jantung dan berharap atlet Indonesia nggak jadi juru kunci.
Ketika tab dibuka, sebagian atlet sudah melakukan lompatan kedua, nama pelompat jauh Vietnam memimpin dengan lompatan sejauh 6,3 meteran dan ketika semua atlet menyelesaikan lompatan kedua, Londa berada di 8 besar dan Vietnam masih memimpin. Jantungpun agak tenang karena baguslah ngga juru kunci dan jujur saat itu lebih menyemangati atlet Vietnam sebagai sesama ASEAN dan ekspektasi awal yang asal ngga juru kunci.
Beberapa klikan refresh kemudian (kalo yang biasa livescore badminton AG pasti klik refresh berkali-kali) Bui Thi Thu Thao makin kokoh di puncak dengan lompatan 6.44, dan Maria Londa ada di posisi 2 dengan lompatan 6.40 meter. Disini badminton di tv mulai terabaikan dan mulai berharap medali diraih oleh Indonesia ya perunggulah setidaknya. Perhatian makin besar berarti tombol refresh makinn sering digunakan dengan mata tertuju pada baris nama kedua-keempat. Ketika usai lompatan terakhir Londa -yang mendapat urutan kedua/ketiga- bendera Merah Putih dengan tulisan INA disamping tidak ada pada baris yang dituju mata, kami pikir ya sudahlah kami cari dibawah lagi.
Whoa! betapa kagetnya kami ketika justru nama dan bendera yang dicari justru berada diurutan teratas. Maka dengan perhatian full ke ajang ini sekarang, kami mulai ngetwit hanya dengan kata medalist, dan ketika semua usai barulah kami tambahkan kata 3rd gold disana. Sekali lagi, selamat Maria Natalia Londa atas medali emasnya dan terima kasih atas pemberian pengalihan excitement bagi kami kemarin.
Selasa, 23 September 2014
Price (and Reward?) of Regeneration
Pesta olahraga Asia tahun ini kembali ke semenanjung Korea, setelah Seoul dan Busan masing-masing pada tahun 1986 dan 12 tahun lalu, kali ini giliran Incheon menjadi tempat penyelenggaraan ke 17 pesta tersebut. Dan seperti kebiasaan sejak penyelenggaraan di Jakarta lebih dari 50 tahun lalu, bulutangkis kembali menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan.
Ajang beregu yang diadakan dari tanggal 20-23 September ini seperti sejarah yang berulang baik di nomor putri maupun putra. Di nomor putri, pasukan Li Yongbo masih menunjukkan supremasi mereka di sektor ini, bahkan kemenangan untuk kelima kali berurut yang dimulai sejak Bangkok 1998 sepertinya sudah dipastikan bahkan sebelum kompetisi digulirkan. Tebalnya lapisan ganda mereka yang bisa dikombinasikan sedemikian rupa dan ditambah 3 tunggal yang menguasai top 3 ranking BWF bahkan membuat Wang Shixian sebagai peraih emas individual di Guangzhou hanya turun di ajang beregu pada edisi Incheon. Dominasi Bangkok-Incheon ini mengulang dominasi era 1974-1990 yang akhirnya dihentikan oleh tim Korea di Hiroshima ketika China hanya memiliki Zhaoying dan Ge Fei/Gu Jun sebagai senjata yang akhirnya menyumbang 2 medali perunggu di individu, kegagalan di Hiroshima dan direbutnya piala Uber di Jakarta pada tahun itu yang akhirnya membuat China tersadar perlunya sistem yang menjaga aliran regenerasi dan itu masih terjaga setidaknya sampai tahun ini.
Bicara soal regenerasi, hal yang mungkin sulit terwujud di sektor putra. Kedua finalis beregu di Incheon malah memanggil jagoan tunggal masing-masing yang pernah sempat menghilang dari dunia perbulutangkisan. Lin Dan dan Lee Hyun Il sebagai ksatria yang kembali dipanggil ke medan laga pada saat mereka sudah sempat menikmati suasana jauh dari pertempuran memang menunjukkan mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan memenangi semua laga. Bahkan Hyun Il menyumbang angka penentu yang memastikan Korea kembali menjadi juara beregu putra saat menjadi tuan rumah. Hyun Il bukanlah aktor utama kemenangan Korea kali ini meskipun sebagai penentu, sang aktor utama adalah Son Wan Ho yang meniru jejak Shon Seung Mo di Busan dalam mengalahkan tunggal utama lawan yang jauh diunggulkan. Wan Ho mengalahkan Chen Long yang baru saja ditahbiskan sebagai ksatria terbaik dunia di Copenhagen bulan sebelumnya, seperti Seung Mo yang ketika itu mengalahkan Taufik Hidayat, peringkat satu kala itu.
Taufik Hidayat yang sudah pensiun sejak tahun lalu, mungkin senang dengan regenerasi di tim Indonesia yang menurunkan 2 tunggal dibawah 25 tahun sebagai andalan di Incheon. Meskipun penyebab turunnya mereka adalah sedikit dipaksa, tapi hasil tangan hampa di beregu ini menunjukkan bahwa regenerasi yang sangat terlambat ini memang harus dilakukan daripada membawa kombinasi tunggal yang nyaris sama sejak Doha sampai Incheon. Kegagalan di Incheon ini juga membuka mata bahwa Indonesia perlu memperbanyak dan memperbaiki lapisan tunggalnya baik putra maupun putri, karena sebaik apapun ganda yang dimiliki untuk menjadi juara beregu tetaplah perlu setidaknya dua tunggal yang bisa diandalkan, seperti apa yang ditunjukkan Korea dengan pemanggilan kembali Hyun Il. Dan mencari lapisan tunggal yang diandalkan itu ya lewat proses regenerasi yang baik, bukan ngasal, masa iya kita harus bujuk komodo terakhir versi cobalt di badcentral keluar dari pensiun?
Akhirnya, selamat bagi tim Korea dan China, mari kita menikmati sektor individu dan cabang2 lainnya di pesta Incheon kali ini.
Ajang beregu yang diadakan dari tanggal 20-23 September ini seperti sejarah yang berulang baik di nomor putri maupun putra. Di nomor putri, pasukan Li Yongbo masih menunjukkan supremasi mereka di sektor ini, bahkan kemenangan untuk kelima kali berurut yang dimulai sejak Bangkok 1998 sepertinya sudah dipastikan bahkan sebelum kompetisi digulirkan. Tebalnya lapisan ganda mereka yang bisa dikombinasikan sedemikian rupa dan ditambah 3 tunggal yang menguasai top 3 ranking BWF bahkan membuat Wang Shixian sebagai peraih emas individual di Guangzhou hanya turun di ajang beregu pada edisi Incheon. Dominasi Bangkok-Incheon ini mengulang dominasi era 1974-1990 yang akhirnya dihentikan oleh tim Korea di Hiroshima ketika China hanya memiliki Zhaoying dan Ge Fei/Gu Jun sebagai senjata yang akhirnya menyumbang 2 medali perunggu di individu, kegagalan di Hiroshima dan direbutnya piala Uber di Jakarta pada tahun itu yang akhirnya membuat China tersadar perlunya sistem yang menjaga aliran regenerasi dan itu masih terjaga setidaknya sampai tahun ini.
Bicara soal regenerasi, hal yang mungkin sulit terwujud di sektor putra. Kedua finalis beregu di Incheon malah memanggil jagoan tunggal masing-masing yang pernah sempat menghilang dari dunia perbulutangkisan. Lin Dan dan Lee Hyun Il sebagai ksatria yang kembali dipanggil ke medan laga pada saat mereka sudah sempat menikmati suasana jauh dari pertempuran memang menunjukkan mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan memenangi semua laga. Bahkan Hyun Il menyumbang angka penentu yang memastikan Korea kembali menjadi juara beregu putra saat menjadi tuan rumah. Hyun Il bukanlah aktor utama kemenangan Korea kali ini meskipun sebagai penentu, sang aktor utama adalah Son Wan Ho yang meniru jejak Shon Seung Mo di Busan dalam mengalahkan tunggal utama lawan yang jauh diunggulkan. Wan Ho mengalahkan Chen Long yang baru saja ditahbiskan sebagai ksatria terbaik dunia di Copenhagen bulan sebelumnya, seperti Seung Mo yang ketika itu mengalahkan Taufik Hidayat, peringkat satu kala itu.
Taufik Hidayat yang sudah pensiun sejak tahun lalu, mungkin senang dengan regenerasi di tim Indonesia yang menurunkan 2 tunggal dibawah 25 tahun sebagai andalan di Incheon. Meskipun penyebab turunnya mereka adalah sedikit dipaksa, tapi hasil tangan hampa di beregu ini menunjukkan bahwa regenerasi yang sangat terlambat ini memang harus dilakukan daripada membawa kombinasi tunggal yang nyaris sama sejak Doha sampai Incheon. Kegagalan di Incheon ini juga membuka mata bahwa Indonesia perlu memperbanyak dan memperbaiki lapisan tunggalnya baik putra maupun putri, karena sebaik apapun ganda yang dimiliki untuk menjadi juara beregu tetaplah perlu setidaknya dua tunggal yang bisa diandalkan, seperti apa yang ditunjukkan Korea dengan pemanggilan kembali Hyun Il. Dan mencari lapisan tunggal yang diandalkan itu ya lewat proses regenerasi yang baik, bukan ngasal, masa iya kita harus bujuk komodo terakhir versi cobalt di badcentral keluar dari pensiun?
Akhirnya, selamat bagi tim Korea dan China, mari kita menikmati sektor individu dan cabang2 lainnya di pesta Incheon kali ini.
Minggu, 14 September 2014
Springboard and Revival
Turnamen kelas grand prix dan grand prix gold biasanya menjadi "springboard" karir seseorang. Tengoklah bagaimana pasangan ganda putri nan cantik jelita Bao Yixin dan Tang Jinhua memulai rentetan kemenangan yang menghantar mereka ke peringkat 1 BWF justru di turnamen biasa saja bernama Dutch Grand Prix. Dan di Palembang dari hari selasa lalu jalan itu coba ditiru melalui Indonesia Masters GP Gold meskipun banyak pemain utama tidak hadir karena berdekatan dengan Asian Games.
Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.
Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.
Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.
Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.
Berbicara mengenai Indonesia GP Gold, ajang ini pastinya punya kesan mendalam bagi Selvanus Geh yang namanya mulai dikenal publik ketika pada gelaran tahun lalu di GOR Amongrogo mampu melaju ke final bersama Ronald Alexander setelah menghentikan rentetan kemenangan Ahsan/Hendra yang ketika itu telah mencapai lebih dari 20 partai. Kali ini di Jakabaring dengan menggandeng rekan yang lebih muda Kevin Sanjaya Sukamuljo, Geh juga mampu menembus final dan tentu saja berharap bahwa ajang ini dapat menjadi springboard untuk mencapai top 25 atau malah mendapatkan tiket ke Rio de Jainero 2016.
Springboard mungkin itu juga yang diinginkan kedua tunggal muda Indonesia, Firman AK dan Ruselli Hartawan. Firman yang merangkak dari kualifikasi dan menembus final tentu tidak ingin prestasi ini hanya sebatas kebetulan semata, tentu itu juga harapan insan badminton Indonesia apalagi kekidalan Firman yang unik. Hasil serupa yang diraih Ruselli semoga saja dapat menjadi titik tolak sekaligus meyakinkan Ruselli bahwa kariernya di badminton masih sangat panjang dan terang dan menghentikan para pengritiknya yang terlalu mempermasalahkan hal diluar lapangan, Toh Ruselli kalah dari sesama tunggal putri Indonesia di final, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.
Peraih gelar tunggal putri di Palembang adalah Adrianti Firdasari, baginya hasil di bumi Sriwijaya ini mungkin lebih bisa diartikan sebagai kebangkitan prestasinya setelah sebelumnya sering dilanda cedera, itu juga berlaku bagi pasangan Riky/Richi yang menjuarai nomor ganda campuran serta Kido Gideon yang menjuarai ganda putra. Semoga hasil juara ini membuat mereka lebih percaya diri dan tidak hanya sekedar mampir di jajaran top 25 tapi juga menembus top 10 dan berdiam disana bagi mereka.
Palembang pekan lalu sudah memberi ceritanya, semoga saja para pemain Indonesia benar-benar bisa memanfaatkannya baik sebagai batu loncatan maupun awal kebangkitan kembali karier mereka. Yang pasti prestasi serupa Palembang tentu sangat diharapkan dapat terduplikasi di turnamen berskala besar lainnya.
Sabtu, 06 September 2014
Jasmine at the crossroads
Sebagai turnamen yang berlangsung tepat setelah Kejuaraan Dunia, Vietnam Grand Prix tentu saja tidak bisa berharap akan banyak bintang yang datang, apalagi statusnya hanyalah turnamen bintang 2, atau seperti yang dikicaukan oleh seseorang yang penulis follow bahwa Vietnam GP adalah saat dimana pemain potensial atau baru dipulangkan ke klub untuk merebut perhatian. Malang bagi panpel, hal pertama dari Vietnam GP yang menarik atensi dunia adalah rubuhnya atap stadinon Phan Dinh Phung yang memaksa mereka memindahkan venue pertandingan dan berantakannya jadwal karena force majeure tersebut setidaknya sampai hari jumat ini.
Dan karena fokus turnamen ini antara pemain potensi atau pemain yang baru dipulangkan, awalnya kami lebih memfokuskan pada kategori yang kedua, terutama pada empat nama yaitu Irfan Fadhillah, Weni Anggraeni, Rendy Sugiarto dan Ririn Amelia. Ririn yang diklaim banyak orang kurang diberi kesempatan sebelum dipulangkan ke klub, belum mampu memberi impresi bahwa dia memang layak dipertahankan di pelatnas. Lain halnya dengan Rendy, kegagalan di XD bersama Ririn ditebusnya dengan menembus SF di MD, harapannya sih suatu saat nanti mengingat usianya yang masih muda, Rendy kembali mengisi jajaran punggawa timnas. Sedangkan Irfan/Weni seakan menegaskan bahwa mereka tersingkir dari Cipayung karena melimpahnya stok pemain ganda campuran, dan mungkin karena usia mereka maka mereka menjadi tumbal.
Bicara soal ganda campuran, nama Melati Daeva Oktaviani justru mampu menarik perhatian di turnamen ini. Melati yang dianggap sebagai playmaker putri terbaik di generasinya nampak akhirnya menemukan pasangan yang tepat di ganda campuran bersama Ronald Alexander setelah sebelumnya terlihat tak berkembang di ganda putri dengan pasangan yang terus berganti. Pasangan Ronald/Melati ini selalu menembus 8 besar di tiap turnamen yang diikutinya, dan duelnya nanti melawan Vita/Rijal di semifinal selain menimba banyak pengalaman, tentu bisa jadi menjadi tolok ukur awal sejauh mana kesiapan Melati untuk menjadi penerus Vita ataupun Butet di XD.
Pun jika benar nantinya Melati lebih memprioritaskan XD, ganda putri Indonesia tidaklah kekurangan pasokan, 2 pemain yang pernah berpasangan dengan Melati, Rosyita dan Maretha bersama permata Bali Ketut Mahadewi yang kali ini dipasangkan dengan Gebby Imawan juga mencoba bersinar di Ho Chi Minh.
Yang jelas kami sangat senang dengan keberanian dan kontinuitas bongkar pasang ini, serta berharap otak-atik kombinasi di ganda ini benar-benar dapat menghasilkan yang terbaik, dan seperti proses pembersihan berlian yang punya banyak halangan, semoga saja halangan itu bukanlah dari para fans yang asal teriak ingin kembali ke pasangan lama ketika satu hal buruk terjadi. Akhir kata All the best for Indonesia team going forward.
Dan karena fokus turnamen ini antara pemain potensi atau pemain yang baru dipulangkan, awalnya kami lebih memfokuskan pada kategori yang kedua, terutama pada empat nama yaitu Irfan Fadhillah, Weni Anggraeni, Rendy Sugiarto dan Ririn Amelia. Ririn yang diklaim banyak orang kurang diberi kesempatan sebelum dipulangkan ke klub, belum mampu memberi impresi bahwa dia memang layak dipertahankan di pelatnas. Lain halnya dengan Rendy, kegagalan di XD bersama Ririn ditebusnya dengan menembus SF di MD, harapannya sih suatu saat nanti mengingat usianya yang masih muda, Rendy kembali mengisi jajaran punggawa timnas. Sedangkan Irfan/Weni seakan menegaskan bahwa mereka tersingkir dari Cipayung karena melimpahnya stok pemain ganda campuran, dan mungkin karena usia mereka maka mereka menjadi tumbal.
Bicara soal ganda campuran, nama Melati Daeva Oktaviani justru mampu menarik perhatian di turnamen ini. Melati yang dianggap sebagai playmaker putri terbaik di generasinya nampak akhirnya menemukan pasangan yang tepat di ganda campuran bersama Ronald Alexander setelah sebelumnya terlihat tak berkembang di ganda putri dengan pasangan yang terus berganti. Pasangan Ronald/Melati ini selalu menembus 8 besar di tiap turnamen yang diikutinya, dan duelnya nanti melawan Vita/Rijal di semifinal selain menimba banyak pengalaman, tentu bisa jadi menjadi tolok ukur awal sejauh mana kesiapan Melati untuk menjadi penerus Vita ataupun Butet di XD.
Pun jika benar nantinya Melati lebih memprioritaskan XD, ganda putri Indonesia tidaklah kekurangan pasokan, 2 pemain yang pernah berpasangan dengan Melati, Rosyita dan Maretha bersama permata Bali Ketut Mahadewi yang kali ini dipasangkan dengan Gebby Imawan juga mencoba bersinar di Ho Chi Minh.
Yang jelas kami sangat senang dengan keberanian dan kontinuitas bongkar pasang ini, serta berharap otak-atik kombinasi di ganda ini benar-benar dapat menghasilkan yang terbaik, dan seperti proses pembersihan berlian yang punya banyak halangan, semoga saja halangan itu bukanlah dari para fans yang asal teriak ingin kembali ke pasangan lama ketika satu hal buruk terjadi. Akhir kata All the best for Indonesia team going forward.
Sabtu, 30 Agustus 2014
Merah Putih di Ballerup
Kalau dilihat dari sisi hasil semata, ini jelas penurunan dari tahun lalu yang menghasilkan dua emas, tetapi jika ditinjau dari 14 pasukan yang dikirim, justru ini menggembirakan meskipun pasti banyak catatan yang harus diperbaiki di kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Kami mencoba menggunakan sistem penilaian di Hogwarts untuk menilai penampilan seluruh punggawa Indonesia di medan tempur Ballerup Super Arena.
Dan nilai-nilai itu adalah:
Poor untuk 2 pasangan ganda campuran non pelatnas Gideon/Rizki, -kalah dari pasangan Swedia secara straight set memvalidasi penilaian ini, belum tega ngasih troll- dan Pia/Kido, sebagai pasangan berstatus unggulan penampilan mereka, terutama Kido terkesan asal muncul di lapangan. Riky/Richi barely acceptable, penampilan pasangan ini perlu banyak diperbaiki tapi ngga layak dibilang buruk, di sisi lain Jordan/Debby adalah pasangan yang paling menunjukkan grafik meningkat bahkan hanya berjarak 5 angka dari medali dengan mengalahkan salah satu fantastic four, membuat mereka layak mendapatkan Exceeds Expectation.
Poor juga layak disematkan kepada Angga/Rian yang meski lolos QF hanya dengan kemenangan super tipis atas Mads/Mads dan keberuntungan undian setelah cederanya Ahsan. Demikian juga Berry/Ricky yang dibantai oleh Gideon/Kido yang mendapatkan acceptable. Buruknya 2 pasangan pelatnas ini, menimbulkan pertanyaan haruskah maestro2 disamping turun gunung?
Tommy Sugiarto sebagai pejuang tunggal di tungal putra putra, mencapai SF memang hanya memenuhi status unggulannya. Karena itu sementara ini nilainya Exceeds Expectation semata karena menjadi satu-satunya peraih medali, dan bisa naik menjadi Outstanding jika menembus final atau juara. Di tunggal putri, Lindaweni mampu mengejutkan Nichaon tapi kekalahan mudahnya dari Sung Ji Hyun membuat acceptable sepertinya lebih layak dan tetap lebih baik dari rekannya Bellaetrix yang tampil buruk di kejuaraan ini.
Bintang tercerah Indonesia di WBC tahun ini datang dari Ganda Putri, bukan Greysia/Nitya yang gagal di perempat final karena serangkaian "ketidakberuntungan" tetapi "adik" Greysia, Anggia yang berpasangan dengan Della Destiara Haris kami nilai satu-satunya yang Outstanding sejauh ini setelah menembus perempat final dengan status tak diunggulkan dan mampu menundukkan Bao Yixin/Liya secara straight set. Penampilan Anggi sangat jauh dari suku pertama nama tengahnya yang mungkin lebih tepat untuk menggambarkan penampilan pasangan ganda putri pujaan para BL, ketimbang klaim yang mengatakan mereka akan bersinar sesuai nama klub mereka.
Secara keseluruhan, hasil di Copenhagen ini menunjukkan bahwa Indonesia tidaklah sebatas 2 juara bertahan WBC yang kini absen.
Senin, 11 Agustus 2014
Copenhagen 2014: The Coast is Clear For Take-off, But For Who?
Seperti janji kami di post sebelumnya untuk membahas semua nomor di WBC, maka setelah post sebelumnya bahasan mengenai WD maka tulisan berikut coba menyinggung nomor tunggal putra.
Pria bertatto diatas menjadi penguasa tunggal putra sejak 2006, kejutan Park Sung Hwan di Stade Pierre de Coubertin hanyalah suatu keajaiban karena mungkin saat itu dia terlalu asyik membayangkan bemesraan dengan Xie Xingfang di menara Eiffel:D
Tidak adanya nama pria bertatto tersebut di undian yang diadakan di Berjaya Times Square tadi siang jelas menciptakan suasana serupa Hogwarts ketika semua berebut membuktikan diri menjadi penyihir paling jail ketika si kembar Weasley meninggalkan sekolah sihir itu.
Dari hasil undian siang tadi, inilah pihak-pihak yang paling mungkin memanfaatkan Copenhagen 2014 untuk mendapatkan kejayaan:
1. Chen Long: Sang Naga yang selama ini selalu dibawah bayang-bayang Super Dan, mampukah dia membuktikan diri bahwa dia mampu, atau kekalahan di Thomas Cup lalu sangat berakibat buruk pada mentalnya?
2. Lee Chong Wei: orang yang selama ini harus menerima kenyataan sebagai "pendamping" Super Dan. Akankah dia akhirnya mendapat gelar turnamen besar pertamanya? Atau tetap menjadi raja Super Series dan persemakmuran?
3. Jan O Jorgensen: Ksatria utama tuan rumah yang jelas berharap melebihi prestasi Peter Gade ataupun Morten Frost Hansen.
4. Tommy Sugiarto dan Kenichi Tago: Dua pemain yang tentu saja ingin mengulang atau melebihi pencapaian orang tua mereka yang mendapatkan medali WBC.
Nah dengan persaingan tunggal putra yang terbuka lebar, siapa yang akan memuncaki podium Ballerup Super Arena? Layak ditunggu.
Pria bertatto diatas menjadi penguasa tunggal putra sejak 2006, kejutan Park Sung Hwan di Stade Pierre de Coubertin hanyalah suatu keajaiban karena mungkin saat itu dia terlalu asyik membayangkan bemesraan dengan Xie Xingfang di menara Eiffel:D
Tidak adanya nama pria bertatto tersebut di undian yang diadakan di Berjaya Times Square tadi siang jelas menciptakan suasana serupa Hogwarts ketika semua berebut membuktikan diri menjadi penyihir paling jail ketika si kembar Weasley meninggalkan sekolah sihir itu.
Dari hasil undian siang tadi, inilah pihak-pihak yang paling mungkin memanfaatkan Copenhagen 2014 untuk mendapatkan kejayaan:
1. Chen Long: Sang Naga yang selama ini selalu dibawah bayang-bayang Super Dan, mampukah dia membuktikan diri bahwa dia mampu, atau kekalahan di Thomas Cup lalu sangat berakibat buruk pada mentalnya?
2. Lee Chong Wei: orang yang selama ini harus menerima kenyataan sebagai "pendamping" Super Dan. Akankah dia akhirnya mendapat gelar turnamen besar pertamanya? Atau tetap menjadi raja Super Series dan persemakmuran?
3. Jan O Jorgensen: Ksatria utama tuan rumah yang jelas berharap melebihi prestasi Peter Gade ataupun Morten Frost Hansen.
4. Tommy Sugiarto dan Kenichi Tago: Dua pemain yang tentu saja ingin mengulang atau melebihi pencapaian orang tua mereka yang mendapatkan medali WBC.
Nah dengan persaingan tunggal putra yang terbuka lebar, siapa yang akan memuncaki podium Ballerup Super Arena? Layak ditunggu.
Sabtu, 09 Agustus 2014
Copenhagen 2014: Tian Qing/Zhao Yunlei's swansong?
Kejuaraan dunia bulutangkis akan kembali ke tanah negeri dongeng setelah 15 tahun berkeliling dunia. Gelaran ke-21 tersebut akan berlangsung pada akhir bulan ini. Dan kami mencoba menganalisa peluang nomor demi nomor sebelum kejuaraan tersebut berlangsung di Ballerup Super Arena, Copenhagen.
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.
Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.
Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.
Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.
Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.
Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.
Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?
Jumat, 20 Juni 2014
Which cream are they?
In the end, cream always rise to the top. Ungkapan yang sering digunakan di olahraga populer di AS terutama basket, ungkapan yang menggambarkan bahwa pada akhirnya yang terbaiklah yang berada di puncak. Ungkapan itu memang benar terbukti di final NBA tahun ini dengan Spurs dan Heat sebagai juara dan finalis memang 2 tim terbaik NBA tahun ini. Hal yang menurut kami juga benar adanya di bulutangkis.
Gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier yang berlangsung pekan ini memang hanya turnamen tahunan belaka, namun statusnya sebagai salah satu turnamen berlevel tertinggi BWF jelas membuat turnamen ini dipenuhi ksatria-ksatria terbaik lapangan karpet. Fakta bahwa hanya 3 wakil tuan rumah di perempat final menunjukkan bahwa dari sekian banyak pemain-pemain negeri ini memang untuk saat ini hanya ketiga pasang ganda itulah yang siap bersaing berebut posisi menjadi creme de la creme.
Lalu kemana yang lain, bukankah negeri ini lebih dari 3 pasang itu? Kami menggolongkan pemain-pemain lain menjadi tiga bagian yaitu:
1. kelompok yang tidak akan pernah lagi menjadi creme de la creme, pemain yang secara usia atau kemampuan memang tidak mampu lagi bersaing di level kompetisi terbaik, salut untuk mereka jika memang mereka pernah menjadi yang teratas tapi pada saat ini mereka hanya menikmati permainan.
2. kelompok yang masih membentuk diri menjadi cream, kelompok yang menganggap ajang ini sebagai uji ukur coba-coba, semacam heat check kalau di basket, mengukur sudahkah mereka mampu bersaing di ajang yg terbaik atau harus diproses lagi untuk menjadi cream yang baik.
3. kelompok yang pada saat itu ada cream yang lebih enak. kelompok ini memang sudah layak bersaing dan pantas berada di level ini, hanya saja 1-2 pukulan here and there belum memihak kepada mereka, ketiga pasang yang tersisa juga akan masuk kelompok ini jika tidak menjadi juara.
Well, kita tentu berharap yang di kelompok 2 akan menjadi kelompok 3 bukan malah menurun menjadi kelompok 1, sehingga tidak ada pembinaan yang sia-sia. Jadi pemain yang kalian sukai ada dikelompok mana sekarang? Dan selamat menikmati sisa gelaran BCA IOSSP untuk mengetahui siapa creme de la creme tahun ini. Keep rocking Jakarta.
Gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier yang berlangsung pekan ini memang hanya turnamen tahunan belaka, namun statusnya sebagai salah satu turnamen berlevel tertinggi BWF jelas membuat turnamen ini dipenuhi ksatria-ksatria terbaik lapangan karpet. Fakta bahwa hanya 3 wakil tuan rumah di perempat final menunjukkan bahwa dari sekian banyak pemain-pemain negeri ini memang untuk saat ini hanya ketiga pasang ganda itulah yang siap bersaing berebut posisi menjadi creme de la creme.
Lalu kemana yang lain, bukankah negeri ini lebih dari 3 pasang itu? Kami menggolongkan pemain-pemain lain menjadi tiga bagian yaitu:
1. kelompok yang tidak akan pernah lagi menjadi creme de la creme, pemain yang secara usia atau kemampuan memang tidak mampu lagi bersaing di level kompetisi terbaik, salut untuk mereka jika memang mereka pernah menjadi yang teratas tapi pada saat ini mereka hanya menikmati permainan.
2. kelompok yang masih membentuk diri menjadi cream, kelompok yang menganggap ajang ini sebagai uji ukur coba-coba, semacam heat check kalau di basket, mengukur sudahkah mereka mampu bersaing di ajang yg terbaik atau harus diproses lagi untuk menjadi cream yang baik.
3. kelompok yang pada saat itu ada cream yang lebih enak. kelompok ini memang sudah layak bersaing dan pantas berada di level ini, hanya saja 1-2 pukulan here and there belum memihak kepada mereka, ketiga pasang yang tersisa juga akan masuk kelompok ini jika tidak menjadi juara.
Well, kita tentu berharap yang di kelompok 2 akan menjadi kelompok 3 bukan malah menurun menjadi kelompok 1, sehingga tidak ada pembinaan yang sia-sia. Jadi pemain yang kalian sukai ada dikelompok mana sekarang? Dan selamat menikmati sisa gelaran BCA IOSSP untuk mengetahui siapa creme de la creme tahun ini. Keep rocking Jakarta.
Senin, 02 Juni 2014
Indonesian Doubles After TUC. What's next?
Pasca Thomas dan Uber Cup, turnamen besar berikut yang harus ditatap oleh para penggila bulutangkis adalah kejuaraan dunia (WBC) dan Asian Games. Karena entry list WBC sudah dirilis maka bisa dipastikan siapa-siapa saja yang ikut disana. Tapi tulisan ini lebih akan membahas apa yang menurut penulis mungkin terjadi seusai WBC terutama di sektor ganda putra dan putri.
Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.
Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.
Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)
Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.
Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.
Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)
Langganan:
Postingan (Atom)







