Tampilkan postingan dengan label Lilyana Natsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lilyana Natsir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

Pandangan Alternatif Tentang Piala Sudirman

Daftar unggulan Piala Sudirman edisi ke 14 yang akan dilaksanakan di Dongguan China pada 10-17 Mei sudah dirilis. Dalam rilis yang dilakukan BWF pada 10 Maret tersebut, tuan rumah kembali menjadi unggulan pertama, disusul Korea, Denmark dan Jepang di unggulan 4. Final ideal yang menskenariokan China ketemu Korea adalah hal yang bagus karena hanya kedua negara ini yang memiliki pemain top 10 di semua nomor, meskipun jika menilik hasil selama 2015, maka Korea perlu banyak perbaikan jika ingin bersaing di Dongguan.

Denmark dan Jepang, dua negara yang masing-masing punya kelemahan di 1 nomor sehingga hanya memiliki 4 peluru jika ingin menjadi pemegang baru bagi piala yang didedikasikan untuk almarhum Dick Sudirman, tentu harus pandai mengatur strategi untuk menutup kelemahannya. Kedalaman lapisan tunggal Jepang mungkin tak begitu berarti disini mengingat hanya ada 2 partai tunggal, tidak seperti ketika mereka tahun lalu mencetak sejarah dengan merebut piala Thomas pertama kali tahun lalu. Denmark di sisi lain jika mereka mampu mempertahankan form bagus mereka yang dimulai dari EMTC hingga Dongguan nanti, maka ketiadaan WS mumpuni sekaliber Tine Rasmussen bukanlah sesuatu yang sangat berat, bahkan jika All England kemarin menjadi simulasi, partai Denmark vs China akan sangat menjanjikan partai menarik kecuali di tunggal putri tentu saja.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemegang pertama piala yang ada candinya itu menempati unggulan kelima, dan dengan kondisi tunggal yang sedang menurun serta hanya mengandalkan ganda, haruskah Indonesia memilih all out mengikut-sertakan dan memainkan seluruh pemain terbaiknya? Dalam sebuah pandangan alternatif, mungkin sebaiknya hanya Greysia/Nitya, pemain senior yang dimainkan terus. Karakter Greysia yang pantang menyerah dan juga berapi-api seperti yang ia tunjukkan di Jakarta 7 tahun lalu sangat layak untuk menjadikannya pemimpin tim, mengingat senior lainnya seperti Hendra dan Butet jauh dari kata ekspresif apalagi berisik.

Hendra dan Butet memang tetap diikutsertakan tapi hanya diturunkan untuk kepentingan strategi saja, apalagi ganda putra dan ganda campuran tidak seperti ganda putri yang tidak memiliki pelapis yang layak setelah cederanya Rosyita. Memberi kesempatan pada Angga, Debby, Jordan, Kevin dan kawan-kawan untuk sering tampil itu sangat baik karena penting bagi mereka merasakan atmosfer sebenarnya dari partai beregu, sambil menunggu kebangkitan tunggal-tunggal Indonesia pasca Rio, semoga. Lagipula, jika ingin memasang strategi rangkap memasang Kevin di XD (Kevin/Greys atau Kevin/Butet misalnya) dan MD ataupun Greysia di WD dan XD ( atau juga Greys/Owi/Jordan) sepertinya jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa Butet bermain di dua nomor mengingat stamina Kevin ataupun Greysia sudah terbukti mampu bermain rangkap dengan baik.

Sekali lagi ini hanyalah suatu pandangan dari sudut pandang yang agak berbeda, tulisan ini sama sekali tidak mencari pro kontra, yang terpenting bagi kami adalah menikmati seru dan ketidakterdugaan pertandingan.

Jumat, 06 Maret 2015

Surprise Aplenty while History Await

Kejutan, kata yang mungkin tepat menggambarkan All England sejauh ini. Bagaimana tidak, sejauh ini di semua nomor ada saja unggulan 1-3 yang harus tersingkir sebelum perempat final malam nanti. Jumlah total unggulan yang tersingkir di turnamen tertua yang dikatakan Lin Dan sebagai kejuaraan dunia mini ini mencapai lebih dari 10.  Bahkan satu tiket semifinal sudah pasti diperoleh pemain non unggulan di nomor tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran.

Kejutan terbanyak dan terbesar muncul di ganda putra, 4 ganda unggulan harus angkat koper dari National Indoor Arena sebelum hari jumat. Diantara 4 ganda itu terdapat 2 favorit awal juara, yaitu sang unggulan pertama Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan juara bertahan M Ahsan/Hendra Setiawan. Dua ganda yang mengalahkan mereka, Mads Pieler Kolding/Mads Conrad Petersen dan Fu Haifeng/Zhang Nan kini banyak dijagokan akan menjadi juara baru All England mengingat form pasangan Denmark yang sedang menanjak sejak Jerman dan kualitas individu Fu/Zhang yang merupakan peraih emas olimpiade. Kandidat juara lainnya adalah Mathias Boe/Carsten Mogensen yang biasa menghiasi daftar juara super series bersama dua ganda yang tersingkir itu atau kuda hitam tanpa beban Kevin Sanjaya/Markus Gideon sang pasangan baru yang mungkin bisa menyelamatkan reputasi ganda putra Indonesia yang tampak makin kacau usai kejadian hari kamis yang membuat banyak orang berpikir apakah Hendra/Ahsan mulai menurun.

Jika Indonesia dikejutkan di ganda putra, kejadian sebaliknya terjadi di ganda campuran. Debby/Jordan membuat salah satu fantastic four menelan pil pahit ketika All England belum mencapai hitungan 5 jam. Kemenangan atas Xu Chen/Ma Jin jelas meningkatkan kepercayaan diri Debby/Jordan yang tahun lalu sama sekali tidak merasakan babak utama, meski demikian dalam hal mencapai tahta tampaknya masih belum diperhitungkan. 3 fantastic four tersisa jelas lebih difavoritkan apalagi Butet/Owi yang mengejar quad-trick di negerinya Kate Middleton ini. Penggoyang dominasi fantastic four lebih disematkan pada Mads CP/Kamilla RJ sang juara Jerman atau harapan terbesar tuan rumah Chris/Gabby Adcock yang jelas mendapat dukungan besar publik

Dukungan publik juga akan mengalir untuk Rajiv Ouseph, pemain yang mengalahkan Son Wan Ho ini jelas akan berusaha sejauh mungkin mengukir sejarah meskipun untuk menjadi juara tunggal putra pertama dari Inggris sejak perang dunia kedua tampak seperti mission impossible. Mission Impossible karena di tunggal putra masih ada Lin Dan. Tantangan bagi sang peraih 2 emas olimpiade untuk menggapai gelar keenam hanya akan muncul dari Sang Naga atau manusia penuh tato dari Denmark.

Di dua nomor putri, ada fenomena bertolak belakang atas dominasi China, di tunggal meskipun ada 3 wakil di perempat final tapi ketiadaan Li Xuerui pasti membangkitkan harapan bagi tunggal putri lain untuk mematahkan dominasi China seperti halnya di Dubai akhir tahun lalu. Di ganda, 5 wakil jelas menunjukkan dominasi China, tapi untuk semifinal kami berharap hanya 2 pasangan yang lolos yaitu Tian/Zhao dan Wang/Yu ditemani WD Denmark dan Indonesia, 4ganda yang telah memberi deretan partai klasik bagi ganda putri.

Semoga seiring sejarah yang tercipta banyak kejutan dan partai klasik yang menyertai.

Jumat, 28 November 2014

A Note About Butet

Lilyana Natsir, mungkin pemain terbaik ganda sektor putri Indonesia sejak dimulainya millennium ketiga. Namanya muncul pertama kali ke permukaan ketika dia menjadi juara junior Asia di Jakarta tahun 2002 bersama Markis Kido.

Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.

WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.

Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.

1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ

Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?