Jumat, 30 Oktober 2015

Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Semifinal, itulah hasil yang diraih oleh Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di Stade de Coubertin minggu lalu. Semifinal kelima yang ditapaki pasangan ini dalam tahun 2015 dan sekaligus mengangkat mereka ke ranking 3 dunia yang merupakan pencapaian terbaik dalam karir mereka sejauh ini. Dan bila melihat barisan bakat di nomor ganda putri yang usianya dibawah Greysia/Nitya, maka tidak salah bila hasil di Paris minggu lalu menjadi momentum penegas kebangkitan ganda putri Indonesia.

Menurut penulis sotoy ini, jika berbicara kebangkitan ganda putri Indonesia -yang disertai pemain dengan nama-nama yang pastinya akan sangat membantu dalam pelajaran mengarang indah- ada beberapa kejadian didalam lapangan yang memicu ataupun memperbesar momentum kebangkitan ini, berikut dibahas satu persatu:

1. Kekompakan dan pencapaian tim Uber Indonesia sebagai finalis ketika menjadi tuan rumah pada tahun 2008 yang membuktikan bahwa putri-putri Indonesia bisa bersaing dan berprestasi di tingkat dunia meski kadang tampil eksentrik di lapangan. Event ini membuat popularitas badminton melonjak karena roadshow tv dimana-mana dan mengkonversi banyak orang apatis menjadi fans.

2. Medali emas SEA Games 2011 yang diraih oleh Anneke Feinya Agustine dan Nitya Krishinda Maheswari. Memang persaingan SEA Games hanyalah sebatas Asia Tenggara, tapi hasil ini setidaknya memunculkan kembali detak prestasi bulutangkis putri Indonesia setelah cederanya peraih medali perunggu Beijing, Maria Kristin Yulianti

3. Keajaiban di Stade de Coubertin 2013. Kejadian di Paris dua tahun lalu yang jauh lebih dahsyat dari aksi Houdini ala Lindaweni Fanetri di Istora Agustus lalu. Meski mirip tapi lawan Greysia/Nitya di Paris adalah ganda putri yang ketika itu masih dianggap monster alien, Wang Xiaoli/Yu Yang. Kemenangan ini menjadi sinyal kehadiran Greysia/Nitya setelah disatukan kembali

4. Gold Incheon 2014. Ketika suatu negara harus menunggu 36 tahun lamanya untuk kembali meraih medali emas, tentu saja prestasi yang diraih Greysia/Nitya di Korea merupakan momentum besar yang patut dilanjutkan dan membangkitkan bulutangkis Indonesia terutama di ganda putri.

5 Gelar SS pertama dan semua rentetan prestasi di 2015, konsistensi yang nantinya akan berbuah ranking 1 dunia bagi Greysia/Nitya, satu hal yang kemungkinan besar akan dibilang impossible oleh Greysians terloyal sekalipun karena memang sangat tidak terduga pada akhir 2014.

Dengan segala momentum yang ada sekarang, semoga ganda putri dan seluruh badminton Indonesia tetap berprestasi pasca Rio 2016.

Kamis, 15 Oktober 2015

Overview Peluang Bulutangkis Indonesia di Rio

Bulutangkis -cabang yang pernah menyumbangkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia- kembali diharapkan mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade Rio tahun depan setelah pulang dengan tangan kosong dari London 3 tahun lalu. Melihat kondisi saat ini, banyak orang memberi target pada dua finalis Beijing 2008, Hendra Setiawan dan Lilyana Natsir yang kali ini membawa partner baru dan Greysia/Nitya yang tahun lalu meraih medali emas di Asian Games Incheon. Tapi, benarkah harapan medali bulutangkis di Rio hanya tertumpu pada mereka berenam?
Dari rilis ranking Race to Rio seusai Thailand Grand Prix Gold, Indonesia masih mungkin mengirim 2 wakil tunggal putra dengan mempunyai 2 wakil di top 16, terutama jika Hayom dan Ihsan mampu tampil seperti di Bangkok, hingga akhir April 2016 dan menutup defisit dengan peringkat 16 yang kini berada di kisaran 25-26 ribu poin.  Tetapi, bicara soal medali, sepertinya sulit karena sejauh ini tunggal putra dikuasai oleh Chen Long, Kento Momota, Jorgensen, dan Axelsen, apalagi jika Lin Dan dan Lee Chong Wei ikutan serius di Rio.
Peluang yang sama beratnya, juga akan dihadapi di nomor tunggal putri. Lindaweni Fanetri kemungkinan besar menjadi wakil satu-satunya tunggal putrid mengingat hingga minggu kedua Oktober Bella masih belum turun ke turnamen, pasca cedera di Piala Sudirman.  Linda memang meraih medali perunggu di kejuaraan dunia Istora kemarin. Medali yang didapat setelah penampilan luar biasa dalam seminggu, dimana dalam salah satu pertandingan Linda seperti “dirasuki” Houdini dan menyelamatkan lebih dari 4 matchpoint. Tingkat permainan yang setidaknya harus diulang Linda jika ingin bersaing dengan Marin, Saina, Sung, Intanon dan 2 pemain Tiongkok dalam memperebutkan medali Rio.
Soal berjuang sendiri di Rio, mungkin juga akan dialami Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Cedera lama yang dialami Rosyita Eka dan belum stabilnya penampilan ganda putri Indonesia lainnya hingga saat ini, membuat posisi top 8 race to Rio tampak mustahil diraih ganda kedua Indonesia. Greysia/Nitya yang kini menduduki peringkat 1 race to Rio setelah meraih Super Series perdana di Korea tentu ditantang untuk menjaga kondisi dan konsistensi demi undian yang lebih baik. Greysia/Nitya sebenarnya diuntungkan dengan belum adanya pasangan tetap dari Korea dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meramu pasangan sehingga kemungkinan hanya mengirim satu pasangan ke Rio. Tantangan jelas masih banyak, peraih perak WBC 2015 Pedersen/Rytter-Juhl dan peraih perak AG 2014 Misaki/Ayaka menjadi dua saingan terberat, belum lagi pasangan Korea dan Tiongkok entah siapapun itu. Target medali entah apapun warnanya adalah hal yang realistis bagi Greysia/Nitya.
Bila di ganda putri Greysia/Nitya harus mengejar target sendirian. Rasanya tidak demikian untuk ganda campuran maupun ganda putra. Prestasi yang diraih oleh Praveen Jordan/Debby Susanto, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Wahyu Nayaka/Ade Yusuf yang sudah mencicipi perunggu AG, juara Super Series dan GP Gold serta beberapa kali member kejutan melawan pasangan yang lebih diunggulkan membuat harapan agar mereka pulang dengan medali setidaknya perunggu bukanlah hal yang berlebihan. Angga/Ricky misalnya sudah pernah mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan nyaris menembus semifinal WBC 2015 jika tidak kalah tipis melawan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Dua pasangan yang selama ini dikenal stabil menembus babak-babak akhir ganda putra bersama Ahsan/Hendra, Boe/Mogensen dan Fu Haifeng/Zhang Nan. Rekor Debby/Jordan juga tidak bisa dibilang buruk, meski belum pernah meraih juara di turnamen internasional BWF, tapi semifinal All England dan 2 final GP Gold dalam tahun 2015 sejauh ini tentu membuat mereka menjadi kuda hitam, diluar unggulan seperti Owi/Butet dan para peraih medali London.

Bila kondisi saat ini bisa setidaknya dipertahankan, peluru Indonesia dalam memburu medali tidak hanya 3 pasang saja.  Masih ada tujuh bulan masa kualifikasi Rio untuk bulutangkis, semoga tidak ada cedera yang dialami tim Indonesia.