Bulutangkis
-cabang yang pernah menyumbangkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia- kembali
diharapkan mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade Rio tahun depan setelah
pulang dengan tangan kosong dari London 3 tahun lalu. Melihat kondisi saat ini,
banyak orang memberi target pada dua finalis Beijing 2008, Hendra Setiawan dan
Lilyana Natsir yang kali ini membawa partner baru dan Greysia/Nitya yang tahun
lalu meraih medali emas di Asian Games Incheon. Tapi, benarkah harapan medali
bulutangkis di Rio hanya tertumpu pada mereka berenam?

Dari rilis
ranking Race to Rio seusai Thailand Grand Prix Gold, Indonesia masih mungkin
mengirim 2 wakil tunggal putra dengan mempunyai 2 wakil di top 16, terutama
jika Hayom dan Ihsan mampu tampil seperti di Bangkok, hingga akhir April 2016
dan menutup defisit dengan peringkat 16 yang kini berada di kisaran 25-26 ribu
poin. Tetapi, bicara soal medali,
sepertinya sulit karena sejauh ini tunggal putra dikuasai oleh Chen Long, Kento
Momota, Jorgensen, dan Axelsen, apalagi jika Lin Dan dan Lee Chong Wei ikutan
serius di Rio.
Peluang yang
sama beratnya, juga akan dihadapi di nomor tunggal putri. Lindaweni Fanetri
kemungkinan besar menjadi wakil satu-satunya tunggal putrid mengingat hingga
minggu kedua Oktober Bella masih belum turun ke turnamen, pasca cedera di Piala
Sudirman. Linda memang meraih medali
perunggu di kejuaraan dunia Istora kemarin. Medali yang didapat setelah penampilan
luar biasa dalam seminggu, dimana dalam salah satu pertandingan Linda seperti “dirasuki”
Houdini dan menyelamatkan lebih dari 4 matchpoint. Tingkat permainan yang
setidaknya harus diulang Linda jika ingin bersaing dengan Marin, Saina, Sung,
Intanon dan 2 pemain Tiongkok dalam memperebutkan medali Rio.
Soal berjuang
sendiri di Rio, mungkin juga akan dialami Greysia Polii/Nitya Krishinda
Maheswari. Cedera lama yang dialami Rosyita Eka dan belum stabilnya penampilan
ganda putri Indonesia lainnya hingga saat ini, membuat posisi top 8 race to Rio
tampak mustahil diraih ganda kedua Indonesia. Greysia/Nitya yang kini menduduki
peringkat 1 race to Rio setelah meraih Super Series perdana di Korea tentu
ditantang untuk menjaga kondisi dan konsistensi demi undian yang lebih baik.
Greysia/Nitya sebenarnya diuntungkan dengan belum adanya pasangan tetap dari
Korea dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meramu pasangan sehingga
kemungkinan hanya mengirim satu pasangan ke Rio. Tantangan jelas masih banyak,
peraih perak WBC 2015 Pedersen/Rytter-Juhl dan peraih perak AG 2014 Misaki/Ayaka
menjadi dua saingan terberat, belum lagi pasangan Korea dan Tiongkok entah
siapapun itu. Target medali entah apapun warnanya adalah hal yang realistis
bagi Greysia/Nitya.
Bila di ganda putri
Greysia/Nitya harus mengejar target sendirian. Rasanya tidak demikian untuk
ganda campuran maupun ganda putra. Prestasi yang diraih oleh Praveen
Jordan/Debby Susanto, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Wahyu Nayaka/Ade
Yusuf yang sudah mencicipi perunggu AG, juara Super Series dan GP Gold serta
beberapa kali member kejutan melawan pasangan yang lebih diunggulkan membuat harapan
agar mereka pulang dengan medali setidaknya perunggu bukanlah hal yang
berlebihan. Angga/Ricky misalnya sudah pernah mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon
Seong dan nyaris menembus semifinal WBC 2015 jika tidak kalah tipis melawan
Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Dua pasangan yang selama ini dikenal stabil
menembus babak-babak akhir ganda putra bersama Ahsan/Hendra, Boe/Mogensen dan
Fu Haifeng/Zhang Nan. Rekor Debby/Jordan juga tidak bisa dibilang buruk, meski
belum pernah meraih juara di turnamen internasional BWF, tapi semifinal All
England dan 2 final GP Gold dalam tahun 2015 sejauh ini tentu membuat mereka
menjadi kuda hitam, diluar unggulan seperti Owi/Butet dan para peraih medali
London.
Bila kondisi
saat ini bisa setidaknya dipertahankan, peluru Indonesia dalam memburu medali
tidak hanya 3 pasang saja. Masih ada
tujuh bulan masa kualifikasi Rio untuk bulutangkis, semoga tidak ada cedera
yang dialami tim Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar