Tunggal putri, nomor yang paling banyak jumlah negara di top 10 dibanding nomor lain. Sepuluh pemain dari tujuh negara mengisi top 10 pada rilis rank terbaru seusai India Open Super Series. Keragaman yang membuktikan bahwa bulutangkis memang merata dan mendunia. Tapi, bagi beberapa pihak menjadi nomor yang menyedihkan karena tidak ada bendera merah putih disana.
Salah satu faktor besar ketiadaan itu adalah cedera yang dialami ketika bertanding dan kadang terus dipaksakan main sehingga memperparah keadaan. Cedera memang menjadi momok tersendiri bagi tunggal putri Indonesia, karena biasanya setelah sembuhpun, pergerakan mereka tetap terpengaruh dan ujungnya membuat prestasi tunggal putri utama Indonesia tidak optimal. Kondisi ini membuat suara untuk pemain muda menjadi makin besar, tapi apakah hal itu semudah membalik telapak tangan? Tentu ada banyak hal yang harus diperhatikan, beberapa diantaranya mungkin ada dibawah ini
Belajar dari pengalaman, rasanya pelatih dan para pemain terutama tunggal putri harus tahu cara mencegah cedera dan juga tahu kapan harus berhenti jika merasakan cedera, ketimbang memaksakan saat itu dan membuat masa depan bulutangkisnya terhenti. Sering terjadi karena ketatnya pertandingan dan sifat kompetitor, pemain membiarkan aliran adrenaline berkuasa dan mengabaikan tubuh yang sudah mengirim sinyal kuat bahwa tubuh jauh melewati batasnya.
Frekuensi dan tingkat turnamen yang diikuti harus direncanakan dengan baik, karena overburnt ataupun rusty karena frekuensi yang keliru juga membahayakan karir sang pemain. Mental si pemain juga harus siap dengan apa yang kalo di bola basket disebut closing and crunch time mentality, -keadaan dimana seseorang dipercaya bermain dan diyakini mampu berperan dalam kondisi menit2 akhir pertandingan penting ataupun pertandingan dengan skor ketat- dan tentu mental itu tidak akan terbentuk jika punya win loss record negatif tiap tahunnya.
Pola permainan juga menjadi hal penting buat bulutangkis sekarang. Beberapa orang terpaku berharap akan ada titisan Susy Susanti dari segi mental dan permainan tapi mungkin mereka lupa atau mengabaikan bahwa tidak semua pemain bisa bermain dengan pola Susy dan pola itu bukanlah satu-satunya yang berjaya di tunggal putri. Pola kejar bola kemanapun dan kuat-kuatan stamina sebagai senjata utama memang masih dipakai misalnya oleh Nozomi Okuhara, tapi jika melihat top 10 saja setidaknya ada 2 pola lain yang dominan/ Pola attack dan mengandalkan speed power seperti Marin dan PV Sindhu atau pola tactical crafty macam Intanon atau TTY yang sering memunculkan pukulan2 tak terduga..
Dan itu harus disadari bahwa dengan banyak variasi pola main, biarlah setiap pemain menyadari dimana kelebihannya dan memilih pola yang sesuai dengan kelebihannya, sehingga pada akhirnya bulutangkis akan menjadi semakin berwarna dan menarik untuk diikuti.