Jumat, 11 Desember 2015

See You At The Courtside

Comeback Stronger, tulisan yang terpampang pada kaos yang dipasarkan gamepoint production, clothesline milik Greysia Polii. Dan menurut kami, personifikasi terbaik slogan itu selain oleh pemiliknya sendiri adalah Vita Marissa. Ya, Vita Marissa pemain yang segera mengakhiri karir sebagai pemain bulutangkis dan mungkin last act-nya adalah membawa Raffidias Akhdan kembali ke pelatnas :D.

Kenapa kami berpendapat bahwa Vita adalah personifikasi comeback stronger? Perjalanan karirnya sudah jelas memperlihatkan itu. Bahkan, bukan cuma sekali saja Vita membuktikan dia masih sangat kompetitif ketika publik menganggap karirnya sudah tidak mungkin bangkit lagi
.
Cedera panjang dan operasi yang dialami Vita lebih dari satu dekade lalu adalah saat pertama kali namanya masuk ke memori. Cedera yang membuat PBSI kala itu membuat keputusan nekat memasangkan Nova dengan Liliyana yang belum begitu lama jadi juara junior asia. Ketika Nova/Butet langsung meroket, jujur saja pikiran bahwa Vita bakal menjadi sekedar pemain pelatnas sempat terlintas. Dan, Vita bukan saja sukses membuktikan anggapan itu salah, dia sukses menjungkirbalikannya.  Selepas dari cedera, dia mampu lolos ke Olimpiade di 2 nomor sekaligus. Bukan hanya sekedar lolos, di ganda campuran lolos ke semifinal setelah di masa kualifikasi tampil sebagai salah satu top 8 dunia bersama Flandy Limpele, dan di ganda putri lolos setelah sempat menjadi juara di China dan dalam prosesnya merebut hati ribuan (an understatement) orang Indonesia untuk (kembali) tertarik kepada bulutangkis. Dan ketika contract fiasco tahun 2009-2010 yang membuatnya memilih menjadi pemain profesional hingga sekarang, beliau masih mampu menjuarai beberapa turnamen GP Gold dengan berbagai partner, dan dalam bahasanya sendiri, mampu mempersembahkan partnernya bagi bulutangkis Indonesia.

Dan mungkin begitulah Vita Marissa sebagai pemain bulutangkis akan dikenang

Senin, 07 Desember 2015

Dubai 2015: Final Race For End Of Year Ranking

Peringkat satu di akhir tahun, suatu predikat yang cukup bergengsi di tenis, sesuatu yang menunjukkan perkasanya seorang pemain di tahun tersebut. Di bulutangkis -meski tidak terlalu bergengsi- predikat itu jelas melambangkan supremasi dan keamanan terutama untuk kualifikasi Olimpiade. Dominasi Chen Long, Caro Marin, Lee/Yoo dan Zhang/Zhao di turnamen Super Series memastikan mereka bertahta di peringkat 1 untuk beberapa bulan ke depan. Tapi tidak demikian dengan ganda putri yang memiliki 12 juara berbeda di 12 turnamen superseries tahun 2015.

Dengan hanya gelaran Dubai Super Series Final yang tersisa sebagai turnamen besar penutup tahun, masih ada 4 dari 8 peserta Dubai yang terpisah < 4000 poin dan berpeluang menduduki ranking 1 ganda putri pada 31 Desember 2015. Gelar juara Dubai 2015 bagi 1 diantara Christinna/Kamilla, Greysia/Nitya, Luo/Luo atau Misaki/Ayaka akan memastikan ranking 1 ditangan mereka, meski Tian/Zhao, Muskens/Piek, Fukuman/Yonao dan Chae/Kim tentu ingin menggagalkan ambisi itu.

Kondisi ini ditambah masa kualifikasi Rio membuat Dubai menjadi sangat menarik, kedelapan pasangan memiliki agenda besar masing-masing, dan coba kami bahas satu persatu berikut ini.
Bagi Naoko Fukuman/Kurumi Yonao dan Chae Yoo Jung/Kim So Young invitasi ke Dubai berarti ajang unjuk kemampuan sekaligus meyakinkan asosiasi masing-masing bahwa mereka layak bersaing demi tiket Rio sebagai ganda kedua negara mereka, khusus bagi Fukuman/Yonao invitasi ini adalah berkah ganda karena mereka menggantikan Maeda/Kakiiwa yang cedera dan merupakan pesaing langsung mereka secara domestik. Kehadiran dua pasangan eropa, debutan Muskens/Piek yang terus berusaha konsisten bersaing di tingkat atas dan Christinna/Kamilla yang ingin membuktikan bahwa gelar juara eropa mereka yang bertumpuk bisa berbuah juga di tingkat dunia, tentu menambah kesengitan di Dubai.

Untuk Luo/Luo dan Tian/Zhao, mereka memiliki tujuan yang sama dan berbeda di Dubai. Sebagai semifinalis dan finalis tahun lalu, mereka harus setidaknya mampu mempertahankan hasil itu agar tidak dilewati oleh kereta cepat berjudul Tang Yuanting/Yu Yang dalam persaingan menuju olimpiade. Sebagai juara dunia, lolosnya Tian/Zhao bisa dikatakan save by the rule, tapi jika mampu meraih hasil yang baik tentu kerelaan TQ untuk kembali kerja rodi sangatlah tepat. Sementara si kembar bisa menggunakan ajang ini sebagai pembuktian bahwa mereka paling konsisten diantara kereta-kereta cepat paduka, apalagi jika mereka mampu membawa tahta peringkat 1 gand putri kembali ke China.

Dua pasangan terakhir adalah dua pasang yang kini berada di posisi pertama dua jenis ranking BWF yang sedang berjalan. Rank 1 BWF dan juara bertahan Misaki/Ayaka tentu tidak mau begitu saja kehilangan tahtanya. Sementara peringkat 1 race to Rio, Greysia/Nitya ingin menunjukkan bahwa konsistensi mereka sejak Mei layak juga diganjar prestasi terbaik di Dubai sekaligus mengkudeta Misaki/Ayaka dan menjadi ganda putri Indonesia pertama sejak era Superseries yang menjadi peringkat 1 BWF (Note: penulisnya males tracking rank pre-2007).

Dengan persaingan segitu ketatnya maka tidak ada alasan untuk tidak excited menunggu Dubai

Jumat, 04 Desember 2015

Who Will Get a Huge Boost For Rio?

40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.

Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.

Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.

Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.

Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.