40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.
Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.
Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.
Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.
Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Tampilkan postingan dengan label Carolina Marin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Carolina Marin. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Desember 2015
Jumat, 24 April 2015
The All Reject Team of Sudirman Cup
Cookiegate, perselisihan antara dua perusahaan makanan yang membuat 5 pemain utama Denmark harus merelakan diri tidak mengikuti Piala Sudirman 2015 Dongguan. Suatu hal yang jelas mengurangi kekuatan tim Denmark dan membuka peluang tim lain untuk melaju lebih jauh. Tulisan ini tidak akan membahas siapa benar/salah dalam cookiegate, tapi cookie gate ini membuat kami berpikir jika pemain-pemain yang tidak mengikuti grup 1 Piala Sudirman dengan alasan apapun, digabungkan menjadi satu tim, sekuat apakah tim tersebut?
Dengan alasan jadwal Piala Sudirman cukup padat jika seseorang terus bermain rangkap di setiap partai, maka kami menyusun tim ini dengan setidaknya 2 pemain tunggal dan 6 pemain ganda. Di nomor tunggal putra, nama Lee Chong Wei, pantas menjadi pengisi utama tim pengandaian ini, mulurnya proses hearing BWF yang membuat tim Malaysia tidak mengambil resiko mendaftarkan pengoleksi puluhan kursi pijat ini tentu diluar kendali sang pemain. Namun jika ada yang kurang sreg karena kasus belum rampung tersebut, Nguyen Tien Minh layak jadi pelapis/pengganti, toh veteran dari Vietnam ini bersih dan masih memiliki kemampuan untuk bersaing di grup 1. Di tunggal putri, sang juara dunia dan pengisi top 3 dari Eropa, Caro Marin tentu jadi pilihan mutlak, jika juara All England ini menolak, nama Michelle Li, Zhang Beiwen atau Kirsty Gilmour menjadi kandidat pengganti dan pelapis.
Di sektor ganda, para pemain yang terlibat dalam cookiegate, Boe, Fischer-Nielsen, Mogensen, Pedersen dan Rytter-Juhl tentu mengisi 5 spot yang tersedia, apalagi mereka adalah pengisi top 5 di masing-masing sektor. Spot keenam mungkin diberikan kepada Pia Zebadiah, fleksibilitasnya di WD dan XD tentu mengurangi beban Pedersen atau Rytter-Juhl untuk bermain rangkap. 4 sekawan Singapura (Chayut, Danny, Shinta, Vanessa) melapisi keenam punggawa diatas tadi.
Selain nama diatas, siapa yang kira-kira layak mengisi tim tersebut? Yang jelas jika kami diminta membuat tim impian dari seluruh dunia, pilihan tunggal kami akan tetap sama.
Dengan alasan jadwal Piala Sudirman cukup padat jika seseorang terus bermain rangkap di setiap partai, maka kami menyusun tim ini dengan setidaknya 2 pemain tunggal dan 6 pemain ganda. Di nomor tunggal putra, nama Lee Chong Wei, pantas menjadi pengisi utama tim pengandaian ini, mulurnya proses hearing BWF yang membuat tim Malaysia tidak mengambil resiko mendaftarkan pengoleksi puluhan kursi pijat ini tentu diluar kendali sang pemain. Namun jika ada yang kurang sreg karena kasus belum rampung tersebut, Nguyen Tien Minh layak jadi pelapis/pengganti, toh veteran dari Vietnam ini bersih dan masih memiliki kemampuan untuk bersaing di grup 1. Di tunggal putri, sang juara dunia dan pengisi top 3 dari Eropa, Caro Marin tentu jadi pilihan mutlak, jika juara All England ini menolak, nama Michelle Li, Zhang Beiwen atau Kirsty Gilmour menjadi kandidat pengganti dan pelapis.
Di sektor ganda, para pemain yang terlibat dalam cookiegate, Boe, Fischer-Nielsen, Mogensen, Pedersen dan Rytter-Juhl tentu mengisi 5 spot yang tersedia, apalagi mereka adalah pengisi top 5 di masing-masing sektor. Spot keenam mungkin diberikan kepada Pia Zebadiah, fleksibilitasnya di WD dan XD tentu mengurangi beban Pedersen atau Rytter-Juhl untuk bermain rangkap. 4 sekawan Singapura (Chayut, Danny, Shinta, Vanessa) melapisi keenam punggawa diatas tadi.
Selain nama diatas, siapa yang kira-kira layak mengisi tim tersebut? Yang jelas jika kami diminta membuat tim impian dari seluruh dunia, pilihan tunggal kami akan tetap sama.
Senin, 01 September 2014
Copenhagen 2014: Where Dreams and Histories Made
Denmark, negeri Skandinavia yang terkenal dengan dongeng putri duyung itu, seminggu kemarin menyajikan berbagai cerita luar biasa dalam bentuk perjuangan atlet-atlet badminton di Ballerup Super Arena, Copenhagen. Di awal cerita, banyak pahlawan-pahlawan baru bermunculan seperti Anggia/Della, Lee So Hee/Shin Seung Can dan juga pahlawan Viking baru bernama Viktor Axelsen. Tapi, seperti dongeng pada umumnya, drama terseru terjadi di bagian akhir cerita dan itulah yang di Ballerup, minggu kemarin.
Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.
Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh
Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.
Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.
Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.
Drama dibuka oleh cerita seorang wanita yang katanya chubby tapi imut dan menggemaskan serta beberapa kali memberi isyarat akan pensiun bernama Tian Qing akhirnya berhasil memenuhi mimpi untuk menjuarai seluruh turnamen bergengsi bulutangkis. Bersama sidekick bernama Zhao Yunlei, mereka berdua mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang dan membawa gelar dari Copenhagen ini. Gelar ini melengkapi koleksi gelar AG Guangzhou 2010, Birmingham 2012, London 2012 dan beberapa Piala Uber yang sudah diraihnya.
Kisah berlanjut dengan pesan bahwa kepopuleran diantara cewe-cewe tidak membuat seseorang menjadi juara melainkan big game mentality yang akan membawa seseorang menjadi juara. Itu terbukti ketika Robert Horry versi badminton Korea bernama Shin Baek Cheol membantu Ko Sung Hyun mengalahkan mantan yang suka mengabaikannya di lapangan karena merasa dirinya populer Lee Yong Dae. Yang paling kasihan di episode ini sebenarnya Yoo Yeon Seong, udah streak kemenangannya terhenti, tetep juga dicuekin dan dibully LYD dan fansnya #eh
Babak berikut kisah ini mungkin adalah puncak drama Ballerup kemarin itu, seorang pejuang dari negeri selatan yang bertualang ke dinginnya Skandinavia mampu menyelamatkan dunia dengan mengalahkan alien dalam wujud Li Xuerui, setelah berguru di negeri yang katanya banyak gajah berwarna putih itu. Antiknya apa yang dilakukan Carolina Marin ini berlangsung di tanah air dua juara dunia WS dari Eropa yaitu Lene Koppen dan Camilla Martin (yang juga memenanginya di Copenhagen). Kemenangan pejuang selatan yang suka berteriak itu disambut sorak sorai dunia dan mungkin menyebabkan twitter handlenya @caro_marin2 seakan-akan diberi serangan yang pasti meruntuhkan pertahanan sekuat apapun.
Dan ketika dunia belum berhenti bersorak, Sang Naga marah menyerang dan menghancurkan hati sebuah negara di Semenanjung Malaka sana setelah mengalahkan pejuang terbaik mereka. Ketika malam makin larut, Zhao Yunlei kembali ke arena kali ini bersama seseorang yang mungkin akan menjadi pasangan abadinya dan mengulang prestasi Kim Dong Moon yang 15 tahun lalu juga memenangi 2 gelar dan salah satunya bersama Ra Kyung Min istrinya kini.
Panggung Ballerup pun menutup tirainya, kita hanya bisa mengingatnya sambil menunggu apa yang akan disajikan panggung Istora tahun depan.
Label:
badminton,
Carolina Marin,
Copenhagen 2014,
Lee Chong Wei,
Li Xuerui,
Men Singles,
mens doubles,
mixed double.,
women doubles,
women single,
World Championship
Langganan:
Postingan (Atom)


