Selasa, 06 September 2016

Tiada Dominasi di DOME?

Indonesia Masters dimulai Selasa ini di Balikpapan. Sebagai Grand Prix Gold pertama pasca Olimpiade Rio, maka wajar bila turnamen ini sepi Olympian dan lebih banyak pemain muda atau yang sudah lewat masa jayanya.

Ada dua perasaan yang beradu ketika melihat draw baru yang memperhitungkan mundurnya 3 unggulan utama ganda yang semuanya dari Indonesia, ada optimisme bahwa banyak pemain muda Indonesia yang berkembang baik untuk AG Jakarta dan seterusnya tapi di sisi lain ada keraguan jangan2 semua gelar di Balikpapan lepas dari tuan rumah.

Mari kita ulas satu persatu. Di ganda putra, mundurnya Ahsan/Hendra dan cederanya Gideon memang tidak begitu berasa karena masih ada Angga/Ricky dan lapisan pemain bagus dari generasi Kido dan Fran yang 30+ hingga Kevin dan Fajar Alfian yang kurang dari 22 tahun. Tapi apakah mereka punya tenaga setelah "bunuh-bunuhan" untuk menghentikan Huang Kaixiang/Wang Yilyu atau Lim Khim Wah/Ong Jian Guo yang pasti ingin mendapat gelar.

Di ganda campuran, mundurnya Jordan/Debby dan Eko/Anissa membuat Ronald/Melati bersama Hafiz/Shela harus membuktikan kesiapan mereka tampil gemilang di turnamen besar, sesuatu yang selama ini belum terlihat. Jika mereka berempat gagal, berarti publik harus berharap racikan-racikan baru dari Cipayung mampu menghentikan Tan Kian Meng/Lai Pei Jing yang onform dan termotivasi prestasi Chan/Goh ataupun Huang Kaixiang yang mencari dua gelar.

Kemampuan untuk stabil tampil baik di turnamen tingkat atas juga harus ditunjukkan Della/Rosyita dan Tiara/Rizki, dua pasangan yang belakangan memberi harapan mulusnya regenerasi dibawah Greys/Nitya tapi kadang menunjukkan inkonsistensi. Turnamen ini memberi kesempatan bagi mereka untuk mendapat gelar pertama di kelas GPG sekaligus menghentikan upaya beberapa pasangan baru Korea dan China.

Di dua nomor tunggal, terjadi kontradiksi. Di putra, akan menarik melihat bagaimana Jo, Ginting dan Ihsan menyesuaikan mental mereka untuk tampil sebagai yang diunggulkan setelah kerap memberi kejutan sebagai underdog. Di putri, posisi Indonesia tidak mungkin lebih underdog dari ini, dengan menurunkan generasi Jorji, Aurum dan kawan-kawan serta Hana yang paling senior rasanya menembus semifinal saja sudah melampaui ekspektasi mayoritas publik ketika bendera merah putih tidak ada di daftar unggulan.

Jadi, akankah tuan rumah kembali dengan tangan hampa dari DOME?

Selasa, 30 Agustus 2016

As the Euphoria Goes (Tribute to Jakpost)

Jujur, agak kaget tadi pas baca artikel dari Jakpost karena baru kali ini rasanya ada media cetak non olahraga yang melakukan riset cukup mendalam tentang ranking dan siapa-siapa yang berpeluang untuk beberapa tahun ke depan di badminton. Maka, saya pikir saya copas sebagian artikel itu kesini sebagai penghargaan kepada Jakpost dan Niken Prathivi sebagai penulis.

It is time now for other members of the national badminton team, especially the younger generation, to wake up and smell the coffee and do the hard deals. They have four years before the 2020 Tokyo Games to develop their technical skills and follow in the footsteps of Tontowi and Liliyana.

All of this can be shaped by participating in numerous individual international competitions as well as regional multi-sport events such as the 2017 Southeast Asian (SEA) Games in Kuala Lumpur and 2018 Asian Games at home. These two regional events will serve as ideal stepping stones toward the Tokyo Olympics.

Taking advantage as hosts in the 2018 Asian Games, Indonesian badminton players should push themselves to win more golds as this will give a boost to their morale ahead of the 2020 Olympics.

Indonesian Badminton Association (PBSI) chief Gita Wirjawan retains his faith that the country is looking at three future stars in the men’s singles with a potential to win medals in Tokyo. They are Ihsan Maulana Mustofa, Jonatan Christie and Anthony Sinisuka Ginting, respectively junior world No. 17, 22 and 30.

The three displayed maturity beyond their ages when helping Indonesia triumph in the 2016 Asia Championships men’s team competition and the 2015 SEA Games men’s team event.

In fact, doubles events have become the dependable sector for the Indonesian badminton team in winning Olympic medals ever since the historic 1992 Barcelona Games.

Indonesia, however, may not be able to pin too much hope of taking over the baton from Tontowi and Liliyana on the country’s second-best mixed doubles team of Praveen Jordan and Debby Susanto, who lost in the quarterfinals in Rio. Debby, 27, has bid farewell to the Olympics.

This makes it even trickier as the ranking gap between Praveen/Debby and the younger teams is quite big. Ronald Alexander and Melati Daeva Oktavianti are currently number 19, while, Riky Widianto and Richi Puspita Dili are 28th. Both pairs, however, are still under the radar.

In the women’s doubles, the most famous pair is fourth-ranked Nitya Krishinda Maheswari and Greysia Polii, who finished the group stage but crashed out in the quarterfinals in Rio. But Nitya will be 31 and Greysia 33 when the Tokyo Olympics take place. They have done quite well so far, but may not be fit for such a competitive event as the Olympics.

Climbing up the ranking ladder behind Nitya/Greysia are No. 19 Anggia Shitta Awanda and Ni Ketut Mahadewi Istirani, as well as No. 20 Della Destiara Haris and Rosyita Eka Putri Sari.

In the men’s doubles, the PBSI reckons on Marcus Fernaldi Gideon and Kevin Sanjaya Sukamuljo at No. 11 and Angga Pratama and Ricky Karanda Suwardi at No. 13. The two pairs hint at a promising future. They are in the PBSI’s grooming program to layer fifth-ranked Hendra Setiawan and Mohammad Ahsan, who performed poorly in Rio.

Sadly, the women’s singles is still a big challenge for Indonesian badminton to deal with. With Maria Febe Kusumastuti as the only shuttler in the top 30 list, the PBSI needs to go the extra mile and scout for talent, hopefully under the legendary Susi Susanti.

Anything can happen in the coming four years, but nothing is going to dim the Indonesian badminton players’ love of donning the national colors and winning in the Olympics.

Artikel lengkapnya, bisa kalian baca di http://www.thejakartapost.com/news/2016/08/29/let-s-not-take-olympic-badminton-gold-granted.html

Jumat, 12 Agustus 2016

Cerita Riau Di Rio

Riau Ega Agatha Salsabila, apa yang terlintas ketika pertama membaca nama tersebut? Pas pertama kali baca kami pikir Ega lahir di Riau, ternyata tidak, pemanah ini berasal dari Blitar, Jawa Timur yang ribuan kilometer jauhnya dari Riau. Yang pasti perhatian banyak pecinta olahraga Indonesia entah di Blitar, Riau atau dimanapun juga akan tertuju ke Ega saat dia tampil di Sambodromo pada hari ketujuh olimpiade Rio 2016.

Sambodromo, tempat dimana para penari samba terbaik berkumpul untuk seminggu ini menjadi arena para gladiator beradu dengan busur dan panah. Setelah 3 emas melayang ke Korea, 14 pemanah putra pasti berusaha agar tidak ada sapu bersih dan terinspirasi Ega yang mengalahkan pemanah utama Korea senin lalu. Memang suatu kejutan tapi tentu Ega ingin tidak hanya sekedar memuluskan jalan orang lain menuju podium melainkan dia sendiri ikut berdiri di podium. Untuk mewujudkan harapan itu, pertama-tama Ega harus tampil lebih baik dari Mauro Nespoli. Nespoli sendiri tak asing dengan podium Olimpiade, 4 tahun lalu di Lord's cricket ground bersama Marco Galliazo dan Michelle Frangili berdiri di podium tertinggi sambil membawa bendera merah putih hijau vertikal.

Apapun hasil pada hari terakhir di Sambodromo yang diraih Ega, dia sudah mencatatkan diri sebagai 1 dari 16 pemanah putra terbaik dunia. Dan melihat antusiasme masyarakat menanti penampilan Ega serta membludaknya penonton 3 srikandi, ini adalah momentum bagi seluruh jajaran Perpani untuk mempopulerkan lagi panahan di anak muda Indonesia agar penantian medali olimpiade kedua atau ketiga tidak perlu menunggu 20 tahun lebih lamanya dari sekarang.

Semoga

Sabtu, 23 Juli 2016

Preview Kontingen ASEAN di Rio

Olimpiade Rio akan berlangsung kira-kira setengah bulan lagi Ya, dalam periode satu purnama secara astronomi para arlet terbaik dunia dari berbagai cabang akan berkumpul dan berkompetisi untuk pertama kalinya di belahan bumi yang dikenal sebagai Amerika Selatan. Ngomongin soal setengah, tulisan ini akan membahas prestasi Olimpiade dari negara-negara yang wilayahnya berada dalam zona waktu yang berbeda kira-kira setengah hari dari Rio de Janeiro, yaitu Asia tenggara. (Disclaimer: Asia timur juga di zona waktu yang sama tapi diabaikan krn prestasinya udah ketinggian)

Demi keringkasan tulisan (kaya entry blog ini pernah panjang aja), maka negara yang dibahas hanyalah negara pendiri ASEAN. Negara ASEAN pertama yang berpartisipasi di Olimpiade adalah Filipina, Filipina juga yang pertama kali meraih medali melalui Teofilo Yldefonso pada Amsterdam 1928. Negara Manny Pacquiao ini belum pernah mendapat emas Olimpiade, dua kesempatan terdekat dengan emas didapat ketika dua petinju mereka kalah di final Tokyo dan Atlanta. Dan seperti sebelumnya, negara yang mengirim 12 atlet di 7 cabor ke Rio ini berharap akan ada medali dari ring tinju. Negara kedua setelah Filipina yang meraih medali adalah Singapura di Roma 1960 lewat perak angkat besi. Mereka harus menunggu 48 tahun sebelum datangnya medali kedua lewat Feng Tianwei dan kawan-kawan yang menjadi warga negara Singapura lewat program pencarian bakat, Feng Tianwei yang mencari emas untuk melengkapi perak dan perunggu dari 2 OG sebelumnya akan menjadi andalan Singapura selain rekan-rekannya sesama atlet pingpong.Satu pendiri ASEAN lagi yang masih mencari emas pertama adalah Malaysia. Malaysia yang baru meraih medali bersamaan dengan masuknya badminton ke olimpiade, tentu berharap salah satu pebulutangkis mereka atau Pandelela Rinong berhasil memulai pendulangan emas di Olimpiade, meski mereka bisa kasih pembelaan bahwa puasa emas karena IOC ngga approve squash :D

Indonesia dan Thailand, dua negara yang sama2 pertama kali ikut Olimpiade di Helsinki 52 dan sama2 pernah meraih emas di Olimpiade, menyikapi kegagalan mereka meraih emas di London 2012 dengan cara agak berbeda. Thailand peraih 7 medali emas (terbanyak seASEAN sampai sekarang) mencoba meraih kembali tradisi emas itu lewat banyak cabang, seperti Ratchanok Intanon rank 4 BWF, Peamwilai Laopeam dan Wutichai Masuk peraih medali kejuaraan dunia tinju terakhir, lifter peraih perak OG London Pimsiri Sirikaew, dan pegolf nomor 7 dunia Ariya Jutanugarn. Sementara Indonesia mengandalkan bulutangkis untuk mengembalikan tradisi emas dengan bantuan para lifter angkat besi yang berburu emas pertama setelah 3 perak 5 perunggu sejak Sydney. Indonesia juga berharap medali dari cabang panahan, cabang pertama yg meraih medali OG bagi Indonesia di Seoul (film biopiknya bentar lagi rilis, ini bukan bajer biarpun ngarep #eh)

Siapa yang bakal menjadi negara ASEAN tersukses di Rio masih teka teki, semoga banyak medali yang diraih atlet Asia Tenggara.

NB: posisi Indonesia yang dulu mengaku diri sebagai raja sport ASEAN sudah disusul Thailand. Pertanyaannya mau mulai mengejar ketinggalan sekarang atau tunggu disusul negara ASEAN yg inisialnya sama dengan negeri gajah putih?

Rabu, 29 Juni 2016

Menyoal level turnamen

Chinese Taipei Grand Prix Gold sudah dimulai hari ini. Bagi negara yang industrinya maju seperti Taiwan, rasanya tidak sulit bagi panitia lokal untuk menarik sponsor guna menaikkan gengsi turnamen GP Gold ini menjadi Super Series ataupun SSP toh hall mereka juga sangat memadai dengan 5 court. Tapi mereka memilih mempertahankan status turnamen sebagai GPG dan menambah satu turnamen Grand Prix lainnya ketimbang menaikkan turnamen menjadi label Super Series. Hal ini, membuat kami bertanya, kira-kira apa ya yang mempengaruhi panitia negara manapun untuk memilih bidding untuk menjadi host turnamen di level mana?

Suatu negara memang boleh menyelenggarakan lebih dari 1 turnamen senior yang masuk ke kalender BWF tapi kita bicara turnamen utamanya dulu deh. Australia misalnya, sebagai negara terbaru yang menyelenggarakan turnamen Super Series, suatu hal yang aneh tapi mereka mau itu supaya badminton bisa lebih populer disana. Mereka tahu tuan rumah tidak akan bisa bicara banyak, tapi semoga permainan para pemain top yang datang dapat membuat banyak penonton tertarik dan mulai menseriusi badminton lalu menjadi bintang dalam sekian tahun kemudian, pemikiran jangka panjang yang masuk akal meskipun secara short term terlihat absurd. Lalu ada India yang melakukan bidding Super Series setelah kesuksesan Saina Nehwal meraih medali di Olimpiade, mereka meyakinkan sponsor bahwa kesuksesan Saina harus diperlihatkan juga di negeri sendiri dan ujungnya memancing munculnya pemain-pemain lokal lain yang juga termotivasi untuk sukses. Taipei tetap di GPG mungkin karena mereka yakin inilah cara terbaik mengembangkan banyak pemain muda yang mereka miliki.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan beberapa pemain top 10, keberanian sponsor dan antusiasme Istora membuat penyelenggaraan Super Series Premier di Indonesia menjadi tontonan yang sangat layak diperhatikan. Karena SSP memang biasanya diisi lineup pemain terbaik, wajar jika lebih banyak pemain muda Indonesia yang bersaing di Indonesia GP Gold. Tapi, sayangnya Indonesia GPG yang dimaksudkan sebagai ajang pemain muda sekaligus penyebaran ke daerah entah kenapa kurang gaungnya. Entah karena panpel atau sponsor yang enggan, atau masyarakat awam yang memang sudah tidak peduli olahraga? Atau kombinasi semuanya, ada yang bisa jawab?

Jumat, 06 Mei 2016

No Complacency in 2016, Please

Beberapa hari belakangan, di timeline twitter banyak berseliweran twit tentang Civil War dan Ada Apa Dengan Cinta 2, dua film baru yang memang layak mendapat perhatian karena plot ceritanya. Tapi bagi penulis yang baru nonton film jika muncul di televisi, 2 film terlintas di ingatan justru Rocky III dan Mighty Ducks 2.

Dua film sekuel dengan tema sport ini menarik karena ada kemiripan cerita disitu. Rocky Balboa dan Gordon Bombay sama-sama tampil di awal film sebagai seorang yang berhasil dari sekuel sebelumnya dan terlihat seperti meremehkan tantangan berikut yang ada.Beruntung bagi mereka berdua, mereka sadar/disadarkan akan hal itu dan mampu membalikkan keadaan, tapi di dunia nyata tidaklah selalu demikian.

Banyak contoh kasus di dunia nyata, dimana momentum berpindah karena complacency. Heat-Mavs pada NBA finals 2011 misalnya ketika Terry justru semangat ketika Heat sudah melakukan selebrasi kemenangan meski masih ada menit tersisa di game keempat, atau mungkin juga Milan pada turun minum Istanbul 2005. Di badminton, jangan tanya berapa kasus pemain sudah mencapai MP di game 2, kalah lalu hilang di game penentuan.

Olimpiade Rio 2016 yang akan berlangsung sekitar 4 bulan lagi harusnya menjadi tujuan puncak dari semua atlet, tapi apakah semua atlet akan memiliki fokus yang tepat pada saat itu? belum tentu. Bisa jadi, akan ada pemain yang merasa ah udah lolos ke OG kok, lalu menurunkan fokus dan justru dikejutkan di Rio karena telat memfokuskan diri lagi. Atau mungkin, akan ada juga pemain yang sudah puas dengan hasil baik sebelum Rio dan seperti Gordon Bombay, lupa bahwa ada hal yang lebih besar di depan mata dan meremehkannya.

Well, demi kami para fans layar kaca ini, semoga saja semua atlet yang tampil di Rio benar2 dalam kondisi terbaik mereka.

Sabtu, 09 April 2016

My View About WS Development

Tunggal putri, nomor yang paling banyak jumlah negara di top 10 dibanding nomor lain. Sepuluh pemain dari tujuh negara mengisi top 10 pada rilis rank terbaru seusai India Open Super Series. Keragaman yang membuktikan bahwa bulutangkis memang merata dan mendunia. Tapi, bagi beberapa pihak menjadi nomor yang menyedihkan karena tidak ada bendera merah putih disana.

Salah satu faktor besar ketiadaan itu adalah cedera yang dialami ketika bertanding dan kadang terus dipaksakan main sehingga memperparah keadaan. Cedera memang menjadi momok tersendiri bagi tunggal putri Indonesia, karena biasanya setelah sembuhpun, pergerakan mereka tetap terpengaruh dan ujungnya membuat prestasi tunggal putri utama Indonesia tidak optimal. Kondisi ini membuat suara untuk pemain muda menjadi makin besar, tapi apakah hal itu semudah membalik telapak tangan? Tentu ada banyak hal yang harus diperhatikan, beberapa diantaranya mungkin ada dibawah ini

Belajar dari pengalaman, rasanya pelatih dan para pemain terutama tunggal putri harus tahu cara mencegah cedera dan juga tahu kapan harus berhenti jika merasakan cedera, ketimbang memaksakan saat itu dan membuat masa depan bulutangkisnya terhenti. Sering terjadi karena ketatnya pertandingan dan sifat kompetitor, pemain membiarkan aliran adrenaline berkuasa dan mengabaikan tubuh yang sudah mengirim sinyal kuat bahwa tubuh jauh melewati batasnya.

Frekuensi dan tingkat turnamen yang diikuti harus direncanakan dengan baik, karena overburnt ataupun rusty karena frekuensi yang keliru juga membahayakan karir sang pemain. Mental si pemain juga harus siap dengan apa yang kalo di bola basket disebut closing and crunch time mentality, -keadaan dimana seseorang dipercaya bermain dan diyakini mampu berperan dalam kondisi menit2 akhir pertandingan penting ataupun pertandingan dengan skor ketat- dan tentu mental itu tidak akan terbentuk jika punya win loss record negatif tiap tahunnya.

Pola permainan juga menjadi hal penting buat bulutangkis sekarang. Beberapa orang terpaku berharap akan ada titisan Susy Susanti dari segi mental dan permainan tapi mungkin mereka lupa atau mengabaikan bahwa tidak semua pemain bisa bermain dengan pola Susy dan pola itu bukanlah satu-satunya yang berjaya di tunggal putri. Pola kejar bola kemanapun dan kuat-kuatan stamina sebagai senjata utama memang masih dipakai misalnya oleh Nozomi Okuhara, tapi jika melihat top 10 saja setidaknya ada 2 pola lain yang dominan/ Pola attack dan mengandalkan speed power seperti Marin dan PV Sindhu atau pola tactical crafty macam Intanon atau TTY yang sering memunculkan pukulan2 tak terduga..

Dan itu harus disadari bahwa dengan banyak variasi pola main, biarlah setiap pemain menyadari dimana kelebihannya dan memilih pola yang sesuai dengan kelebihannya, sehingga pada akhirnya bulutangkis akan menjadi semakin berwarna dan menarik untuk diikuti.