Indonesia Masters dimulai Selasa ini di Balikpapan. Sebagai Grand Prix Gold pertama pasca Olimpiade Rio, maka wajar bila turnamen ini sepi Olympian dan lebih banyak pemain muda atau yang sudah lewat masa jayanya.
Ada dua perasaan yang beradu ketika melihat draw baru yang memperhitungkan mundurnya 3 unggulan utama ganda yang semuanya dari Indonesia, ada optimisme bahwa banyak pemain muda Indonesia yang berkembang baik untuk AG Jakarta dan seterusnya tapi di sisi lain ada keraguan jangan2 semua gelar di Balikpapan lepas dari tuan rumah.
Mari kita ulas satu persatu. Di ganda putra, mundurnya Ahsan/Hendra dan cederanya Gideon memang tidak begitu berasa karena masih ada Angga/Ricky dan lapisan pemain bagus dari generasi Kido dan Fran yang 30+ hingga Kevin dan Fajar Alfian yang kurang dari 22 tahun. Tapi apakah mereka punya tenaga setelah "bunuh-bunuhan" untuk menghentikan Huang Kaixiang/Wang Yilyu atau Lim Khim Wah/Ong Jian Guo yang pasti ingin mendapat gelar.
Di ganda campuran, mundurnya Jordan/Debby dan Eko/Anissa membuat Ronald/Melati bersama Hafiz/Shela harus membuktikan kesiapan mereka tampil gemilang di turnamen besar, sesuatu yang selama ini belum terlihat. Jika mereka berempat gagal, berarti publik harus berharap racikan-racikan baru dari Cipayung mampu menghentikan Tan Kian Meng/Lai Pei Jing yang onform dan termotivasi prestasi Chan/Goh ataupun Huang Kaixiang yang mencari dua gelar.
Kemampuan untuk stabil tampil baik di turnamen tingkat atas juga harus ditunjukkan Della/Rosyita dan Tiara/Rizki, dua pasangan yang belakangan memberi harapan mulusnya regenerasi dibawah Greys/Nitya tapi kadang menunjukkan inkonsistensi. Turnamen ini memberi kesempatan bagi mereka untuk mendapat gelar pertama di kelas GPG sekaligus menghentikan upaya beberapa pasangan baru Korea dan China.
Di dua nomor tunggal, terjadi kontradiksi. Di putra, akan menarik melihat bagaimana Jo, Ginting dan Ihsan menyesuaikan mental mereka untuk tampil sebagai yang diunggulkan setelah kerap memberi kejutan sebagai underdog. Di putri, posisi Indonesia tidak mungkin lebih underdog dari ini, dengan menurunkan generasi Jorji, Aurum dan kawan-kawan serta Hana yang paling senior rasanya menembus semifinal saja sudah melampaui ekspektasi mayoritas publik ketika bendera merah putih tidak ada di daftar unggulan.
Jadi, akankah tuan rumah kembali dengan tangan hampa dari DOME?