Satu gelar, itulah hasil yang didapat tim bulutangkis Indonesia pada turnamen grand prix pertama yang diikuti pasca penyelenggaraan Kejuaraan Dunia di Istora. Hasil yang jelas ditanggapi beragam, kekecewaan di nomor ganda campuran karena tampil nyaris full team tetapi bisa dibilang gagal total, munculnya harapan di ganda putra, tunggal dan juga ganda putri karena para skuad pelapis mulai ada yang menunjukkan prestasi meski bukan juara, dan sedikit kejelasan soal Rio di nomor yang mempersembahkan gelar, yaitu tunggal putra.
Jika menilik susunan ranking BWF terbaru pasca WBC, maka ada 3 negara yang punya peluang besar menempatkan lebih dari satu wakil di 16 besar di akhir masa kualifikasi Rio, sekaligus mengirim dua wakil tunggal putra ke Brazil. Ketiga negara itu adalah China yang saat ini memiliki 4 pemain di deretan 16 besar, serta Denmark dan India yang masing-masing memiliki 3 pemain disana. Diluar mereka, ada Jepang, Korea dan Taiwan yang bisa dianggap kuda hitam dalam kemungkinan mengirim 2 wakil karena memiliki 1 pemain mapan di top 10 dan punya pemain di sekitar top 25 yang mungkin melonjak. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia saat ini memiliki 2 pemain di jajaran top 25 tetapi sangat mungkin disalip dalam perburuan tempat 16 besar jika tampil tidak konsisten. Dengan kondisi itu, ditambah komitmen PBSI yang menyatakan tunggal putra Cipayung lebih fokus menyiapkan regenerasi demi AG 2018 dan Olimpiade Tokyo, maka wajar meski kami berharap ada dua wakil, tapi ekspektasi realistis tunggal putra di Rio adalah 1 wakil. Dan setelah Vietnam GP, siapa saja yang menjadi kandidat kuat, semakin jelas.
Tommy Sugiarto, juara Vietnam GP 2015 menjadi kandidat terkuat karena peringkatnya saat ini yang tertinggi diantara MS Indonesia. Dan gelar ini juga akan membuatnya kembali memasuki top 16 setelah sebelumnya keluar karena tidak mampu mengulang kegemilangan Copenhagen 2014 di Istora. Sekalipun dia berada diluar Pelatnas, tapi dukungan sponsor yang kuat dari Sports Affairs Malaysia harusnya tidak menyulitkan dia memilih turnamen. Asalkan pintar memilih turnamen, konsisten dan tidak cedera, Tommy jelas kandidat terkuat sebagai wakil di Rio.
Pemain Indonesia lainnya yang juga berada di jajaran top 25 adalah Hayom Rumbaka. Juara Vietnam GP 2014 yang sedang mengalami cedera ini harus merelakan mahkotanya lepas tanpa tanding. Mantan tunggal utama Cipayung yang harus kembali ke klub ketika kebijakan regenerasi diterapkan memang harus konsentrasi menyembuhkan cedera harmstring, tapi apabila ia fit seratus persen, tentu tidak sulit bersaing dengan Tommy karena Hayom juga memiliki dukungan finansial besar dari klubnya. Adu konsistensi kedua tunggal putra (non pelatnas) terbaik Indonesia ini tentu layak ditunggu.
Dari kamp Cipayung, meski AG Jakarta dan OG Tokyo dijadikan target utama, tapi tentu peluang menimba pengalaman di Rio, jika didapatkan tentu tidak ditolak. Dua kandidat terbesar dari Cipayung tentu sang pahlawan ketika perempat final piala Sudirman dan satu-satunya MS pelatnas di top 50 saat ini, Jonathan Christie dan Anthony Ginting yang selalu menembus minimal perempat final di 3 turnamen terakhirnya tentu layak dikedepankan. Mereka berdua juga memiliki keuntungan tidak banyak poin yang harus dipertahankan sehingga bila mereka tampil menggila dari sekarang hingga April 2016, bisa saja mereka ikut nyemplung di Rio.
Siapapun yang nantinya ikut ke Rio, semoga menjadi peluru penuh kejutan disana.