Chinese Taipei Grand Prix Gold sudah dimulai hari ini. Bagi negara yang industrinya maju seperti Taiwan, rasanya tidak sulit bagi panitia lokal untuk menarik sponsor guna menaikkan gengsi turnamen GP Gold ini menjadi Super Series ataupun SSP toh hall mereka juga sangat memadai dengan 5 court. Tapi mereka memilih mempertahankan status turnamen sebagai GPG dan menambah satu turnamen Grand Prix lainnya ketimbang menaikkan turnamen menjadi label Super Series. Hal ini, membuat kami bertanya, kira-kira apa ya yang mempengaruhi panitia negara manapun untuk memilih bidding untuk menjadi host turnamen di level mana?
Suatu negara memang boleh menyelenggarakan lebih dari 1 turnamen senior yang masuk ke kalender BWF tapi kita bicara turnamen utamanya dulu deh. Australia misalnya, sebagai negara terbaru yang menyelenggarakan turnamen Super Series, suatu hal yang aneh tapi mereka mau itu supaya badminton bisa lebih populer disana. Mereka tahu tuan rumah tidak akan bisa bicara banyak, tapi semoga permainan para pemain top yang datang dapat membuat banyak penonton tertarik dan mulai menseriusi badminton lalu menjadi bintang dalam sekian tahun kemudian, pemikiran jangka panjang yang masuk akal meskipun secara short term terlihat absurd. Lalu ada India yang melakukan bidding Super Series setelah kesuksesan Saina Nehwal meraih medali di Olimpiade, mereka meyakinkan sponsor bahwa kesuksesan Saina harus diperlihatkan juga di negeri sendiri dan ujungnya memancing munculnya pemain-pemain lokal lain yang juga termotivasi untuk sukses. Taipei tetap di GPG mungkin karena mereka yakin inilah cara terbaik mengembangkan banyak pemain muda yang mereka miliki.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan beberapa pemain top 10, keberanian sponsor dan antusiasme Istora membuat penyelenggaraan Super Series Premier di Indonesia menjadi tontonan yang sangat layak diperhatikan. Karena SSP memang biasanya diisi lineup pemain terbaik, wajar jika lebih banyak pemain muda Indonesia yang bersaing di Indonesia GP Gold. Tapi, sayangnya Indonesia GPG yang dimaksudkan sebagai ajang pemain muda sekaligus penyebaran ke daerah entah kenapa kurang gaungnya. Entah karena panpel atau sponsor yang enggan, atau masyarakat awam yang memang sudah tidak peduli olahraga? Atau kombinasi semuanya, ada yang bisa jawab?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar