Jumat, 12 Agustus 2016

Cerita Riau Di Rio

Riau Ega Agatha Salsabila, apa yang terlintas ketika pertama membaca nama tersebut? Pas pertama kali baca kami pikir Ega lahir di Riau, ternyata tidak, pemanah ini berasal dari Blitar, Jawa Timur yang ribuan kilometer jauhnya dari Riau. Yang pasti perhatian banyak pecinta olahraga Indonesia entah di Blitar, Riau atau dimanapun juga akan tertuju ke Ega saat dia tampil di Sambodromo pada hari ketujuh olimpiade Rio 2016.

Sambodromo, tempat dimana para penari samba terbaik berkumpul untuk seminggu ini menjadi arena para gladiator beradu dengan busur dan panah. Setelah 3 emas melayang ke Korea, 14 pemanah putra pasti berusaha agar tidak ada sapu bersih dan terinspirasi Ega yang mengalahkan pemanah utama Korea senin lalu. Memang suatu kejutan tapi tentu Ega ingin tidak hanya sekedar memuluskan jalan orang lain menuju podium melainkan dia sendiri ikut berdiri di podium. Untuk mewujudkan harapan itu, pertama-tama Ega harus tampil lebih baik dari Mauro Nespoli. Nespoli sendiri tak asing dengan podium Olimpiade, 4 tahun lalu di Lord's cricket ground bersama Marco Galliazo dan Michelle Frangili berdiri di podium tertinggi sambil membawa bendera merah putih hijau vertikal.

Apapun hasil pada hari terakhir di Sambodromo yang diraih Ega, dia sudah mencatatkan diri sebagai 1 dari 16 pemanah putra terbaik dunia. Dan melihat antusiasme masyarakat menanti penampilan Ega serta membludaknya penonton 3 srikandi, ini adalah momentum bagi seluruh jajaran Perpani untuk mempopulerkan lagi panahan di anak muda Indonesia agar penantian medali olimpiade kedua atau ketiga tidak perlu menunggu 20 tahun lebih lamanya dari sekarang.

Semoga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar