Selasa, 23 September 2014

Price (and Reward?) of Regeneration

Pesta olahraga Asia tahun ini kembali ke semenanjung Korea, setelah Seoul dan Busan masing-masing pada tahun 1986 dan 12 tahun lalu, kali ini giliran Incheon menjadi tempat penyelenggaraan ke 17 pesta tersebut. Dan seperti kebiasaan sejak penyelenggaraan di Jakarta lebih dari 50 tahun lalu, bulutangkis kembali menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan.

Ajang beregu yang diadakan dari tanggal 20-23 September ini seperti sejarah yang berulang baik di nomor putri maupun putra. Di nomor putri, pasukan Li Yongbo masih menunjukkan supremasi mereka di sektor ini, bahkan kemenangan untuk kelima kali berurut yang dimulai sejak Bangkok 1998 sepertinya sudah dipastikan bahkan sebelum kompetisi digulirkan. Tebalnya lapisan ganda mereka yang bisa dikombinasikan sedemikian rupa dan ditambah 3 tunggal yang menguasai top 3 ranking BWF bahkan membuat Wang Shixian sebagai peraih emas individual di Guangzhou hanya turun di ajang beregu pada edisi Incheon. Dominasi Bangkok-Incheon ini mengulang dominasi era 1974-1990 yang akhirnya dihentikan oleh tim Korea di Hiroshima ketika China hanya memiliki Zhaoying dan Ge Fei/Gu Jun sebagai senjata yang akhirnya menyumbang 2 medali perunggu di individu, kegagalan di Hiroshima dan direbutnya piala Uber di Jakarta pada tahun itu yang akhirnya membuat China tersadar perlunya sistem yang menjaga aliran regenerasi dan itu masih terjaga setidaknya sampai tahun ini.

Bicara soal regenerasi, hal yang mungkin sulit terwujud di sektor putra. Kedua finalis beregu di Incheon malah memanggil jagoan tunggal masing-masing yang pernah sempat menghilang dari dunia perbulutangkisan. Lin Dan dan Lee Hyun Il sebagai ksatria yang kembali dipanggil ke medan laga pada saat mereka sudah sempat menikmati suasana jauh dari pertempuran memang menunjukkan mereka mampu menjalankan tugas dengan baik dengan memenangi semua laga. Bahkan Hyun Il menyumbang angka penentu yang memastikan Korea kembali menjadi juara beregu putra saat menjadi tuan rumah. Hyun Il bukanlah aktor utama kemenangan Korea kali ini meskipun sebagai penentu, sang aktor utama adalah Son Wan Ho yang meniru jejak Shon Seung Mo di Busan dalam mengalahkan tunggal utama lawan yang jauh diunggulkan. Wan Ho mengalahkan Chen Long yang baru saja ditahbiskan sebagai ksatria terbaik dunia di Copenhagen bulan sebelumnya, seperti Seung Mo yang ketika itu mengalahkan Taufik Hidayat, peringkat satu kala itu.

Taufik Hidayat yang sudah pensiun sejak tahun lalu, mungkin senang dengan regenerasi di tim Indonesia yang menurunkan 2 tunggal dibawah 25 tahun sebagai andalan di Incheon. Meskipun penyebab turunnya mereka adalah sedikit dipaksa, tapi hasil tangan hampa di beregu ini menunjukkan bahwa regenerasi yang sangat terlambat ini memang harus dilakukan daripada membawa kombinasi tunggal yang nyaris sama sejak Doha sampai Incheon. Kegagalan di Incheon ini juga membuka mata bahwa Indonesia perlu memperbanyak dan memperbaiki lapisan tunggalnya baik putra maupun putri, karena sebaik apapun ganda yang dimiliki untuk menjadi juara beregu tetaplah perlu setidaknya dua tunggal yang bisa diandalkan, seperti apa yang ditunjukkan Korea dengan pemanggilan kembali Hyun Il. Dan mencari lapisan tunggal yang diandalkan itu ya lewat proses regenerasi yang baik, bukan ngasal, masa iya kita harus bujuk komodo terakhir versi cobalt di badcentral keluar dari pensiun?

Akhirnya, selamat bagi tim Korea dan China, mari kita menikmati sektor individu dan cabang2 lainnya di pesta Incheon kali ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar