Stabilitas, kata yang sangat tidak familiar bagi sektor tunggal putri Indonesia. Ketidakstabilan itu dimulai dari pos pelatih tunggal putri pelatnas, pos tersebut seperti pos guru pertahanan terhadap ilmu hitam Hogwarts yang selalu berganti di setiap seri buku Harry Potter.
Sejak persiapan Olimpiade Beijing yang akhirnya membawa medali keempat bagi sektor tunggal putri Indonesia, setidaknya ada 5 nama (Hendrawan, Ivana, Liang, Li Mao, Verawati) yang pernah menjadi nakhoda sektor tersebut. Nakhoda yang terus berganti membuat penumpang kapal kebingungan. Kebingungan akan situasi ini setidaknya telah membuat Febe dan Ocoy hanya bisa berstatus sebagai junior potensial tapi tidak merealisasikannya di level senior.
Situasi ganti2 pelatih juga berdampak pada pergantian metode pelatihan yang tentunya meningkatkan resiko cedera. Cedera yang telah menghentikan karier MKY dan cedera pula yang tampaknya menghambat Firda, Linda dan beberapa tunggal putri yang pernah menghuni Cipayung untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Selama tahun ini cedera yang dialami Linda membuatnya lebih sering berada di ruang perawatan ketimbang turnamen, hal itu tentu menjadikan Linda tak mampu mengulang ataupun mendekati prestasinya saat menjadi ranking 11 dunia. Bella pun tak mampu merubah kemenangannya di Naypidaw menjadi momentum yang bertahan lama untuk menjadikannya lebih baik. Harapan justru muncul dari Hana Ramadhini, Gregoria Mariska dan Dinar Dyah serta Ruselli meskipun hanya berupa juara International Challenge dan runner up GP Gold kandang sendiri yang sepi. Dengan hasil demikian, maka penilaian terhadap Marleve dan Sarwendah yang mengepalai kapal tunggal putri Cipayung tentu bukanlah sangat baik.
Prestasi tunggal putri Indonesia di tahun ini memang jauh dari kata sempurna, tapi apapun situasinya, kami berharap di tahun mendatang akan ada stabilitas di tunggal putri Cipayung agar harapan yang mulai muncul tidak lagi hilang terkubur dalam kebingungan terlalu banyak nakhoda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar