Minggu, 06 Juli 2014

A view of sport-media relationship, badminton especially

Media Availability, sesuatu yang sering muncul menjelang NBA All Star ataupun Final. Suatu konsep yang tidak begitu penulis pahami sebenarnya, kenapa NBA "memaksa" bintang2 merekka untuk muncul melayani pers/fans menjelang partai penting ketimang mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pertandingan, toh hasil sebuah pertandingan olahraga ditentukan di lapangan bukan dibalik mikrofon? Tapi gilanya, partai NBA tetep seru dan jumlah fansnya makin meningkat aja dari hari ke hari dan sebagian besar karena peran media yang hadir di media Availability itu.

Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.

Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar