Upacara penutupan Asian Games 17 di Incheon beberapa hari lalu cukup membuat bangga dan menarik perhatian orang Indonesia karena tampilnya kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari upacara itu karena peran Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan berikut di tahun 2018. Kebanggan yang bila berkaca pada hasil prestasi di Incheon kemarin sangat mungkin akan berhenti disana dan tidak berlanjut empat tahun lagi.
Prestasi di Incheon kemarin bahkan bisa dikatakan kebetulan yang sensasional, bagaimana tidak, dari 4 medali emas yang diraih Indonesia hanya satu yang bisa dikatakan sesuai proyeksi yaitu di bulutangkis ganda putra, sisanya adalah 2 medali emas kejutan dari Greysia/Nitya dan Maria Londa serta satu "limpahan" yang didapat oleh Juwita Niza.Emas atau medali kejutan memang bukan hal yang baru bagi di Indonesia di ajang Asian Games, 2010 didapat dari cabang Perahu Naga, 2006 ada dari boling melalui Ryan dan Putty, 2002 ada balap sepeda melalui trio Uyun, Santia dan Risa. Setidaknya itu catatan di milenium ketiga ini, sebelumnya setidaknya ada dua nama Supriati Sutono dan Pino Bahari dengan emas dari cabang masing-masing yang juga membanggakan sekaligus tak terduga.
Emas kejutan sebenarnya menunjukkan bahwa atlet negeri ini punya banyak potensi tapi sayang sering tenggelam karena tiadanya kompetisi atau kompetisi hanya sebatas seremonial tanpa muara yang jelas. Kompetisi disini selama ini sifatnya yang penting ada atau yang penting penonton ramai, banyak atlet kita yang karena jarang berkompetisi akhirnya hanya sekali muncul lalu tenggelam atau kurang maksimal. Ambil contoh bulutangkis, empat puluh persen komposisi Incheon sama dengan Guangzhou 2010, hal yang wajar sebenarnya jika hanya dilihat sekilas, tapi 60 persen pemain baru yang menggantikan pemain yang cedera/pensiun kualitasnya belum sebaik dengan yang digantikan sehingga beregu sampai tidak menghasilkan medali sama sekali. Jika bulutangkis yang diklaim sebagai salah satu olahraga populer di Indonesia dan punya pelatnas berkesinambungan yang baik, transisinya seburuk itu apalagi cabang lain yang tak populer atau pelatnasnya putus nyambung?
Momentum terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games selanjutnya ini harusnya bisa memicu pihak Kemnpora, KONI/KOI dan para induk olahraga untuk benar-benar mengidentifikasi dengan baik cabang-cabang olimpiade yang memiliki potensi prestasi bagi Indonesia sehingga cabang-cabang itulah yang lebih diprioritaskan pembinaan dan kompetisinya sehingga bisa membawa nama Indonesia dengan baik. Ambil contoh Singapura yang memaksimalkan potensi Joseph Schooling di kolam renang atau India dengan atlet menembaknya yang benar-benar bersaing di kejuaraan dunia, jangan sampai kasus Pelti vs Tami Grende atau kasus pengadaan bola boling yang justru menghiasi kembali media olahraga kita.
Semoga di Jakarta 2018 dan seterusnya kami tidak hanya berharap kejutan, atau haruskah kami?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar