Kamis, 20 Agustus 2015

Eyes Lock To Rio

Sepuluh hari yang sangat menyenangkan baru saja terjadi bagi penggemar badminton yang berada di atau bisa melanglang buana ke Jakarta. Bagaimana tidak, 3 sajian yang sangat menarik berlangsung semua disana, mulai dari wbc, legend vision dan dsportforum. Karena gw cuma pengacara yang lagi alim ya cuma bisa ngeliat 3 acara itu via layar tanpa menikmati atmosfernya. Tenang, tulisan ini bukan dimaksud untuk curcol kok, kalian2 yg membaca ini pasti sudah tau bahwa ada kuartet juara Copenhagen yang kembali juara di Istora, selamat kepada mereka dan juga Hendra/Ahsan sebagai juara "baru" di ganda putra, juara dunia setengah hari karena besok siangnya dikalahkan 2 legenda tunggal putra saat legends vision.

Dan, dsportforum, sebagai acara terakhir dari rangkaian 10 hari badmintonoverdose Jakarta, benar-benar menjadi sarana evaluasi hasil kejuaraan dunia sekaligus penjelasan kepada publik sasaran besar berikut dari PBSI yaitu Olimpiade Rio. Banyak pernyataan menarik terlontar disana, karena pihak penyelenggara dengan ciamiknya mampu menghadirkan para stakeholder badminton maupun olahraga Indonesia secara keseluruhan. Salah satu, pernyataan yang dianggap kontroversial di forum itu adalah pernyataan Bapak Gita Wirjawan yang akan mundur dari jabatannya di PBSI, jika bulutangkis gagal meraih medali emas di Pavilion 4 Rio De Janiero tahun depan.

Bagi penulis, pernyataan diatas selain sebagai pernyataan ksatria yang yakin akan memenuhi target 1 emas yang dibebankan, juga sekaligus sinyal bagi semua orang yang berada disitu, -setelah beliau mengutarakan cara pengelolaan PBSI selama ini dan evaluasi WBC- bahwa jajaran PBSI sudah memiliki gambaran langkah yang jelas dalam upaya meraih hasil terbaik di Rio. Pernyataan yang juga semi implisit menarik garis batas antara pihak yang mendukung ataupun merongrong upaya perbaikan dan pencapaian target PBSI.

Target 1 emas memang dibebankan Kemenpora dan KONI/KOI kepada dua pasangan peraih gelar juara dunia 2013, tapi diluar mereka berempat, ada beberapa atlet yang juga punya decent chance for at least a medal jika diberikan kesempatan dan persiapan yang memadai, Daftar atlet berikut disusun berdasar abjad demi memudahkan penulis mengingat :
1. Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi: pasangan ganda putra perempatfinalis kejuaraan dunia kemarin, hasil yang membuktikan mereka mampu bersaing dengan ganda-ganda terbaik dunia, juga menjadi modal mendulang poin supaya menjadi pasangan ganda putra 1A Indonesia di Rio nanti.
2. Della Destiara Harris/Rizky Amelia Pradipta: pasangan baru ini memang belum menunjukkan prestasi apapun, tapi apabila mereka mampu tampil mengejutkan di tur asia timur pertama dan terus konsisten, dengan pembatasan kuota per negara nomor ganda putri jelaslah sangat terbuka.
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari: pasangan yang langsung terpikir oleh penulis sebagai salah satu kandidat kuat peraih medali begitu pengetatan kuota diberlakukan. Bila mereka tetap konsisten dan mampu memperbaiki kelemahan yang ditulis di deridestan.blogspot.com serta memperoleh undian yang favorable, mungkin kejutan Incheon terjadi lagi.
4. Lindaweni Fanetri : Jika cedera yang dideritanya ketika semifinal WBC tidak lama mengganggunya dan undian superseries somehow jarang mempertemukannya dengan top 8, maka bisa saja terjadi de javu Maria Kristin yang membangun momentum dari Istora menuju Beijing 7-8 tahun lalu.

Tentu, peluang atlet2 yang tidak tertulis diatas juga masih ada, mengingat kualifikasi Rio masih panjang, tapi seperti pernyataan Eric Thohir di dsportforum kemarin, persiapan serius menuju Rio memang sudah harus berjalan tanpa perlu mengungkit hasil-hasil yang sudah berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar