Kamis, 06 Agustus 2015

Istora 2015: When Two Streaks Collide

Anaheim, kota yang populer lewat pelatih Gordon Bombay dan tim Mighty Ducks itu, 1 dekade lalu menjadi saksi bisu banyak sejarah bulutangkis. Tempat penyelenggaraan kejuaraan dunia bulutangkis pertama di benua Amerika itu mendapati juara dunia pertama dari Amerika Serikat dan juga foto ikonik dibawah ini.
4 Heavenly Kings On Podium. Credit: badzine.net
Ikonik karena mungkin hanya di Anaheimlah, keempat legenda bulutangkis -yang akan bertemu di Jakarta pada hari kemerdekaan Indonesia- berada di satu podium bersama pada saat kejuaraan tertinggi BWF. Foto diatas juga menjadi foto podium kejuaraan bulutangkis tertinggi BWF dimana seragam merah (kadang dikombinasi kuning) tidak berada di posisi kedua dari kiri.

Ya, sejak Madrid 2006 hingga Copenhagen tahun lalu, podium tertinggi tunggal putra selalu diisi oleh tunggal putra China, entah itu Lin Dan, Chen Jin ataupun Chen Long. Tradisi yang tentunya sangat ingin dilanjutkan oleh Li Yongbo dan seluruh pasukannya tahun ini, meskipun dijamin berat karena tidak ada tunggal putra Tiongkok yang menaklukan Istora sejak Yang Yang nyaris 30 tahun lalu (Xiong Guobao menjadi juara IO 1989 ketika diselenggarakan di Pontianak).Sebuah tradisi kegagalan yang jauh lebih lama ketimbang streak yang dimulai dari Madrid itu, putra-putra negeri tirai bambu memang mungkin ditakdirkan sulit menaklukan Istora, hanya pasangan Awan dan Angin yang mampu menaklukan Istora selain Yang Yang dan Han Jian. 

Dan bila tradisi kering gelar ini berlanjut, ada beberapa kandidat kuat yang tenrunya dengan senang hati mematahkan Madrid streak. Orang paling kanan pada foto diatas barangkali menjadi orang yang paling berharap mematahkan Madrid streak. Sebagai prmain asing tersering yang menapaki podium tertinggi Istora, Lee Chong Wei tentu berharap itu sebagai modal yang cukup untuk kembali menapaki podium tertinggi sekaligus menjadi juara dunia pertama dari Malaysia. Penantang lainnya adalah penguasa terakhir Istora, Kento Momota, atau juga duo Denmark Jorgensen dan Axelsen yang berharap mampu melebihi prestasi Peter Gade. Sementara untuk berharap ada junior yang mengulang prestasi Taufik 2005, lebih baik jangan terlalu berekspektasi. 

Tradisi mana yang akan berlanjut, kita belum tahu, yang pasti WBC Istora adalah sesuatu yang sangat layak dnantikan dan disaksikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar