Jumat, 24 Juli 2015

Taipei Dan Greysia

Chinese Taipei, negara asal salah satu produsen raket terkenal di dunia. Negara yang terkenal dengan keberagaman kulinernya terutama yang berasal dari laut karena terletak di garis balik utara. Taiwan juga dikenal karena berbagai objek wisatanya, baik museum-museum bernuansa sejarah ataupun bangunan tinggi menjulang seperti Taipei Tower. Taipei, sebagai ibukota Taiwan barangkali menjadi kota favorit Greysia Polii karena disanalah Greysia tiga kali mencapai final kejuaraan internasional (paling banyak di satu tempat, setidaknya hingga tulisan ini dibuat)

Tiga kali mencapai final di suatu turnamen dalam jangka waktu lima tahun dan dua diantaranya menjadi juara jelas bukanlah prestasi yang mudah, apalagi bagi nomor ganda putri Indonesia yang jujur saja, lama dianggap hanya sekedar pelengkap penderita. Ya, nomor yang dulu sering kalah pamor ketimbang ganda putra dan campuran yang lebih sering mampu menghasilkan juara-juara internasional. Kamipun baru mulai lebih memperhatikan nomor ini sejak kemenangan penuh keajaiban Greysia/Nitya atas Wang/Yu di Paris 2013, sebelum itu ya kami tau ada tapi menganggapnya "tiada", mengingat dominasi China yang sangat sangat kuat,

Final pertama Greys di Taipei terjadi di tahun 2011 bersama Meiliana Jauhari, salah satu pasangan ganda putri Indonesia yang diproyeksikan mengikuti Olimpiade London. Di final, mereka harus menyerahkan gelar kepada Ha Jung Eun/Kim Min Jung setelah Greysia mengalami cedera bahu sehingga tak bisa meneruskan pertandingan, cedera yang diakuinya sendiri tahun lalu, masih terkadang dirasa sakitnya. Cedera yang mungkin menjadi pertanda awal kisah buruk yang dialami Greys di London meskipun kami yakin kejadian di London hanyalah sebatas strategi memanfaatkan sistem yang banyak kelemahan.

Sempat berada di posisi biasa-biasa saja hingga kemenangan ajaib di Paris itu, final kedua di Taipei, kembali mempertemukan keempat lakon drama di Paris. Tidak seperti di Paris, kali ini Greys/Nitya mampu mengalahkan Wang/Yu dengan straight game dan skor cukup meyakinkan, suatu penampilan yang digambarkan Gill Clark "stunning and revelation performance by Indonesian pair". Kemenangan yang tentunya makin membuat percaya diri dan puncaknya peraihan medali emas Incheon bagi Greys/Nitya.

Final ketiga terjadi 19 Juli 2015, ketika sang juara bertahan kembali berhadapan dengan lawan dari negeri Tirai Bambu setelah lulus dari Liga Universitas Jepang dengan Cum Laude :D. Luo Ying dan Luo Yu menjadi penghalang terakhir yang mampu diatasi sang juara bertahan. Banyak yang berharap bahwa kemenangan ini menjadi pertanda baik untuk WBC Istora bulan depan, tapi sesuai ekspektasi kami yang kami tulis di tulisan sebelum ini, kami berharap kemenangan di Taipei kali ini menjadi salah satu pijakan bagi Greysia/Nitya untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah salah satu kandidat yang sangat layak diperhitungkan dalam perebutan medali Rio 2016.


Tulisan ini dibuat bukan untuk menumbuhkan ekspektasi ataupun memberi beban kepada siapapun, tulisan ini semata2 dibuat sebagai pemenuhan janji ke diri sendiri untuk membuat artikel tentang GP jika menjuarai Taipei GPG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar