Pertama kita bicara soal nama yang selalu muncul di daftar 3 tahun itu, M Ahsan/Hendra Setiawan. Gelar mereka di Malaysia menunjukkan konsistensi mereka, meski tidak sebanyak hasil tahun-tahun sebelumnya. Salah satu hal yang menjadi faktor adalah lawan sudah terbiasa dengan pola permainan mereka, tidak seperti 2013 dimana mereka begitu dominan dan lawan masih kaget dengan gaya mereka. Hal yang wajar, karena kalo kita main video game lawan temen misalnya, pertama kita nemu jurus/jalan rahasia pasti lebih sering menang tapi ketika rahasia itu sudah menjadi rahasia umum maka hasil permainan video game itu makin sulit diprediksi siapa pemenangnya, bergantung pada siapa yang lebih siap dan beruntung ketika bermain.
Lalu tentang nama-nama yang hilang, Kido/Gideon sudah tidak berpasangan lagi dan kini menempuh jalan masing-masing yang baru berbuah QF Superseries dan juara GP. Simon dan Tommy sempat mengalami cedera dan meski belum pernah juara lagi tapi beberapa kali konsisten menembus perempat dan semifinal Superseries. Sementara untuk Owi/Butet rasanya ngga ada yang perlu dituliskan selain semoga masalah mereka, apapun itu akan cepat terselesaikan.
Ada dua nama baru yang muncul tahun ini. Keberhasilan Angga/Ricky di Singapura memberi secercah harapan bagi adanya partner perang sepadan bagi Ahsan/Hendra, dan mereka beberapa kali menunjukkan hal itu meski masih perlu pembuktian konsistensi agar mereka tidak menjadi Markis/Markus berikutnya. Nama kedua adalah Greysia/Nitya yang menjadi salah satu dari 12 pemenang Super Series 2015 di ganda putri, mengingat konsistensi Greysia/Nitya yang nyaris selalu menembus QF dan kini memimpin BWF race to Rio rasanya pr mereka bukanlah konsistensi tapi keberuntungan undian yang sering tidak berpihak dan memaksa mereka bertarung habis-habisan hampir tiap babak sehingga bensin yang dimiliki tidak tersisa di babak-babak akhir.
Yang terakhir, teruntuk nama-nama yang belum pernah muncul di daftar juara. Tunggal putra Cipayung yang memang sedang dalam proses rebuilding, beberapa kali memberi letup kejutan dan memperlihatkan prospek cerah mereka meski belum mencapai podium tertinggi. Tunggal putri, meski mendapatkan perunggu WBC tapi kombinasi cedera, ketidaksiapan dan belum levelnya membuat nomor ini masih harus menunggu proses rebuilding yang lebih lama. Sederetan nama di ganda seperti Kevin/Gideon, Wahyu/Ade, Della/Rosyita, Ketut/Anggia dan Jordan/Debby serta banyak talenta lain yang masih mix n match, menunjukkan bahwa masa depan bulutangkis Indonesia tidaklah begitu buruk, dengan tingkat performa dan kedewasaan mereka saat ini, rasanya hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapat gebrakan yang diinginkan di level Superseries
2015 memang gelap tapi cahaya di ujung terowongan itu juga makin terlihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar