GAGAL dan MENURUN, mungkin itu reaksi yang akan diungkapkan orang menanggapi hasil yang diraih tim Indonesia dalam tur Eropa yang berakhir minggu ini (kecuali Ihsan dan Jo yang akan mengikuti Polish IC). Reaksi yang wajar melihat hasil tanpa gelar yang diraih skuad Cipayung di 3 turnamen utama pembuka musim semi Eropa dibandingkan 2 gelar All England yang diraih tahun lalu. Fakta nirgelar memang menunjukkan turunnya prestasi Indonesia tapi apakah benar kondisi Indonesia dua bulan jelang kualifikasi Olimpiade Rio sedemikian buruknya?
Kualifikasi Rio yang akan dimulai Mei nanti memang salah satu periode penting bagi bulutangkis Indonesia jika ingin menebus kegagalan di London 3 tahun lalu. Dan dari hasil tur eropa yang hanya menghasilkan 3 gelar Austria terbuka kemarin, kami justru semakin yakin bahwa ketimbang hanya mengikutkan pemain proyeksi Olimpiade, PBSI akan lebih bijak jika membuka kompetisi bagi semua pemain dalam top 100 untuk ikut berlomba, setidaknya di Australia dan Indonesia mengingat letak geografis yang mudah dijangkau sehingga biaya tidak terlalu mahal.
Jika patokan top 100 yang disertakan, maka di tunggal putra Simon tidak akan menjadi ksatria tunggal pasukan Cipayung. Simon setidaknya akan didampingi Jonathan yang sedang mendapat momentum dari hasil yang diraihnya sebagai perempatfinalis Swiss kemarin, batas ini juga bisa dilewati Ihsan dan Firman jika mereka tampil cukup baik sebelum pendaftaran Australia Super Series pada pertengahan April. Banyaknya kompetisi ini diharapkan memacu Hayom dan Tommy sebagai dua pebulutangkis terbaik Indonesia untuk tampil baik meskipun berada diluar Cipayung.
Demikian juga dengan tunggal putri, dimana pemain terbaik Indonesia justru berada diluar Cipayung. Firda dan Febe justru menjadi 2 terbaik sementara meski Firda sama sekali belum turun gelanggang hingga tulisan ini dibuat. Memang keterlaluan jika kita berharap terlalu tinggi pada nomor ini, mengingat tidak ada pemain Indonesia yang menembus top 10 dalam 7 tahun terakhir dan inkonsistensi menjadi menu utama nomor yang terus berganti nakhoda ini. Hasil Linda dan Bella di Eropa pun berkata demikian, jika ada secercah harapan atau setidaknya yang membuat kami penasaran adalah bagaimana performa Hana Ramadhini di India SS akhir bulan ini karena dia dan junior2 lainnya tidak terkena efek ganti2 nakhoda dan mungkin pengembangan juniorlah yang menjadi orientasi PBSI kini.
Hasil pengembangan junior yang mulai terlihat di ganda, Gelar juara Fajar/Rian dan Suci/Maretha di Austria, serta penampilan Kevin, dan Rosyita yang menembus 4 besar grand prix gold bersama pasangan masing-masing meskipun belum menginjak usia 21 tahun adalah hal yang luar biasa dan menenangkan hati. Menenangkan hati karena berarti Indonesia tidak perlu memberi seluruh beban di ganda putra dan putri kepada senior macam Ahsan/Hendra dan Greysia/Nitya. Pembagian beban yang mulai merata, mungkin untuk Indonesia baru terjadi di ganda campuran. Dimana Owi/Butet, Jordan/Debby, Riky/Richi bahkan Edi/Gloria mampu bergantian menembus 4 besar setiap turnamen yang diikuti. Keberhasilan itu ditunjukkan dengan satu-satunya gelar GP Gold keatas yang diraih Indonesia sejauh ini di tahun 2015 berasal dari nomor ini, belum lagi rentetan hasil SF dan Finalis lainnya.
Harapannya tentu saja, bukan cuma pemain yang disebutkan diatas yang berprestasi, melainkan semua pemain terutama junior sehingga mereka lebih cepat lapar untuk merasakan gelar juara lagi dan jika banyak talenta yang bersinar, maka eksperimen mencari yang terbaik untuk Rio maupun event2 berikutnya pun lebih mudah dilaksanakan. Dengan cara itu, mungkin bulutangkis Indonesia (makin) berjaya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar