Jumat, 30 Oktober 2015

Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Semifinal, itulah hasil yang diraih oleh Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di Stade de Coubertin minggu lalu. Semifinal kelima yang ditapaki pasangan ini dalam tahun 2015 dan sekaligus mengangkat mereka ke ranking 3 dunia yang merupakan pencapaian terbaik dalam karir mereka sejauh ini. Dan bila melihat barisan bakat di nomor ganda putri yang usianya dibawah Greysia/Nitya, maka tidak salah bila hasil di Paris minggu lalu menjadi momentum penegas kebangkitan ganda putri Indonesia.

Menurut penulis sotoy ini, jika berbicara kebangkitan ganda putri Indonesia -yang disertai pemain dengan nama-nama yang pastinya akan sangat membantu dalam pelajaran mengarang indah- ada beberapa kejadian didalam lapangan yang memicu ataupun memperbesar momentum kebangkitan ini, berikut dibahas satu persatu:

1. Kekompakan dan pencapaian tim Uber Indonesia sebagai finalis ketika menjadi tuan rumah pada tahun 2008 yang membuktikan bahwa putri-putri Indonesia bisa bersaing dan berprestasi di tingkat dunia meski kadang tampil eksentrik di lapangan. Event ini membuat popularitas badminton melonjak karena roadshow tv dimana-mana dan mengkonversi banyak orang apatis menjadi fans.

2. Medali emas SEA Games 2011 yang diraih oleh Anneke Feinya Agustine dan Nitya Krishinda Maheswari. Memang persaingan SEA Games hanyalah sebatas Asia Tenggara, tapi hasil ini setidaknya memunculkan kembali detak prestasi bulutangkis putri Indonesia setelah cederanya peraih medali perunggu Beijing, Maria Kristin Yulianti

3. Keajaiban di Stade de Coubertin 2013. Kejadian di Paris dua tahun lalu yang jauh lebih dahsyat dari aksi Houdini ala Lindaweni Fanetri di Istora Agustus lalu. Meski mirip tapi lawan Greysia/Nitya di Paris adalah ganda putri yang ketika itu masih dianggap monster alien, Wang Xiaoli/Yu Yang. Kemenangan ini menjadi sinyal kehadiran Greysia/Nitya setelah disatukan kembali

4. Gold Incheon 2014. Ketika suatu negara harus menunggu 36 tahun lamanya untuk kembali meraih medali emas, tentu saja prestasi yang diraih Greysia/Nitya di Korea merupakan momentum besar yang patut dilanjutkan dan membangkitkan bulutangkis Indonesia terutama di ganda putri.

5 Gelar SS pertama dan semua rentetan prestasi di 2015, konsistensi yang nantinya akan berbuah ranking 1 dunia bagi Greysia/Nitya, satu hal yang kemungkinan besar akan dibilang impossible oleh Greysians terloyal sekalipun karena memang sangat tidak terduga pada akhir 2014.

Dengan segala momentum yang ada sekarang, semoga ganda putri dan seluruh badminton Indonesia tetap berprestasi pasca Rio 2016.

Kamis, 15 Oktober 2015

Overview Peluang Bulutangkis Indonesia di Rio

Bulutangkis -cabang yang pernah menyumbangkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia- kembali diharapkan mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade Rio tahun depan setelah pulang dengan tangan kosong dari London 3 tahun lalu. Melihat kondisi saat ini, banyak orang memberi target pada dua finalis Beijing 2008, Hendra Setiawan dan Lilyana Natsir yang kali ini membawa partner baru dan Greysia/Nitya yang tahun lalu meraih medali emas di Asian Games Incheon. Tapi, benarkah harapan medali bulutangkis di Rio hanya tertumpu pada mereka berenam?
Dari rilis ranking Race to Rio seusai Thailand Grand Prix Gold, Indonesia masih mungkin mengirim 2 wakil tunggal putra dengan mempunyai 2 wakil di top 16, terutama jika Hayom dan Ihsan mampu tampil seperti di Bangkok, hingga akhir April 2016 dan menutup defisit dengan peringkat 16 yang kini berada di kisaran 25-26 ribu poin.  Tetapi, bicara soal medali, sepertinya sulit karena sejauh ini tunggal putra dikuasai oleh Chen Long, Kento Momota, Jorgensen, dan Axelsen, apalagi jika Lin Dan dan Lee Chong Wei ikutan serius di Rio.
Peluang yang sama beratnya, juga akan dihadapi di nomor tunggal putri. Lindaweni Fanetri kemungkinan besar menjadi wakil satu-satunya tunggal putrid mengingat hingga minggu kedua Oktober Bella masih belum turun ke turnamen, pasca cedera di Piala Sudirman.  Linda memang meraih medali perunggu di kejuaraan dunia Istora kemarin. Medali yang didapat setelah penampilan luar biasa dalam seminggu, dimana dalam salah satu pertandingan Linda seperti “dirasuki” Houdini dan menyelamatkan lebih dari 4 matchpoint. Tingkat permainan yang setidaknya harus diulang Linda jika ingin bersaing dengan Marin, Saina, Sung, Intanon dan 2 pemain Tiongkok dalam memperebutkan medali Rio.
Soal berjuang sendiri di Rio, mungkin juga akan dialami Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Cedera lama yang dialami Rosyita Eka dan belum stabilnya penampilan ganda putri Indonesia lainnya hingga saat ini, membuat posisi top 8 race to Rio tampak mustahil diraih ganda kedua Indonesia. Greysia/Nitya yang kini menduduki peringkat 1 race to Rio setelah meraih Super Series perdana di Korea tentu ditantang untuk menjaga kondisi dan konsistensi demi undian yang lebih baik. Greysia/Nitya sebenarnya diuntungkan dengan belum adanya pasangan tetap dari Korea dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meramu pasangan sehingga kemungkinan hanya mengirim satu pasangan ke Rio. Tantangan jelas masih banyak, peraih perak WBC 2015 Pedersen/Rytter-Juhl dan peraih perak AG 2014 Misaki/Ayaka menjadi dua saingan terberat, belum lagi pasangan Korea dan Tiongkok entah siapapun itu. Target medali entah apapun warnanya adalah hal yang realistis bagi Greysia/Nitya.
Bila di ganda putri Greysia/Nitya harus mengejar target sendirian. Rasanya tidak demikian untuk ganda campuran maupun ganda putra. Prestasi yang diraih oleh Praveen Jordan/Debby Susanto, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Wahyu Nayaka/Ade Yusuf yang sudah mencicipi perunggu AG, juara Super Series dan GP Gold serta beberapa kali member kejutan melawan pasangan yang lebih diunggulkan membuat harapan agar mereka pulang dengan medali setidaknya perunggu bukanlah hal yang berlebihan. Angga/Ricky misalnya sudah pernah mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan nyaris menembus semifinal WBC 2015 jika tidak kalah tipis melawan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Dua pasangan yang selama ini dikenal stabil menembus babak-babak akhir ganda putra bersama Ahsan/Hendra, Boe/Mogensen dan Fu Haifeng/Zhang Nan. Rekor Debby/Jordan juga tidak bisa dibilang buruk, meski belum pernah meraih juara di turnamen internasional BWF, tapi semifinal All England dan 2 final GP Gold dalam tahun 2015 sejauh ini tentu membuat mereka menjadi kuda hitam, diluar unggulan seperti Owi/Butet dan para peraih medali London.

Bila kondisi saat ini bisa setidaknya dipertahankan, peluru Indonesia dalam memburu medali tidak hanya 3 pasang saja.  Masih ada tujuh bulan masa kualifikasi Rio untuk bulutangkis, semoga tidak ada cedera yang dialami tim Indonesia.

Selasa, 01 September 2015

Adu Kebugaran Dan Konsistensi

Satu gelar, itulah hasil yang didapat tim bulutangkis Indonesia pada turnamen grand prix pertama yang diikuti pasca penyelenggaraan Kejuaraan Dunia di Istora. Hasil yang jelas ditanggapi beragam, kekecewaan di nomor ganda campuran karena tampil nyaris full team tetapi bisa dibilang gagal total, munculnya harapan di ganda putra, tunggal dan juga ganda putri karena para skuad pelapis mulai ada yang menunjukkan prestasi meski bukan juara, dan sedikit kejelasan soal Rio di nomor yang mempersembahkan gelar, yaitu tunggal putra.

Jika menilik susunan ranking BWF terbaru pasca WBC, maka ada 3 negara yang punya peluang besar menempatkan lebih dari satu wakil di 16 besar di akhir masa kualifikasi Rio, sekaligus mengirim dua wakil tunggal putra ke Brazil. Ketiga negara itu adalah China yang saat ini memiliki 4 pemain di deretan 16 besar, serta Denmark dan India yang masing-masing memiliki 3 pemain disana. Diluar mereka, ada Jepang, Korea dan Taiwan yang bisa dianggap kuda hitam dalam kemungkinan mengirim 2 wakil karena memiliki 1 pemain mapan di top 10 dan punya pemain di sekitar top 25 yang mungkin melonjak. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia saat ini memiliki 2 pemain di jajaran top 25 tetapi sangat mungkin disalip dalam perburuan tempat 16 besar jika tampil tidak konsisten. Dengan kondisi itu, ditambah komitmen PBSI yang menyatakan tunggal putra Cipayung lebih fokus menyiapkan regenerasi demi AG 2018 dan Olimpiade Tokyo, maka wajar meski kami berharap ada dua wakil, tapi ekspektasi realistis tunggal putra di Rio adalah 1 wakil. Dan setelah Vietnam GP, siapa saja yang menjadi kandidat kuat, semakin jelas.

Tommy Sugiarto, juara Vietnam GP 2015 menjadi kandidat terkuat karena peringkatnya saat ini yang tertinggi diantara MS Indonesia. Dan gelar ini juga akan membuatnya kembali memasuki top 16 setelah sebelumnya keluar karena tidak mampu mengulang kegemilangan Copenhagen 2014 di Istora. Sekalipun dia berada diluar Pelatnas, tapi dukungan sponsor yang kuat dari Sports Affairs Malaysia harusnya tidak menyulitkan dia memilih turnamen. Asalkan pintar memilih turnamen, konsisten dan tidak cedera, Tommy jelas kandidat terkuat sebagai wakil di Rio.

Pemain Indonesia lainnya yang juga berada di jajaran top 25 adalah Hayom Rumbaka. Juara Vietnam GP 2014 yang sedang mengalami cedera ini harus merelakan mahkotanya lepas tanpa tanding. Mantan tunggal utama Cipayung yang harus kembali ke klub ketika kebijakan regenerasi diterapkan memang harus konsentrasi menyembuhkan cedera harmstring, tapi apabila ia fit seratus persen, tentu tidak sulit bersaing dengan Tommy karena Hayom juga memiliki dukungan finansial besar dari klubnya. Adu konsistensi kedua tunggal putra (non pelatnas) terbaik Indonesia ini tentu layak ditunggu.

Dari kamp Cipayung, meski AG Jakarta dan OG Tokyo dijadikan target utama, tapi tentu peluang menimba pengalaman di Rio, jika didapatkan tentu tidak ditolak. Dua kandidat terbesar dari Cipayung tentu sang pahlawan ketika perempat final piala Sudirman dan satu-satunya MS pelatnas di top 50 saat ini, Jonathan Christie dan Anthony Ginting yang selalu menembus minimal perempat final di 3 turnamen terakhirnya tentu layak dikedepankan. Mereka berdua juga memiliki keuntungan tidak banyak poin yang harus dipertahankan sehingga bila mereka tampil menggila dari sekarang hingga April 2016, bisa saja mereka ikut nyemplung di Rio.

Siapapun yang nantinya ikut ke Rio, semoga menjadi peluru penuh kejutan disana.

Kamis, 20 Agustus 2015

Eyes Lock To Rio

Sepuluh hari yang sangat menyenangkan baru saja terjadi bagi penggemar badminton yang berada di atau bisa melanglang buana ke Jakarta. Bagaimana tidak, 3 sajian yang sangat menarik berlangsung semua disana, mulai dari wbc, legend vision dan dsportforum. Karena gw cuma pengacara yang lagi alim ya cuma bisa ngeliat 3 acara itu via layar tanpa menikmati atmosfernya. Tenang, tulisan ini bukan dimaksud untuk curcol kok, kalian2 yg membaca ini pasti sudah tau bahwa ada kuartet juara Copenhagen yang kembali juara di Istora, selamat kepada mereka dan juga Hendra/Ahsan sebagai juara "baru" di ganda putra, juara dunia setengah hari karena besok siangnya dikalahkan 2 legenda tunggal putra saat legends vision.

Dan, dsportforum, sebagai acara terakhir dari rangkaian 10 hari badmintonoverdose Jakarta, benar-benar menjadi sarana evaluasi hasil kejuaraan dunia sekaligus penjelasan kepada publik sasaran besar berikut dari PBSI yaitu Olimpiade Rio. Banyak pernyataan menarik terlontar disana, karena pihak penyelenggara dengan ciamiknya mampu menghadirkan para stakeholder badminton maupun olahraga Indonesia secara keseluruhan. Salah satu, pernyataan yang dianggap kontroversial di forum itu adalah pernyataan Bapak Gita Wirjawan yang akan mundur dari jabatannya di PBSI, jika bulutangkis gagal meraih medali emas di Pavilion 4 Rio De Janiero tahun depan.

Bagi penulis, pernyataan diatas selain sebagai pernyataan ksatria yang yakin akan memenuhi target 1 emas yang dibebankan, juga sekaligus sinyal bagi semua orang yang berada disitu, -setelah beliau mengutarakan cara pengelolaan PBSI selama ini dan evaluasi WBC- bahwa jajaran PBSI sudah memiliki gambaran langkah yang jelas dalam upaya meraih hasil terbaik di Rio. Pernyataan yang juga semi implisit menarik garis batas antara pihak yang mendukung ataupun merongrong upaya perbaikan dan pencapaian target PBSI.

Target 1 emas memang dibebankan Kemenpora dan KONI/KOI kepada dua pasangan peraih gelar juara dunia 2013, tapi diluar mereka berempat, ada beberapa atlet yang juga punya decent chance for at least a medal jika diberikan kesempatan dan persiapan yang memadai, Daftar atlet berikut disusun berdasar abjad demi memudahkan penulis mengingat :
1. Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi: pasangan ganda putra perempatfinalis kejuaraan dunia kemarin, hasil yang membuktikan mereka mampu bersaing dengan ganda-ganda terbaik dunia, juga menjadi modal mendulang poin supaya menjadi pasangan ganda putra 1A Indonesia di Rio nanti.
2. Della Destiara Harris/Rizky Amelia Pradipta: pasangan baru ini memang belum menunjukkan prestasi apapun, tapi apabila mereka mampu tampil mengejutkan di tur asia timur pertama dan terus konsisten, dengan pembatasan kuota per negara nomor ganda putri jelaslah sangat terbuka.
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari: pasangan yang langsung terpikir oleh penulis sebagai salah satu kandidat kuat peraih medali begitu pengetatan kuota diberlakukan. Bila mereka tetap konsisten dan mampu memperbaiki kelemahan yang ditulis di deridestan.blogspot.com serta memperoleh undian yang favorable, mungkin kejutan Incheon terjadi lagi.
4. Lindaweni Fanetri : Jika cedera yang dideritanya ketika semifinal WBC tidak lama mengganggunya dan undian superseries somehow jarang mempertemukannya dengan top 8, maka bisa saja terjadi de javu Maria Kristin yang membangun momentum dari Istora menuju Beijing 7-8 tahun lalu.

Tentu, peluang atlet2 yang tidak tertulis diatas juga masih ada, mengingat kualifikasi Rio masih panjang, tapi seperti pernyataan Eric Thohir di dsportforum kemarin, persiapan serius menuju Rio memang sudah harus berjalan tanpa perlu mengungkit hasil-hasil yang sudah berlalu.

Kamis, 06 Agustus 2015

Istora 2015: When Two Streaks Collide

Anaheim, kota yang populer lewat pelatih Gordon Bombay dan tim Mighty Ducks itu, 1 dekade lalu menjadi saksi bisu banyak sejarah bulutangkis. Tempat penyelenggaraan kejuaraan dunia bulutangkis pertama di benua Amerika itu mendapati juara dunia pertama dari Amerika Serikat dan juga foto ikonik dibawah ini.
4 Heavenly Kings On Podium. Credit: badzine.net
Ikonik karena mungkin hanya di Anaheimlah, keempat legenda bulutangkis -yang akan bertemu di Jakarta pada hari kemerdekaan Indonesia- berada di satu podium bersama pada saat kejuaraan tertinggi BWF. Foto diatas juga menjadi foto podium kejuaraan bulutangkis tertinggi BWF dimana seragam merah (kadang dikombinasi kuning) tidak berada di posisi kedua dari kiri.

Ya, sejak Madrid 2006 hingga Copenhagen tahun lalu, podium tertinggi tunggal putra selalu diisi oleh tunggal putra China, entah itu Lin Dan, Chen Jin ataupun Chen Long. Tradisi yang tentunya sangat ingin dilanjutkan oleh Li Yongbo dan seluruh pasukannya tahun ini, meskipun dijamin berat karena tidak ada tunggal putra Tiongkok yang menaklukan Istora sejak Yang Yang nyaris 30 tahun lalu (Xiong Guobao menjadi juara IO 1989 ketika diselenggarakan di Pontianak).Sebuah tradisi kegagalan yang jauh lebih lama ketimbang streak yang dimulai dari Madrid itu, putra-putra negeri tirai bambu memang mungkin ditakdirkan sulit menaklukan Istora, hanya pasangan Awan dan Angin yang mampu menaklukan Istora selain Yang Yang dan Han Jian. 

Dan bila tradisi kering gelar ini berlanjut, ada beberapa kandidat kuat yang tenrunya dengan senang hati mematahkan Madrid streak. Orang paling kanan pada foto diatas barangkali menjadi orang yang paling berharap mematahkan Madrid streak. Sebagai prmain asing tersering yang menapaki podium tertinggi Istora, Lee Chong Wei tentu berharap itu sebagai modal yang cukup untuk kembali menapaki podium tertinggi sekaligus menjadi juara dunia pertama dari Malaysia. Penantang lainnya adalah penguasa terakhir Istora, Kento Momota, atau juga duo Denmark Jorgensen dan Axelsen yang berharap mampu melebihi prestasi Peter Gade. Sementara untuk berharap ada junior yang mengulang prestasi Taufik 2005, lebih baik jangan terlalu berekspektasi. 

Tradisi mana yang akan berlanjut, kita belum tahu, yang pasti WBC Istora adalah sesuatu yang sangat layak dnantikan dan disaksikan.

Selasa, 28 Juli 2015

ISTORA 2015: ENJOY THE BATTLES

"I am going to enjoy the match" itulah kata-kata yang diucapkan peraih medali emas Atlanta 1996 sekaligus presiden BWF saat ini Poul Erik Hoyer Larsen, setelah 5 klik dalam jangka waktu setengah jam di Museum Bank Indonesia menghasilkan banyak partai yang dijamin akan menguji kekuatan jantung orang-orang yang rela ataupun berani menontonnya.

Ketika undian usai dilaksanakan, banyak mata langsung tertuju ke pool atas undian ganda putra. Bagaimana tidak, peraih emas dua olimpiade terakhir nomor ganda putra Hendra Setiawan dan Fu Haifeng bersama pasangan masing-masing harus berebut 1 tiket dengan pasangan nomor 1 dunia saat ini Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong yang jelas ingin membuktikan diri bahwa gelar nomor 1 mereka bukan hanya sekedar deretan gelar super series tanpa kejuaraan dunia/Olimpiade.

Prestasi dan kemampuan mentereng dari 3 ganda diatas memang sangat diakui dunia, tapi bukan berarti salah satu dari mereka pasti menjadi juara pada kejuaraan badminton internasional terakhir yang mungkin digelar Istora sebelum dipugar. Ganda Taipei penuh kejutan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dan duo raksasa Denmark yang lebih mirip Yao Ming, Mads PK/Mads CP tentu akan mencoba membalikkan prediksi pool atas meski peluang mereka kecil.

Jika pool atas diisi oleh nama-nama yang terbukti punya deretan gelar luar biasa, bukan berarti pool bawah diisi oleh ganda yang biasa-biasa saja. Juara bertahan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol tentu ingin mengulang cerita dongeng mereka di Copenhagen tahun lalu. Penantang utama Ko/Shin di pool bawah, adalah runner up Guangzhou 2013 Boe/Mogensen yang tentunya ingin membuktikan mereka mampu mengulang kejayaan Lars Paaske/Jonas Rasmussen diawal dekade 2000an. Sejujurnya, pool bawah lebih menarik karena juga diisi ganda yang secara usia layak meledak dan meraih kejayaan di Rio 2016 tetapi hingga kini belum/kurang menunjukkan konsistensi untuk menggeser para seniornya sebagai ganda utama negara masing-masing. Ya, nama-nama seperti Goh/Tan, Liu/Qiu, Chai/Hong, Angga/Ricky maupun Wahyu/Ade tentu berharap pencapaian di Istora kali ini mampu menjadi pijakan kuat menuju Rio dan petualangan-petualangan berikutnya.

Kejuaraan dunia mungkin sudah kehilangan sebagian gengsinya karena menjadi ajang tahunan, tapi tingkat persaingan khususnya dinomor ganda putra membuktikan makin meratanya persaingan bulutangkis. Jika kami dipaksa membuat prediksi juara, maka 4 nama yang kami kedepankan, Ko/Shin, Boe/Mogensen, Fu/Zhang dan Ahsan/Hendra karena pengalaman mereka di kejuaraan-kejuaraan penting sebelumnya namun siapapun yang akhirnya dikalungi medali emas 16 Agustus nanti, kami akan dengan sangat lantang berteriak menirukan sang Presiden BWF: WE WILL ENJOY THE MATCHES.

Jumat, 24 Juli 2015

Taipei Dan Greysia

Chinese Taipei, negara asal salah satu produsen raket terkenal di dunia. Negara yang terkenal dengan keberagaman kulinernya terutama yang berasal dari laut karena terletak di garis balik utara. Taiwan juga dikenal karena berbagai objek wisatanya, baik museum-museum bernuansa sejarah ataupun bangunan tinggi menjulang seperti Taipei Tower. Taipei, sebagai ibukota Taiwan barangkali menjadi kota favorit Greysia Polii karena disanalah Greysia tiga kali mencapai final kejuaraan internasional (paling banyak di satu tempat, setidaknya hingga tulisan ini dibuat)

Tiga kali mencapai final di suatu turnamen dalam jangka waktu lima tahun dan dua diantaranya menjadi juara jelas bukanlah prestasi yang mudah, apalagi bagi nomor ganda putri Indonesia yang jujur saja, lama dianggap hanya sekedar pelengkap penderita. Ya, nomor yang dulu sering kalah pamor ketimbang ganda putra dan campuran yang lebih sering mampu menghasilkan juara-juara internasional. Kamipun baru mulai lebih memperhatikan nomor ini sejak kemenangan penuh keajaiban Greysia/Nitya atas Wang/Yu di Paris 2013, sebelum itu ya kami tau ada tapi menganggapnya "tiada", mengingat dominasi China yang sangat sangat kuat,

Final pertama Greys di Taipei terjadi di tahun 2011 bersama Meiliana Jauhari, salah satu pasangan ganda putri Indonesia yang diproyeksikan mengikuti Olimpiade London. Di final, mereka harus menyerahkan gelar kepada Ha Jung Eun/Kim Min Jung setelah Greysia mengalami cedera bahu sehingga tak bisa meneruskan pertandingan, cedera yang diakuinya sendiri tahun lalu, masih terkadang dirasa sakitnya. Cedera yang mungkin menjadi pertanda awal kisah buruk yang dialami Greys di London meskipun kami yakin kejadian di London hanyalah sebatas strategi memanfaatkan sistem yang banyak kelemahan.

Sempat berada di posisi biasa-biasa saja hingga kemenangan ajaib di Paris itu, final kedua di Taipei, kembali mempertemukan keempat lakon drama di Paris. Tidak seperti di Paris, kali ini Greys/Nitya mampu mengalahkan Wang/Yu dengan straight game dan skor cukup meyakinkan, suatu penampilan yang digambarkan Gill Clark "stunning and revelation performance by Indonesian pair". Kemenangan yang tentunya makin membuat percaya diri dan puncaknya peraihan medali emas Incheon bagi Greys/Nitya.

Final ketiga terjadi 19 Juli 2015, ketika sang juara bertahan kembali berhadapan dengan lawan dari negeri Tirai Bambu setelah lulus dari Liga Universitas Jepang dengan Cum Laude :D. Luo Ying dan Luo Yu menjadi penghalang terakhir yang mampu diatasi sang juara bertahan. Banyak yang berharap bahwa kemenangan ini menjadi pertanda baik untuk WBC Istora bulan depan, tapi sesuai ekspektasi kami yang kami tulis di tulisan sebelum ini, kami berharap kemenangan di Taipei kali ini menjadi salah satu pijakan bagi Greysia/Nitya untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah salah satu kandidat yang sangat layak diperhitungkan dalam perebutan medali Rio 2016.


Tulisan ini dibuat bukan untuk menumbuhkan ekspektasi ataupun memberi beban kepada siapapun, tulisan ini semata2 dibuat sebagai pemenuhan janji ke diri sendiri untuk membuat artikel tentang GP jika menjuarai Taipei GPG.