Peringkat satu di akhir tahun, suatu predikat yang cukup bergengsi di tenis, sesuatu yang menunjukkan perkasanya seorang pemain di tahun tersebut. Di bulutangkis -meski tidak terlalu bergengsi- predikat itu jelas melambangkan supremasi dan keamanan terutama untuk kualifikasi Olimpiade. Dominasi Chen Long, Caro Marin, Lee/Yoo dan Zhang/Zhao di turnamen Super Series memastikan mereka bertahta di peringkat 1 untuk beberapa bulan ke depan. Tapi tidak demikian dengan ganda putri yang memiliki 12 juara berbeda di 12 turnamen superseries tahun 2015.
Dengan hanya gelaran Dubai Super Series Final yang tersisa sebagai turnamen besar penutup tahun, masih ada 4 dari 8 peserta Dubai yang terpisah < 4000 poin dan berpeluang menduduki ranking 1 ganda putri pada 31 Desember 2015. Gelar juara Dubai 2015 bagi 1 diantara Christinna/Kamilla, Greysia/Nitya, Luo/Luo atau Misaki/Ayaka akan memastikan ranking 1 ditangan mereka, meski Tian/Zhao, Muskens/Piek, Fukuman/Yonao dan Chae/Kim tentu ingin menggagalkan ambisi itu.
Kondisi ini ditambah masa kualifikasi Rio membuat Dubai menjadi sangat menarik, kedelapan pasangan memiliki agenda besar masing-masing, dan coba kami bahas satu persatu berikut ini.
Bagi Naoko Fukuman/Kurumi Yonao dan Chae Yoo Jung/Kim So Young invitasi ke Dubai berarti ajang unjuk kemampuan sekaligus meyakinkan asosiasi masing-masing bahwa mereka layak bersaing demi tiket Rio sebagai ganda kedua negara mereka, khusus bagi Fukuman/Yonao invitasi ini adalah berkah ganda karena mereka menggantikan Maeda/Kakiiwa yang cedera dan merupakan pesaing langsung mereka secara domestik. Kehadiran dua pasangan eropa, debutan Muskens/Piek yang terus berusaha konsisten bersaing di tingkat atas dan Christinna/Kamilla yang ingin membuktikan bahwa gelar juara eropa mereka yang bertumpuk bisa berbuah juga di tingkat dunia, tentu menambah kesengitan di Dubai.
Untuk Luo/Luo dan Tian/Zhao, mereka memiliki tujuan yang sama dan berbeda di Dubai. Sebagai semifinalis dan finalis tahun lalu, mereka harus setidaknya mampu mempertahankan hasil itu agar tidak dilewati oleh kereta cepat berjudul Tang Yuanting/Yu Yang dalam persaingan menuju olimpiade. Sebagai juara dunia, lolosnya Tian/Zhao bisa dikatakan save by the rule, tapi jika mampu meraih hasil yang baik tentu kerelaan TQ untuk kembali kerja rodi sangatlah tepat. Sementara si kembar bisa menggunakan ajang ini sebagai pembuktian bahwa mereka paling konsisten diantara kereta-kereta cepat paduka, apalagi jika mereka mampu membawa tahta peringkat 1 gand putri kembali ke China.
Dua pasangan terakhir adalah dua pasang yang kini berada di posisi pertama dua jenis ranking BWF yang sedang berjalan. Rank 1 BWF dan juara bertahan Misaki/Ayaka tentu tidak mau begitu saja kehilangan tahtanya. Sementara peringkat 1 race to Rio, Greysia/Nitya ingin menunjukkan bahwa konsistensi mereka sejak Mei layak juga diganjar prestasi terbaik di Dubai sekaligus mengkudeta Misaki/Ayaka dan menjadi ganda putri Indonesia pertama sejak era Superseries yang menjadi peringkat 1 BWF (Note: penulisnya males tracking rank pre-2007).
Dengan persaingan segitu ketatnya maka tidak ada alasan untuk tidak excited menunggu Dubai
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Senin, 07 Desember 2015
Jumat, 04 Desember 2015
Who Will Get a Huge Boost For Rio?
40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.
Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.
Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.
Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.
Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.
Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.
Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.
Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.
Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.
Minggu, 22 November 2015
Catatan Akhir Superseries 2015 Indonesia
Final Hongkong Superseries sedang berlangsung ketika tulisan ini dibuat. Final yang menandai berakhirnya musim Superseries reguler pada tahun 2015. Tahun yang dinilai banyak pihak sebagai bukan tahunnya bulutangkis Indonesia karena hanya meraih 3 gelar SS dari ganda putra dan putri sepanjang tahun. Jumlah yang menurun dibanding 2014 apalagi 2013, tapi benarkah masa depan bulutangkis Indonesia begitu buruk?
Pertama kita bicara soal nama yang selalu muncul di daftar 3 tahun itu, M Ahsan/Hendra Setiawan. Gelar mereka di Malaysia menunjukkan konsistensi mereka, meski tidak sebanyak hasil tahun-tahun sebelumnya. Salah satu hal yang menjadi faktor adalah lawan sudah terbiasa dengan pola permainan mereka, tidak seperti 2013 dimana mereka begitu dominan dan lawan masih kaget dengan gaya mereka. Hal yang wajar, karena kalo kita main video game lawan temen misalnya, pertama kita nemu jurus/jalan rahasia pasti lebih sering menang tapi ketika rahasia itu sudah menjadi rahasia umum maka hasil permainan video game itu makin sulit diprediksi siapa pemenangnya, bergantung pada siapa yang lebih siap dan beruntung ketika bermain.
Lalu tentang nama-nama yang hilang, Kido/Gideon sudah tidak berpasangan lagi dan kini menempuh jalan masing-masing yang baru berbuah QF Superseries dan juara GP. Simon dan Tommy sempat mengalami cedera dan meski belum pernah juara lagi tapi beberapa kali konsisten menembus perempat dan semifinal Superseries. Sementara untuk Owi/Butet rasanya ngga ada yang perlu dituliskan selain semoga masalah mereka, apapun itu akan cepat terselesaikan.
Ada dua nama baru yang muncul tahun ini. Keberhasilan Angga/Ricky di Singapura memberi secercah harapan bagi adanya partner perang sepadan bagi Ahsan/Hendra, dan mereka beberapa kali menunjukkan hal itu meski masih perlu pembuktian konsistensi agar mereka tidak menjadi Markis/Markus berikutnya. Nama kedua adalah Greysia/Nitya yang menjadi salah satu dari 12 pemenang Super Series 2015 di ganda putri, mengingat konsistensi Greysia/Nitya yang nyaris selalu menembus QF dan kini memimpin BWF race to Rio rasanya pr mereka bukanlah konsistensi tapi keberuntungan undian yang sering tidak berpihak dan memaksa mereka bertarung habis-habisan hampir tiap babak sehingga bensin yang dimiliki tidak tersisa di babak-babak akhir.
Yang terakhir, teruntuk nama-nama yang belum pernah muncul di daftar juara. Tunggal putra Cipayung yang memang sedang dalam proses rebuilding, beberapa kali memberi letup kejutan dan memperlihatkan prospek cerah mereka meski belum mencapai podium tertinggi. Tunggal putri, meski mendapatkan perunggu WBC tapi kombinasi cedera, ketidaksiapan dan belum levelnya membuat nomor ini masih harus menunggu proses rebuilding yang lebih lama. Sederetan nama di ganda seperti Kevin/Gideon, Wahyu/Ade, Della/Rosyita, Ketut/Anggia dan Jordan/Debby serta banyak talenta lain yang masih mix n match, menunjukkan bahwa masa depan bulutangkis Indonesia tidaklah begitu buruk, dengan tingkat performa dan kedewasaan mereka saat ini, rasanya hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapat gebrakan yang diinginkan di level Superseries
2015 memang gelap tapi cahaya di ujung terowongan itu juga makin terlihat.
Selasa, 03 November 2015
Mari Berkhayal :D
Rangkaian turnamen Grand Prix Gold keatas yang dilangsungkan di benua biru usai bersamaan dengan berakhirnya final di Saarbucken pada minggu pertama bulan November. Setelah tiga minggu disuguhi aksi badminton yang mampu membuat mata melek meski pada jam yang tidak manusiawi, ada satu nomor yang menarik perhatian yaitu ganda campuran.
Ganda Campuran, nomor dimana Ko Sung Hyun/Kim Ha Na menjadi pemenang terbesar setelah mengoleksi 2 gelar Super Series di eropa dengan mengalahkan dua pasangan terbaik Indonesia di final, sedangkan di final Saarbucken, Mateusiak/Zieba menegaskan comeback mereka dengan gelar Bitburger GP Gold. Dan karena ini menjelang Rio, penulis ingin sedikit berkhayal siapa2 saja yang masuk ke daftar ideal 16 pasangan XD yang ikut Rio, tentu dengan patokan regulasi maksimal 2 pasangan per negara dan ada perwakilan setiap benua, jika memungkinkan.
Pasangan pertama tentu pemenang terbesar tur eropa kemarin, Ko Sung Hyun/Kim Ha Na. Setelah menjadi 1 dari 3 pasangan yang memberikan 6 game final SS(P) eropa yang 4 diantaranya sangat exciting, wajar kiranya kalo pasangan Hercules dan Damsel in Distress asal Korea ini menjadi nominasi pertama. Nominasi kedua adalah, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba. Fakta bahwa Rio 2016 mungkin menjadi Olimpiade kelima, iya KELIMA bagi Mateusiak mestinya sudah cukup menjadi alasan memasukkan mereka sebagai nominator peserta olimpiade impian ini, kalo kurang silakan lihat rekaman final Bitburger dimana Mateusiak dan Zieba yang merupakan ibu 1 anak sangat mendominasi.
Nominator berikutnya dari para runner up, nama Lilyana Natsir jelas sudah menjadi legenda bulutangkis XD dunia dengan gelar juara dunia terbanyak di ganda campuran, wajar jika ia diberikan kesempatan terakhir mengejar emas Olimpiade yang masih belum didapat meski pasangannya menurut kami tidak sebaik saat Beijing. Dua runner up lainnya, Praveen Jordan/Debby Susanto dan Adcocks juga diikutsertakan ke Rio atas dasar penampilan impresif di Stade de Coubertin dan Saarbucken yang hanya kalah dari sang juara dan untuk Adcocks juga demi penyeimbangan ke benua Eropa.
Soal penyeimbangan kekuatan ke Eropa, rasanya perlu mengajak peraih perunggu London Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen selain pasangan yang sama ekspresifnya dengan Joachim yaitu Fuchs/Michels dan perempat finalis WBC 2015 Jacco Arends/Selena Piek untuk menemani Adcocks dan pasangan Polandia mengibarkan panji benua biru. Selain eropa, 1 pasangan Australia dan 2 pasangan benua Amerika juga akan ikut bertanding demi pemerataan dan mencoba menjegal dominasi Asia.
Lalu siapa yang akan mewakili Asia menghadapi 8 penghadang itu? Selain Ko/Kim, Owi/Butet dan Debby/Jordan yang sudah disebut diatas, rasanya kita harus memberi 2 wakil ke China karena mereka memiliki 4 pasangan di top 8 saat ini. Dan 2 pasangan yang dipilih adalah Liu Cheng/Bao Yixin dan Xu Chen/Ma Jin karena menurut kami akan lebih baik mempersilakan Zhang Nan dan Zhao Yunlei berkonsentrasi di MD dan WD. (lagian juga MJ n Yixin lebih eyes pleasing ketimbang ZYL, mengingat Rio nanti jamnya juga ngga manusiawi, ini perlu :p, *kabur sebelum dibantai admin zhangzhao)
3 pasangan sisanya adalah Chan Peng Soon Goh Liu Ying sebagai mantan top 4 dan juga lihat alasan diatas, Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah karena reputasi mereka yang suka menyulitkan dan pernah meraih gelar Super Series. Serta Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam sang legenda Thailand sebagai peserta terakhir.
Sekali lagi, ini hanyalah daftar ideal berdasar khayalan penulis, dan saya ga bakal menggerutu siapapun peraih medalinya jika daftar ini benar terjadi. Kalo punya khayalan sendiri setelah baca ini, silakan share lho :)
Ganda Campuran, nomor dimana Ko Sung Hyun/Kim Ha Na menjadi pemenang terbesar setelah mengoleksi 2 gelar Super Series di eropa dengan mengalahkan dua pasangan terbaik Indonesia di final, sedangkan di final Saarbucken, Mateusiak/Zieba menegaskan comeback mereka dengan gelar Bitburger GP Gold. Dan karena ini menjelang Rio, penulis ingin sedikit berkhayal siapa2 saja yang masuk ke daftar ideal 16 pasangan XD yang ikut Rio, tentu dengan patokan regulasi maksimal 2 pasangan per negara dan ada perwakilan setiap benua, jika memungkinkan.
Pasangan pertama tentu pemenang terbesar tur eropa kemarin, Ko Sung Hyun/Kim Ha Na. Setelah menjadi 1 dari 3 pasangan yang memberikan 6 game final SS(P) eropa yang 4 diantaranya sangat exciting, wajar kiranya kalo pasangan Hercules dan Damsel in Distress asal Korea ini menjadi nominasi pertama. Nominasi kedua adalah, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba. Fakta bahwa Rio 2016 mungkin menjadi Olimpiade kelima, iya KELIMA bagi Mateusiak mestinya sudah cukup menjadi alasan memasukkan mereka sebagai nominator peserta olimpiade impian ini, kalo kurang silakan lihat rekaman final Bitburger dimana Mateusiak dan Zieba yang merupakan ibu 1 anak sangat mendominasi.
Nominator berikutnya dari para runner up, nama Lilyana Natsir jelas sudah menjadi legenda bulutangkis XD dunia dengan gelar juara dunia terbanyak di ganda campuran, wajar jika ia diberikan kesempatan terakhir mengejar emas Olimpiade yang masih belum didapat meski pasangannya menurut kami tidak sebaik saat Beijing. Dua runner up lainnya, Praveen Jordan/Debby Susanto dan Adcocks juga diikutsertakan ke Rio atas dasar penampilan impresif di Stade de Coubertin dan Saarbucken yang hanya kalah dari sang juara dan untuk Adcocks juga demi penyeimbangan ke benua Eropa.
Soal penyeimbangan kekuatan ke Eropa, rasanya perlu mengajak peraih perunggu London Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen selain pasangan yang sama ekspresifnya dengan Joachim yaitu Fuchs/Michels dan perempat finalis WBC 2015 Jacco Arends/Selena Piek untuk menemani Adcocks dan pasangan Polandia mengibarkan panji benua biru. Selain eropa, 1 pasangan Australia dan 2 pasangan benua Amerika juga akan ikut bertanding demi pemerataan dan mencoba menjegal dominasi Asia.
Lalu siapa yang akan mewakili Asia menghadapi 8 penghadang itu? Selain Ko/Kim, Owi/Butet dan Debby/Jordan yang sudah disebut diatas, rasanya kita harus memberi 2 wakil ke China karena mereka memiliki 4 pasangan di top 8 saat ini. Dan 2 pasangan yang dipilih adalah Liu Cheng/Bao Yixin dan Xu Chen/Ma Jin karena menurut kami akan lebih baik mempersilakan Zhang Nan dan Zhao Yunlei berkonsentrasi di MD dan WD. (lagian juga MJ n Yixin lebih eyes pleasing ketimbang ZYL, mengingat Rio nanti jamnya juga ngga manusiawi, ini perlu :p, *kabur sebelum dibantai admin zhangzhao)
3 pasangan sisanya adalah Chan Peng Soon Goh Liu Ying sebagai mantan top 4 dan juga lihat alasan diatas, Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah karena reputasi mereka yang suka menyulitkan dan pernah meraih gelar Super Series. Serta Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam sang legenda Thailand sebagai peserta terakhir.
Sekali lagi, ini hanyalah daftar ideal berdasar khayalan penulis, dan saya ga bakal menggerutu siapapun peraih medalinya jika daftar ini benar terjadi. Kalo punya khayalan sendiri setelah baca ini, silakan share lho :)
Jumat, 30 Oktober 2015
Kebangkitan Ganda Putri Indonesia
Semifinal, itulah hasil yang diraih oleh Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di Stade de Coubertin minggu lalu. Semifinal kelima yang ditapaki pasangan ini dalam tahun 2015 dan sekaligus mengangkat mereka ke ranking 3 dunia yang merupakan pencapaian terbaik dalam karir mereka sejauh ini. Dan bila melihat barisan bakat di nomor ganda putri yang usianya dibawah Greysia/Nitya, maka tidak salah bila hasil di Paris minggu lalu menjadi momentum penegas kebangkitan ganda putri Indonesia.
Menurut penulis sotoy ini, jika berbicara kebangkitan ganda putri Indonesia -yang disertai pemain dengan nama-nama yang pastinya akan sangat membantu dalam pelajaran mengarang indah- ada beberapa kejadian didalam lapangan yang memicu ataupun memperbesar momentum kebangkitan ini, berikut dibahas satu persatu:
Menurut penulis sotoy ini, jika berbicara kebangkitan ganda putri Indonesia -yang disertai pemain dengan nama-nama yang pastinya akan sangat membantu dalam pelajaran mengarang indah- ada beberapa kejadian didalam lapangan yang memicu ataupun memperbesar momentum kebangkitan ini, berikut dibahas satu persatu:
1. Kekompakan dan pencapaian tim Uber Indonesia sebagai finalis ketika menjadi tuan rumah pada tahun 2008 yang membuktikan bahwa putri-putri Indonesia bisa bersaing dan berprestasi di tingkat dunia meski kadang tampil eksentrik di lapangan. Event ini membuat popularitas badminton melonjak karena roadshow tv dimana-mana dan mengkonversi banyak orang apatis menjadi fans.
2. Medali emas SEA Games 2011 yang diraih oleh Anneke Feinya Agustine dan Nitya Krishinda Maheswari. Memang persaingan SEA Games hanyalah sebatas Asia Tenggara, tapi hasil ini setidaknya memunculkan kembali detak prestasi bulutangkis putri Indonesia setelah cederanya peraih medali perunggu Beijing, Maria Kristin Yulianti
3. Keajaiban di Stade de Coubertin 2013. Kejadian di Paris dua tahun lalu yang jauh lebih dahsyat dari aksi Houdini ala Lindaweni Fanetri di Istora Agustus lalu. Meski mirip tapi lawan Greysia/Nitya di Paris adalah ganda putri yang ketika itu masih dianggap monster alien, Wang Xiaoli/Yu Yang. Kemenangan ini menjadi sinyal kehadiran Greysia/Nitya setelah disatukan kembali
4. Gold Incheon 2014. Ketika suatu negara harus menunggu 36 tahun lamanya untuk kembali meraih medali emas, tentu saja prestasi yang diraih Greysia/Nitya di Korea merupakan momentum besar yang patut dilanjutkan dan membangkitkan bulutangkis Indonesia terutama di ganda putri.
5 Gelar SS pertama dan semua rentetan prestasi di 2015, konsistensi yang nantinya akan berbuah ranking 1 dunia bagi Greysia/Nitya, satu hal yang kemungkinan besar akan dibilang impossible oleh Greysians terloyal sekalipun karena memang sangat tidak terduga pada akhir 2014.
Dengan segala momentum yang ada sekarang, semoga ganda putri dan seluruh badminton Indonesia tetap berprestasi pasca Rio 2016.
Kamis, 15 Oktober 2015
Overview Peluang Bulutangkis Indonesia di Rio
Bulutangkis
-cabang yang pernah menyumbangkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia- kembali
diharapkan mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade Rio tahun depan setelah
pulang dengan tangan kosong dari London 3 tahun lalu. Melihat kondisi saat ini,
banyak orang memberi target pada dua finalis Beijing 2008, Hendra Setiawan dan
Lilyana Natsir yang kali ini membawa partner baru dan Greysia/Nitya yang tahun
lalu meraih medali emas di Asian Games Incheon. Tapi, benarkah harapan medali
bulutangkis di Rio hanya tertumpu pada mereka berenam?

Dari rilis
ranking Race to Rio seusai Thailand Grand Prix Gold, Indonesia masih mungkin
mengirim 2 wakil tunggal putra dengan mempunyai 2 wakil di top 16, terutama
jika Hayom dan Ihsan mampu tampil seperti di Bangkok, hingga akhir April 2016
dan menutup defisit dengan peringkat 16 yang kini berada di kisaran 25-26 ribu
poin. Tetapi, bicara soal medali,
sepertinya sulit karena sejauh ini tunggal putra dikuasai oleh Chen Long, Kento
Momota, Jorgensen, dan Axelsen, apalagi jika Lin Dan dan Lee Chong Wei ikutan
serius di Rio.
Peluang yang
sama beratnya, juga akan dihadapi di nomor tunggal putri. Lindaweni Fanetri
kemungkinan besar menjadi wakil satu-satunya tunggal putrid mengingat hingga
minggu kedua Oktober Bella masih belum turun ke turnamen, pasca cedera di Piala
Sudirman. Linda memang meraih medali
perunggu di kejuaraan dunia Istora kemarin. Medali yang didapat setelah penampilan
luar biasa dalam seminggu, dimana dalam salah satu pertandingan Linda seperti “dirasuki”
Houdini dan menyelamatkan lebih dari 4 matchpoint. Tingkat permainan yang
setidaknya harus diulang Linda jika ingin bersaing dengan Marin, Saina, Sung,
Intanon dan 2 pemain Tiongkok dalam memperebutkan medali Rio.
Soal berjuang
sendiri di Rio, mungkin juga akan dialami Greysia Polii/Nitya Krishinda
Maheswari. Cedera lama yang dialami Rosyita Eka dan belum stabilnya penampilan
ganda putri Indonesia lainnya hingga saat ini, membuat posisi top 8 race to Rio
tampak mustahil diraih ganda kedua Indonesia. Greysia/Nitya yang kini menduduki
peringkat 1 race to Rio setelah meraih Super Series perdana di Korea tentu
ditantang untuk menjaga kondisi dan konsistensi demi undian yang lebih baik.
Greysia/Nitya sebenarnya diuntungkan dengan belum adanya pasangan tetap dari
Korea dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meramu pasangan sehingga
kemungkinan hanya mengirim satu pasangan ke Rio. Tantangan jelas masih banyak,
peraih perak WBC 2015 Pedersen/Rytter-Juhl dan peraih perak AG 2014 Misaki/Ayaka
menjadi dua saingan terberat, belum lagi pasangan Korea dan Tiongkok entah
siapapun itu. Target medali entah apapun warnanya adalah hal yang realistis
bagi Greysia/Nitya.
Bila di ganda putri
Greysia/Nitya harus mengejar target sendirian. Rasanya tidak demikian untuk
ganda campuran maupun ganda putra. Prestasi yang diraih oleh Praveen
Jordan/Debby Susanto, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Wahyu Nayaka/Ade
Yusuf yang sudah mencicipi perunggu AG, juara Super Series dan GP Gold serta
beberapa kali member kejutan melawan pasangan yang lebih diunggulkan membuat harapan
agar mereka pulang dengan medali setidaknya perunggu bukanlah hal yang
berlebihan. Angga/Ricky misalnya sudah pernah mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon
Seong dan nyaris menembus semifinal WBC 2015 jika tidak kalah tipis melawan
Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Dua pasangan yang selama ini dikenal stabil
menembus babak-babak akhir ganda putra bersama Ahsan/Hendra, Boe/Mogensen dan
Fu Haifeng/Zhang Nan. Rekor Debby/Jordan juga tidak bisa dibilang buruk, meski
belum pernah meraih juara di turnamen internasional BWF, tapi semifinal All
England dan 2 final GP Gold dalam tahun 2015 sejauh ini tentu membuat mereka
menjadi kuda hitam, diluar unggulan seperti Owi/Butet dan para peraih medali
London.
Bila kondisi
saat ini bisa setidaknya dipertahankan, peluru Indonesia dalam memburu medali
tidak hanya 3 pasang saja. Masih ada
tujuh bulan masa kualifikasi Rio untuk bulutangkis, semoga tidak ada cedera
yang dialami tim Indonesia.
Selasa, 01 September 2015
Adu Kebugaran Dan Konsistensi
Satu gelar, itulah hasil yang didapat tim bulutangkis Indonesia pada turnamen grand prix pertama yang diikuti pasca penyelenggaraan Kejuaraan Dunia di Istora. Hasil yang jelas ditanggapi beragam, kekecewaan di nomor ganda campuran karena tampil nyaris full team tetapi bisa dibilang gagal total, munculnya harapan di ganda putra, tunggal dan juga ganda putri karena para skuad pelapis mulai ada yang menunjukkan prestasi meski bukan juara, dan sedikit kejelasan soal Rio di nomor yang mempersembahkan gelar, yaitu tunggal putra.
Jika menilik susunan ranking BWF terbaru pasca WBC, maka ada 3 negara yang punya peluang besar menempatkan lebih dari satu wakil di 16 besar di akhir masa kualifikasi Rio, sekaligus mengirim dua wakil tunggal putra ke Brazil. Ketiga negara itu adalah China yang saat ini memiliki 4 pemain di deretan 16 besar, serta Denmark dan India yang masing-masing memiliki 3 pemain disana. Diluar mereka, ada Jepang, Korea dan Taiwan yang bisa dianggap kuda hitam dalam kemungkinan mengirim 2 wakil karena memiliki 1 pemain mapan di top 10 dan punya pemain di sekitar top 25 yang mungkin melonjak. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia saat ini memiliki 2 pemain di jajaran top 25 tetapi sangat mungkin disalip dalam perburuan tempat 16 besar jika tampil tidak konsisten. Dengan kondisi itu, ditambah komitmen PBSI yang menyatakan tunggal putra Cipayung lebih fokus menyiapkan regenerasi demi AG 2018 dan Olimpiade Tokyo, maka wajar meski kami berharap ada dua wakil, tapi ekspektasi realistis tunggal putra di Rio adalah 1 wakil. Dan setelah Vietnam GP, siapa saja yang menjadi kandidat kuat, semakin jelas.
Tommy Sugiarto, juara Vietnam GP 2015 menjadi kandidat terkuat karena peringkatnya saat ini yang tertinggi diantara MS Indonesia. Dan gelar ini juga akan membuatnya kembali memasuki top 16 setelah sebelumnya keluar karena tidak mampu mengulang kegemilangan Copenhagen 2014 di Istora. Sekalipun dia berada diluar Pelatnas, tapi dukungan sponsor yang kuat dari Sports Affairs Malaysia harusnya tidak menyulitkan dia memilih turnamen. Asalkan pintar memilih turnamen, konsisten dan tidak cedera, Tommy jelas kandidat terkuat sebagai wakil di Rio.
Pemain Indonesia lainnya yang juga berada di jajaran top 25 adalah Hayom Rumbaka. Juara Vietnam GP 2014 yang sedang mengalami cedera ini harus merelakan mahkotanya lepas tanpa tanding. Mantan tunggal utama Cipayung yang harus kembali ke klub ketika kebijakan regenerasi diterapkan memang harus konsentrasi menyembuhkan cedera harmstring, tapi apabila ia fit seratus persen, tentu tidak sulit bersaing dengan Tommy karena Hayom juga memiliki dukungan finansial besar dari klubnya. Adu konsistensi kedua tunggal putra (non pelatnas) terbaik Indonesia ini tentu layak ditunggu.
Dari kamp Cipayung, meski AG Jakarta dan OG Tokyo dijadikan target utama, tapi tentu peluang menimba pengalaman di Rio, jika didapatkan tentu tidak ditolak. Dua kandidat terbesar dari Cipayung tentu sang pahlawan ketika perempat final piala Sudirman dan satu-satunya MS pelatnas di top 50 saat ini, Jonathan Christie dan Anthony Ginting yang selalu menembus minimal perempat final di 3 turnamen terakhirnya tentu layak dikedepankan. Mereka berdua juga memiliki keuntungan tidak banyak poin yang harus dipertahankan sehingga bila mereka tampil menggila dari sekarang hingga April 2016, bisa saja mereka ikut nyemplung di Rio.
Siapapun yang nantinya ikut ke Rio, semoga menjadi peluru penuh kejutan disana.
Jika menilik susunan ranking BWF terbaru pasca WBC, maka ada 3 negara yang punya peluang besar menempatkan lebih dari satu wakil di 16 besar di akhir masa kualifikasi Rio, sekaligus mengirim dua wakil tunggal putra ke Brazil. Ketiga negara itu adalah China yang saat ini memiliki 4 pemain di deretan 16 besar, serta Denmark dan India yang masing-masing memiliki 3 pemain disana. Diluar mereka, ada Jepang, Korea dan Taiwan yang bisa dianggap kuda hitam dalam kemungkinan mengirim 2 wakil karena memiliki 1 pemain mapan di top 10 dan punya pemain di sekitar top 25 yang mungkin melonjak. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia saat ini memiliki 2 pemain di jajaran top 25 tetapi sangat mungkin disalip dalam perburuan tempat 16 besar jika tampil tidak konsisten. Dengan kondisi itu, ditambah komitmen PBSI yang menyatakan tunggal putra Cipayung lebih fokus menyiapkan regenerasi demi AG 2018 dan Olimpiade Tokyo, maka wajar meski kami berharap ada dua wakil, tapi ekspektasi realistis tunggal putra di Rio adalah 1 wakil. Dan setelah Vietnam GP, siapa saja yang menjadi kandidat kuat, semakin jelas.
Tommy Sugiarto, juara Vietnam GP 2015 menjadi kandidat terkuat karena peringkatnya saat ini yang tertinggi diantara MS Indonesia. Dan gelar ini juga akan membuatnya kembali memasuki top 16 setelah sebelumnya keluar karena tidak mampu mengulang kegemilangan Copenhagen 2014 di Istora. Sekalipun dia berada diluar Pelatnas, tapi dukungan sponsor yang kuat dari Sports Affairs Malaysia harusnya tidak menyulitkan dia memilih turnamen. Asalkan pintar memilih turnamen, konsisten dan tidak cedera, Tommy jelas kandidat terkuat sebagai wakil di Rio.
Pemain Indonesia lainnya yang juga berada di jajaran top 25 adalah Hayom Rumbaka. Juara Vietnam GP 2014 yang sedang mengalami cedera ini harus merelakan mahkotanya lepas tanpa tanding. Mantan tunggal utama Cipayung yang harus kembali ke klub ketika kebijakan regenerasi diterapkan memang harus konsentrasi menyembuhkan cedera harmstring, tapi apabila ia fit seratus persen, tentu tidak sulit bersaing dengan Tommy karena Hayom juga memiliki dukungan finansial besar dari klubnya. Adu konsistensi kedua tunggal putra (non pelatnas) terbaik Indonesia ini tentu layak ditunggu.
Dari kamp Cipayung, meski AG Jakarta dan OG Tokyo dijadikan target utama, tapi tentu peluang menimba pengalaman di Rio, jika didapatkan tentu tidak ditolak. Dua kandidat terbesar dari Cipayung tentu sang pahlawan ketika perempat final piala Sudirman dan satu-satunya MS pelatnas di top 50 saat ini, Jonathan Christie dan Anthony Ginting yang selalu menembus minimal perempat final di 3 turnamen terakhirnya tentu layak dikedepankan. Mereka berdua juga memiliki keuntungan tidak banyak poin yang harus dipertahankan sehingga bila mereka tampil menggila dari sekarang hingga April 2016, bisa saja mereka ikut nyemplung di Rio.
Siapapun yang nantinya ikut ke Rio, semoga menjadi peluru penuh kejutan disana.
Langganan:
Postingan (Atom)