GAGAL dan MENURUN, mungkin itu reaksi yang akan diungkapkan orang menanggapi hasil yang diraih tim Indonesia dalam tur Eropa yang berakhir minggu ini (kecuali Ihsan dan Jo yang akan mengikuti Polish IC). Reaksi yang wajar melihat hasil tanpa gelar yang diraih skuad Cipayung di 3 turnamen utama pembuka musim semi Eropa dibandingkan 2 gelar All England yang diraih tahun lalu. Fakta nirgelar memang menunjukkan turunnya prestasi Indonesia tapi apakah benar kondisi Indonesia dua bulan jelang kualifikasi Olimpiade Rio sedemikian buruknya?
Kualifikasi Rio yang akan dimulai Mei nanti memang salah satu periode penting bagi bulutangkis Indonesia jika ingin menebus kegagalan di London 3 tahun lalu. Dan dari hasil tur eropa yang hanya menghasilkan 3 gelar Austria terbuka kemarin, kami justru semakin yakin bahwa ketimbang hanya mengikutkan pemain proyeksi Olimpiade, PBSI akan lebih bijak jika membuka kompetisi bagi semua pemain dalam top 100 untuk ikut berlomba, setidaknya di Australia dan Indonesia mengingat letak geografis yang mudah dijangkau sehingga biaya tidak terlalu mahal.
Jika patokan top 100 yang disertakan, maka di tunggal putra Simon tidak akan menjadi ksatria tunggal pasukan Cipayung. Simon setidaknya akan didampingi Jonathan yang sedang mendapat momentum dari hasil yang diraihnya sebagai perempatfinalis Swiss kemarin, batas ini juga bisa dilewati Ihsan dan Firman jika mereka tampil cukup baik sebelum pendaftaran Australia Super Series pada pertengahan April. Banyaknya kompetisi ini diharapkan memacu Hayom dan Tommy sebagai dua pebulutangkis terbaik Indonesia untuk tampil baik meskipun berada diluar Cipayung.
Demikian juga dengan tunggal putri, dimana pemain terbaik Indonesia justru berada diluar Cipayung. Firda dan Febe justru menjadi 2 terbaik sementara meski Firda sama sekali belum turun gelanggang hingga tulisan ini dibuat. Memang keterlaluan jika kita berharap terlalu tinggi pada nomor ini, mengingat tidak ada pemain Indonesia yang menembus top 10 dalam 7 tahun terakhir dan inkonsistensi menjadi menu utama nomor yang terus berganti nakhoda ini. Hasil Linda dan Bella di Eropa pun berkata demikian, jika ada secercah harapan atau setidaknya yang membuat kami penasaran adalah bagaimana performa Hana Ramadhini di India SS akhir bulan ini karena dia dan junior2 lainnya tidak terkena efek ganti2 nakhoda dan mungkin pengembangan juniorlah yang menjadi orientasi PBSI kini.
Hasil pengembangan junior yang mulai terlihat di ganda, Gelar juara Fajar/Rian dan Suci/Maretha di Austria, serta penampilan Kevin, dan Rosyita yang menembus 4 besar grand prix gold bersama pasangan masing-masing meskipun belum menginjak usia 21 tahun adalah hal yang luar biasa dan menenangkan hati. Menenangkan hati karena berarti Indonesia tidak perlu memberi seluruh beban di ganda putra dan putri kepada senior macam Ahsan/Hendra dan Greysia/Nitya. Pembagian beban yang mulai merata, mungkin untuk Indonesia baru terjadi di ganda campuran. Dimana Owi/Butet, Jordan/Debby, Riky/Richi bahkan Edi/Gloria mampu bergantian menembus 4 besar setiap turnamen yang diikuti. Keberhasilan itu ditunjukkan dengan satu-satunya gelar GP Gold keatas yang diraih Indonesia sejauh ini di tahun 2015 berasal dari nomor ini, belum lagi rentetan hasil SF dan Finalis lainnya.
Harapannya tentu saja, bukan cuma pemain yang disebutkan diatas yang berprestasi, melainkan semua pemain terutama junior sehingga mereka lebih cepat lapar untuk merasakan gelar juara lagi dan jika banyak talenta yang bersinar, maka eksperimen mencari yang terbaik untuk Rio maupun event2 berikutnya pun lebih mudah dilaksanakan. Dengan cara itu, mungkin bulutangkis Indonesia (makin) berjaya lagi.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Selasa, 17 Maret 2015
Rabu, 11 Maret 2015
A Simple Thank You
Nonton bareng, sesuatu yang lazim dilakukan nyaris setiap minggu bagi acara sepak bola. Tapi pemandangan foto diatas yang diambil pada hari minggu 8 Maret lalu di suatu gedung di Palmerah, belumlah lazim terjadi di Indonesia. Ya foto diatas adalah nonton bareng, nonton bareng final All England 2015 yang diselenggarakan oleh tabloid Bola bersama dengan PAV Organizer. Suatu acara yang semoga memicu menjamurnya acara-acara serupa di masa mendatang.
Kami sendiri terkejut ketika pihak PAV Organizer menghubungi kami dan meminta untuk ikut mempromosikan acara ini. Bagi kami pribadi dan mungkin teman-teman sesama admin akun badminton, acara ini menjadi salah satu cara kami menunjukkan pada pihak-pihak yang membuat jengah dan penuhnya mention kami dengan rengekan, penyesalan atau makian tentang terbatasnya siaran bulutangkis bahwa hal itu bisa diakali. Memang, nobar kali ini diselenggarakan suatiu EO dan tabloid olahraga tapi bukan berarti nobar seperti ini tidak bisa ditiru meskipun berbeda skala oleh para penikmat bulutangkis dimanapun berada dengan nobar di restoran atau warung dengan kompensasi membeli makan/minuman, atau seperti jaman dulu nobar di pos ronda, tentu saja kalo di pos ronda ya iuran tvnya barengan atau ditanggung lurah/rt setempat.
Sekali lagi terima kasih untuk Tabloid Bola dan PAV Organizer sebagai penyelenggara, dan semoga acara di Palmerah kemarin menjadi contoh banyak acara serupa sehingga bulutangkis bisa makin populer.
Pandangan Alternatif Tentang Piala Sudirman
Daftar unggulan Piala Sudirman edisi ke 14 yang akan dilaksanakan di Dongguan China pada 10-17 Mei sudah dirilis. Dalam rilis yang dilakukan BWF pada 10 Maret tersebut, tuan rumah kembali menjadi unggulan pertama, disusul Korea, Denmark dan Jepang di unggulan 4. Final ideal yang menskenariokan China ketemu Korea adalah hal yang bagus karena hanya kedua negara ini yang memiliki pemain top 10 di semua nomor, meskipun jika menilik hasil selama 2015, maka Korea perlu banyak perbaikan jika ingin bersaing di Dongguan.
Denmark dan Jepang, dua negara yang masing-masing punya kelemahan di 1 nomor sehingga hanya memiliki 4 peluru jika ingin menjadi pemegang baru bagi piala yang didedikasikan untuk almarhum Dick Sudirman, tentu harus pandai mengatur strategi untuk menutup kelemahannya. Kedalaman lapisan tunggal Jepang mungkin tak begitu berarti disini mengingat hanya ada 2 partai tunggal, tidak seperti ketika mereka tahun lalu mencetak sejarah dengan merebut piala Thomas pertama kali tahun lalu. Denmark di sisi lain jika mereka mampu mempertahankan form bagus mereka yang dimulai dari EMTC hingga Dongguan nanti, maka ketiadaan WS mumpuni sekaliber Tine Rasmussen bukanlah sesuatu yang sangat berat, bahkan jika All England kemarin menjadi simulasi, partai Denmark vs China akan sangat menjanjikan partai menarik kecuali di tunggal putri tentu saja.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemegang pertama piala yang ada candinya itu menempati unggulan kelima, dan dengan kondisi tunggal yang sedang menurun serta hanya mengandalkan ganda, haruskah Indonesia memilih all out mengikut-sertakan dan memainkan seluruh pemain terbaiknya? Dalam sebuah pandangan alternatif, mungkin sebaiknya hanya Greysia/Nitya, pemain senior yang dimainkan terus. Karakter Greysia yang pantang menyerah dan juga berapi-api seperti yang ia tunjukkan di Jakarta 7 tahun lalu sangat layak untuk menjadikannya pemimpin tim, mengingat senior lainnya seperti Hendra dan Butet jauh dari kata ekspresif apalagi berisik.
Hendra dan Butet memang tetap diikutsertakan tapi hanya diturunkan untuk kepentingan strategi saja, apalagi ganda putra dan ganda campuran tidak seperti ganda putri yang tidak memiliki pelapis yang layak setelah cederanya Rosyita. Memberi kesempatan pada Angga, Debby, Jordan, Kevin dan kawan-kawan untuk sering tampil itu sangat baik karena penting bagi mereka merasakan atmosfer sebenarnya dari partai beregu, sambil menunggu kebangkitan tunggal-tunggal Indonesia pasca Rio, semoga. Lagipula, jika ingin memasang strategi rangkap memasang Kevin di XD (Kevin/Greys atau Kevin/Butet misalnya) dan MD ataupun Greysia di WD dan XD ( atau juga Greys/Owi/Jordan) sepertinya jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa Butet bermain di dua nomor mengingat stamina Kevin ataupun Greysia sudah terbukti mampu bermain rangkap dengan baik.
Sekali lagi ini hanyalah suatu pandangan dari sudut pandang yang agak berbeda, tulisan ini sama sekali tidak mencari pro kontra, yang terpenting bagi kami adalah menikmati seru dan ketidakterdugaan pertandingan.
Denmark dan Jepang, dua negara yang masing-masing punya kelemahan di 1 nomor sehingga hanya memiliki 4 peluru jika ingin menjadi pemegang baru bagi piala yang didedikasikan untuk almarhum Dick Sudirman, tentu harus pandai mengatur strategi untuk menutup kelemahannya. Kedalaman lapisan tunggal Jepang mungkin tak begitu berarti disini mengingat hanya ada 2 partai tunggal, tidak seperti ketika mereka tahun lalu mencetak sejarah dengan merebut piala Thomas pertama kali tahun lalu. Denmark di sisi lain jika mereka mampu mempertahankan form bagus mereka yang dimulai dari EMTC hingga Dongguan nanti, maka ketiadaan WS mumpuni sekaliber Tine Rasmussen bukanlah sesuatu yang sangat berat, bahkan jika All England kemarin menjadi simulasi, partai Denmark vs China akan sangat menjanjikan partai menarik kecuali di tunggal putri tentu saja.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemegang pertama piala yang ada candinya itu menempati unggulan kelima, dan dengan kondisi tunggal yang sedang menurun serta hanya mengandalkan ganda, haruskah Indonesia memilih all out mengikut-sertakan dan memainkan seluruh pemain terbaiknya? Dalam sebuah pandangan alternatif, mungkin sebaiknya hanya Greysia/Nitya, pemain senior yang dimainkan terus. Karakter Greysia yang pantang menyerah dan juga berapi-api seperti yang ia tunjukkan di Jakarta 7 tahun lalu sangat layak untuk menjadikannya pemimpin tim, mengingat senior lainnya seperti Hendra dan Butet jauh dari kata ekspresif apalagi berisik.
Hendra dan Butet memang tetap diikutsertakan tapi hanya diturunkan untuk kepentingan strategi saja, apalagi ganda putra dan ganda campuran tidak seperti ganda putri yang tidak memiliki pelapis yang layak setelah cederanya Rosyita. Memberi kesempatan pada Angga, Debby, Jordan, Kevin dan kawan-kawan untuk sering tampil itu sangat baik karena penting bagi mereka merasakan atmosfer sebenarnya dari partai beregu, sambil menunggu kebangkitan tunggal-tunggal Indonesia pasca Rio, semoga. Lagipula, jika ingin memasang strategi rangkap memasang Kevin di XD (Kevin/Greys atau Kevin/Butet misalnya) dan MD ataupun Greysia di WD dan XD ( atau juga Greys/Owi/Jordan) sepertinya jauh lebih masuk akal ketimbang memaksa Butet bermain di dua nomor mengingat stamina Kevin ataupun Greysia sudah terbukti mampu bermain rangkap dengan baik.
Sekali lagi ini hanyalah suatu pandangan dari sudut pandang yang agak berbeda, tulisan ini sama sekali tidak mencari pro kontra, yang terpenting bagi kami adalah menikmati seru dan ketidakterdugaan pertandingan.
Jumat, 06 Maret 2015
Surprise Aplenty while History Await
Kejutan, kata yang mungkin tepat menggambarkan All England sejauh ini. Bagaimana tidak, sejauh ini di semua nomor ada saja unggulan 1-3 yang harus tersingkir sebelum perempat final malam nanti. Jumlah total unggulan yang tersingkir di turnamen tertua yang dikatakan Lin Dan sebagai kejuaraan dunia mini ini mencapai lebih dari 10. Bahkan satu tiket semifinal sudah pasti diperoleh pemain non unggulan di nomor tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran.
Kejutan terbanyak dan terbesar muncul di ganda putra, 4 ganda unggulan harus angkat koper dari National Indoor Arena sebelum hari jumat. Diantara 4 ganda itu terdapat 2 favorit awal juara, yaitu sang unggulan pertama Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan juara bertahan M Ahsan/Hendra Setiawan. Dua ganda yang mengalahkan mereka, Mads Pieler Kolding/Mads Conrad Petersen dan Fu Haifeng/Zhang Nan kini banyak dijagokan akan menjadi juara baru All England mengingat form pasangan Denmark yang sedang menanjak sejak Jerman dan kualitas individu Fu/Zhang yang merupakan peraih emas olimpiade. Kandidat juara lainnya adalah Mathias Boe/Carsten Mogensen yang biasa menghiasi daftar juara super series bersama dua ganda yang tersingkir itu atau kuda hitam tanpa beban Kevin Sanjaya/Markus Gideon sang pasangan baru yang mungkin bisa menyelamatkan reputasi ganda putra Indonesia yang tampak makin kacau usai kejadian hari kamis yang membuat banyak orang berpikir apakah Hendra/Ahsan mulai menurun.
Jika Indonesia dikejutkan di ganda putra, kejadian sebaliknya terjadi di ganda campuran. Debby/Jordan membuat salah satu fantastic four menelan pil pahit ketika All England belum mencapai hitungan 5 jam. Kemenangan atas Xu Chen/Ma Jin jelas meningkatkan kepercayaan diri Debby/Jordan yang tahun lalu sama sekali tidak merasakan babak utama, meski demikian dalam hal mencapai tahta tampaknya masih belum diperhitungkan. 3 fantastic four tersisa jelas lebih difavoritkan apalagi Butet/Owi yang mengejar quad-trick di negerinya Kate Middleton ini. Penggoyang dominasi fantastic four lebih disematkan pada Mads CP/Kamilla RJ sang juara Jerman atau harapan terbesar tuan rumah Chris/Gabby Adcock yang jelas mendapat dukungan besar publik
Dukungan publik juga akan mengalir untuk Rajiv Ouseph, pemain yang mengalahkan Son Wan Ho ini jelas akan berusaha sejauh mungkin mengukir sejarah meskipun untuk menjadi juara tunggal putra pertama dari Inggris sejak perang dunia kedua tampak seperti mission impossible. Mission Impossible karena di tunggal putra masih ada Lin Dan. Tantangan bagi sang peraih 2 emas olimpiade untuk menggapai gelar keenam hanya akan muncul dari Sang Naga atau manusia penuh tato dari Denmark.
Di dua nomor putri, ada fenomena bertolak belakang atas dominasi China, di tunggal meskipun ada 3 wakil di perempat final tapi ketiadaan Li Xuerui pasti membangkitkan harapan bagi tunggal putri lain untuk mematahkan dominasi China seperti halnya di Dubai akhir tahun lalu. Di ganda, 5 wakil jelas menunjukkan dominasi China, tapi untuk semifinal kami berharap hanya 2 pasangan yang lolos yaitu Tian/Zhao dan Wang/Yu ditemani WD Denmark dan Indonesia, 4ganda yang telah memberi deretan partai klasik bagi ganda putri.
Semoga seiring sejarah yang tercipta banyak kejutan dan partai klasik yang menyertai.
Kejutan terbanyak dan terbesar muncul di ganda putra, 4 ganda unggulan harus angkat koper dari National Indoor Arena sebelum hari jumat. Diantara 4 ganda itu terdapat 2 favorit awal juara, yaitu sang unggulan pertama Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan juara bertahan M Ahsan/Hendra Setiawan. Dua ganda yang mengalahkan mereka, Mads Pieler Kolding/Mads Conrad Petersen dan Fu Haifeng/Zhang Nan kini banyak dijagokan akan menjadi juara baru All England mengingat form pasangan Denmark yang sedang menanjak sejak Jerman dan kualitas individu Fu/Zhang yang merupakan peraih emas olimpiade. Kandidat juara lainnya adalah Mathias Boe/Carsten Mogensen yang biasa menghiasi daftar juara super series bersama dua ganda yang tersingkir itu atau kuda hitam tanpa beban Kevin Sanjaya/Markus Gideon sang pasangan baru yang mungkin bisa menyelamatkan reputasi ganda putra Indonesia yang tampak makin kacau usai kejadian hari kamis yang membuat banyak orang berpikir apakah Hendra/Ahsan mulai menurun.
Jika Indonesia dikejutkan di ganda putra, kejadian sebaliknya terjadi di ganda campuran. Debby/Jordan membuat salah satu fantastic four menelan pil pahit ketika All England belum mencapai hitungan 5 jam. Kemenangan atas Xu Chen/Ma Jin jelas meningkatkan kepercayaan diri Debby/Jordan yang tahun lalu sama sekali tidak merasakan babak utama, meski demikian dalam hal mencapai tahta tampaknya masih belum diperhitungkan. 3 fantastic four tersisa jelas lebih difavoritkan apalagi Butet/Owi yang mengejar quad-trick di negerinya Kate Middleton ini. Penggoyang dominasi fantastic four lebih disematkan pada Mads CP/Kamilla RJ sang juara Jerman atau harapan terbesar tuan rumah Chris/Gabby Adcock yang jelas mendapat dukungan besar publik
Dukungan publik juga akan mengalir untuk Rajiv Ouseph, pemain yang mengalahkan Son Wan Ho ini jelas akan berusaha sejauh mungkin mengukir sejarah meskipun untuk menjadi juara tunggal putra pertama dari Inggris sejak perang dunia kedua tampak seperti mission impossible. Mission Impossible karena di tunggal putra masih ada Lin Dan. Tantangan bagi sang peraih 2 emas olimpiade untuk menggapai gelar keenam hanya akan muncul dari Sang Naga atau manusia penuh tato dari Denmark.
Di dua nomor putri, ada fenomena bertolak belakang atas dominasi China, di tunggal meskipun ada 3 wakil di perempat final tapi ketiadaan Li Xuerui pasti membangkitkan harapan bagi tunggal putri lain untuk mematahkan dominasi China seperti halnya di Dubai akhir tahun lalu. Di ganda, 5 wakil jelas menunjukkan dominasi China, tapi untuk semifinal kami berharap hanya 2 pasangan yang lolos yaitu Tian/Zhao dan Wang/Yu ditemani WD Denmark dan Indonesia, 4ganda yang telah memberi deretan partai klasik bagi ganda putri.
Semoga seiring sejarah yang tercipta banyak kejutan dan partai klasik yang menyertai.
Selasa, 24 Februari 2015
A Plea For Mister Wirjawan
Olimpiade, ajang multi even empat tahunan yang merupakan impian tertinggi setiap atlet dan insan olahraga akan berlangsung lagi tahun depan di Rio de Janeiro, Brasil. Mengingat hasil yang diraih pemain badminton di London, beberapa orang melihat ajang di Rio sebagai ajang penebusan apalagi melihat hasil yang diraih para pemain ganda di Incheon tahun lalu. Ganda, nomor yang memang secara objektif lebih berpeluang meraih medali di Rio mengingat belum adanya tunggal putri Indonesia yang bersinar dan inksonsistensi yang dilami Simon maupun Tommy sebagai tunggal putra senior. Ketiga nomor ganda itu juga yang menyumbangkan 4 medali Asian Games dan 2 juara dunia terakhir yang dimiliki Indonesia saat ini.
Ganda campuran, nomor yang mungkin paling mengkilap bagi Indonesia saat ini, selain Tontowi/Lilyana yang konsisten di top 5 ranking dunia dan medali perak Incheon sebagai bukti prestasi terakhir mereka, keberhasilan Edi/Gloria, Praveen/Debby dan Riky/Richi menembus final ataupun juara dalam setiap turnamen tingkat GP Gold keatas yang mereka ikuti jelas menunjukkan bahwa keempat pasangan itu punya peluang bersaing untuk meraih tiket ke Rio yang kualifikasinya dimulai Mei depan.
Ganda campuran mungkin bisa tenang menghadapi kualifikasi dengan begitu banyak pasangan yang tampaknya akan kompetitif, tapi optimisme itu sulit terpancar di ganda putri maupun putra. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari yang meraih emas Incheon diharapkan kembali memberi kejutan sekaligus menuntun rekan juniornya -seperti Anggia, Della, Maretha, Rosyita dan kawan-kawan yang sedang dicari ramuan terbaiknya oleh Eng Hian dan tim- untuk mendobrak pintu Rio dan mungkin meraih medali olimpiade pertama dari ganda putri bagi Indonesia.
Bila ganda putri mencoba mencetak sejarah dan dianggap wajar jika nantinya gagal, tidak demikian halnya dengan ganda putra. Sebagai nomor tersukses dalam sejarah dan hanya gagal meraih medali di London -dimana kegagalan itu menjadi pemicu terbesar jalan kebangkitan bulutangkis Indonesia yang kini coba ditapaki-, Kondisi ganda putra yang hanya memiliki Hendra -peraih emas Beijing- bersama Ahsan sebagai pasangan yang dinilai berprestasi dan kumpulan ganda lainnya yang belum teruji tentu memprihatinkan.
Dengan segala hormat kepada Herry IP dan Chafidz Yusuf yang kini menukangi ganda putra Cipayung dan tentunya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan, dengan tulisan ini kami mengajukan permintaan kepada Gita Wirjawan sebagai ketua umum PBSI saat ini untuk membuat Rexy Mainaky ikut melatih ganda dalam masa jelang Olimpiade Rio ini. Bukankah Pak Gita menarik Rexy ke PBSI karena keberhasilan Rexy menghantar Nathan Robertson/Gail Emms, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menjadi ganda yang disegani dunia dan juga keberhasilan lainnya di Inggris, Malaysia dan Filipina. Mengingat Olimpiade adalah ajang terbesar, bukankah selayaknya kita memberi usaha yang paling maksimal? Dan rasanya memaksimalkan kemampuan Rexy dengan memintanya ikut melatih adalah hal yang wajar bukan?
Ganda campuran, nomor yang mungkin paling mengkilap bagi Indonesia saat ini, selain Tontowi/Lilyana yang konsisten di top 5 ranking dunia dan medali perak Incheon sebagai bukti prestasi terakhir mereka, keberhasilan Edi/Gloria, Praveen/Debby dan Riky/Richi menembus final ataupun juara dalam setiap turnamen tingkat GP Gold keatas yang mereka ikuti jelas menunjukkan bahwa keempat pasangan itu punya peluang bersaing untuk meraih tiket ke Rio yang kualifikasinya dimulai Mei depan.
Ganda campuran mungkin bisa tenang menghadapi kualifikasi dengan begitu banyak pasangan yang tampaknya akan kompetitif, tapi optimisme itu sulit terpancar di ganda putri maupun putra. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari yang meraih emas Incheon diharapkan kembali memberi kejutan sekaligus menuntun rekan juniornya -seperti Anggia, Della, Maretha, Rosyita dan kawan-kawan yang sedang dicari ramuan terbaiknya oleh Eng Hian dan tim- untuk mendobrak pintu Rio dan mungkin meraih medali olimpiade pertama dari ganda putri bagi Indonesia.
Bila ganda putri mencoba mencetak sejarah dan dianggap wajar jika nantinya gagal, tidak demikian halnya dengan ganda putra. Sebagai nomor tersukses dalam sejarah dan hanya gagal meraih medali di London -dimana kegagalan itu menjadi pemicu terbesar jalan kebangkitan bulutangkis Indonesia yang kini coba ditapaki-, Kondisi ganda putra yang hanya memiliki Hendra -peraih emas Beijing- bersama Ahsan sebagai pasangan yang dinilai berprestasi dan kumpulan ganda lainnya yang belum teruji tentu memprihatinkan.
Dengan segala hormat kepada Herry IP dan Chafidz Yusuf yang kini menukangi ganda putra Cipayung dan tentunya memiliki prestasi yang tidak bisa diremehkan, dengan tulisan ini kami mengajukan permintaan kepada Gita Wirjawan sebagai ketua umum PBSI saat ini untuk membuat Rexy Mainaky ikut melatih ganda dalam masa jelang Olimpiade Rio ini. Bukankah Pak Gita menarik Rexy ke PBSI karena keberhasilan Rexy menghantar Nathan Robertson/Gail Emms, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menjadi ganda yang disegani dunia dan juga keberhasilan lainnya di Inggris, Malaysia dan Filipina. Mengingat Olimpiade adalah ajang terbesar, bukankah selayaknya kita memberi usaha yang paling maksimal? Dan rasanya memaksimalkan kemampuan Rexy dengan memintanya ikut melatih adalah hal yang wajar bukan?
Jumat, 30 Januari 2015
Drama Di Denpasar
Djarum Superliga 2015 yang berlangsung di GOR Lila Bhuana Denpasar sudah menyelesaikan babak penyisihan grup. Tim putri Hokuto Bank Jepang menjadi satu-satunya tim kejutan di babak semifinal setelah mengalahkan sang unggulan Mutiara di babak grup. Selain itu, nama-nama seperti Djarum, Jaya Raya, Musica dan Tonami menghiasi babak semifinal sesuai dugaan awal. Tapi bukan berarti Superliga hanya berisi partai sesuai dugaan dan kebisingan penonton cewe yang meneriaki tim Musica karena ada Jo, LYD dan Simon serta sang raksasa Ivanov disana.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Kegagalan Mutiara jika dilihat dari statistik, disebabkan oleh ganda-ganda mereka, pemain ganda Mutiara hanya mampu memenangkan 3 partai dari kemungkinan 8 pertandingan. Tiara Rosalia Nuraidah yang ditempatkan sebagai ganda kedua ternyata hanya mampu menyumbang 2 angka dimana salah satunya melawan 2 pemain tunggal putri yang bermain rangkap, mungkin tahun depan Mutiara harus menarik pemain asing di ganda putri. Kehadiran pemain asing terbukti sangat membantu, Sung Ji Hyun misalnya, selalu mampu membuat Djarum unggul 1-0 lebih dahulu meskipun ganda kedua dan tunggal ketiga Djarum gagal menutup kemenangan ketika melawan Renesas sehingga Djarum gagal mengamankan juara grup dan harus melawan Jaya Raya. Jaya Raya justru mencetak angka 100 persen di WS 3 melalui Bellaetrix Manuputty dan WD 2 melalui Anggia Shitta Awanda ( 3x bersama DD Haris dan 1x bersama Greys) meskipun salah satunya cukup dibantu keberuntungan ketika melawan USM Semarang.
Rekor sempurna Anggia tersebut barangkali bisa menjadi pertimbangan staff pelatih pelatnas untuk memasangkannya dengan Debby Susanto yang tampil apik di Superliga ini ( 3 kemenangan dr 4 partai dengan 1 kekalahan rubber game) jika memang Debby ditarik untuk merangkap. Notional point Debby/Anggia memungkinkan pasangan ini untuk langsung tampil di kelas GPG keatas yang berarti tidak menambah jumlah turnamen Debby yang bersama Jordan menjadi salah satu atlet proyeksi Rio 2016. Selain Anggia, jika berdasar notional point, alternatif yang mungkin adalah Della, Rosyita, Suci atau Tiara.
Penampilan apik Debby ternyata tidak membuat USM bisa memberi kejutan, hal ini karena barisan tunggalnya yang hanya dapat meraih 1 kemenangan ketika Fitriani mengalahkan Firdasari dan cederanya Anissa Saufika di hari pertama ketika melawan Jaya Raya. Anissa terjatuh ketika USM hanya butuh 5 poin untuk mengejutkan JRJ. Posisi jatuh yang salah mengakibatkan ligamen di lutut Anissa robek dan menyebabkan dia harus mundur dari Superliga.
Cedera ligamen, sesuatu yang banyak dialami atlet bola basket, cedera ini biasanya membutuhkan waktu recovery 6-12 bulan tergantung tingkat keparahan dan yang mengalami cedera Salah satu contoh terbesar adalah Derrick Rose, ligamen lutut point guard Chicago Bulls yang juga mantan terbaik NBA itu pada bulan April 2012 dan baru kembali bermain pada semester kedua tahun 2014. Masa absen yang begitu lama itu bukan untuk rehabilitasi fisik (dalam kasus Rose 9 bulan) melainkan untuk memulihkan kepercayaan diri untuk meyakinkan bahwa dia masih mampu melakukan gerakan yang sama di lapangan seperti sebelum cedera dialami.
Semoga pemulihan cedera dan kepercayaan diri Ica tidak perlu memakan waktu seperti Rose, tapi untuk sementara waktu Alfian harus dicarikan partner baru di lapangan. Sebagai XD top 20 simpanan poin Alfian cukup tinggi, tapi jika ia diproyeksikan mengikuti GP Gold keatas maka pemain ganda putri yang sama sekali tidak memiliki ranking XD bukanlah pilihan yang tepat. Dengan pertimbangan itu maka di pelatnas, pasangan yang mungkin adalah antara playmaker tanpa pasangan tetap DD Haris, atau kandidat BWF most promising player 2014 Rosyita EPS, atau separuh dari pasangan paling diharapkan fans, Masita Mahmudin, atau peraih emas WJC 2012, Melati Daeva atau sang partner lamanya Gloria EW. Tentu jika Melati atau Gloria akan mengorbankan peringkat pasangan sebelumnya yg sudah top 50. Atau justru PBSI mau melirik keluar pelatnas dengan memanggil Weni atau Shela Devi?
Kembali ke Superliga tahun ini, jika dilihat dari lapisan pemain JRJ di putri dan DJM di putra tampaknya layak menjadi juara.
Kamis, 22 Januari 2015
Hope Clear Head Prevails
Persiapan menuju ajang multi even, suatu frase yang biasanya menggambarkan tarik menarik kepentingan penuh kompromi ataupun paksaan antara KONI dan pemerintah di satu pihak dan PB-PB cabang olahraga di pihak lainnya. Tahun 2015 ini, frase itu kembali muncul dalam bentuk persiapan menuju SEA Games ke 28 di Singapura, Juni mendatang.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?
Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.
Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.
Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.
Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.
Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.
SEA Games Singapura ini juga menjadi tolok ukur pertama bagi komando Imam Nahrawi dan jajarannya. Apakah beliau akan mengikuti jejak para pendahulunya yang memprioritaskan mengejar prestasi SEAG dengan segala cara tanpa memperhitungkan regenerasi. Atau beliau membuka lembaran baru dengan menjadikan SEAG sebagai batu loncatan dan persiapan demi ajang yang lebih besar seperti AG dan Olimpiade?
Ujian pertama sepertinya akan datang dari bulutangkis, dimana pada saat bersamaan digelar ajang Super Series Premier yang menjadi turnamen dengan poin tertinggi di kualifikasi menuju Rio 2016, apalagi ajang itu digelar di rumah sendiri. Dalam skuad bayangan SEAG yang dirilis Antara 22 Januari terlihat bahwa PBSI bersikap kompromistis dengan tetap menurunkan beberapa pemain utama mendampingi pemain junior.
Di tunggal putra apalagi putri, daftar pemain yang dirilis itu memang yang terbaik jika mempertimbangkan SEAG maupun kualifikasi Rio 2016. Ganda putri pun demikian, dengan Greysia/Nitya diharapkan mampu mengamankan tiket Rio maka, Gebby/Tiara mendampingi Della/Rosyita yang cukup junior untuk berlaga di Singapura.
Di nomor ganda putra dan campuran tampaknya PBSI melakukan kompromi besar demi medali yang seharusnya bisa dihindari. Angga/Ricky walaupun baru dipasangkan di 4 turnamen, dengan hasil yang diraih (3x sampai SF) tampaknya potensial untuk menjadi ganda kedua mendampingi Ahsan/Hendra ke Rio. Bahkan jika mempertimbangkan usia dan kerentanan cedera dari Ahsan/Hendra, Angga/Ricky lebih baik konsentrasi mengejar tiket Rio di Istora, ketimbang berlaga di Singapura. Pengganti Angga/Ricky (jika diganti) memang bisa diperdebatkan karena belum ada ganda putra lain yang menunjukkan prestasi baik saat ini, tapi situasi ini jelas tidak perlu diperdebatkan di ganda campuran.
Kejutan/kompromi terbesar PBSI terjadi di ganda campuran, dua ganda top 15 dunia berdasar ranking 15 Januari, Riky/Richi (rank 9) dan Jordan/Debby (12) justru dimasukkan ke skuad SEAG. Padahal dengan ranking setinggi itu, mereka berempat seharusnya mengejar tiket Rio mendampingi Tontowi/Lilyana sebagai ganda utama. Apalagi Indonesia memiliki Edi/Gloria (35) ataupun Ronald/Melati (44) yang rasanya lebih layak untuk mengejar/mengamankan emas di Singapura bersaing dengan Sudket/Saralee, Maneepong/Sapsiree, Danny/Vannesa yang berada di top 20, itupun jika ketiga pasangan asing itu turun di SEA Games.
Semoga dalam sisa waktu jelang pendaftaran ke panitia SEAG, semua pihak yang berkepentingan baik PB, KONI, KOI maupun Kemenpora mampu berpikir jernih mana prioritas yang lebih penting dan kemana olahraga Indonesia akan dibawa.
Langganan:
Postingan (Atom)