Kamis, 17 Juli 2014

What Is The Move, Your Highness?

Ganda putri nomor yang mungkin paling sepi peminat di bulutangkis umumnya dan Indonesia khususnya, karena tampaknya memang sulit mencari 2 putri untuk dipasangkan di lapangan, takut adu mulut maybe:D
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?

Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun  depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.

Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.

Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?

Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?

Minggu, 06 Juli 2014

A view of sport-media relationship, badminton especially

Media Availability, sesuatu yang sering muncul menjelang NBA All Star ataupun Final. Suatu konsep yang tidak begitu penulis pahami sebenarnya, kenapa NBA "memaksa" bintang2 merekka untuk muncul melayani pers/fans menjelang partai penting ketimang mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pertandingan, toh hasil sebuah pertandingan olahraga ditentukan di lapangan bukan dibalik mikrofon? Tapi gilanya, partai NBA tetep seru dan jumlah fansnya makin meningkat aja dari hari ke hari dan sebagian besar karena peran media yang hadir di media Availability itu.

Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.

Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.

Jumat, 20 Juni 2014

Which cream are they?

In the end, cream always rise to the top. Ungkapan yang sering digunakan di olahraga populer di AS terutama basket, ungkapan yang menggambarkan bahwa pada akhirnya yang terbaiklah yang berada di puncak. Ungkapan itu memang benar terbukti di final NBA tahun ini dengan Spurs dan Heat sebagai juara dan finalis memang 2 tim terbaik NBA tahun ini. Hal yang menurut kami juga benar adanya di bulutangkis.

Gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier yang berlangsung pekan ini memang hanya turnamen tahunan belaka, namun statusnya sebagai salah satu turnamen berlevel tertinggi BWF jelas membuat turnamen ini dipenuhi ksatria-ksatria terbaik lapangan karpet. Fakta bahwa hanya 3 wakil tuan rumah di perempat final menunjukkan bahwa dari sekian banyak pemain-pemain negeri ini memang untuk saat ini hanya ketiga pasang ganda itulah yang siap bersaing berebut posisi menjadi creme de la creme.

Lalu kemana yang lain, bukankah negeri ini lebih dari 3 pasang itu? Kami menggolongkan pemain-pemain lain menjadi tiga bagian yaitu:
1. kelompok yang tidak akan pernah lagi menjadi creme de la creme, pemain yang secara usia atau kemampuan memang tidak mampu lagi bersaing di level kompetisi terbaik, salut untuk mereka jika memang mereka  pernah menjadi yang teratas tapi pada saat ini mereka hanya menikmati permainan.
2. kelompok yang masih membentuk diri menjadi cream, kelompok yang menganggap ajang ini sebagai uji ukur coba-coba, semacam heat check kalau di basket, mengukur sudahkah mereka mampu bersaing di ajang yg terbaik atau harus diproses lagi untuk menjadi cream yang baik.
3. kelompok yang pada saat itu ada cream yang lebih enak. kelompok ini memang sudah layak bersaing dan pantas berada di level ini, hanya saja 1-2 pukulan here and there belum memihak kepada mereka, ketiga pasang yang tersisa juga akan masuk kelompok ini jika tidak menjadi juara.

Well, kita tentu berharap yang di kelompok 2 akan menjadi kelompok 3 bukan malah menurun menjadi kelompok 1, sehingga tidak ada pembinaan yang sia-sia. Jadi pemain yang kalian sukai ada dikelompok mana sekarang? Dan selamat menikmati sisa gelaran BCA IOSSP untuk mengetahui siapa creme de la creme tahun ini. Keep rocking Jakarta.

Senin, 02 Juni 2014

Indonesian Doubles After TUC. What's next?

Pasca Thomas dan Uber Cup, turnamen besar berikut yang harus ditatap oleh para penggila bulutangkis adalah kejuaraan dunia (WBC) dan Asian Games. Karena entry list WBC sudah dirilis maka bisa dipastikan siapa-siapa saja yang ikut disana. Tapi tulisan ini lebih akan membahas apa yang menurut penulis mungkin terjadi seusai WBC terutama di sektor ganda putra dan putri.

Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.

Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.

Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)

Senin, 28 April 2014

The Other Contenders

Perebutan Piala Thomas akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Pergelaran yang keduapuluhdelapan ini diadakan di Siri Fort Sports Complex, New Delhi, India. 16 negara dimana 10 diantaranya dari benua Asia akan dibagi dalam 4 grup guna berlomba membawa pulang piala yang diberi nama sesuai dengan mantan pebulutangkis Inggris George Alan Thomas tersebut.

China sebagai juara bertahan dan Indonesia ditetapkan sebagai dua unggulan teratas di turnamen beregu ini dan dijagokan banyak orang untuk bertemu di final. Prediksi yang wajar dan logis sebenarnya mengingat kekuatan dan hasil-hasil yang diraih di turnamen individu. Namun, bulutangkis tetaplah olahraga dimana semua hal bisa saja terjadi dan tidak seabsolut matematika.

Berikut adalah negara-negara yang mungkin saja menggagalkan final ideal itu atau malah membawa pulang piala ke markas mereka masing-masing:

Korea sebagai runner-up gelaran sebelumnya di Wuhan jelas punya rasa penasaran yang besar untuk menuntaskan hasrat mereka. Negeri Ginseng ini tetap memiliki sektor ganda yang kuat dengan kombinasi-kombinasi yang unpredictable, apalagi pembatalan sanksi skorsing atas bintang mereka pasti menjadi suntikan moral yang besar bagi tim. Grafik menanjak Son Seung Mo hingga masuk top10 dan pengalaman Lee Hyun-Il juga bisa menjadi peluru senjata mereka.
Denmark sebagai ujung tombak pasukan non Asia tentu ingin membawa piala itu ke ranah aslinya Eropa untuk pertama kali dalam sejarah. Peningkatan form sang mantan juara dunia junior Viktor Axelsen tentu menjadi kejutan menyenangkan bagi mereka. Pemain yang disponsori Adidas itu akan menemani juara Eropa yang baru dinobatkan minggu kemarin Jan O Jorgensen dan HK Vittinghus di sektor tunggal. Di ganda negara Skandinavia ini punya peraih perak Olimpiade dan Kejuaraan Eropa terakhir, jelas sebuah pencapaian yang tidak bisa diremehkan begitu saja.
Selain kedua negara diatas ada Jepang yang memiliki tunggal dan ganda yang begitu stabil permainan dan hasil setiap turnamennya. Tiga ganda putra di top 15 jelas bukan main2, ditambah kombinasi Kenichi+Kento dan Sho di tunggal. Malaysia jika doublenya tiba2 on-fire atau tuan rumah dengan pasukan tunggalnya yang unpredictable dibawah dukungan ribuan orang jelas bisa menawarkan kejutan tersendiri.

Apapun hasilnya nanti Thomas Cup tahun ini menjanjikan pertarungan yang lebih seru dibanding 2-3 edisi sebelumnya dan sangat layak untuk dinantikan. Jadi siapa kuda hitam unggulan kalian?:D

Senin, 21 April 2014

8 hal tentang game 1 NBA Playoffs 2014

Game 1 NBA Playoffs berakhir tadi pagi dengan Rockets vs Trailblazers sebagai partai penutup yang sangat seru bahkan harus diselesaikan dengan overtime. Kebetulan itu satu-satunya game yang penulis lihat dari partai-partai pembuka Playoffs tahun ini melalui NBATV.

Well dari 8 partai pembuka itu beberapa hal yang mungkin akan menjadi tren di seri pembuka NBA Playoff tahun ini adalah:
1. Timmy vs Dirk menampilkan duel Power Forward full of Old-time Flavour
2. Jeremy Lin harus lebih menjadi Linsanity untuk membuat Rockets mengimbangi Blazers dengan duo Dame-LMA apalagi Pat Bev tidak fit.
3. Doc somehow perlu membangunkan para role player Clippers diluar CP3 dan BG, terutama Crawford.
4. Panjangnya duel OKC vs Memphis bergantung pada sejauh mana kombinasi Conley-Allen menghambat laju turbo Westbrook
5. Dengan kondisi kaki Big Al yang tidak fit maka sweep makin menjadi kemungkinan, tapi tetap saja pengalaman bagus untuk Kemba dkk
6. Pacers mungkin hanya bisa berharap keajaiban atau adanya pembalik waktu karena kondisi mereka sangat parah.
7. Bulls mungkin boleh mencoba memperbesar ukuran ring mereka setelah buruknya shooting mereka tadi pagi.
8. Truth+JJ vs Lowry+DeRozan siapa yang akan lebih stabil?

Itu adalah 8 hal berdasar analisa amatir penulis, tapi yang pasti dari 8 partai yang 5 diantaranya diambil away team ini, jika terus berlanjut akan menjadi unforgettable nba playoffs

Sabtu, 19 April 2014

A view about mixed doubles next tier

Well, 2 minggu yang cukup menyenangkan bagi dunia bulutangkis Indonesia 2 gelar di Singapura SS + 2 gelar di NZ GP. Demikian juga 2 runnerup dari sana serta 3 perak dan 2 perunggu di WJC. Untuk para juara SS sepertinya ngga usah dibahas lagi toh langkah dan tujuan mereka sudah jelas, yang akan coba dianalisa secara ngasal di post ini hanyalah pemain lainnya.:)

Perombakan ganda campuran di NZ GP menghasilkan 3 semifinalis (Eko/Saufika, Obama/Daeva dan Irfan/Glow) yang kelihatannya cukup baik untuk dikembangkan. Eko dan Saufika dengan 2 gelarnya jelas menjadi headliner XD generasi itu untuk mengejar Riky/Richi (RU SOSS) dan Debby/Jordan guna melapisi sang XD juara dunia.

Selepas gelaran TUC di New Delhi, 3 XD terdepan itu mungkin akan ke Yoyogi stadium, tapi ujian terbesar buat semua XD ini adalah gelaran IOSSP yang mungkin akan menyaring juga siapa benar2 contender atau sebatas pretender. Jika ada pasangan diluar juara dunia yang bisa membuktikan diri dengan baik di Istora, ya kenapa ngga coba diorbitkan untuk Rio itung2 untuk pengalaman tanpa mengharapkan hasil.

Kalau harus menilai dari kelima pasangan tersebut mana yang paling baik, jelas hal yang sangat sulit. Dilihat dari beberapa match via streaming/livescore, jelas semua pasangan punya hal yg perlu diperbaiki. Jordan/Debby misalnya harus meningkatkan kekompakan dan gameplan mereka, Riky/Richi harus terus berani tampil dengan confidence tinggi and increase their defence, Edi needs to trust his partner more dan mengurangi "superhero attitude"-nya, itu kelemahan2 yang bisa ditangkap oleh mata pengamat ngasal ini.

Diluar 5 pasang tadi masih ada nama Rosyita yang dengan 2 perak WJCnya jelas menanti untuk mendapat partner dan saat diorbitkan yang tepat jika diproyeksikan untuk meramaikan sektor XD. Tapi penulis sendiri yakin dengan 5 pasangan yang ada saat ini setidaknya ganda-ganda potensial Indonesia berada di jalur dan tangan yang tepat.