Guangzhou, China kira-kira setahun yang lalu. Suatu masa yang mungkin sangat membekas dan sulit dilupakan bagi pasukan asuhan Zhang Ning terutama Li Xuerui. Saat itu dua orang remaja belum genap 19 tahun, Pusarla Venkata Sindhu dan Ratchanok Inthanon mampu mengalahkan semua punggawa tuan rumah. Inthanon bahkan berhasil menjadi juara dunia tunggal termuda setelah mencuri game pertama dari Xuerui dan memenangi game ketiga dengan skor meyakinkan 21-14.
Setahun berselang, tampaknya tepat bagi pasukan yang kini juga diasuh Chen Jin untuk melakukan pembalasan atas kejadian memalukan tahun lalu. Semenjak Guangzhou, Duo Wang + alien yang lebih kejam dari Lin Dan sungguh mendominasi gelar Super Series keatas. 16 SS/SSP yang digelar sejak Guangzhou sampai sekarang hanya 3 yang terlepas, 1 ke Liu Xin (CM 2013). 1 ke Akane Yamaguchi (Japan 2013) dan 1 ke Saina Nehwal (Aussie 2014), itupun dengan catatan China tidak full team ke tiga turnamen itu.
Peluang pembalasan itupun makin besar mengingat WS-WS sisa dunia belum ada lagi yang stabil, Inthanon dan Saina punya problem cedera, duo Korea Sung dan Bae sulit bersaing dengan Li+Wangs, Marin + Sindhu belum juga konsisten performanya.
So Copenhagen 2014 haruslah jadi misi pembalasan, jika tidak, mungkin kita akan melihat pembersihan terbesar sepanjang masa.
Pandangan seorang sports addict dari apa yang dilihatnya di live tv atau layar livescore
Senin, 18 Agustus 2014
Senin, 11 Agustus 2014
Copenhagen 2014: The Coast is Clear For Take-off, But For Who?
Seperti janji kami di post sebelumnya untuk membahas semua nomor di WBC, maka setelah post sebelumnya bahasan mengenai WD maka tulisan berikut coba menyinggung nomor tunggal putra.
Pria bertatto diatas menjadi penguasa tunggal putra sejak 2006, kejutan Park Sung Hwan di Stade Pierre de Coubertin hanyalah suatu keajaiban karena mungkin saat itu dia terlalu asyik membayangkan bemesraan dengan Xie Xingfang di menara Eiffel:D
Tidak adanya nama pria bertatto tersebut di undian yang diadakan di Berjaya Times Square tadi siang jelas menciptakan suasana serupa Hogwarts ketika semua berebut membuktikan diri menjadi penyihir paling jail ketika si kembar Weasley meninggalkan sekolah sihir itu.
Dari hasil undian siang tadi, inilah pihak-pihak yang paling mungkin memanfaatkan Copenhagen 2014 untuk mendapatkan kejayaan:
1. Chen Long: Sang Naga yang selama ini selalu dibawah bayang-bayang Super Dan, mampukah dia membuktikan diri bahwa dia mampu, atau kekalahan di Thomas Cup lalu sangat berakibat buruk pada mentalnya?
2. Lee Chong Wei: orang yang selama ini harus menerima kenyataan sebagai "pendamping" Super Dan. Akankah dia akhirnya mendapat gelar turnamen besar pertamanya? Atau tetap menjadi raja Super Series dan persemakmuran?
3. Jan O Jorgensen: Ksatria utama tuan rumah yang jelas berharap melebihi prestasi Peter Gade ataupun Morten Frost Hansen.
4. Tommy Sugiarto dan Kenichi Tago: Dua pemain yang tentu saja ingin mengulang atau melebihi pencapaian orang tua mereka yang mendapatkan medali WBC.
Nah dengan persaingan tunggal putra yang terbuka lebar, siapa yang akan memuncaki podium Ballerup Super Arena? Layak ditunggu.
Pria bertatto diatas menjadi penguasa tunggal putra sejak 2006, kejutan Park Sung Hwan di Stade Pierre de Coubertin hanyalah suatu keajaiban karena mungkin saat itu dia terlalu asyik membayangkan bemesraan dengan Xie Xingfang di menara Eiffel:D
Tidak adanya nama pria bertatto tersebut di undian yang diadakan di Berjaya Times Square tadi siang jelas menciptakan suasana serupa Hogwarts ketika semua berebut membuktikan diri menjadi penyihir paling jail ketika si kembar Weasley meninggalkan sekolah sihir itu.
Dari hasil undian siang tadi, inilah pihak-pihak yang paling mungkin memanfaatkan Copenhagen 2014 untuk mendapatkan kejayaan:
1. Chen Long: Sang Naga yang selama ini selalu dibawah bayang-bayang Super Dan, mampukah dia membuktikan diri bahwa dia mampu, atau kekalahan di Thomas Cup lalu sangat berakibat buruk pada mentalnya?
2. Lee Chong Wei: orang yang selama ini harus menerima kenyataan sebagai "pendamping" Super Dan. Akankah dia akhirnya mendapat gelar turnamen besar pertamanya? Atau tetap menjadi raja Super Series dan persemakmuran?
3. Jan O Jorgensen: Ksatria utama tuan rumah yang jelas berharap melebihi prestasi Peter Gade ataupun Morten Frost Hansen.
4. Tommy Sugiarto dan Kenichi Tago: Dua pemain yang tentu saja ingin mengulang atau melebihi pencapaian orang tua mereka yang mendapatkan medali WBC.
Nah dengan persaingan tunggal putra yang terbuka lebar, siapa yang akan memuncaki podium Ballerup Super Arena? Layak ditunggu.
Sabtu, 09 Agustus 2014
Copenhagen 2014: Tian Qing/Zhao Yunlei's swansong?
Kejuaraan dunia bulutangkis akan kembali ke tanah negeri dongeng setelah 15 tahun berkeliling dunia. Gelaran ke-21 tersebut akan berlangsung pada akhir bulan ini. Dan kami mencoba menganalisa peluang nomor demi nomor sebelum kejuaraan tersebut berlangsung di Ballerup Super Arena, Copenhagen.
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.
Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.
Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.
Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?
Ganda putri, nomor yang selalu dikuasai China sejak 1983 kecuali di Lausanne -ketika sang juara dunia termuda Gil-Young Ah bersama seniornya Jang Hye-Ock mampu mengalahkan legenda ganda putri Ge Fei/Gu Jun- dimana Taegukgi menjadi bendera tertinggi. Dan ganda putri ini yang akan kami bahas pertama kali.
Jika ditilik dari penampilan akhir-akhir ini tampaknya ganda-ganda negeri lain sudah mulai bisa menembus lapisan tembok China di ganda putri meskipun tetap saja untuk level Super Series keatas negeri tirai bambu itu masih mendominasi.
Berikut adalah pengganggu-pengganggu utama putri-putri tirai bambu
1. Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi: pasangan Jepang unggulan tiga yang tentu saja ingin memvalidasi gelar SS pertama dan kemenangan atas Bao Yixin/Tang Jinhua di piala Uber dengan kepingan emas di Ballerup.
2.Christina Pedersen/Kamilla Rytter-Juhl: pasangan tuan rumah yang jika saja mereka meraih medali emas akan menjadi akhir cerita dongeng yang indah
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda, pasangan yang sedang menanjak performanya dengan menjuarai Taipei GP Gold bulan lalu dan mengalahkan Wang Xiaoli/Yu Yang di final, meskipun target realistis untuk pasangan ini hanya medali warna apapun.
4. Korea, negara yang selalu menjadi pengganggu dominasi putri-putri China dalam sejarah, punya Jang Ye Na/Kim So Young dan Jung Kyung Eun/Kim Ha Na yang jika sedang dalam performa terbaiknya mampu mengalahkan siapapun.
Jika pasukan yang dikomandoi Pan-Pan tetap ingin meneruskan tradisi bendera merah bintang lima tetap menjadi yang tertinngi, harapan terbesar tampaknya ada pada sang juara Olimpiade Tian Qing/Zhao Yunlei. Kenapa demikan? Memang mereka berangkat bersama Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang -yang berperingkat diatas mereka- serta si kembar Luo Ying/Luo Yu ke arena perang ini. Tetapi kondisi pasca cedera Yixin dan tidak mulusnya comeback Yu Yang membuat Tian/Zhao menjadi pilihan paling logis sebagai ganda utama sekaligus meraih gelar besar terakhir mereka.
Jadi akankah Copenhagen menjadi swansong Tian/Zhao atau tempat tradisi terpatahkan?
Kamis, 17 Juli 2014
What Is The Move, Your Highness?
Ganda putri nomor yang mungkin paling sepi peminat di bulutangkis umumnya dan Indonesia khususnya, karena tampaknya memang sulit mencari 2 putri untuk dipasangkan di lapangan, takut adu mulut maybe:D
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?
Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.
Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.
Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?
Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?
Nomor yang sebenarnya ngga terlalu menarik perhatian penulis, tapi melihat prospek di Rio 2016 tampaknya bakal banyak intrik yang terlibat.
Rio 2016 jika BWF benar-benar menerapkan aturan maksimal 2 wakil per negara, maka nomor ini yang akan banyak drama. Indonesia nyaris dipastikan mengirim Greysia/Nitya +1. Pun demikian dengan Jepang, Misaki Matsutotomo/Ayaka Takahashi +1, tapi bagaimana dengan Cina?
Cina dengan lapisan ganda yang melebihi iklan wafer di televisi itu punya banyak pilihan tentu saja, jika semua pasukannya fit maka peluang sang juara bertahan Tian Qing/Zhao Yunlei untuk ke Rio justru paling tipis. 4 pasangan yang kemungkinan memperebutkan 2 tiket adalah Luo twins, Tang Yuanting+partner, Bao Yixin/Tang Jinhua dan Wang Xiaoli/Yu Yang. Yixin dan Yu Yang memang sempat cedera lama tapi mestinya tahun depan saat kualifiikasi Rio sudah pulih 100 persen.
Pasca London konsensus yang berkembang adalah Yu Yang akan mendapat medali yang seharusnya dia miliki itu di Rio karena kalau dilihat secara objektif mereka masih ganda putri terbaik, sekaligus meredakan kemarahan Yu Yang yang sempat mengindikasikan akan pensiun dalam kondisi emosional. Asumsi itu mulai diragukan ketika semester kedua 2013 Bao Yixin/Tang Jinhua mulai memenangi beberapa gelar, yang berujung pada 7 gelar beruntun turnamen GPG keatas dan kini merekalah pemegang tahta puncak ranking BWF.
Andai benar Bao/Tang dan Wang/Yu ke Rio, siapa yang akan menjadi perwira utama peraih emas? Jika Yixin/Liya yang dipilih maka paduka benar-benar tega mengecewakan Yu Yang 2x setelah strategi di London berbuah skandal yang membuat badminton dikenal seantero planet biru ini. Di sisi lain, jika strategi balas budi dikemukakan akankah 2 bidadari belia itu mau menerima begitu saja atau malah akan jadi Zhou Mi/XXF kesekian?
Jadi strategi mana yang kau ambil Yang Mulia?
Minggu, 06 Juli 2014
A view of sport-media relationship, badminton especially
Media Availability, sesuatu yang sering muncul menjelang NBA All Star ataupun Final. Suatu konsep yang tidak begitu penulis pahami sebenarnya, kenapa NBA "memaksa" bintang2 merekka untuk muncul melayani pers/fans menjelang partai penting ketimang mempersiapkan diri sepenuhnya untuk pertandingan, toh hasil sebuah pertandingan olahraga ditentukan di lapangan bukan dibalik mikrofon? Tapi gilanya, partai NBA tetep seru dan jumlah fansnya makin meningkat aja dari hari ke hari dan sebagian besar karena peran media yang hadir di media Availability itu.
Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.
Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.
Konsep media yang kemudian mulai penulis pahami saat mendengar cerita seorang atlet badminton beberapa saat lalu, soal bagaimana beliau yang merasa "terlanjur dikenal" akhirnya keluar dari cangkangnya dan belajar untuk melayani fans-fans yang berdatangan setelah sebelumnya merasa ngga layak karena beliau merasa bukan siapa-siapa.
Kepopuleran badminton secara global memang jauh dibawah basket, tapi langkah BWF belakangan ini yang mewajibkan atlet untuk memberi konferensi pers seusai pertandingan adalah langkah awal yang baik. Mungkin ada baiknya jika saat konferensi pers itu tidak hanya membahas pertandingan tapi juga bagaimana pemain membuat media dan fans lebih "engage" terhadap badminton atau pemain tersebut (misalnya dengan multi-lingual press conference), sehingga semoga pada akhirnya badminton lebih mengglobal dari sekarang.
Jadi, ketimbang mencoba memodifikasi aturan on-court mungkin BWF sebaiknya lebih concern ke daerah off-court jika tujuannya mempopulerkan/menjaga kepopuleran badminton agar tetap berada di Olimpiade.
Jumat, 20 Juni 2014
Which cream are they?
In the end, cream always rise to the top. Ungkapan yang sering digunakan di olahraga populer di AS terutama basket, ungkapan yang menggambarkan bahwa pada akhirnya yang terbaiklah yang berada di puncak. Ungkapan itu memang benar terbukti di final NBA tahun ini dengan Spurs dan Heat sebagai juara dan finalis memang 2 tim terbaik NBA tahun ini. Hal yang menurut kami juga benar adanya di bulutangkis.
Gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier yang berlangsung pekan ini memang hanya turnamen tahunan belaka, namun statusnya sebagai salah satu turnamen berlevel tertinggi BWF jelas membuat turnamen ini dipenuhi ksatria-ksatria terbaik lapangan karpet. Fakta bahwa hanya 3 wakil tuan rumah di perempat final menunjukkan bahwa dari sekian banyak pemain-pemain negeri ini memang untuk saat ini hanya ketiga pasang ganda itulah yang siap bersaing berebut posisi menjadi creme de la creme.
Lalu kemana yang lain, bukankah negeri ini lebih dari 3 pasang itu? Kami menggolongkan pemain-pemain lain menjadi tiga bagian yaitu:
1. kelompok yang tidak akan pernah lagi menjadi creme de la creme, pemain yang secara usia atau kemampuan memang tidak mampu lagi bersaing di level kompetisi terbaik, salut untuk mereka jika memang mereka pernah menjadi yang teratas tapi pada saat ini mereka hanya menikmati permainan.
2. kelompok yang masih membentuk diri menjadi cream, kelompok yang menganggap ajang ini sebagai uji ukur coba-coba, semacam heat check kalau di basket, mengukur sudahkah mereka mampu bersaing di ajang yg terbaik atau harus diproses lagi untuk menjadi cream yang baik.
3. kelompok yang pada saat itu ada cream yang lebih enak. kelompok ini memang sudah layak bersaing dan pantas berada di level ini, hanya saja 1-2 pukulan here and there belum memihak kepada mereka, ketiga pasang yang tersisa juga akan masuk kelompok ini jika tidak menjadi juara.
Well, kita tentu berharap yang di kelompok 2 akan menjadi kelompok 3 bukan malah menurun menjadi kelompok 1, sehingga tidak ada pembinaan yang sia-sia. Jadi pemain yang kalian sukai ada dikelompok mana sekarang? Dan selamat menikmati sisa gelaran BCA IOSSP untuk mengetahui siapa creme de la creme tahun ini. Keep rocking Jakarta.
Gelaran BCA Indonesia Open Super Series Premier yang berlangsung pekan ini memang hanya turnamen tahunan belaka, namun statusnya sebagai salah satu turnamen berlevel tertinggi BWF jelas membuat turnamen ini dipenuhi ksatria-ksatria terbaik lapangan karpet. Fakta bahwa hanya 3 wakil tuan rumah di perempat final menunjukkan bahwa dari sekian banyak pemain-pemain negeri ini memang untuk saat ini hanya ketiga pasang ganda itulah yang siap bersaing berebut posisi menjadi creme de la creme.
Lalu kemana yang lain, bukankah negeri ini lebih dari 3 pasang itu? Kami menggolongkan pemain-pemain lain menjadi tiga bagian yaitu:
1. kelompok yang tidak akan pernah lagi menjadi creme de la creme, pemain yang secara usia atau kemampuan memang tidak mampu lagi bersaing di level kompetisi terbaik, salut untuk mereka jika memang mereka pernah menjadi yang teratas tapi pada saat ini mereka hanya menikmati permainan.
2. kelompok yang masih membentuk diri menjadi cream, kelompok yang menganggap ajang ini sebagai uji ukur coba-coba, semacam heat check kalau di basket, mengukur sudahkah mereka mampu bersaing di ajang yg terbaik atau harus diproses lagi untuk menjadi cream yang baik.
3. kelompok yang pada saat itu ada cream yang lebih enak. kelompok ini memang sudah layak bersaing dan pantas berada di level ini, hanya saja 1-2 pukulan here and there belum memihak kepada mereka, ketiga pasang yang tersisa juga akan masuk kelompok ini jika tidak menjadi juara.
Well, kita tentu berharap yang di kelompok 2 akan menjadi kelompok 3 bukan malah menurun menjadi kelompok 1, sehingga tidak ada pembinaan yang sia-sia. Jadi pemain yang kalian sukai ada dikelompok mana sekarang? Dan selamat menikmati sisa gelaran BCA IOSSP untuk mengetahui siapa creme de la creme tahun ini. Keep rocking Jakarta.
Senin, 02 Juni 2014
Indonesian Doubles After TUC. What's next?
Pasca Thomas dan Uber Cup, turnamen besar berikut yang harus ditatap oleh para penggila bulutangkis adalah kejuaraan dunia (WBC) dan Asian Games. Karena entry list WBC sudah dirilis maka bisa dipastikan siapa-siapa saja yang ikut disana. Tapi tulisan ini lebih akan membahas apa yang menurut penulis mungkin terjadi seusai WBC terutama di sektor ganda putra dan putri.
Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.
Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.
Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)
Di sektor ganda putra, mengingat pada saat Rio 2016 nanti usia Hendra sudah diatas 30, maka sebaiknya dia bukanlah menjadi bagian dari pasangan utama yang diandalkan, tapi lebih seperti peran Ricky/Rexy di Sydney 2000 yang tidak terlalu dibebankan emas kala itu. Kalau dilihat dari sisi usia, maka ganda utama di Rio adalah kombinasi antara Angga, Berry, Ricky, Rian, Wahyu, Ade dan mungkin Ahsan. Pencarian kombinasi ganda utama itu harusnya dimulai dari sekarang atau paling lambat segera setelah WBC. Mungkin ada pertanyaan yang muncul, kenapa tidak ada wonderkid Kevin Sanjaya didaftar diatas, well kami menganggap Kevin dan generasi WJC 2012 kebawah jangan terlalu diproyeksikan ke Rio, kalau bisa masuk bagus, kalau tidak toh usia matang mereka memang di Tokyo. Rio ini adalah ajang untuk alumni WJC Mexico keatas untuk dibebani target utama.
Di ganda putri, dengan anggapan alumni Mexico yang jadi tumpuan utama, maka Suci dkk yang harusnya dibebani target utama disana meskipun Greysia/Nitya juga masih memungkinkan, toh biasanya target ganda putri tidak segila ganda putra mengingat tradisi di Olimpiade. Suci/Tiara ini pasangan yang unik, banyak yang berharap banyak pada mereka, tapi mungkin mereka harus dikasih deadline hingga akhir 2014/awal 2015 misalnya untuk bisa mengalahkan pasangan top dunia. Jika target itu tak terpenuhi maka sudah selayaknya dicari kombinasi yang lebih baik untuk bersaing di internasional, entah itu dengan Della, Anggia, Rosyita atau siapapun juga kombinasi yang proyeksinya untuk Rio 2016.
Persiapan untuk Rio 2016 memang sudah harus dimulai dari sekarang dan dengan peluru sebanyak mungkin yang sepadan sehingga jika peluru pertama tidak mencapai target masih ada cadangannya. Demikian dan ditunggu pendapatnya:)
Langganan:
Postingan (Atom)

