Jumat, 28 November 2014

A Note About Butet

Lilyana Natsir, mungkin pemain terbaik ganda sektor putri Indonesia sejak dimulainya millennium ketiga. Namanya muncul pertama kali ke permukaan ketika dia menjadi juara junior Asia di Jakarta tahun 2002 bersama Markis Kido.

Sampai saat ini, dua nama diatas, barangkali nama terakhir yang mampu meneruskan kecemerlangan di masa junior ke masa mereka senior bagi Indonesia. Keduanya mampu meraih banyak gelar dengan pasangan masing-masing. Namun berbeda dengan Kido yang sudah mengoleksi semua medali emas diajang besar, Butet lebih sering melihat pasangan lain yang berdiri di podium tertinggi.
Butet memang punya 3 medali emas yang ketiganya didapat dari WBC di California dan KL bersama Nova serta Guangzhou bersama Tontowi. Tapi jika melihat kalender bulutangkis 2 tahun kedepan, mungkin inilah kesempatan terakhir Butet menuntaskan rasa penasarannya.

WBC 2015 yg digelar di Jakarta mungkin menjadi ajang dendam Butet yang belum pernah juara ganda campuran di ibukota negara sejak 2002 itu, dan dengan kualifikasi hanya s/d Maret 2015 sudah hampir pasti Tontowi yang akan mendampingi.

Tapi bagaimana dengan Rio yang kualifikasinya baru mulai April 2015? jika PBSI berani merubah-rubah formasi, kami coba menganalisa dari daftar pemain putra di pelatnas yg pernah tampil di Super Series nomor ganda campuran.

1. Owi: pasangan Butet sejak 2011 pastinya punya nilai plus dari segi adaptasi hanya saja sifat emosional dan keantikan yang menyertainya menimbulkan tanda tanya.
2. Jordan: punya talenta dan pernah berpasangan dengan Butet, tapi dia bisa dibilang "Owi junior" dari segi emosi.
3. Riky: Barangkali inilah pemain putra yang paling stabil emosinya, memang prestasinya tidak terlalu mencolok tapi kalo mau spekulasi, why not?
4. Alfian atau Edi: keduanya punya gelar di junior, tapi akankah PBSI membongkar Alfian/Annisa? Dan apakah Edi sudah lebih bisa share tanggung jawab?
5. Kevin: Ini pilihan yg sangat spekulatif jika PBSI mau meniru LYD/LHJ

Akankah ada kejutan tak terduga demi pengejaran sebuah medali emas?

Senin, 17 November 2014

End of SSP season

Fuzhou, -kota pendidikan yang terletak di tenggara Beijing- minggu lalu menjadi tempat penyelenggaraan ajang penutup "grand slam" bulutangkis tahun ini setelah empat ajang sebelumnya diadakann di Kula Lumpur, Birmingham, Jakarta dan Odense. Tempat yang sesuai untuk penutupan mengingat China meraih 14 dari 25 gelar super series premier yang tersedia tahun ini termasuk dua gelar di Fuzhou.

Dua gelar tuan rumah tersrbut datang dari ganda putri dan ganda campuran. Untuk kesekian kalinya, Wang Xiaoli/Yu Yang kembali menjadi penguasa ganda putri di level ini, tuan rumah juga seakan mengingatkan para pengganggu bahwa dominasi di nomor ganda putri bukan hanya datang dari 1-2 pasangan saja, melainkan datang dari banyak sumber dengan keberhasilan mengeroyok Misaki/Ayaka di semifinal meskipun tanpa kehadiran Tang Jinhua yang cedera ataupun Ma Jin yang tidak turun di nomor ini. Di ganda campuran, pasangan kekasih -yang mungkin menunggu prize money mereka sebanyak Lee Chong Wei baru melaksanakan pernikahan- melanjutkan tradisi peraih super series premier selalu dari fantastic 4 meskipun 3 pasangan lainnya gugur sebelum semifinal. China bahkan mungkin saja menyapu gelar ganda di Fuzhou jika saja Yoo Yeon Seong tidak bangkit dari kekalahannya di ganda campuran bersama Eom Hye Won dan menggagalkan usaha Chai Biao/Hong Wei dengan bantuan Lee Yong Dae satu-satunya trio L runner up WBC yang mengangkat senjata eh raket di Fuzhou.

Tapi cerita terbesar di Haixia Olympic Sports Center datang dari pemain-pemain negara asia selatan yang juga berpenduduk banyak. India -negeri asal banyak epos pewayangan- memberi 2 versi puncak cerita, versi 1 adalah cerita dimana sang murid mampu menundukkan pemain terbaik dunia yang dicurigai sebenarnya adalah alien di hari ulang tahun guru yang sangat dihormatinya, Srikanth Kidambi mampu bukan hanya bertanding seimbang dengan Lin Dan bahkan memenangi partai itu dalam 2 game langsung dikala Gopichand berulang tahun. Ultah Gopi mungkin juga menginspirasi Saina Nehwal untuk mengakhiri dominasi trio Xuerui-Shixian-Yihan dan menjuarai turnamen di negara yang disebutnya terlalu menguasai jumlah undian tunggal putri di setiap SSP, well dia memang mengalahkan 3 tunggal putri tuan rumah di road to final, sebelum mengalahkan anak sekolah atau mungkin baru lulus SMA dari negeri matahari terbit di final.

Jika 2 negara banyak penduduk diatas menghasilkan juara, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengirimkan 7 pemain kesana dan katanya sih dengan target mempertahankan gelar, tapi nyatanya semua sudah tidak di tengah karpet hijau saat semifinal berlangsung. Mili, Praveen/Debby dan Riky/Richi mungkin bisa diampuni karena kalah dengan terhormat atau setidaknya lumayan. Demikian juga dengan Greysia/Nitya karena kalah dari juara dunia yang main di kandang dan ini adalah turnamen perdana pasca medali emas di Incheon. Tommy mungkin alergi pemain Taipei seperti halnya Simon yang alergi pemain Hongkong selama ini. Kekalahan kembali Ahsan/Hendra di babak pertama turnamen yang sama seperti tahun lalu, menunjukkan kalo PBSI perlu menemukan pelapis ganda putra secepatnya (kalimat teaser post entah kapan jika penulis udah saking gemes baru keluar). Dan sang juara China SSP 2013 Ganda Campuran juga meninggalkan arena di hari Jumat.

Emang diakui bahwa nomor ganda campuran di Fuzhou kemaren itu derajat keanehannya paling tinggi sebelum final. Gimana ngga, 3 dari fantastic four kalah sebelum semi, tapi kekalahan anggota fantastic four dari Indonesia yang sampai memicu komentar di youtube bahwa cowo yang baru menikah tahun ini tampil seperti pemain amatir diantara 3 pemain pro di lapangan, membuat penulis berpikir jangan-jangan waktu pasangan Indonesia itu tampil sangat baik tahun lalu dan awal tahun ini dimana komunikasi keduanya berjalan lancar, yang bermain bersama Liliyana adalah Kedeng yang dengan bantuan Doraemon bertukar tubuh #eh

Thats a wrap of Super Series Premier 2014 and some blabbering from me

Sabtu, 15 November 2014

The Race Is On

Super Series Finals, suatu ajang yang secara prestise diharap menyerupai ATP World Tour Final ataupun WTA Championship, dimana 8 pemain/pasangan terbaik dan paling konsisten di setiap nomor beradu tanding di akhir musim untuk satu gelar terakhir dan tentu saja memuaskan fans dengan partai-partai menarik. Tapi dalam 5-6 tahun pertama sejarahnya, Super Series Finals malah terkesan menjadi turnamen asal-asalan bahkan sempat suatu waktu harus ditunda cukup lama karena ketiadaan sponsor. Tahun ini, mungkin akan berubah karena BWF mampu mengamankan sponsor dari Metlife dan Dubai bahkan me-rebrand superseries ranking menjadi Destination Dubai Ranking dan menyediakan hadiah lumayan besar untuk standar badminton.

Destination Dubai Ranking hanya mengambil hasil yang diraih pemain dari Super Series dan Super Series Premier dengan catatan kuota per negara dibatasi maksimal 2 entry per nomor. Dan Thaihot China Open Super Series Premier yang telah mencapai semifinal hari ini adalah seri kedua terakhir sebelum rangkaian Super Series ditutup pekan depan di Hongkong. Semifinal hari ini dibuka dengan pertandingan Tian Qing/Zhao Yunlei melawan Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi di ganda putri. Duel antara juara dunia melawan ranking 1 dunia dan ranking 1 Destination Dubai Ranking yang diatas kertas tentunya menjadi duel yang menarik untuk ditunggu. Duel yang mungkin terjadi lagi di Dubai karena 2 pasangan ini sudah memastikan lolos bersama juara Asian Games Greysia/Nitya, juara Eropa Rytter-Juhl/Pedersen, Reika/Miyuki, si kembar Luo, Jung Kyung Eun/Kim Ha Na dan Jang Ye na/Kim So Young. Dan tentu saja 8 pasangan ini cukup menarik untuk dilihat mata.

Jika ganda putri sudah memastikan kedelapan pesertanya seusai Thaihot China Open, tidak demikian dengan nomor-nomor lainnya. Di ganda campuran selain pasangan fantastic four yang nyaris selalu mendominasi turnamen, 2 tiket lain diambil oleh Ko Sung Hyun/Kim Ha Na dan Sudket P/Saralee T. Sementara pasutri Adcocks, Fuchs/Michels dan Riky/Richi masih akan memperebutkan 2 tiket sisa di Hongkong. Di tunggal putri, persaingan akan terjadi antara 3 tunggal Jepang, Eriko, Sayaka dan Akane memperebutkan 1 tiket yang muncul karena dibatasinya kuota CHN sehingga salah satu diantara trio Xuerui-Shixian-Yihan harus puas hanya menjadi penonton.

Persaingan seru terjadi di sektor putra, di ganda ada 6 pasang yang sudah lolos termasuk Lee/Tsai, Lee/Yoo, Boe/Mogensen dan Ahsan/Hendra. 2 tiket lagi diperebutkan beberapa pasangan termasuk sang juara dunia Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dan Fu Haifeng/Zhang Nan yang dengan medali emas Olimpiade di leher mereka biarpun dengan pasangan/dari nomor yang berbeda tentu tidak bisa dianggap biasa saja. Di tunggal, lebih chaotic lagi, hukuman terhadap Dato dan melejitnya Chou Tien Chen serta Srikanth menjadi penyebab kekacauan persaingan yang tampaknya akan seru di Hongkong, Baru sang juara dunia, Chen Long, juara BCA IOSSP, Jan O Jorgensen, pahlawan Thomas Cup Jepang, Kento Momota, serta motor Korea di Incheon, Son Wan Ho yang lolos ke Dubai. 4 tiket lainnya akan menjadi pertarungan antara Chou Tien Chen, Hu Yun, Parupalli, Srikanth, Tago, Tommy, Ueda, Vittinghus dan Zhengming.

So yes the race is on. Lets enjoy the rest of Superseries this year

Kamis, 30 Oktober 2014

Hope For Hian's Troops

Ganda putri, nomor bulutangkis yang bagi mayoritas penggemar dari Indonesia merupakan nomor ganda yang paling ngga dianggep. Bagaimana tidak, dibanding ganda putra yang punya berderet pasangan tangguh dengan gelar juara bejibun dan ganda campuran yang punya Butet dan Vita beserta pasangannya, apalah yang ganda putri punya? Cuma Butet/Vita yang "disewakan" dari ganda campuran dan terpaksa mengikuti permainan paduka Li Yongbo di London.

Hal itu pun berlanjut saat kepengurusan Gita Wirjawan dimulai, disaat nomor lain sudah memiliki pelatih yang pasti, ganda putri malah harus menunggu kedatangan Reony Mainaky sambil sementara diawasi oleh para asisten. Ketika akhirnya Reony memutuskan untuk tetap berada di Jepang, sempat ada kekecewaan dan anggapan bahwa nomor ini bakal makin terpuruk seperti sektor putri satunya itu.

Ganda putri mulai merebut perhatian ketika medali Asian Games menghampiri, medali itu sendiri menurut kami hanyalah produk wajar dari grafik performa Greysia/Nitya yang memang meningkat tahun ini. Prestasi yang lalu diikuti dengan absennya punggawa ganda putri pelatnas dari tur eropa.
Absennya nyaris seluruh ganda putri di tur eropa ini tentu menimbulkan pertanyaan. Semoga saja absennya ini memang untuk refreshing dan mencari kombinasi terbaik untuk mendampingi Greysia/Nitya di kualifikasi Rio. Yang jelas, kmi hanya bisa berharap bahwa kesuksesan di Incheon kemarin tidak membuat coach Eng Hian dengan pasukan yg sekompi penuh potensi justru puas dengan hanya 1 kartu truf saja.

We certainly hope that you can maximize Indonesia's women double department coach.

Selasa, 07 Oktober 2014

Haruskah Kami Hanya Berharap Kejutan?

Upacara penutupan Asian Games 17 di Incheon beberapa hari lalu cukup membuat bangga dan menarik perhatian orang Indonesia karena tampilnya kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari upacara itu karena peran Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan berikut di tahun 2018. Kebanggan yang bila berkaca pada hasil prestasi di Incheon kemarin sangat mungkin akan berhenti disana dan tidak berlanjut empat tahun lagi.

Prestasi di Incheon kemarin bahkan bisa dikatakan kebetulan yang sensasional, bagaimana tidak, dari 4 medali emas yang diraih Indonesia hanya satu yang bisa dikatakan sesuai proyeksi yaitu di bulutangkis ganda putra, sisanya adalah 2 medali emas kejutan dari Greysia/Nitya dan Maria Londa serta satu "limpahan" yang didapat oleh Juwita Niza.Emas atau medali kejutan memang bukan hal yang baru bagi di Indonesia di ajang Asian Games, 2010 didapat dari cabang Perahu Naga, 2006 ada dari boling melalui Ryan dan Putty, 2002 ada balap sepeda melalui trio Uyun, Santia dan Risa. Setidaknya itu catatan di milenium ketiga ini, sebelumnya setidaknya ada dua nama Supriati Sutono dan Pino Bahari dengan emas dari cabang masing-masing yang juga membanggakan sekaligus tak terduga.

Emas kejutan sebenarnya menunjukkan bahwa atlet negeri ini punya banyak potensi tapi sayang sering tenggelam karena tiadanya kompetisi atau kompetisi hanya sebatas seremonial tanpa muara yang jelas. Kompetisi disini selama ini sifatnya yang penting ada atau yang penting penonton ramai, banyak atlet kita yang karena jarang berkompetisi akhirnya hanya sekali muncul lalu tenggelam atau kurang maksimal. Ambil contoh bulutangkis, empat puluh persen komposisi Incheon sama dengan Guangzhou 2010, hal yang wajar sebenarnya jika hanya dilihat sekilas, tapi 60 persen pemain baru yang menggantikan pemain yang cedera/pensiun kualitasnya belum sebaik dengan yang digantikan sehingga beregu sampai tidak menghasilkan medali sama sekali. Jika bulutangkis yang diklaim sebagai salah satu olahraga populer di Indonesia dan punya pelatnas berkesinambungan yang baik, transisinya seburuk itu apalagi cabang lain yang tak populer atau pelatnasnya putus nyambung?

Momentum terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games selanjutnya ini harusnya bisa memicu pihak Kemnpora, KONI/KOI dan para induk olahraga untuk benar-benar mengidentifikasi dengan baik cabang-cabang olimpiade yang memiliki potensi prestasi bagi Indonesia sehingga cabang-cabang itulah yang lebih diprioritaskan pembinaan dan kompetisinya sehingga bisa membawa nama Indonesia dengan baik. Ambil contoh Singapura yang memaksimalkan potensi Joseph Schooling di kolam renang atau India dengan atlet menembaknya yang benar-benar bersaing di kejuaraan dunia, jangan sampai kasus Pelti vs Tami Grende atau kasus pengadaan bola boling yang justru menghiasi kembali media olahraga kita.

Semoga di Jakarta 2018 dan seterusnya kami tidak hanya berharap kejutan, atau haruskah kami?

Rabu, 01 Oktober 2014

Incheon 2014: Class and Validation


Tahun 2014 ini penggemar badminton benar-benar dimanjakan dua turnamen berskala besar dalam waktu yang berdekatan. Belum ada dua bulan sejak para pendekar bertarung diatas karpet hijau Ballerup Super Arena untuk mencari siapa ksatria terbaik dunia, sebagian besar pendekar itu kembali bertarung di Gyeyang Gymnasium demi tahta benua terbesar untuk empat tahun kedepan.

Form is temporary, class is permanent. Frase yang sering digunakan fans klub sepakbola yang pernah berjaya tapi sedang terpuruk itu tampaknya layak didengungkan untuk gelaran sektor putra di Incheon. Setelah Lee Hyun Il membuktikan kelasnya dengan membawa regu tuan rumah berjaya di beregu, di nomor individu giliran para juara bertahan yang menunjukkan kelasnya. Di tunggal, sang alien -yang kabarnya segera bergaris tiga- belum rela menyerahkan tahtanya bahkan memaksa seorang Dato untuk menjadi Karl Malone-nya badminton dan membuat Chen Long yang baru saja mendapat ksatria terbaik dunia harus rela kembali berada dalam bayangannya.

Di ganda pun demikian, prajurit utama tuan rumah yang kala Ballerup harus menyerahkan podium tertinggi ke kompatriotnya, di Incheon harus merelakan tahta kembali dikuasai sang Resi yang kali ini datang dengan rekan lebih muda. Memang tiada lagi Mighty Mouse yang membantu menghujani lawan dengan rudal menghujam tapi rekan baru dari Sriwijaya ini justru mengobarkankan kembali semangat selain juga memancing keluarnya permainan terbaik masing-masing yang sungguh dibutuhkan guna menjadi penguasa.

Jika para penguasa lama menunjukkan kelasnya yang memang layak untuk kembali berkuasa, bagi yang baru bertahta, tahta Incheon nampak seperti validasi yang lama mereka rindukan. Zhang Nan/Zhao Yunlei misalnya, gelar ini jelas membuktikan bahwa mereka tim ganda campuran terbaik di dunia saat ini. Mereka memang pasangan yang paling imbang secara individu dan paling sulit terpengaruh secara emosional dalam permainan,

Gelar Incheon mungkin paling berpengaruh untuk Wang Yihan dan Greysia/Nitya. Yihan yang akhir-akhir ini dianggap sebagai pelengkap trio tunggal putri utama China setelah dirundung cedera dan banyak faktor lain tentu berharap gelar ini mampu menjadi titik balik untuk kembali meraih status yang paling tidak mendekati statusnya ketika dia menjadi ujung tombak trio Wang. Bagi Greys/Nitya ini jelas menempatkan/membuktikan bahwa mereka layak berada di jajaran elit ganda putri dunia dan dengan grafik permainan yang terus meningkat, tampaknya mereka memang bukan hanya sekedar pelengkap deretan top 10 dunia,

So, congrats bagi para penguasa podium, nama kalian tercatat sebagai penguasa badminton Asia 2014-2018.

Selasa, 30 September 2014

A Pleasant Distractor: Story About Following Maria Londa's Gold

29 September 2014, sama seperti kebanyakan penikmat olahraga Indonesia, kami menunggu partai final ganda campuran Asian Games dengan hati lumayan dagdigdug. Ya badminton memang masih dianggap peluang terbesar medali bagi Indonesia. Dan karena ketegangan itu, maka saat final antara Alien melawan Naga, kami berusaha mencari pengalihan sekedar untuk menstabilkan detak jantung ini. Pengalihan itu kami dapat melalui info di foxsportsindo bahwa ada atlet Indonesia yang berlaga di final jam 17.00 bernama Maria Londa, karena kami tidak tahu cabang yang diikutinya maka diubeklah website resmi Incheon dan diketahui bahwa itu di atletik.

Jujur, nama yang terlintas di pikiran penulis kalo soal atletik adalah Ruwiyati dan Supriati Sutono, dua pelari wanita jarak menengah dan jauh Indonesia, lompat jauh bagi kami adalah buta sama sekali kecuali harus lompat jauh kalo penjaskes waktu sekolah dulu. Dengan pikiran demikian, kami buka tab final lompat jauh untuk menenangkan jantung dan berharap atlet Indonesia nggak jadi juru kunci.
Ketika tab dibuka, sebagian atlet sudah melakukan lompatan kedua, nama pelompat jauh Vietnam memimpin dengan lompatan sejauh 6,3 meteran dan ketika semua atlet menyelesaikan lompatan kedua, Londa berada di 8 besar dan Vietnam masih memimpin. Jantungpun agak tenang karena baguslah ngga juru kunci dan jujur saat itu lebih menyemangati atlet Vietnam sebagai sesama ASEAN dan ekspektasi awal yang asal ngga juru kunci.

Beberapa klikan refresh kemudian (kalo yang biasa livescore badminton AG pasti klik refresh berkali-kali) Bui Thi Thu Thao makin kokoh di puncak dengan lompatan 6.44, dan Maria Londa ada di posisi 2 dengan lompatan 6.40 meter. Disini badminton di tv mulai terabaikan dan mulai berharap medali diraih oleh Indonesia ya perunggulah setidaknya. Perhatian makin besar berarti tombol refresh makinn sering digunakan dengan mata tertuju pada baris nama kedua-keempat. Ketika usai lompatan terakhir Londa -yang mendapat urutan kedua/ketiga- bendera Merah Putih dengan tulisan INA disamping tidak ada pada baris yang dituju mata, kami pikir ya sudahlah kami cari dibawah lagi.

Whoa! betapa kagetnya kami ketika justru nama dan bendera yang dicari justru berada diurutan teratas. Maka dengan perhatian full ke ajang ini sekarang, kami mulai ngetwit hanya dengan kata medalist, dan ketika semua usai barulah kami tambahkan kata 3rd gold disana. Sekali lagi, selamat Maria Natalia Londa atas medali emasnya dan terima kasih atas pemberian pengalihan excitement bagi kami kemarin.