Selasa, 06 September 2016

Tiada Dominasi di DOME?

Indonesia Masters dimulai Selasa ini di Balikpapan. Sebagai Grand Prix Gold pertama pasca Olimpiade Rio, maka wajar bila turnamen ini sepi Olympian dan lebih banyak pemain muda atau yang sudah lewat masa jayanya.

Ada dua perasaan yang beradu ketika melihat draw baru yang memperhitungkan mundurnya 3 unggulan utama ganda yang semuanya dari Indonesia, ada optimisme bahwa banyak pemain muda Indonesia yang berkembang baik untuk AG Jakarta dan seterusnya tapi di sisi lain ada keraguan jangan2 semua gelar di Balikpapan lepas dari tuan rumah.

Mari kita ulas satu persatu. Di ganda putra, mundurnya Ahsan/Hendra dan cederanya Gideon memang tidak begitu berasa karena masih ada Angga/Ricky dan lapisan pemain bagus dari generasi Kido dan Fran yang 30+ hingga Kevin dan Fajar Alfian yang kurang dari 22 tahun. Tapi apakah mereka punya tenaga setelah "bunuh-bunuhan" untuk menghentikan Huang Kaixiang/Wang Yilyu atau Lim Khim Wah/Ong Jian Guo yang pasti ingin mendapat gelar.

Di ganda campuran, mundurnya Jordan/Debby dan Eko/Anissa membuat Ronald/Melati bersama Hafiz/Shela harus membuktikan kesiapan mereka tampil gemilang di turnamen besar, sesuatu yang selama ini belum terlihat. Jika mereka berempat gagal, berarti publik harus berharap racikan-racikan baru dari Cipayung mampu menghentikan Tan Kian Meng/Lai Pei Jing yang onform dan termotivasi prestasi Chan/Goh ataupun Huang Kaixiang yang mencari dua gelar.

Kemampuan untuk stabil tampil baik di turnamen tingkat atas juga harus ditunjukkan Della/Rosyita dan Tiara/Rizki, dua pasangan yang belakangan memberi harapan mulusnya regenerasi dibawah Greys/Nitya tapi kadang menunjukkan inkonsistensi. Turnamen ini memberi kesempatan bagi mereka untuk mendapat gelar pertama di kelas GPG sekaligus menghentikan upaya beberapa pasangan baru Korea dan China.

Di dua nomor tunggal, terjadi kontradiksi. Di putra, akan menarik melihat bagaimana Jo, Ginting dan Ihsan menyesuaikan mental mereka untuk tampil sebagai yang diunggulkan setelah kerap memberi kejutan sebagai underdog. Di putri, posisi Indonesia tidak mungkin lebih underdog dari ini, dengan menurunkan generasi Jorji, Aurum dan kawan-kawan serta Hana yang paling senior rasanya menembus semifinal saja sudah melampaui ekspektasi mayoritas publik ketika bendera merah putih tidak ada di daftar unggulan.

Jadi, akankah tuan rumah kembali dengan tangan hampa dari DOME?

Selasa, 30 Agustus 2016

As the Euphoria Goes (Tribute to Jakpost)

Jujur, agak kaget tadi pas baca artikel dari Jakpost karena baru kali ini rasanya ada media cetak non olahraga yang melakukan riset cukup mendalam tentang ranking dan siapa-siapa yang berpeluang untuk beberapa tahun ke depan di badminton. Maka, saya pikir saya copas sebagian artikel itu kesini sebagai penghargaan kepada Jakpost dan Niken Prathivi sebagai penulis.

It is time now for other members of the national badminton team, especially the younger generation, to wake up and smell the coffee and do the hard deals. They have four years before the 2020 Tokyo Games to develop their technical skills and follow in the footsteps of Tontowi and Liliyana.

All of this can be shaped by participating in numerous individual international competitions as well as regional multi-sport events such as the 2017 Southeast Asian (SEA) Games in Kuala Lumpur and 2018 Asian Games at home. These two regional events will serve as ideal stepping stones toward the Tokyo Olympics.

Taking advantage as hosts in the 2018 Asian Games, Indonesian badminton players should push themselves to win more golds as this will give a boost to their morale ahead of the 2020 Olympics.

Indonesian Badminton Association (PBSI) chief Gita Wirjawan retains his faith that the country is looking at three future stars in the men’s singles with a potential to win medals in Tokyo. They are Ihsan Maulana Mustofa, Jonatan Christie and Anthony Sinisuka Ginting, respectively junior world No. 17, 22 and 30.

The three displayed maturity beyond their ages when helping Indonesia triumph in the 2016 Asia Championships men’s team competition and the 2015 SEA Games men’s team event.

In fact, doubles events have become the dependable sector for the Indonesian badminton team in winning Olympic medals ever since the historic 1992 Barcelona Games.

Indonesia, however, may not be able to pin too much hope of taking over the baton from Tontowi and Liliyana on the country’s second-best mixed doubles team of Praveen Jordan and Debby Susanto, who lost in the quarterfinals in Rio. Debby, 27, has bid farewell to the Olympics.

This makes it even trickier as the ranking gap between Praveen/Debby and the younger teams is quite big. Ronald Alexander and Melati Daeva Oktavianti are currently number 19, while, Riky Widianto and Richi Puspita Dili are 28th. Both pairs, however, are still under the radar.

In the women’s doubles, the most famous pair is fourth-ranked Nitya Krishinda Maheswari and Greysia Polii, who finished the group stage but crashed out in the quarterfinals in Rio. But Nitya will be 31 and Greysia 33 when the Tokyo Olympics take place. They have done quite well so far, but may not be fit for such a competitive event as the Olympics.

Climbing up the ranking ladder behind Nitya/Greysia are No. 19 Anggia Shitta Awanda and Ni Ketut Mahadewi Istirani, as well as No. 20 Della Destiara Haris and Rosyita Eka Putri Sari.

In the men’s doubles, the PBSI reckons on Marcus Fernaldi Gideon and Kevin Sanjaya Sukamuljo at No. 11 and Angga Pratama and Ricky Karanda Suwardi at No. 13. The two pairs hint at a promising future. They are in the PBSI’s grooming program to layer fifth-ranked Hendra Setiawan and Mohammad Ahsan, who performed poorly in Rio.

Sadly, the women’s singles is still a big challenge for Indonesian badminton to deal with. With Maria Febe Kusumastuti as the only shuttler in the top 30 list, the PBSI needs to go the extra mile and scout for talent, hopefully under the legendary Susi Susanti.

Anything can happen in the coming four years, but nothing is going to dim the Indonesian badminton players’ love of donning the national colors and winning in the Olympics.

Artikel lengkapnya, bisa kalian baca di http://www.thejakartapost.com/news/2016/08/29/let-s-not-take-olympic-badminton-gold-granted.html

Jumat, 12 Agustus 2016

Cerita Riau Di Rio

Riau Ega Agatha Salsabila, apa yang terlintas ketika pertama membaca nama tersebut? Pas pertama kali baca kami pikir Ega lahir di Riau, ternyata tidak, pemanah ini berasal dari Blitar, Jawa Timur yang ribuan kilometer jauhnya dari Riau. Yang pasti perhatian banyak pecinta olahraga Indonesia entah di Blitar, Riau atau dimanapun juga akan tertuju ke Ega saat dia tampil di Sambodromo pada hari ketujuh olimpiade Rio 2016.

Sambodromo, tempat dimana para penari samba terbaik berkumpul untuk seminggu ini menjadi arena para gladiator beradu dengan busur dan panah. Setelah 3 emas melayang ke Korea, 14 pemanah putra pasti berusaha agar tidak ada sapu bersih dan terinspirasi Ega yang mengalahkan pemanah utama Korea senin lalu. Memang suatu kejutan tapi tentu Ega ingin tidak hanya sekedar memuluskan jalan orang lain menuju podium melainkan dia sendiri ikut berdiri di podium. Untuk mewujudkan harapan itu, pertama-tama Ega harus tampil lebih baik dari Mauro Nespoli. Nespoli sendiri tak asing dengan podium Olimpiade, 4 tahun lalu di Lord's cricket ground bersama Marco Galliazo dan Michelle Frangili berdiri di podium tertinggi sambil membawa bendera merah putih hijau vertikal.

Apapun hasil pada hari terakhir di Sambodromo yang diraih Ega, dia sudah mencatatkan diri sebagai 1 dari 16 pemanah putra terbaik dunia. Dan melihat antusiasme masyarakat menanti penampilan Ega serta membludaknya penonton 3 srikandi, ini adalah momentum bagi seluruh jajaran Perpani untuk mempopulerkan lagi panahan di anak muda Indonesia agar penantian medali olimpiade kedua atau ketiga tidak perlu menunggu 20 tahun lebih lamanya dari sekarang.

Semoga

Sabtu, 23 Juli 2016

Preview Kontingen ASEAN di Rio

Olimpiade Rio akan berlangsung kira-kira setengah bulan lagi Ya, dalam periode satu purnama secara astronomi para arlet terbaik dunia dari berbagai cabang akan berkumpul dan berkompetisi untuk pertama kalinya di belahan bumi yang dikenal sebagai Amerika Selatan. Ngomongin soal setengah, tulisan ini akan membahas prestasi Olimpiade dari negara-negara yang wilayahnya berada dalam zona waktu yang berbeda kira-kira setengah hari dari Rio de Janeiro, yaitu Asia tenggara. (Disclaimer: Asia timur juga di zona waktu yang sama tapi diabaikan krn prestasinya udah ketinggian)

Demi keringkasan tulisan (kaya entry blog ini pernah panjang aja), maka negara yang dibahas hanyalah negara pendiri ASEAN. Negara ASEAN pertama yang berpartisipasi di Olimpiade adalah Filipina, Filipina juga yang pertama kali meraih medali melalui Teofilo Yldefonso pada Amsterdam 1928. Negara Manny Pacquiao ini belum pernah mendapat emas Olimpiade, dua kesempatan terdekat dengan emas didapat ketika dua petinju mereka kalah di final Tokyo dan Atlanta. Dan seperti sebelumnya, negara yang mengirim 12 atlet di 7 cabor ke Rio ini berharap akan ada medali dari ring tinju. Negara kedua setelah Filipina yang meraih medali adalah Singapura di Roma 1960 lewat perak angkat besi. Mereka harus menunggu 48 tahun sebelum datangnya medali kedua lewat Feng Tianwei dan kawan-kawan yang menjadi warga negara Singapura lewat program pencarian bakat, Feng Tianwei yang mencari emas untuk melengkapi perak dan perunggu dari 2 OG sebelumnya akan menjadi andalan Singapura selain rekan-rekannya sesama atlet pingpong.Satu pendiri ASEAN lagi yang masih mencari emas pertama adalah Malaysia. Malaysia yang baru meraih medali bersamaan dengan masuknya badminton ke olimpiade, tentu berharap salah satu pebulutangkis mereka atau Pandelela Rinong berhasil memulai pendulangan emas di Olimpiade, meski mereka bisa kasih pembelaan bahwa puasa emas karena IOC ngga approve squash :D

Indonesia dan Thailand, dua negara yang sama2 pertama kali ikut Olimpiade di Helsinki 52 dan sama2 pernah meraih emas di Olimpiade, menyikapi kegagalan mereka meraih emas di London 2012 dengan cara agak berbeda. Thailand peraih 7 medali emas (terbanyak seASEAN sampai sekarang) mencoba meraih kembali tradisi emas itu lewat banyak cabang, seperti Ratchanok Intanon rank 4 BWF, Peamwilai Laopeam dan Wutichai Masuk peraih medali kejuaraan dunia tinju terakhir, lifter peraih perak OG London Pimsiri Sirikaew, dan pegolf nomor 7 dunia Ariya Jutanugarn. Sementara Indonesia mengandalkan bulutangkis untuk mengembalikan tradisi emas dengan bantuan para lifter angkat besi yang berburu emas pertama setelah 3 perak 5 perunggu sejak Sydney. Indonesia juga berharap medali dari cabang panahan, cabang pertama yg meraih medali OG bagi Indonesia di Seoul (film biopiknya bentar lagi rilis, ini bukan bajer biarpun ngarep #eh)

Siapa yang bakal menjadi negara ASEAN tersukses di Rio masih teka teki, semoga banyak medali yang diraih atlet Asia Tenggara.

NB: posisi Indonesia yang dulu mengaku diri sebagai raja sport ASEAN sudah disusul Thailand. Pertanyaannya mau mulai mengejar ketinggalan sekarang atau tunggu disusul negara ASEAN yg inisialnya sama dengan negeri gajah putih?

Rabu, 29 Juni 2016

Menyoal level turnamen

Chinese Taipei Grand Prix Gold sudah dimulai hari ini. Bagi negara yang industrinya maju seperti Taiwan, rasanya tidak sulit bagi panitia lokal untuk menarik sponsor guna menaikkan gengsi turnamen GP Gold ini menjadi Super Series ataupun SSP toh hall mereka juga sangat memadai dengan 5 court. Tapi mereka memilih mempertahankan status turnamen sebagai GPG dan menambah satu turnamen Grand Prix lainnya ketimbang menaikkan turnamen menjadi label Super Series. Hal ini, membuat kami bertanya, kira-kira apa ya yang mempengaruhi panitia negara manapun untuk memilih bidding untuk menjadi host turnamen di level mana?

Suatu negara memang boleh menyelenggarakan lebih dari 1 turnamen senior yang masuk ke kalender BWF tapi kita bicara turnamen utamanya dulu deh. Australia misalnya, sebagai negara terbaru yang menyelenggarakan turnamen Super Series, suatu hal yang aneh tapi mereka mau itu supaya badminton bisa lebih populer disana. Mereka tahu tuan rumah tidak akan bisa bicara banyak, tapi semoga permainan para pemain top yang datang dapat membuat banyak penonton tertarik dan mulai menseriusi badminton lalu menjadi bintang dalam sekian tahun kemudian, pemikiran jangka panjang yang masuk akal meskipun secara short term terlihat absurd. Lalu ada India yang melakukan bidding Super Series setelah kesuksesan Saina Nehwal meraih medali di Olimpiade, mereka meyakinkan sponsor bahwa kesuksesan Saina harus diperlihatkan juga di negeri sendiri dan ujungnya memancing munculnya pemain-pemain lokal lain yang juga termotivasi untuk sukses. Taipei tetap di GPG mungkin karena mereka yakin inilah cara terbaik mengembangkan banyak pemain muda yang mereka miliki.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Keberadaan beberapa pemain top 10, keberanian sponsor dan antusiasme Istora membuat penyelenggaraan Super Series Premier di Indonesia menjadi tontonan yang sangat layak diperhatikan. Karena SSP memang biasanya diisi lineup pemain terbaik, wajar jika lebih banyak pemain muda Indonesia yang bersaing di Indonesia GP Gold. Tapi, sayangnya Indonesia GPG yang dimaksudkan sebagai ajang pemain muda sekaligus penyebaran ke daerah entah kenapa kurang gaungnya. Entah karena panpel atau sponsor yang enggan, atau masyarakat awam yang memang sudah tidak peduli olahraga? Atau kombinasi semuanya, ada yang bisa jawab?

Jumat, 06 Mei 2016

No Complacency in 2016, Please

Beberapa hari belakangan, di timeline twitter banyak berseliweran twit tentang Civil War dan Ada Apa Dengan Cinta 2, dua film baru yang memang layak mendapat perhatian karena plot ceritanya. Tapi bagi penulis yang baru nonton film jika muncul di televisi, 2 film terlintas di ingatan justru Rocky III dan Mighty Ducks 2.

Dua film sekuel dengan tema sport ini menarik karena ada kemiripan cerita disitu. Rocky Balboa dan Gordon Bombay sama-sama tampil di awal film sebagai seorang yang berhasil dari sekuel sebelumnya dan terlihat seperti meremehkan tantangan berikut yang ada.Beruntung bagi mereka berdua, mereka sadar/disadarkan akan hal itu dan mampu membalikkan keadaan, tapi di dunia nyata tidaklah selalu demikian.

Banyak contoh kasus di dunia nyata, dimana momentum berpindah karena complacency. Heat-Mavs pada NBA finals 2011 misalnya ketika Terry justru semangat ketika Heat sudah melakukan selebrasi kemenangan meski masih ada menit tersisa di game keempat, atau mungkin juga Milan pada turun minum Istanbul 2005. Di badminton, jangan tanya berapa kasus pemain sudah mencapai MP di game 2, kalah lalu hilang di game penentuan.

Olimpiade Rio 2016 yang akan berlangsung sekitar 4 bulan lagi harusnya menjadi tujuan puncak dari semua atlet, tapi apakah semua atlet akan memiliki fokus yang tepat pada saat itu? belum tentu. Bisa jadi, akan ada pemain yang merasa ah udah lolos ke OG kok, lalu menurunkan fokus dan justru dikejutkan di Rio karena telat memfokuskan diri lagi. Atau mungkin, akan ada juga pemain yang sudah puas dengan hasil baik sebelum Rio dan seperti Gordon Bombay, lupa bahwa ada hal yang lebih besar di depan mata dan meremehkannya.

Well, demi kami para fans layar kaca ini, semoga saja semua atlet yang tampil di Rio benar2 dalam kondisi terbaik mereka.

Sabtu, 09 April 2016

My View About WS Development

Tunggal putri, nomor yang paling banyak jumlah negara di top 10 dibanding nomor lain. Sepuluh pemain dari tujuh negara mengisi top 10 pada rilis rank terbaru seusai India Open Super Series. Keragaman yang membuktikan bahwa bulutangkis memang merata dan mendunia. Tapi, bagi beberapa pihak menjadi nomor yang menyedihkan karena tidak ada bendera merah putih disana.

Salah satu faktor besar ketiadaan itu adalah cedera yang dialami ketika bertanding dan kadang terus dipaksakan main sehingga memperparah keadaan. Cedera memang menjadi momok tersendiri bagi tunggal putri Indonesia, karena biasanya setelah sembuhpun, pergerakan mereka tetap terpengaruh dan ujungnya membuat prestasi tunggal putri utama Indonesia tidak optimal. Kondisi ini membuat suara untuk pemain muda menjadi makin besar, tapi apakah hal itu semudah membalik telapak tangan? Tentu ada banyak hal yang harus diperhatikan, beberapa diantaranya mungkin ada dibawah ini

Belajar dari pengalaman, rasanya pelatih dan para pemain terutama tunggal putri harus tahu cara mencegah cedera dan juga tahu kapan harus berhenti jika merasakan cedera, ketimbang memaksakan saat itu dan membuat masa depan bulutangkisnya terhenti. Sering terjadi karena ketatnya pertandingan dan sifat kompetitor, pemain membiarkan aliran adrenaline berkuasa dan mengabaikan tubuh yang sudah mengirim sinyal kuat bahwa tubuh jauh melewati batasnya.

Frekuensi dan tingkat turnamen yang diikuti harus direncanakan dengan baik, karena overburnt ataupun rusty karena frekuensi yang keliru juga membahayakan karir sang pemain. Mental si pemain juga harus siap dengan apa yang kalo di bola basket disebut closing and crunch time mentality, -keadaan dimana seseorang dipercaya bermain dan diyakini mampu berperan dalam kondisi menit2 akhir pertandingan penting ataupun pertandingan dengan skor ketat- dan tentu mental itu tidak akan terbentuk jika punya win loss record negatif tiap tahunnya.

Pola permainan juga menjadi hal penting buat bulutangkis sekarang. Beberapa orang terpaku berharap akan ada titisan Susy Susanti dari segi mental dan permainan tapi mungkin mereka lupa atau mengabaikan bahwa tidak semua pemain bisa bermain dengan pola Susy dan pola itu bukanlah satu-satunya yang berjaya di tunggal putri. Pola kejar bola kemanapun dan kuat-kuatan stamina sebagai senjata utama memang masih dipakai misalnya oleh Nozomi Okuhara, tapi jika melihat top 10 saja setidaknya ada 2 pola lain yang dominan/ Pola attack dan mengandalkan speed power seperti Marin dan PV Sindhu atau pola tactical crafty macam Intanon atau TTY yang sering memunculkan pukulan2 tak terduga..

Dan itu harus disadari bahwa dengan banyak variasi pola main, biarlah setiap pemain menyadari dimana kelebihannya dan memilih pola yang sesuai dengan kelebihannya, sehingga pada akhirnya bulutangkis akan menjadi semakin berwarna dan menarik untuk diikuti.

Rabu, 10 Februari 2016

Which One Are You?

"Sky is the limit for him" Kalimat yang biasa terdengar dari pemandu bakat olahraga, terutama bola basket untuk menggambarkan potensi seseorang yang mereka yakini akan menjadi pemain yang berpengaruh besar. Tapi apakah potensi itu dicapai karena pure talent? Bagi sebagian besar, jawabannya adalah tidak.

Secara umum, perkembangan seorang atlet pasti akan membentur beberapa plateau, dimana perkembangan dan pencapaian prestasinya biasa-biasa saja untuk standar pemain tersebut. Bicara soal plateau, setidaknya ada dua kasus yang bisa dipelajari di badminton dalam hal menghadapi plateau. Yang pertama adalah Kenichi Tago, - tunggal putra Jepang yang sempat memasuki top 10 dan memimpin negaranya merebut piala Thomas- adalah contoh atlet yang gagal melewati plateaunya. Dia yang selama ini gagal meraih gelar turnamen SS/SSP makin kecewa ketika ada juniornya yang bisa meraih beberapa SS/SSP dan menyusul ranking Tago di BWF. Dan sejak itu prestasi Tago pun makin tenggelam.

Kasus serupa juga pernah terjadi di India sekitar 3 tahun lalu. Saina Nehwal peraih medali perunggu Olimpiade London juga sempat dianggap karirnya selesai karena masalah fitness dan fakta bahwa Pusarla Venkata Sindhu nyaris menyamai pencapaian Saina. Berbeda dengan Tago, Saina menyadari bahwa dia menurun dan perlu perhatian khusus untuk kembali kompetitif. Ketika di tahun 2015, dia bersama Carolina Marin mengacak-acak dominasi China dan menjadi 2 tunggal putri di puncak dunia, Saina sangat memberi kredit pada pelatih baru dan semua pihak yang terus mendukungnya meskipun dia dalam kondisi stagnan.

Dari kedua contoh diatas, terlihat bahwa kedewasaan atlet dan dukungan dari lingkungan sekitar menjadi hal yang sangat penting dalam hal perkembangan atlet, terutama atlet muda. Ini membuat kami bertanya, para pembaca tulisan ini lebih memilih untuk mensupport seperti Saina Squad atau justru membiarkan dan mungkin mendorong agar atletnya jatuh?

Jumat, 11 Desember 2015

See You At The Courtside

Comeback Stronger, tulisan yang terpampang pada kaos yang dipasarkan gamepoint production, clothesline milik Greysia Polii. Dan menurut kami, personifikasi terbaik slogan itu selain oleh pemiliknya sendiri adalah Vita Marissa. Ya, Vita Marissa pemain yang segera mengakhiri karir sebagai pemain bulutangkis dan mungkin last act-nya adalah membawa Raffidias Akhdan kembali ke pelatnas :D.

Kenapa kami berpendapat bahwa Vita adalah personifikasi comeback stronger? Perjalanan karirnya sudah jelas memperlihatkan itu. Bahkan, bukan cuma sekali saja Vita membuktikan dia masih sangat kompetitif ketika publik menganggap karirnya sudah tidak mungkin bangkit lagi
.
Cedera panjang dan operasi yang dialami Vita lebih dari satu dekade lalu adalah saat pertama kali namanya masuk ke memori. Cedera yang membuat PBSI kala itu membuat keputusan nekat memasangkan Nova dengan Liliyana yang belum begitu lama jadi juara junior asia. Ketika Nova/Butet langsung meroket, jujur saja pikiran bahwa Vita bakal menjadi sekedar pemain pelatnas sempat terlintas. Dan, Vita bukan saja sukses membuktikan anggapan itu salah, dia sukses menjungkirbalikannya.  Selepas dari cedera, dia mampu lolos ke Olimpiade di 2 nomor sekaligus. Bukan hanya sekedar lolos, di ganda campuran lolos ke semifinal setelah di masa kualifikasi tampil sebagai salah satu top 8 dunia bersama Flandy Limpele, dan di ganda putri lolos setelah sempat menjadi juara di China dan dalam prosesnya merebut hati ribuan (an understatement) orang Indonesia untuk (kembali) tertarik kepada bulutangkis. Dan ketika contract fiasco tahun 2009-2010 yang membuatnya memilih menjadi pemain profesional hingga sekarang, beliau masih mampu menjuarai beberapa turnamen GP Gold dengan berbagai partner, dan dalam bahasanya sendiri, mampu mempersembahkan partnernya bagi bulutangkis Indonesia.

Dan mungkin begitulah Vita Marissa sebagai pemain bulutangkis akan dikenang

Senin, 07 Desember 2015

Dubai 2015: Final Race For End Of Year Ranking

Peringkat satu di akhir tahun, suatu predikat yang cukup bergengsi di tenis, sesuatu yang menunjukkan perkasanya seorang pemain di tahun tersebut. Di bulutangkis -meski tidak terlalu bergengsi- predikat itu jelas melambangkan supremasi dan keamanan terutama untuk kualifikasi Olimpiade. Dominasi Chen Long, Caro Marin, Lee/Yoo dan Zhang/Zhao di turnamen Super Series memastikan mereka bertahta di peringkat 1 untuk beberapa bulan ke depan. Tapi tidak demikian dengan ganda putri yang memiliki 12 juara berbeda di 12 turnamen superseries tahun 2015.

Dengan hanya gelaran Dubai Super Series Final yang tersisa sebagai turnamen besar penutup tahun, masih ada 4 dari 8 peserta Dubai yang terpisah < 4000 poin dan berpeluang menduduki ranking 1 ganda putri pada 31 Desember 2015. Gelar juara Dubai 2015 bagi 1 diantara Christinna/Kamilla, Greysia/Nitya, Luo/Luo atau Misaki/Ayaka akan memastikan ranking 1 ditangan mereka, meski Tian/Zhao, Muskens/Piek, Fukuman/Yonao dan Chae/Kim tentu ingin menggagalkan ambisi itu.

Kondisi ini ditambah masa kualifikasi Rio membuat Dubai menjadi sangat menarik, kedelapan pasangan memiliki agenda besar masing-masing, dan coba kami bahas satu persatu berikut ini.
Bagi Naoko Fukuman/Kurumi Yonao dan Chae Yoo Jung/Kim So Young invitasi ke Dubai berarti ajang unjuk kemampuan sekaligus meyakinkan asosiasi masing-masing bahwa mereka layak bersaing demi tiket Rio sebagai ganda kedua negara mereka, khusus bagi Fukuman/Yonao invitasi ini adalah berkah ganda karena mereka menggantikan Maeda/Kakiiwa yang cedera dan merupakan pesaing langsung mereka secara domestik. Kehadiran dua pasangan eropa, debutan Muskens/Piek yang terus berusaha konsisten bersaing di tingkat atas dan Christinna/Kamilla yang ingin membuktikan bahwa gelar juara eropa mereka yang bertumpuk bisa berbuah juga di tingkat dunia, tentu menambah kesengitan di Dubai.

Untuk Luo/Luo dan Tian/Zhao, mereka memiliki tujuan yang sama dan berbeda di Dubai. Sebagai semifinalis dan finalis tahun lalu, mereka harus setidaknya mampu mempertahankan hasil itu agar tidak dilewati oleh kereta cepat berjudul Tang Yuanting/Yu Yang dalam persaingan menuju olimpiade. Sebagai juara dunia, lolosnya Tian/Zhao bisa dikatakan save by the rule, tapi jika mampu meraih hasil yang baik tentu kerelaan TQ untuk kembali kerja rodi sangatlah tepat. Sementara si kembar bisa menggunakan ajang ini sebagai pembuktian bahwa mereka paling konsisten diantara kereta-kereta cepat paduka, apalagi jika mereka mampu membawa tahta peringkat 1 gand putri kembali ke China.

Dua pasangan terakhir adalah dua pasang yang kini berada di posisi pertama dua jenis ranking BWF yang sedang berjalan. Rank 1 BWF dan juara bertahan Misaki/Ayaka tentu tidak mau begitu saja kehilangan tahtanya. Sementara peringkat 1 race to Rio, Greysia/Nitya ingin menunjukkan bahwa konsistensi mereka sejak Mei layak juga diganjar prestasi terbaik di Dubai sekaligus mengkudeta Misaki/Ayaka dan menjadi ganda putri Indonesia pertama sejak era Superseries yang menjadi peringkat 1 BWF (Note: penulisnya males tracking rank pre-2007).

Dengan persaingan segitu ketatnya maka tidak ada alasan untuk tidak excited menunggu Dubai

Jumat, 04 Desember 2015

Who Will Get a Huge Boost For Rio?

40 peserta Dubai Super Series Final sudah dirilis di situs web resmi mereka. Ke-empatpuluh peraih tiket yang mendapatkan ekstra 1 turnamen setara Superseries Premier karena kekonsistenan mereka selama setahun belakangan di turnamen berlabel Superseries. Turnamen yang akan kembali digelar kedua kalinya di Hamdan Sports Complex Dubai ini tentu akan sangat berarti bagi para peserta dalam upaya mereka menuju Rio de Jainero tahun depan.

Sama seperti tahun lalu, persaingan paling tidak terprediksi barangkali akan terjadi di tunggal putri. Juara bertahan tahun lalu, Tai Tzu Ying tentu ingin mengulang minggu impresifnya tahun lalu sekaligus memberi tabungan besar untuk kualifikasi Rio. Bicara soal tabungan Rio, ada 3 tunggal putri yang tentunya ingin menabung sebanyak-banyaknya poin karena persaingan domestik mereka juga kuat, Wang Shixian dan Wang Yihan pasti ingin memanfaatkan Dubai untuk menjauh sekaligus membuktikan bahwa mereka lebih layak ke Rio 2016 ketimbang Li Xuerui. Ambisi menambah tabungan itu juga dimiliki Nozomi Okuhara yang dikejar banyak tunggal putri Jepang yang sangat bertalenta dan bertebaran di 25 besar seperti Akane, Sayaka, Sayaka dan banyak lagi.

Dubai 2015 juga bisa menjadi ajang pengukur persaingan Olimpiade tahun depan. Dan bicara Olimpiade tahun depan, rasanya tidak ada orang yang ingin membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan untuk emas, selain Sung Ji Hyun dan Saina Nehwal. Sung, yang lama diakui sebagai tunggal putri utama Korea tapi jarang berprestasi besar diluar negaranya tentu berharap mampu mendapat performa terbaik di Dubai guna menaikkan kepercayaan diri bahwa dia memang layak dinilai sebagai penerus tradisi Bang Soo Hyun di Olimpiade. Saina, peraih deretan gelar Super Series dan pernah menjadi nomor 1 dunia tentu tidak ingin dikatakan sebagai hanya seorang peraih medali Olimpiade hanya karena lawan cedera, dan sama seperti Sung, Dubai bisa jadi confidence booster yang besar.

Bagi dua peserta lainnya, Dubai 2015 lebih berperan sebagai ajang validasi. Validasi bahwa dia maasih mampu bersaing meski tidak dalam kondisi fisik yang baik bagi Ratchanok Intanon, serta pembuktian bahwa taktik yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik menjadi taktik yang sulit dikalahkan bagi Carolina Marin.

Siapapun yang menang diantara delapan ini, ada satu jaminan bagi fans layar kaca, bahwa bakal banyak teriakan2 terpukau dari Gill Clark atau si penonton sendiri.

Minggu, 22 November 2015

Catatan Akhir Superseries 2015 Indonesia

Final Hongkong Superseries sedang berlangsung ketika tulisan ini dibuat. Final yang menandai berakhirnya musim Superseries reguler pada tahun 2015. Tahun yang dinilai banyak pihak sebagai bukan tahunnya bulutangkis Indonesia karena hanya meraih 3 gelar SS dari ganda putra dan putri sepanjang tahun. Jumlah yang menurun dibanding 2014 apalagi 2013, tapi benarkah masa depan bulutangkis Indonesia begitu buruk?

Pertama kita bicara soal nama yang selalu muncul di daftar 3 tahun itu, M Ahsan/Hendra Setiawan. Gelar mereka di Malaysia menunjukkan konsistensi mereka, meski tidak sebanyak hasil tahun-tahun sebelumnya. Salah satu hal yang menjadi faktor adalah lawan sudah terbiasa dengan pola permainan mereka, tidak seperti 2013 dimana mereka begitu dominan dan lawan masih kaget dengan gaya mereka. Hal yang wajar, karena kalo kita main video game lawan temen misalnya, pertama kita nemu jurus/jalan rahasia pasti lebih sering menang tapi ketika rahasia itu sudah menjadi rahasia umum maka hasil permainan video game itu makin sulit diprediksi siapa pemenangnya, bergantung pada siapa yang lebih siap dan beruntung ketika bermain. 

Lalu tentang nama-nama yang hilang, Kido/Gideon sudah tidak berpasangan lagi dan kini menempuh jalan masing-masing yang baru berbuah QF Superseries dan juara GP. Simon dan Tommy sempat mengalami cedera dan meski belum pernah juara lagi tapi beberapa kali konsisten menembus perempat dan semifinal Superseries. Sementara untuk Owi/Butet rasanya ngga ada yang perlu dituliskan selain semoga masalah mereka, apapun itu akan cepat terselesaikan.

Ada dua nama baru yang muncul tahun ini. Keberhasilan Angga/Ricky di Singapura memberi secercah harapan bagi adanya partner perang sepadan bagi Ahsan/Hendra, dan mereka beberapa kali menunjukkan hal itu meski masih perlu pembuktian konsistensi agar mereka tidak menjadi Markis/Markus berikutnya. Nama kedua adalah Greysia/Nitya yang menjadi salah satu dari 12 pemenang Super Series 2015 di ganda putri, mengingat konsistensi Greysia/Nitya yang nyaris selalu menembus QF dan kini memimpin BWF race to Rio rasanya pr mereka bukanlah konsistensi tapi keberuntungan undian yang sering tidak berpihak dan memaksa mereka bertarung habis-habisan hampir tiap babak sehingga bensin yang dimiliki tidak tersisa di babak-babak akhir.

Yang terakhir, teruntuk nama-nama yang belum pernah muncul di daftar juara. Tunggal putra Cipayung yang memang sedang dalam proses rebuilding, beberapa kali memberi letup kejutan dan memperlihatkan prospek cerah mereka meski belum mencapai podium tertinggi. Tunggal putri, meski mendapatkan perunggu WBC tapi kombinasi cedera, ketidaksiapan dan belum levelnya membuat nomor ini masih harus menunggu proses rebuilding yang lebih lama. Sederetan nama di ganda seperti Kevin/Gideon, Wahyu/Ade, Della/Rosyita, Ketut/Anggia dan Jordan/Debby serta banyak talenta lain yang masih mix n match, menunjukkan bahwa masa depan bulutangkis Indonesia tidaklah begitu buruk, dengan tingkat performa dan kedewasaan mereka saat ini, rasanya hanya tinggal menunggu waktu untuk mendapat gebrakan yang diinginkan di level Superseries

2015 memang gelap tapi cahaya di ujung terowongan itu juga makin terlihat.

Selasa, 03 November 2015

Mari Berkhayal :D

Rangkaian turnamen Grand Prix Gold keatas yang dilangsungkan di benua biru usai bersamaan dengan berakhirnya final di Saarbucken pada minggu pertama bulan November. Setelah tiga minggu disuguhi aksi badminton yang mampu membuat mata melek meski pada jam yang tidak manusiawi, ada satu nomor yang menarik perhatian yaitu ganda campuran.
Ganda Campuran, nomor dimana Ko Sung Hyun/Kim Ha Na menjadi pemenang terbesar setelah mengoleksi 2 gelar Super Series di eropa dengan mengalahkan dua pasangan terbaik Indonesia di final, sedangkan di final Saarbucken, Mateusiak/Zieba menegaskan comeback mereka dengan gelar Bitburger GP Gold. Dan karena ini menjelang Rio, penulis ingin sedikit berkhayal siapa2 saja yang masuk ke daftar ideal 16 pasangan XD yang ikut Rio, tentu dengan patokan regulasi maksimal 2 pasangan per negara dan ada perwakilan setiap benua, jika memungkinkan.

Pasangan pertama tentu pemenang terbesar tur eropa kemarin, Ko Sung Hyun/Kim Ha Na. Setelah menjadi 1 dari 3 pasangan yang memberikan 6 game final SS(P) eropa yang 4 diantaranya sangat exciting, wajar kiranya kalo pasangan Hercules dan Damsel in Distress asal Korea ini menjadi nominasi pertama. Nominasi kedua adalah, Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba. Fakta bahwa Rio 2016 mungkin menjadi Olimpiade kelima, iya KELIMA bagi Mateusiak mestinya sudah cukup menjadi alasan memasukkan mereka sebagai nominator peserta olimpiade impian ini, kalo kurang silakan lihat rekaman final Bitburger dimana Mateusiak dan Zieba yang merupakan ibu 1 anak sangat mendominasi.

Nominator berikutnya dari para runner up, nama Lilyana Natsir jelas sudah menjadi legenda bulutangkis XD dunia dengan gelar juara dunia terbanyak di ganda campuran, wajar jika ia diberikan kesempatan terakhir mengejar emas Olimpiade yang masih belum didapat meski pasangannya menurut kami tidak sebaik saat Beijing. Dua runner up lainnya, Praveen Jordan/Debby Susanto dan Adcocks juga diikutsertakan ke Rio atas dasar penampilan impresif di Stade de Coubertin dan Saarbucken yang hanya kalah dari sang juara dan untuk Adcocks juga demi penyeimbangan ke benua Eropa.

Soal penyeimbangan kekuatan ke Eropa, rasanya perlu mengajak peraih perunggu London Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen selain pasangan yang sama ekspresifnya dengan Joachim yaitu Fuchs/Michels dan perempat finalis WBC 2015 Jacco Arends/Selena Piek untuk menemani Adcocks dan pasangan Polandia mengibarkan panji benua biru. Selain eropa, 1 pasangan Australia dan 2 pasangan benua Amerika juga akan ikut bertanding demi pemerataan dan mencoba menjegal dominasi Asia.

Lalu siapa yang akan mewakili Asia menghadapi 8 penghadang itu? Selain Ko/Kim, Owi/Butet dan Debby/Jordan yang sudah disebut diatas, rasanya kita harus memberi 2 wakil ke China karena mereka memiliki 4 pasangan di top 8 saat ini. Dan 2 pasangan yang dipilih adalah Liu Cheng/Bao Yixin dan Xu Chen/Ma Jin karena menurut kami akan lebih baik mempersilakan Zhang Nan dan Zhao Yunlei berkonsentrasi di MD dan WD. (lagian juga MJ n Yixin lebih eyes pleasing ketimbang ZYL, mengingat Rio nanti jamnya juga ngga manusiawi, ini perlu :p, *kabur sebelum dibantai admin zhangzhao)

3 pasangan sisanya adalah Chan Peng Soon Goh Liu Ying sebagai mantan top 4 dan juga lihat alasan diatas, Lee Chun Hei/Chau Hoi Wah karena reputasi mereka yang suka menyulitkan dan pernah meraih gelar Super Series. Serta Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam sang legenda Thailand sebagai peserta terakhir.

Sekali lagi, ini hanyalah daftar ideal berdasar khayalan penulis, dan saya ga bakal menggerutu siapapun peraih medalinya jika daftar ini benar terjadi. Kalo punya khayalan sendiri setelah baca ini, silakan share lho :)

Jumat, 30 Oktober 2015

Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Semifinal, itulah hasil yang diraih oleh Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari di Stade de Coubertin minggu lalu. Semifinal kelima yang ditapaki pasangan ini dalam tahun 2015 dan sekaligus mengangkat mereka ke ranking 3 dunia yang merupakan pencapaian terbaik dalam karir mereka sejauh ini. Dan bila melihat barisan bakat di nomor ganda putri yang usianya dibawah Greysia/Nitya, maka tidak salah bila hasil di Paris minggu lalu menjadi momentum penegas kebangkitan ganda putri Indonesia.

Menurut penulis sotoy ini, jika berbicara kebangkitan ganda putri Indonesia -yang disertai pemain dengan nama-nama yang pastinya akan sangat membantu dalam pelajaran mengarang indah- ada beberapa kejadian didalam lapangan yang memicu ataupun memperbesar momentum kebangkitan ini, berikut dibahas satu persatu:

1. Kekompakan dan pencapaian tim Uber Indonesia sebagai finalis ketika menjadi tuan rumah pada tahun 2008 yang membuktikan bahwa putri-putri Indonesia bisa bersaing dan berprestasi di tingkat dunia meski kadang tampil eksentrik di lapangan. Event ini membuat popularitas badminton melonjak karena roadshow tv dimana-mana dan mengkonversi banyak orang apatis menjadi fans.

2. Medali emas SEA Games 2011 yang diraih oleh Anneke Feinya Agustine dan Nitya Krishinda Maheswari. Memang persaingan SEA Games hanyalah sebatas Asia Tenggara, tapi hasil ini setidaknya memunculkan kembali detak prestasi bulutangkis putri Indonesia setelah cederanya peraih medali perunggu Beijing, Maria Kristin Yulianti

3. Keajaiban di Stade de Coubertin 2013. Kejadian di Paris dua tahun lalu yang jauh lebih dahsyat dari aksi Houdini ala Lindaweni Fanetri di Istora Agustus lalu. Meski mirip tapi lawan Greysia/Nitya di Paris adalah ganda putri yang ketika itu masih dianggap monster alien, Wang Xiaoli/Yu Yang. Kemenangan ini menjadi sinyal kehadiran Greysia/Nitya setelah disatukan kembali

4. Gold Incheon 2014. Ketika suatu negara harus menunggu 36 tahun lamanya untuk kembali meraih medali emas, tentu saja prestasi yang diraih Greysia/Nitya di Korea merupakan momentum besar yang patut dilanjutkan dan membangkitkan bulutangkis Indonesia terutama di ganda putri.

5 Gelar SS pertama dan semua rentetan prestasi di 2015, konsistensi yang nantinya akan berbuah ranking 1 dunia bagi Greysia/Nitya, satu hal yang kemungkinan besar akan dibilang impossible oleh Greysians terloyal sekalipun karena memang sangat tidak terduga pada akhir 2014.

Dengan segala momentum yang ada sekarang, semoga ganda putri dan seluruh badminton Indonesia tetap berprestasi pasca Rio 2016.

Kamis, 15 Oktober 2015

Overview Peluang Bulutangkis Indonesia di Rio

Bulutangkis -cabang yang pernah menyumbangkan medali emas Olimpiade bagi Indonesia- kembali diharapkan mampu menyumbangkan medali emas di Olimpiade Rio tahun depan setelah pulang dengan tangan kosong dari London 3 tahun lalu. Melihat kondisi saat ini, banyak orang memberi target pada dua finalis Beijing 2008, Hendra Setiawan dan Lilyana Natsir yang kali ini membawa partner baru dan Greysia/Nitya yang tahun lalu meraih medali emas di Asian Games Incheon. Tapi, benarkah harapan medali bulutangkis di Rio hanya tertumpu pada mereka berenam?
Dari rilis ranking Race to Rio seusai Thailand Grand Prix Gold, Indonesia masih mungkin mengirim 2 wakil tunggal putra dengan mempunyai 2 wakil di top 16, terutama jika Hayom dan Ihsan mampu tampil seperti di Bangkok, hingga akhir April 2016 dan menutup defisit dengan peringkat 16 yang kini berada di kisaran 25-26 ribu poin.  Tetapi, bicara soal medali, sepertinya sulit karena sejauh ini tunggal putra dikuasai oleh Chen Long, Kento Momota, Jorgensen, dan Axelsen, apalagi jika Lin Dan dan Lee Chong Wei ikutan serius di Rio.
Peluang yang sama beratnya, juga akan dihadapi di nomor tunggal putri. Lindaweni Fanetri kemungkinan besar menjadi wakil satu-satunya tunggal putrid mengingat hingga minggu kedua Oktober Bella masih belum turun ke turnamen, pasca cedera di Piala Sudirman.  Linda memang meraih medali perunggu di kejuaraan dunia Istora kemarin. Medali yang didapat setelah penampilan luar biasa dalam seminggu, dimana dalam salah satu pertandingan Linda seperti “dirasuki” Houdini dan menyelamatkan lebih dari 4 matchpoint. Tingkat permainan yang setidaknya harus diulang Linda jika ingin bersaing dengan Marin, Saina, Sung, Intanon dan 2 pemain Tiongkok dalam memperebutkan medali Rio.
Soal berjuang sendiri di Rio, mungkin juga akan dialami Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Cedera lama yang dialami Rosyita Eka dan belum stabilnya penampilan ganda putri Indonesia lainnya hingga saat ini, membuat posisi top 8 race to Rio tampak mustahil diraih ganda kedua Indonesia. Greysia/Nitya yang kini menduduki peringkat 1 race to Rio setelah meraih Super Series perdana di Korea tentu ditantang untuk menjaga kondisi dan konsistensi demi undian yang lebih baik. Greysia/Nitya sebenarnya diuntungkan dengan belum adanya pasangan tetap dari Korea dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meramu pasangan sehingga kemungkinan hanya mengirim satu pasangan ke Rio. Tantangan jelas masih banyak, peraih perak WBC 2015 Pedersen/Rytter-Juhl dan peraih perak AG 2014 Misaki/Ayaka menjadi dua saingan terberat, belum lagi pasangan Korea dan Tiongkok entah siapapun itu. Target medali entah apapun warnanya adalah hal yang realistis bagi Greysia/Nitya.
Bila di ganda putri Greysia/Nitya harus mengejar target sendirian. Rasanya tidak demikian untuk ganda campuran maupun ganda putra. Prestasi yang diraih oleh Praveen Jordan/Debby Susanto, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi dan Wahyu Nayaka/Ade Yusuf yang sudah mencicipi perunggu AG, juara Super Series dan GP Gold serta beberapa kali member kejutan melawan pasangan yang lebih diunggulkan membuat harapan agar mereka pulang dengan medali setidaknya perunggu bukanlah hal yang berlebihan. Angga/Ricky misalnya sudah pernah mengalahkan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dan nyaris menembus semifinal WBC 2015 jika tidak kalah tipis melawan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Dua pasangan yang selama ini dikenal stabil menembus babak-babak akhir ganda putra bersama Ahsan/Hendra, Boe/Mogensen dan Fu Haifeng/Zhang Nan. Rekor Debby/Jordan juga tidak bisa dibilang buruk, meski belum pernah meraih juara di turnamen internasional BWF, tapi semifinal All England dan 2 final GP Gold dalam tahun 2015 sejauh ini tentu membuat mereka menjadi kuda hitam, diluar unggulan seperti Owi/Butet dan para peraih medali London.

Bila kondisi saat ini bisa setidaknya dipertahankan, peluru Indonesia dalam memburu medali tidak hanya 3 pasang saja.  Masih ada tujuh bulan masa kualifikasi Rio untuk bulutangkis, semoga tidak ada cedera yang dialami tim Indonesia.

Selasa, 01 September 2015

Adu Kebugaran Dan Konsistensi

Satu gelar, itulah hasil yang didapat tim bulutangkis Indonesia pada turnamen grand prix pertama yang diikuti pasca penyelenggaraan Kejuaraan Dunia di Istora. Hasil yang jelas ditanggapi beragam, kekecewaan di nomor ganda campuran karena tampil nyaris full team tetapi bisa dibilang gagal total, munculnya harapan di ganda putra, tunggal dan juga ganda putri karena para skuad pelapis mulai ada yang menunjukkan prestasi meski bukan juara, dan sedikit kejelasan soal Rio di nomor yang mempersembahkan gelar, yaitu tunggal putra.

Jika menilik susunan ranking BWF terbaru pasca WBC, maka ada 3 negara yang punya peluang besar menempatkan lebih dari satu wakil di 16 besar di akhir masa kualifikasi Rio, sekaligus mengirim dua wakil tunggal putra ke Brazil. Ketiga negara itu adalah China yang saat ini memiliki 4 pemain di deretan 16 besar, serta Denmark dan India yang masing-masing memiliki 3 pemain disana. Diluar mereka, ada Jepang, Korea dan Taiwan yang bisa dianggap kuda hitam dalam kemungkinan mengirim 2 wakil karena memiliki 1 pemain mapan di top 10 dan punya pemain di sekitar top 25 yang mungkin melonjak. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia saat ini memiliki 2 pemain di jajaran top 25 tetapi sangat mungkin disalip dalam perburuan tempat 16 besar jika tampil tidak konsisten. Dengan kondisi itu, ditambah komitmen PBSI yang menyatakan tunggal putra Cipayung lebih fokus menyiapkan regenerasi demi AG 2018 dan Olimpiade Tokyo, maka wajar meski kami berharap ada dua wakil, tapi ekspektasi realistis tunggal putra di Rio adalah 1 wakil. Dan setelah Vietnam GP, siapa saja yang menjadi kandidat kuat, semakin jelas.

Tommy Sugiarto, juara Vietnam GP 2015 menjadi kandidat terkuat karena peringkatnya saat ini yang tertinggi diantara MS Indonesia. Dan gelar ini juga akan membuatnya kembali memasuki top 16 setelah sebelumnya keluar karena tidak mampu mengulang kegemilangan Copenhagen 2014 di Istora. Sekalipun dia berada diluar Pelatnas, tapi dukungan sponsor yang kuat dari Sports Affairs Malaysia harusnya tidak menyulitkan dia memilih turnamen. Asalkan pintar memilih turnamen, konsisten dan tidak cedera, Tommy jelas kandidat terkuat sebagai wakil di Rio.

Pemain Indonesia lainnya yang juga berada di jajaran top 25 adalah Hayom Rumbaka. Juara Vietnam GP 2014 yang sedang mengalami cedera ini harus merelakan mahkotanya lepas tanpa tanding. Mantan tunggal utama Cipayung yang harus kembali ke klub ketika kebijakan regenerasi diterapkan memang harus konsentrasi menyembuhkan cedera harmstring, tapi apabila ia fit seratus persen, tentu tidak sulit bersaing dengan Tommy karena Hayom juga memiliki dukungan finansial besar dari klubnya. Adu konsistensi kedua tunggal putra (non pelatnas) terbaik Indonesia ini tentu layak ditunggu.

Dari kamp Cipayung, meski AG Jakarta dan OG Tokyo dijadikan target utama, tapi tentu peluang menimba pengalaman di Rio, jika didapatkan tentu tidak ditolak. Dua kandidat terbesar dari Cipayung tentu sang pahlawan ketika perempat final piala Sudirman dan satu-satunya MS pelatnas di top 50 saat ini, Jonathan Christie dan Anthony Ginting yang selalu menembus minimal perempat final di 3 turnamen terakhirnya tentu layak dikedepankan. Mereka berdua juga memiliki keuntungan tidak banyak poin yang harus dipertahankan sehingga bila mereka tampil menggila dari sekarang hingga April 2016, bisa saja mereka ikut nyemplung di Rio.

Siapapun yang nantinya ikut ke Rio, semoga menjadi peluru penuh kejutan disana.

Kamis, 20 Agustus 2015

Eyes Lock To Rio

Sepuluh hari yang sangat menyenangkan baru saja terjadi bagi penggemar badminton yang berada di atau bisa melanglang buana ke Jakarta. Bagaimana tidak, 3 sajian yang sangat menarik berlangsung semua disana, mulai dari wbc, legend vision dan dsportforum. Karena gw cuma pengacara yang lagi alim ya cuma bisa ngeliat 3 acara itu via layar tanpa menikmati atmosfernya. Tenang, tulisan ini bukan dimaksud untuk curcol kok, kalian2 yg membaca ini pasti sudah tau bahwa ada kuartet juara Copenhagen yang kembali juara di Istora, selamat kepada mereka dan juga Hendra/Ahsan sebagai juara "baru" di ganda putra, juara dunia setengah hari karena besok siangnya dikalahkan 2 legenda tunggal putra saat legends vision.

Dan, dsportforum, sebagai acara terakhir dari rangkaian 10 hari badmintonoverdose Jakarta, benar-benar menjadi sarana evaluasi hasil kejuaraan dunia sekaligus penjelasan kepada publik sasaran besar berikut dari PBSI yaitu Olimpiade Rio. Banyak pernyataan menarik terlontar disana, karena pihak penyelenggara dengan ciamiknya mampu menghadirkan para stakeholder badminton maupun olahraga Indonesia secara keseluruhan. Salah satu, pernyataan yang dianggap kontroversial di forum itu adalah pernyataan Bapak Gita Wirjawan yang akan mundur dari jabatannya di PBSI, jika bulutangkis gagal meraih medali emas di Pavilion 4 Rio De Janiero tahun depan.

Bagi penulis, pernyataan diatas selain sebagai pernyataan ksatria yang yakin akan memenuhi target 1 emas yang dibebankan, juga sekaligus sinyal bagi semua orang yang berada disitu, -setelah beliau mengutarakan cara pengelolaan PBSI selama ini dan evaluasi WBC- bahwa jajaran PBSI sudah memiliki gambaran langkah yang jelas dalam upaya meraih hasil terbaik di Rio. Pernyataan yang juga semi implisit menarik garis batas antara pihak yang mendukung ataupun merongrong upaya perbaikan dan pencapaian target PBSI.

Target 1 emas memang dibebankan Kemenpora dan KONI/KOI kepada dua pasangan peraih gelar juara dunia 2013, tapi diluar mereka berempat, ada beberapa atlet yang juga punya decent chance for at least a medal jika diberikan kesempatan dan persiapan yang memadai, Daftar atlet berikut disusun berdasar abjad demi memudahkan penulis mengingat :
1. Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi: pasangan ganda putra perempatfinalis kejuaraan dunia kemarin, hasil yang membuktikan mereka mampu bersaing dengan ganda-ganda terbaik dunia, juga menjadi modal mendulang poin supaya menjadi pasangan ganda putra 1A Indonesia di Rio nanti.
2. Della Destiara Harris/Rizky Amelia Pradipta: pasangan baru ini memang belum menunjukkan prestasi apapun, tapi apabila mereka mampu tampil mengejutkan di tur asia timur pertama dan terus konsisten, dengan pembatasan kuota per negara nomor ganda putri jelaslah sangat terbuka.
3. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari: pasangan yang langsung terpikir oleh penulis sebagai salah satu kandidat kuat peraih medali begitu pengetatan kuota diberlakukan. Bila mereka tetap konsisten dan mampu memperbaiki kelemahan yang ditulis di deridestan.blogspot.com serta memperoleh undian yang favorable, mungkin kejutan Incheon terjadi lagi.
4. Lindaweni Fanetri : Jika cedera yang dideritanya ketika semifinal WBC tidak lama mengganggunya dan undian superseries somehow jarang mempertemukannya dengan top 8, maka bisa saja terjadi de javu Maria Kristin yang membangun momentum dari Istora menuju Beijing 7-8 tahun lalu.

Tentu, peluang atlet2 yang tidak tertulis diatas juga masih ada, mengingat kualifikasi Rio masih panjang, tapi seperti pernyataan Eric Thohir di dsportforum kemarin, persiapan serius menuju Rio memang sudah harus berjalan tanpa perlu mengungkit hasil-hasil yang sudah berlalu.

Kamis, 06 Agustus 2015

Istora 2015: When Two Streaks Collide

Anaheim, kota yang populer lewat pelatih Gordon Bombay dan tim Mighty Ducks itu, 1 dekade lalu menjadi saksi bisu banyak sejarah bulutangkis. Tempat penyelenggaraan kejuaraan dunia bulutangkis pertama di benua Amerika itu mendapati juara dunia pertama dari Amerika Serikat dan juga foto ikonik dibawah ini.
4 Heavenly Kings On Podium. Credit: badzine.net
Ikonik karena mungkin hanya di Anaheimlah, keempat legenda bulutangkis -yang akan bertemu di Jakarta pada hari kemerdekaan Indonesia- berada di satu podium bersama pada saat kejuaraan tertinggi BWF. Foto diatas juga menjadi foto podium kejuaraan bulutangkis tertinggi BWF dimana seragam merah (kadang dikombinasi kuning) tidak berada di posisi kedua dari kiri.

Ya, sejak Madrid 2006 hingga Copenhagen tahun lalu, podium tertinggi tunggal putra selalu diisi oleh tunggal putra China, entah itu Lin Dan, Chen Jin ataupun Chen Long. Tradisi yang tentunya sangat ingin dilanjutkan oleh Li Yongbo dan seluruh pasukannya tahun ini, meskipun dijamin berat karena tidak ada tunggal putra Tiongkok yang menaklukan Istora sejak Yang Yang nyaris 30 tahun lalu (Xiong Guobao menjadi juara IO 1989 ketika diselenggarakan di Pontianak).Sebuah tradisi kegagalan yang jauh lebih lama ketimbang streak yang dimulai dari Madrid itu, putra-putra negeri tirai bambu memang mungkin ditakdirkan sulit menaklukan Istora, hanya pasangan Awan dan Angin yang mampu menaklukan Istora selain Yang Yang dan Han Jian. 

Dan bila tradisi kering gelar ini berlanjut, ada beberapa kandidat kuat yang tenrunya dengan senang hati mematahkan Madrid streak. Orang paling kanan pada foto diatas barangkali menjadi orang yang paling berharap mematahkan Madrid streak. Sebagai prmain asing tersering yang menapaki podium tertinggi Istora, Lee Chong Wei tentu berharap itu sebagai modal yang cukup untuk kembali menapaki podium tertinggi sekaligus menjadi juara dunia pertama dari Malaysia. Penantang lainnya adalah penguasa terakhir Istora, Kento Momota, atau juga duo Denmark Jorgensen dan Axelsen yang berharap mampu melebihi prestasi Peter Gade. Sementara untuk berharap ada junior yang mengulang prestasi Taufik 2005, lebih baik jangan terlalu berekspektasi. 

Tradisi mana yang akan berlanjut, kita belum tahu, yang pasti WBC Istora adalah sesuatu yang sangat layak dnantikan dan disaksikan.

Selasa, 28 Juli 2015

ISTORA 2015: ENJOY THE BATTLES

"I am going to enjoy the match" itulah kata-kata yang diucapkan peraih medali emas Atlanta 1996 sekaligus presiden BWF saat ini Poul Erik Hoyer Larsen, setelah 5 klik dalam jangka waktu setengah jam di Museum Bank Indonesia menghasilkan banyak partai yang dijamin akan menguji kekuatan jantung orang-orang yang rela ataupun berani menontonnya.

Ketika undian usai dilaksanakan, banyak mata langsung tertuju ke pool atas undian ganda putra. Bagaimana tidak, peraih emas dua olimpiade terakhir nomor ganda putra Hendra Setiawan dan Fu Haifeng bersama pasangan masing-masing harus berebut 1 tiket dengan pasangan nomor 1 dunia saat ini Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong yang jelas ingin membuktikan diri bahwa gelar nomor 1 mereka bukan hanya sekedar deretan gelar super series tanpa kejuaraan dunia/Olimpiade.

Prestasi dan kemampuan mentereng dari 3 ganda diatas memang sangat diakui dunia, tapi bukan berarti salah satu dari mereka pasti menjadi juara pada kejuaraan badminton internasional terakhir yang mungkin digelar Istora sebelum dipugar. Ganda Taipei penuh kejutan Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin dan duo raksasa Denmark yang lebih mirip Yao Ming, Mads PK/Mads CP tentu akan mencoba membalikkan prediksi pool atas meski peluang mereka kecil.

Jika pool atas diisi oleh nama-nama yang terbukti punya deretan gelar luar biasa, bukan berarti pool bawah diisi oleh ganda yang biasa-biasa saja. Juara bertahan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol tentu ingin mengulang cerita dongeng mereka di Copenhagen tahun lalu. Penantang utama Ko/Shin di pool bawah, adalah runner up Guangzhou 2013 Boe/Mogensen yang tentunya ingin membuktikan mereka mampu mengulang kejayaan Lars Paaske/Jonas Rasmussen diawal dekade 2000an. Sejujurnya, pool bawah lebih menarik karena juga diisi ganda yang secara usia layak meledak dan meraih kejayaan di Rio 2016 tetapi hingga kini belum/kurang menunjukkan konsistensi untuk menggeser para seniornya sebagai ganda utama negara masing-masing. Ya, nama-nama seperti Goh/Tan, Liu/Qiu, Chai/Hong, Angga/Ricky maupun Wahyu/Ade tentu berharap pencapaian di Istora kali ini mampu menjadi pijakan kuat menuju Rio dan petualangan-petualangan berikutnya.

Kejuaraan dunia mungkin sudah kehilangan sebagian gengsinya karena menjadi ajang tahunan, tapi tingkat persaingan khususnya dinomor ganda putra membuktikan makin meratanya persaingan bulutangkis. Jika kami dipaksa membuat prediksi juara, maka 4 nama yang kami kedepankan, Ko/Shin, Boe/Mogensen, Fu/Zhang dan Ahsan/Hendra karena pengalaman mereka di kejuaraan-kejuaraan penting sebelumnya namun siapapun yang akhirnya dikalungi medali emas 16 Agustus nanti, kami akan dengan sangat lantang berteriak menirukan sang Presiden BWF: WE WILL ENJOY THE MATCHES.

Jumat, 24 Juli 2015

Taipei Dan Greysia

Chinese Taipei, negara asal salah satu produsen raket terkenal di dunia. Negara yang terkenal dengan keberagaman kulinernya terutama yang berasal dari laut karena terletak di garis balik utara. Taiwan juga dikenal karena berbagai objek wisatanya, baik museum-museum bernuansa sejarah ataupun bangunan tinggi menjulang seperti Taipei Tower. Taipei, sebagai ibukota Taiwan barangkali menjadi kota favorit Greysia Polii karena disanalah Greysia tiga kali mencapai final kejuaraan internasional (paling banyak di satu tempat, setidaknya hingga tulisan ini dibuat)

Tiga kali mencapai final di suatu turnamen dalam jangka waktu lima tahun dan dua diantaranya menjadi juara jelas bukanlah prestasi yang mudah, apalagi bagi nomor ganda putri Indonesia yang jujur saja, lama dianggap hanya sekedar pelengkap penderita. Ya, nomor yang dulu sering kalah pamor ketimbang ganda putra dan campuran yang lebih sering mampu menghasilkan juara-juara internasional. Kamipun baru mulai lebih memperhatikan nomor ini sejak kemenangan penuh keajaiban Greysia/Nitya atas Wang/Yu di Paris 2013, sebelum itu ya kami tau ada tapi menganggapnya "tiada", mengingat dominasi China yang sangat sangat kuat,

Final pertama Greys di Taipei terjadi di tahun 2011 bersama Meiliana Jauhari, salah satu pasangan ganda putri Indonesia yang diproyeksikan mengikuti Olimpiade London. Di final, mereka harus menyerahkan gelar kepada Ha Jung Eun/Kim Min Jung setelah Greysia mengalami cedera bahu sehingga tak bisa meneruskan pertandingan, cedera yang diakuinya sendiri tahun lalu, masih terkadang dirasa sakitnya. Cedera yang mungkin menjadi pertanda awal kisah buruk yang dialami Greys di London meskipun kami yakin kejadian di London hanyalah sebatas strategi memanfaatkan sistem yang banyak kelemahan.

Sempat berada di posisi biasa-biasa saja hingga kemenangan ajaib di Paris itu, final kedua di Taipei, kembali mempertemukan keempat lakon drama di Paris. Tidak seperti di Paris, kali ini Greys/Nitya mampu mengalahkan Wang/Yu dengan straight game dan skor cukup meyakinkan, suatu penampilan yang digambarkan Gill Clark "stunning and revelation performance by Indonesian pair". Kemenangan yang tentunya makin membuat percaya diri dan puncaknya peraihan medali emas Incheon bagi Greys/Nitya.

Final ketiga terjadi 19 Juli 2015, ketika sang juara bertahan kembali berhadapan dengan lawan dari negeri Tirai Bambu setelah lulus dari Liga Universitas Jepang dengan Cum Laude :D. Luo Ying dan Luo Yu menjadi penghalang terakhir yang mampu diatasi sang juara bertahan. Banyak yang berharap bahwa kemenangan ini menjadi pertanda baik untuk WBC Istora bulan depan, tapi sesuai ekspektasi kami yang kami tulis di tulisan sebelum ini, kami berharap kemenangan di Taipei kali ini menjadi salah satu pijakan bagi Greysia/Nitya untuk meyakinkan diri bahwa mereka adalah salah satu kandidat yang sangat layak diperhitungkan dalam perebutan medali Rio 2016.


Tulisan ini dibuat bukan untuk menumbuhkan ekspektasi ataupun memberi beban kepada siapapun, tulisan ini semata2 dibuat sebagai pemenuhan janji ke diri sendiri untuk membuat artikel tentang GP jika menjuarai Taipei GPG.